
"Permisi, pak," ujar Zafira saat akan memasuki ruangan kerja Alvian.
"Ya, silahkan masuk, Ra," sahut Alvian seraya mengembangkan senyum semanis mungkin berharap sang pujaan hati akan terpikat dengan senyumannya itu.
"Senyumnya nggak perlu selebar itu juga, pak," sergah Zafira merasa geli sendiri melihat senyum sang bos.
"Memangnya kenapa?" goda Alvian cengengesan.
"Bahaya tau, nggak. Kalau yang lihat baperan kan bisa gawat."
"Kan emang sengaja."
"Owh ya?"
"Hmmm ... sengaja biar kamu baper. Tapi kok kamu nggak pernah baper sih, Ra. Apa aku kurang ganteng ya?" seloroh Alvian dengan memasang tampang innocent membuat Zafira tergelak kencang.
"Astaga pak, bapak lucu banget sih! Pantas saja dua krucil saya suka banget sama pak Al." Ucap Zafira membuat senyum Alvian makin melebar.
"Kan calon ayah idaman jadi harus bisa mengambil hati calon putri-putrinya. Kayak istilah zaman sekarang itu, bapakable." Alvian terkekeh setelah mengatakan itu. "Kalau ibunya udah suka belum?" goda Alvian sambil menaikturunkan alisnya membuat Zafira menggigit bibir bawahnya. "Semoga diam ini merupakan pertanda iya ya. Kalau dedeknya udah lahir, mau kan Abang halalin? Abang janji deh bakal jadi suami dan ayah yang baik." Ucapnya membuat Zafira memalingkan wajahnya dengan pipi bersemu merah. Sikap Alvian yang random terkadang membuatnya salah tingkah. Andai ia tak sadar diri masih berstatus istri orang, mungkin sudah baper dengan segala tingkah polah bosnya itu.
"Udah ah, pak, jangan kayak gitu. Kalau ada yang dengar dikira mereka beneran, apa bapak nggak malu?" sergah Zafira. Ia pikir Alvian hanya usil saja padanya.
Mana mungkin pria sesempurna Alvian yang memiliki segalanya dari harta, kedudukan, ketampanan, semua ada dalam genggamannya, bisa menyukai dirinya yang hanya calon janda dengan anak 3. Sedangkan di luar saja para gadis berhamburan yang ingin dekat bahkan menjadikan Alvian pasangan mereka. Biarpun ia belum lama menjadi sekertaris Alvian, tapi ia sudah cukup tahu banyak mengenai laki-laki dengan sejuta pesona tersebut. Bahkan hampir semua karyawan yang berjenis kelamin perempuan mengidolakan dan berharap bisa mendapatkan hati sang atasan galaknya itu. Tak sungkan-sungkan, mereka kerap mengirimkan makanan, sengaja menyapa, mendekati, bahkan ada yang berpura-pura jatuh, lewat, ataupun itu agar bisa mencari perhatian sang atasan.
Bukan hanya itu, banyak juga para klien yang sengaja mengajak anak gadis mereka dan berusaha mengenalkan dan menjodoh-jodohkan putri mereka sambil menceritakan segala kelebihan sang putri berharap Alvian tertarik pada putri mereka. Tapi anehnya, Alvian justru merespon santai tanpa memberikan respon berarti sebagai isyarat ia tak tertarik sedikit pun. Akibatnya, kini beredar gosip kalau atasannya itu penyuka sesama jenis sebab bukan hanya tak pernah terlihat berdekatan dengan seorang wanita pun, tapi ia juga menolak semua gadis yang disodorkan padanya.
Oleh sebab itu, Zafira tak ingin terlalu baper dengan sikap random Alvian. Ia tak mau patah hati. Sudah cukup ia terluka karena kandasnya rumah tangga yang ia coba pertahankan selama 7 tahun ini dan ia tak mau kembali patah hati hanya karena terlalu terbawa perasaan dengan sikap Alvian.
"Malu? Untuk apa aku malu? Aku serius, Ra. Apa kamu nggak bisa melihat kesungguhanku? Apa kamu nggak bisa melihat bagaimana usahaku demi mendapatkan perhatianmu dan meluluhkan hatimu? Aku tahu, kamu pasti ragu dengan apa yang aku katakan. Tapi sungguh, aku telah jatuh hati padamu dan ... aku ingin menjadikanmu istriku, ibu dari anak-anak kita. Aku mohon, lihat aku, lihat kesungguhanku. Aku tak masalah kalau kau belum mencintaiku. Namun sekali lagi aku mohon, berikan aku kesempatan untuk membahagiakanmu dan anak-anakmu. Aku berjanji, aku takkan menyakitimu seperti apa yang pernah laki-laki itu lakukan pada kalian." Ucap Alvian penuh kesungguhan membuat lidah Zafira seketika kelu.
__ADS_1
"Tapi aku ... aku ... "
"Aku mengerti, kau tak perlu mengatakan jawabanmu sekarang. Aku akan menunggu jawabanmu. Semoga kau mau membuka hatimu sedikit untukku sehingga diriku bisa memilikimu."
...***...
Makan siang ini Zafira tidak memesankan Alvian makan siang seperti biasanya karena menurut kabar, Bu Ayu sendiri yang akan mengantarkan makan siang putranya itu. Dan benar saja, 30 menit sebelum makan siang, Bu Ayu telah datang dengan membawa beraneka ragam jenis makanan. Atas permintaan Bu Ayu, Zafira pun ikut makan bersama di dalam ruangan Alvian. Tak ingin membuat Luthfi cemburu karena atasannya yang terkesan pilih kasih, Bu Ayu juga mengajak Luthfi makan bersama. Pemuda itupun menerima ajakan tersebut dengan senang hati.
"Ayo nak, makan yang banyak biar bayi dalam kandunganmu sehat. Bunda sengaja masak macam-macam takut ada yang nggak kamu sukai." Ujar Bu Ayu antusias sambil mengambilkan aneka lauk ke dalam piring Zafira membuat perempuan itu salah tingkah sendiri diperlakukan seperti itu. Bu Ayu bukan hanya cantik, tetapi juga sangat baik. Zafira seperti melihat sosok ibunya dalam diri Bu Ayu.
"Udah cukup, Bu. Ini udah kebanyakan." Ujar Zafira menolak secara halus sebab Bu Ayu tampak begitu semangat memberikannya aneka lauk ke dalam piringnya.
"Oh. Baiklah. Kalau ada yang mau lagi, ambil saja ya, nak."
"Baik, Bu. Terima kasih."
Tapi Zafira yang masih merasa canggung, tetap memanggil Bu Ayu dengan panggilan Bu. Ia juga merasa sungkan dengan Alvian dan Luthfi yang sepertinya dari tadi meliriknya.
Sebenarnya Zafira merasa sungkan menerima kebaikan Bu Ayu, tapi ia tak kuasa untuk menolaknya.
"E-nak Bu. Enak banget malah," puji Zafira jujur.
Selepas makan siang, Bu Ayu meminta Zafira menemaninya pergi ke mall untuk membeli berbelanja di sebuah supermarket yang ada di dalam sebuah mall. Ternyata saat berada di sana, Bu Ayu bukan hanya mengajaknya berbelanja keperluannya, tapi juga mampir ke sebuah toko mainan dan toko pakaian anak-anak. Zafira pikir, semua mainan dan pakaian itu Bu Ayu beli untuk keponakannya, tapi ternyata saat dalam perjalanan pulang, Bu Ayu menyerahkan kantong berisi pakaian dan mainan itu kepada Zafira membuat wanita hamil itu membelalakkan matanya.
"Tapi Bu ... ini terlalu banyak. Dan ... dan ... "
"Udah terima saja. Bunda malah pingin banget beliin baju untuk anak dalam kandungan kamu tapi kamu bilang udah beli, jadi ya ibu beliin untuk kedua putri kamu aja."
"Ibu ... tau saya punya 2 orang putri?" tanya Zafira heran. Ia pikir mana mungkin laki-laki seperti Alvian bercerita tentang dirinya pada sang ibu. Tapi kenyataannya, Bu Ayu justru mengetahui segala tentangnya memang dari Alvian. Ya, Alvian telah menceritakan segala hal tentang Zafira pada ibunya. Termasuk siapa suaminya selama ini. Bu Ayu benar-benar tak menyangka, orang-orang itu begitu tega memperlakukan Zafira seperti itu dan membuangnya beserta anak-anaknya begitu saja seperti sampah.
__ADS_1
"Tentu saja tahu. Alvian itu anaknya sangat terbuka dengan bunda. Bahkan dia juga jujur telah jatuh hati pada kamu." Ucap Bu Ayu blak-blakkan membuat Zafira menganga tak percaya. "Nggak perlu terkejut. Begitulah Alvian. Dia hanya punya bunda saja setelah kakek dan neneknya meninggal. Jadi hanya bunda tempatnya berkeluh kesah. Dia sebenarnya cukup tertutup dengan orang lain, tapi kalau dengan Bunda dia akan menceritakan segalanya termasuk wanita yang telah membuat kinerja jantungnya bertambah dua kali lipat. Lucu ya? Anak itu emang lucu. Malah awalnya dia tanya sama bunda, ciri-ciri orang jatuh cinta itu kayak apa. Putra bunda itu memang sebodoh itu dalam memahami perasaannya sendiri. Tapi bunda bersyukur, biarpun ini pertama kalinya ia jatuh hati, tapi ia jatuh hati pada wanita yang tepat. Bunda harap laki-laki itu cepat melepaskan kamu sehingga kamu bisa membuka lembaran baru dengan Alvian," tutur Bu Ayu panjang lebar.
"Memangnya ibu nggak papa pak Alvian menikah dengan janda anak 3 seperti saya?" tanya Zafira heran. Kalau ia janda kaya pemilik segalanya, mungkin saja masih wajar Alvian disandingkan dengan dirinya, tapi dirinya tak lebih dari janda miskin beranak 3, masa' orang sekelas Alvian mau dengan dirinya, aneh kan. Orang-orang yang tahu pun pasti akan meragukan hal ini. Bisa-bisa ia dikira main pelet untuk menarik hati seorang Alvian.
"Memangnya kenapa dengan janda anak 3? Kamu perempuan baik-baik. Kamu juga cantik dan pintar, wajar kalau anak saya suka sama kamu. Masalah anak kamu? Bunda malah senang sekali bisa langsung punya cucu 3. Kalau nunggu kalian kan pasti lama ya prosesnya," goda Bu Ayu sambil terkekeh. Tiba-tiba mobil yang membawa Bu Ayu dan Zafira berdecit cukup keras hingga membuat kedua wanita di dalamnya terkejut bukan main.
"Ada apa, pak?" tanya Bu Ayu pada sang sopir.
"Itu Bu. Ada mobil nabrak pembatas jalan." Ucap sang sopir membuat Bu Ayu dan Zafira saling menoleh.
"Coba cepat lihat pak keadaan orang di dalamnya! Jangan-jangan terjadi sesuatu," titah Bu Ayu.
Sang sopir pun bergegas keluar diikuti Bu Ayu dan Zafira. Saat pak sopir mendekat, bersamaan dengan pengemudinya yang juga keluar dari dalamnya.
"Anda tidak apa-apa, pak?" tanya sang sopir pada pengemudi mobil itu.
"Alhamdulillah, tidak. Maaf pak, rem saya blong jadi saya terpaksa banting stir ke pembatas jalan di sini yang cukup sepi. Apa Anda dan orang yang ada di dalam mobil Anda tidak apa-apa?" tanya seseorang itu.
"Alhamdulillah, kami tidak ... "
"Kak Afrizal?" gumam Bu Ayu membuat laki-laki itu menoleh.
Mata laki-laki itu tiba-tiba saja membulat saat melihat wajah Bu Ayu yang telah berdiri di hadapannya.
"Ayu? Kamu ... benar Ayu kan?" serunya dengan binar penuh keterkejutan. Ia tak menyangka setelah puluhan tahun tidak bertemu, akhirnya mereka kembali dipertemukan. Lalu laki-laki bernama Afrizal itu melirik ke arah Zafira dan matanya pun membulat. 'Bukankah dia perempuan yang dinikahkan tuan Prambudi dengan Refano waktu itu? Tapi kenapa dia justru bersama dengan Ayu? Apa hubungan mereka?' gumamnya dalam hati.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1