
Lengkingan suara tangis bayi pecah di ruangan yang didominasi warna putih itu. Helaan nafas lega bercampur haru terdengar dari bibir Alvian yang saat itu menemani Zafira di ruangan persalinan. Diliriknya Zafira yang nafasnya masih setengah-setengah, sorot matanya sayu, bibirnya pucat, tapi tetap terlihat sangat cantik di mata Alvian. Begitulah saat sedang jatuh cinta, setiap melihat seseorang yang kita cintai selalu saja tampak menarik mau bagaimana pun kondisinya saat itu.
"Selamat ya, Ra. Akhirnya, baby nya lahir dengan selamat dan sehat tanpa satu kurang apapun," bisik Alvian pelan tepat di samping telinga Zafira.
Kepala Zafira menoleh ke arah sumber suara, matanya terbelalak, baru sadar kalau sedari tadi ia menggenggam tangan Alvian tanpa melepasnya. Bahkan sampai ikut masuk ke dalam ruangan persalinan dan menemaninya hingga proses persalinan selesai. Dokter dan perawat pun membiarkan saja sebab mereka pikir Alvian adalah suami Zafira. Sungguh, Zafira tidak menyadari hal tersebut. Rasa sakit yang sungguh luar biasa, bahkan melebihi kontraksi kelahiran putri pertama dan keduanya membuatnya tak mampu memikirkan apapun. Ia hanya fokus pada bayi dalam kandungannya agar bisa lahir dengan selamat dan sehat.
Banyak yang bilang, kelahiran ketiga dan seterusnya tidak akan semenyakitkan kelahiran pertama dan kedua, tapi nyatanya ia merasa rasa sakit saat kontraksi bayi ketiganya itu sungguh luar biasa karena itu ia sampai tak sadar menggenggam tangan Alvian sampai ke dalam ruangan persalinan. Kelahiran bayinya dua bulan lebih cepat dikarenakan efek kelelahan dan beban pikiran sehingga memicu kontraksi. Akibatnya, bayi Zafira pun terpaksa dilahirkan secara prematur. Beruntung bayi mungil tersebut dapat dilahirkan secara normal dan tak butuh waktu lama sejak tiba di rumah sakit, proses persalinan pun segera dimulai.
"A-Alvian, kamu ... " cicit Zafira dengan mata terbelalak. Ia menggigit bibirnya merasa malu baru saja mempertontonkan proses persalinannya di hadapan laki-laki yang bukan siapa-siapanya ini. "Ma-maaf, aku ... "
"Tak perlu minta maaf. Justru aku yang minta maaf karena sok menjadi suami kamu. Tapi aku harap aku masih memiliki kesempatan seperti ini, yaitu saat kau melahirkan anak-anakku kelak," bisiknya seraya mengulum senyum. Rona merah bersemi di pipi Zafira. Alvian harap, Zafira memahami kode-kode yang selalu ia berikan itu. Sebenarnya pun, akhir-akhir ini Zafira mulai menyadarinya, tapi ia masih belum yakin. Kegagalan ibarat momok mengerikan yang kerap menghantui pikirannya. Ia terlalu takut memupuk harapan apalagi dengan seseorang sesempurna Alvian. Meskipun ibunya pun telah memberikan kode restu, tapi hal tersebut tak lantas membuatnya yakin. Entah ia merasa trauma atau ketakutan sekilas saja. Ia harap ini hanya ketakutannya saja. Ia pun masih berharap suatu hari nanti bisa membina rumah tangga dengan seseorang yang mampu mencintainya dengan tulus.
Selagi bayi itu dibersihkan, Zafira menjalani proses selanjutnya, yaitu mengeluarkan plasenta dan membersihkan sisa-sisa darah serta menjahit jalan lahir yang sempat agar kembali sempit seperti semula.
Mata Alvian terbelalak saat melihat dokter mengeluarkan jarum dan benang dari heacting set. Alvian sampai bergidik ngeri sendiri lalu melirik Zafira yang juga memalingkan wajahnya. 3 kali melahirkan tak serta merta membuat Zafira terbiasa melihat alat-alat medis tersebut. Ia pun masih bergidik ngeri bila melihatnya apalagi Alvian yang masih awam.
__ADS_1
"Al, kamu keluar aja ya!" Zafira paham, ini sebenarnya tak etis, Alvian tidak memiliki hubungan apapun dengan dirinya. Namun sebaliknya, Alvian justru menolak tegas. Ia ingin sekali menemani segala prosesnya hingga benar-benar selesai. Zafira yang sudah tidak memiliki tenaga pun hanya bisa menghela nafas pasrah. Dan pada akhirnya, Alvian pun menemani Zafira di sana hingga selesai.
Tak lama kemudian, seorang perawat kembali masuk ke dalam ruangan itu sambil menggendong bayi mungil Zafira yang telah dibersihkan untuk melakukan inisiasi menyusu dini. Alvian yang mendengarnya seketika tersenyum horor, ia pun segera membalikkan badannya membelakangi membuat dokter dan perawat itu terkekeh. Tapi sebelum itu, Alvian diminta mengadzani bayi tersebut. Dengan senang hati, Alvian pun bergegas mengumandangkan adzan di telinga kan bayi tersebut. Suara Alvian yang merdu membuat hati Zafira merasa teduh. Zafira seketika teringat saat ia baru saja melahirkan, Regina justru diadzankan oleh sopir keluarga Refano yang mengantarnya saat itu, sedangkan Refina diadzankan oleh dokter yang membantunya saat persalinan. Tidak ada satu pun dari anak-anaknya yang diadzankan oleh ayahnya sendiri. Setelahnya, barulah bayi mungil itu diserahkan pada ibunya untuk melakukan inisiasi menyusu dini.
"Papanya malu tuh dek, padahal udah biasa liat juga kan dek." Goda sang dokter membuat Zafira dan Alvian tersenyum kikuk. Tak mungkin pula mereka secara terang-terangan menyatakan Alvian bukanlah ayahnya sebab itu sama saja menjatuhkan nama baik Alvian.
"Mungkin papanya takut pingin juga dek," timpal perawat yang lain membuat wajah Alvian seketika memerah tanpa mampu mengatakan apapun.
"Oh ya dok, jenis kelamin anaknya apa?" tanya Zafira akhirnya. Sejak tadi ia sebenarnya penasaran, benar-benar perempuan atau ... laki-laki. Semenjak pemeriksaan terakhir dengan Refano, ia tak pernah lagi memeriksakan sambil melakukan USG. Biarlah ia serahkan segalanya pada Tuhan, pikirnya. Mau laki-laki ataupun perempuan, ia akan menerima dengan hati yang penuh rasa syukur. Yang ia harapkan hanyalah anaknya lahir dengan sehat dan selamat tanpa kurang apapun.
"Oh iya, pak, Bu, maaf saya lupa memberi tahu. Selamat, anak bapak dan ibu berjenis kelamin laki-laki." Seru Perawat itu antusias membuat mata Zafira terbelalak. Kemudian senyumnya merekah sempurna. Ia tak menyangka, prediksi mesin USG ternyata salah.
...***...
Hari sudah pagi dan matahari sudah mulai meninggi saat Alvian pergi untuk menyelesaikan proses administrasi, sedangkan bayi mungil Zafira sudah dibawa ke ruang khusus bayi untuk menjalani observasi karena dilahirkan tak cukup bulan. Saat sedang sendiri, Zafira mengambil ponselnya. Bimbang harus mengabarkan atau tidak perihal ia yang telah melahirkan pada Refano. Bagaimana pun status Refano masih suaminya. Selain itu Zafira ingin melihat keputusan apa yang akan Refano ambil selanjutnya.
__ADS_1
Sementara itu, di koridor di rumah sakit yang sama tampak Refano, Liliana, dan Saskia tengah berjalan keluar dari ruang pemeriksaan. Kandungan yang lemah membuat Saskia harus check up selama 2 Minggu sekali. Apalagi stres karena Refano yang kekeh menginginkan Regina membuat kandungannya sering bermasalah.
"Kau lihat itu Fan, akibat ulahmu hampir saja terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dengan calon cucu mama. Pokoknya awas saja kamu membahas anak nggak berguna itu lagi. Pokoknya mama nggak sudi punya cucu dari perempuan udik itu. Titik," tukas Liliana bernada ketus membuat Refano menghela nafas kasar.
"Iya, iya," ketus Refano kesal.
"Ma, bukannya itu ibunya perempuan itu? Ngapain dia di sini? Dia bawa kedua cucunya tanpa perempuan itu, apa perempuan itu sudah melahirkan?" ujar Saskia saat melihat Bu Mayang yang berjalan sambil menggandeng Regina dan Refina. Mata Liliana memicing. Saat dilihatnya itu benar-benar Bu Mayang, ia pun meminta Refano dan Saskia mengikuti Bu Mayang sampai ke ruangannya.
"Kalau benar Zafira sudah melahirkan, mama minta kamu segera talak dia. Mama nggak mau tahu menahu, pokoknya hari ini semuanya harus segera diakhiri. Mama nggak mau lagi kamu sebut-sebut nama mereka. Kamu dengar itu, Refan?" tegas Liliana. Refano memejamkan matanya sejenak kemudian mengangguk pasrah. Mata Refano kembali terbuka, dipandanginya kedua putrinya dengan tatapan penuh arti. Entah apa arti tatapan itu, hanya dirinya sajalah yang tahu.
Tak lama kemudian, benar saja, Bu Mayang masuk ke dalam salah satu ruangan yang terdapat Zafira di dalamnya. Zafira tampak sedang menyusui anaknya. Karena berat badan bayi yang cukup dan bayi dinyatakan sehat, bayi Zafira pun tidak perlu berlama-lama masuk ke dalam ruangan NICU.
Belum sempat Bu Mayang menyapa Zafira dan bayinya, pintu ruangan itu terbuka. Mereka pikir itu Alvian, tapi yang masuk justru orang-orang yang telah menorehkan luka mendalam dalam kehidupan Zafira dan kedua putrinya. Jantung Zafira berdebar kencang, ia penasaran bagaimana mereka tahu ia melahirkan hari ini. Padahal ia saja belum sempat mengabari mereka. Rasa takut, cemas, juga khawatir mendominasi pikirannya, bagaimana bila mereka ternyata tahu bayi yang ia lahirkan laki-laki dan berniat mengambilnya. Meskipun mereka telah memiliki perjanjian hitam di atas putih, namun rasa khawatir itu tetap saja ada. Begitu juga Alvian yang berdiri di balik pintu ruangan itu, bila Zafira khawatir bayinya diambil, maka Alvian justru khawatir Zafira memilih kembali pada Refano karena ia telah berhasil melahirkan bayi laki-laki. Ingin ia segera menampakkan diri, tapi ini bukan waktu yang tepat. Jadi ia tetap berdiri sembari mengamati apa yang akan terjadi dengan perasaan was-was.
"Kalian," seru Bu Mayang dengan mata membulat yang dibalas Liliana dan Saskia dengan tatapan jengah. Berbanding terbalik dengan tatapan Refano yang tampak sayu. Bu Mayang dan Zafira saling menoleh, ingin melihat apa yang akan mereka lakukan. Sedangkan kedua anaknya tampak berdiri acuh tak acuh seolah tidak mengenali ketiga orang itu membuat tatapan Refano kian nanar.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...