
Setiap orang memiliki masa lalu. Entah itu manis ataupun pahit. Ingatlah, masa lalu merupakan momen yang sudah terlewat jadi tidak perlu selalu diingat. Tengoklah sebentar ke masa lalu, hanya untuk membuatnya sebagai pelajaran agar tidak salah langkah pada masa kini dan masa depan.
...***...
Melihat Merlyn tergugu setelah menceritakan kisah kelam dalam hidupnya yang sempat dihapuskan oleh kedua orang tuanya dari ingatannya, membuat hati Refano cukup terhenyak. Ia menyadari, setiap orang memiliki masa lalu. Tapi bukan berarti kita harus selalu terpuruk pada kisah kelam itu. Cukup jadikan masa lalu itu sebagai pelajaran untuk meraih kehidupan yang lebih baik.
Refano yang tak tega melihat Merlyn tergugu pilu lantas menarik tangannya dan mendekap tubuhnya yang bergetar. Ia paham, pasti gadis yang ternyata sudah tak gadis lagi itu merasa terpukul mengetahui keadaan dirinya yang tak pernah disadarinya.
Sebenarnya ia kecewa terhadap kedua orang tuanya yang menutupi masalah ini. Namun, ia paham, kedua orang tuanya melakukan ini untuk kebahagiaannya. Mereka terlalu takut ia kembali terpuruk ke dalam jurang kehancuran. Perempuan mana yang bisa bersikap biasa saja saat mengetahui dirinya telah dinodai? Tidak ada. Terkadang fisik memang terlihat biasa saja, tapi apa yang perempuan alami itu bisa membekas di batin mereka. Psikis yang rapuh bisa membuat seseorang itu terpuruk hingga memilih jalan untuk mengakhiri hidup. Seperti itu pula dirinya dulu saat sadar dirinya telah dinodai.
Menghapus kenangan buruk, itulah jalan terbaik yang dipilih kedua orang tuanya. Dan berkat itu pula, ia bisa bertahan hingga saat ini. Namun ia sedikit kecewa mengapa ia mengetahui ini dengan cara seperti ini. Seharusnya kedua orang tuanya menceritakan sebelumnya untuk mencegah orang-orang berpikir buruk tentangnya.
Namun sekali lagi ia harus mencoba memahami kalau apa yang dilakukan kedua orang tuanya itu lagi-lagi untuk kebaikannya. Walaupun sebenarnya akhirnya sama saja, yaitu dirinya merasa insecure dengan dirinya sendiri. Ia merasa terlalu kotor untuk dijadikan seorang istri apalagi seorang ibu. Mau ditutupi pun percuma. Apalagi tak sedikit laki-laki yang mengutamakan selaput dara dibandingkan sifat dan perilaku seorang perempuan. Hal inilah yang membuatnya kian takut dan memilih menutup diri terutama dari kaum lelaki termasuk laki-laki yang sedang memeluknya kini.
"Mas, lepas!" cicit Merlyn mencoba melepaskan pelukan Refano. "Sebaiknya mas segera pergi. Mas sudah tahu semua rahasiaku jadi pergilah. Aku tak butuh belas kasihanmu. Aku mohon pergilah!" lirih Merlyn dengan tangan yang sudah menempel di dada Refano. Ia berusaha untuk mendorong tubuh Refano, tapi tubuh Merlyn terlalu lemas untuk melakukannya. Apalagi seharian ini ia belum makan sama sekali. Ia begitu sibuk. Belum lagi pikirannya yang sedang penuh sesak membuatnya tak kuasa untuk menelan makanan. Selain itu, perubahan sikap James yang seolah merasa begitu jijik padanya membuatnya cukup sakit hati. Padahal mereka sudah saling mengenal sejak kecil, seharusnya James tau, mana mungkin Merlyn melakukan perbuatan hina seperti itu.
__ADS_1
Merlyn tidak berusaha untuk menjelaskan. Untuk apa? Percuma saja pikirnya. Bila hati dan pikiran seseorang telah dipenuhi prasangka buruk, mau kau menjelaskan sampai suaramu habis pun percuma. Mereka justru akan berpikir kita hanya beralasan saja. Biarlah waktu yang akan mengungkap semua. Mungkin setelah program mereka kali ini selesai, ia akan segera resign dan mengajukan lamaran di stasiun televisi yang lain. Meskipun berat tuk meninggalkan Star TV sebab tempat itulah yang membesarkan namanya, tapi ia tetap harus melakukannya. Semua demi kesehatan mentalnya. Sudah cukup ia terpuruk akan masa lalu kelam yang baru ia ingat, ia tak mau makin tertekan dengan perubahan sikap James.
"Kau memang tidak butuh belas kasihan seseorang, tapi kau butuh seseorang untuk tempatmu bersandar, tempat untukmu berkeluh-kesah, tempat untukmu berlindung, dan tempatmu berbagi baik suka maupun duka. Kita adalah dua orang yang sama-sama terluka. Korban kepahitan masa lalu. Meskipun berbeda cerita, tapi tetap saja, kita memiliki masa lalu yang buruk. Yang membedakannya hanyalah bila aku mengalaminya karena kebodohanku sendiri, sedangkan kau karena kejahatan manusia-manusia berhati iblis. Bagaimana kalau kita saling menyembuhkan? Aku yakin, dengan seiring berjalannya waktu, kita mampu saling menyembuhkan luka masing-masing, apa kau setuju?" ucap Refano sungguh-sungguh membuat Merlyn tercengang.
"Ap-apa maksud kamu, mas? Kamu nggak sedang bercanda kan?" tanya Merlyn gelagapan.
"Apa wajahku terlihat sedang bercanda?" tanya Refano dengan dahi berkerut.
"Tapi ... tapi aku kotor, mas. Aku ... " Merlyn menunduk dalam saat memori pelecehan itu kembali berkelebat di benaknya.
"Mak-maksudnya?" Merlyn masih belum mengerti arah pembicaraan Refano. Ia sampai bingung sendiri harus menanggapi apa dan bagaimana.
Refano menarik nafas dalam-dalam kemudian menghempaskannya secara perlahan, "bagaimana kalau kita melakukan penjajakan dulu? Saling mengenal satu sama lain. Bila kita merasa saling cocok, kita bisa lanjut ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu menyongsong masa depan bersama melalui tali pernikahan. Sebenarnya aku ingin langsung menikah untuk menghindari dosa tentunya. Namun aku sadar, kita butuh waktu untuk lebih mengenal satu sama lain. Aku ingin pernikahanku nanti merupakan pernikahan terakhir dan akan terus berlanjut hingga ajal memisahkan. Sudah cukup dua orang perempuan yang aku sakiti karena keegoisan dan kebodohanku, aku tak ingin hal itu kembali terjadi. Jadi bagaimana, apa kau mau?"
Mata Merlyn berkaca-kaca. Apakah ini artinya Refano sudah membuka hatinya untuknya?
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan perasaan mas sendiri? Apa mungkin aku bisa menggantikan seseorang yang namanya telah berakar kuat di relung hati mas?"
"Insya Allah. Allah itu maha membolak-balikkan hati. Buktinya, tanpa sadar aku mulai merasa kehilangan saat sikapmu tiba-tiba berubah."
"Benarkah? Mamas hot daddy nggak sedang menggombal kan?" seloroh Merlyn yang sudah mulai mau tersenyum setelah mendengar kata-kata Refano.
"Terserah kau mau menilai ku bagaimana. Yang penting, aku harap mulai sekarang lupakan masa lalu kelam mu. Aku tak ingin melihat wajah murammu lagi," ucap Refano datar. "Ya sudah, kita segera kembali ke dalam. Pasti orang-orang pada sibuk mencari keberadaan kita yang tiba-tiba menghilang. Oh ya, satu lagi, jangan lupa makan. Apa kau sadar, perutmu dari tadi berisik sekali," pungkas Refano yang sukses membuat Merlyn tersenyum lebar merasa begitu diperhatikan laki-laki itu.
Refano diam-diam melirik Merlyn yang tersenyum di sampingnya. Hatinya kini merasa lega.
'Fira, meskipun aku yakin tak bisa benar-benar melupakanmu, tapi setidaknya aku akan mencoba membuka hatiku seperti saranmu. Semoga aku pun bisa menyongsong bahagiaku, meskipun tak bersamamu.' batin Refano.
Kadangkala, seorang perempuan itu hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan curahan hatinya. Namun sayang, tidak semua laki-laki mengerti. Mereka justru menilai seorang perempuan yang banyak bercerita itu sebagai perempuan cerewet. Tukang mengeluh. Padahal sejatinya mereka hanya butuh tempat berbagi untuk mengurangi rasa sesak di dalam hati dan pikiran. Setelah segalanya dicurahkan, mendung pun akan segera berganti menjadi pelangi.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...