
"Nami!!!!.. " Teriak Dewi kencang saat melihat motorku berhenti di depan Rumahnya
"Dirurung ngantosang? Aku singgah bentar deh, mo pamit bapak jak meme ci dije? "
(Nunggu diluar? Aku singgah bentar, mo pamit. Bapak Ibumu dimana?)
"Mereka keluar, yuk langsung aja nggak usah pamitan, nggak ada orang di rumah"
“Eh sajan,meme mesen jaje sumping 50 anggon bin limang dina abe sik umahne Agus,muh catet malu pang sing sap”
(Eh iya, ibuku mesen nagasari 50 untuk 5 hari lagi mau dibawa kerumahnya Agus. Sana catat dulu biar nggak lupa") aku berujar cepat
Dewi masuk sebentar menulis pesenanku dipapan pesenan kue. Ibunya Dewi memiliki usaha pembuatan kue basah traditional yang cukup terkenal di lingkungan kami. Karena rasa kuenya yang enak dan tidak menggunakan bahan pengawet jadi setiap hari ada saja pesanan.
Kita pun langsung berangkat menuju pedagang rujak langganan.
Sekitar 10 menit perjalanan, akhirnya sampai juga, aku memarkir kendaraan dekat dengan pintu masuk.
"Langsung pesan aja yah wik"
"Ok, aku cari tempat duduk dulu, kayaknya nggak penuh" Dewi melihat sekeliling
"Yuk" Kataku sambil menggantungkan helmku dan helm Dewi di stang motor.
Kupilih meja yang menghadap parkiran langsung, kutarik satu kursi dan langsung duduk, Dewipun melakukan hal yang sama.
" Pesen apa yah?" Kata Dewi sambil membaca menu di tembok warung, tangannya meraih pulpen dan kertas note kecil, dan mengisinya dengan nomor meja dan nama pemesan.
" Padahal tadi sarapan banyak, meme masak enak dirumah, tapi aku kok masih pengin makan lagi. Cang pesan tipat plecing pake telor, rujak gula buah buni, nenas, jambu air, es campur juga.
"Cang tipat cantok, rujak kuah pindang pedas tidak pake gula sama es gula"
Dewi mencatat semua pesanan dan beranjak ke tempat pemesanan, dan langsung menancapkan pesanan ke paku pesanan yang tersedia di depan pembuat rujak. Nanti catatan kecil tersebut di tarik untuk dibuatkan pesanannya dari yang paling bawah.
Dewi terlihat sibuk mengambil cemilan keripik dan makanan kecil lainnya peneman makan rujak.
Aku meraih ponselku untuk melihat pesan yang masuk, aku melihat ada pesan masuk dari Galang
Galang: "Hi Nami lagi apa? "
Aku: "Beli rujak sama teman" Jawabku cepat
Sesaat terlihat tanda √√ biru dibelakang pesan yang aku kirim. Galang terlihat sedang mengetik sesuatu
Galang: "Dimana? Wah kayaknya enak jam segini makan rujak 😜”
__ADS_1
Aku: "Langganan saya di Kesiman, lumayan enak ☺"
Galang: "Saya boleh ikut kesana?
Aku: "Ngapain?
Galang: " Makan rujak dong, masak mau ketemu kamu 😄"
Aku: " Dih ketempat lain kan bisa 😝"
Galang: "Nggak boleh yah? Temannya pasti laki-laki"
Dewi rupanya sudah kembali duduk didepanku
"Nyen nam? ( Siapa Nam?)" Tanyanya penasaran karena melihatku tersenyum sendiri.
" Teman bos cang, katanya mau ikutan kemari makan rujak, males ah ngapain ganggu aja"
"Cieee laki-laki, demen jak ci sing? (Suka sama kamu, nggak??) biar aja kesini, aku juga pengin lihat kayak gimana orangnya"
"Teman wik, nggak ada apa-apa"
"Iyah cang dot nawang timpalmu hahaha " ( Iyah saya pengin tahu temanmu) Dewi terkekeh
"Hahahaha apa sih, beneran aku suruh kesini yah"
"Entar aku cerita deh, aku ketemu lagi loh sama dia" Aku menghela nafas.
"Hah? Dimana? "
"Bentar jawab orang ini dulu" Aku menunjuk ponselku
"Ih gitu yah, nama orang yang katanya teman, yang mau makan rujak ini siapa sih? " Kata Dewi antusias.
"Namanya Galang" Aku menjawab sambil kembali membalas pesan dari Galang
Aku: " Teman Cewek kok, ya udah datang aja"
Ku kirimkan lokasi warung ke Galang.
Galang: "Tunggu yah jangan pergi dulu 😉"
Aku: "Iyah ditungguin"
Kuletakkan ponselku diatas meja sambil melihat sekeliling "agak beda yah wik, lebih rapi sekarang warungnya"
__ADS_1
"Iyah tapi agak sepi yah, dulu kan ngantri banget"
"Mungkin entar lagi rame"
" Bisa jadi, eh jadi dong dia kesini? "
"Jadi kok"
"Yesssss" Dewi terlihat bersemangat
Aku menggeleng heran, "kamu apa kabar sama Arya? "
"Masih, biasa aja sih Nam kelamaan pacaran kali yah, dia ngajak nganten (nikah), Mungkin tahun depan, kan aku ada ikatan dinas di Rumah Sakit, aku baru mulai jadi perawat disana setahun ini"
"Wah teman kecilku sudah berencana menikah, cang happy sekali mendengarnya" Kataku dengan senyum senang dengan berita itu
"Doain yah Nam semoga tidak ada halangan"
Aku mengangguk cepat sambil memegang tangannya.
"trus Bumi gimana tadi? " Kata Dewi lagi.
"Menyebalkan wik, orang gila"
Aku pun bercerita tentang pertemuanku yang tidak disangka-sangka dengan Bumi semalam.
Sementara itu pesenannya sudah datang obrolan kami terhenti sementara, kami mengaturnya dimeja sedemikian rupa, yang pertama kami santap tentu saja tipatnya.
" Brengsek banget yah orang itu, enak aja dateng lagi! Lanjut Dewi mengomel.
"Hahahaha sabar wik… sabar , yuk makan dulu, emosinya entar aja" Candaku sambil membuka kantong kecil makanan ringan berbentuk mie yang remuk tapi garing dan gurih, kutaburkan makanan ringan tersebut diatas tipat (ketupat) plecingku yang langsung kusantap dengan nikmat. Kebiasaanku tidak pernah berubah saat menyantap makanan ini, perpaduan pedasnya plecing kangkung, ketupat yang legit kenyal ditambah gurihnya telur, keripik mie tadi dan kuah dari rebusan ikan pindang yang tidak pelit ini menambah nikmatnya makanan favoritku ini.
"Emosi akuh dengar ceritamu, eh tapi yang nganter pulang kok bisa si lelaki itu yah hahaha" Dewi terkekeh lagi sambil menyendok tipat cantoknya dan langsung dilahapnya disambung dengan keripik yang dia ambil tadi.
"Iyah malah diantar pulang dia, Bumi sempat kerumah wik semalam, nungguin aku pulang dari Tabanan, ketemu meme, aku juga cerita dong gimana dia, meme bilang cuekin aja.
"Iyalah jahat banget, maunya apa sih datang- datang lagi, aku dengar ceritamu aja jadi kesel sendiri" Dewi tak henti-hentinya mengomel tentang Bumi.
Sedang asyik mengobrol, mata Dewi langsung tertuju pada mobil hitam berjenis city car parkir diseberang jalan didepan warung. Seorang laki-laki turun dari mobil mengenakan celana jeans biru dan baju kaos berlengan pendek berwarna putih, badannya proporsional tidak terlalu berotot tapi berisi dengan dada yang cukup bidang. Rambutnya yang sedikit ikal berwarna hitam tampak bebas diterjang angin yang berhembus sedikit kencang kemudian jatuh lagi ke belahan samping yang menawan. Dia berjalan santai ke arah meja dimana mereka duduk sekarang. Aku yang membelakangi arah pandangan Dewi ikut menoleh kebelakang karena sepertinya Dewi serius dengan apa yang dia lihat.
"Duh Hyang Widhi kenapa dia jadi terlihat lebih ganteng dari yang aku lihat semalam. Kok Aku degdegan gini, duh ngapain pakai pakaian santai gini sih baru inget aku cuman pakai sendal jepit, muka kosongan gini, pakai lipstik aja nggak, Hei kan hanya teman?!!, lagian dia kesini kan mau makan aja, santai dong!!!, cing apaan sih " Aku berdebat dengan batinku sendiri.
Aku menoleh ke arah Dewi dengan muka khawatir, Dewi memandangiku dengan tersenyum, " Bagus nok ( Ganteng loh) cocok sama kamu"
__ADS_1
Santai Nam sing nganggo make up aja ci nu jegeg kok" (Santai Nam, nggak pakai make up aja kamu masih cantik kok) ujarnya dengan mengacungkan jempolnya kearahku seperti bisa membaca perang batinku saat ini.
Aku tersenyum kecut mencoba santai, walaupun jantungku berdebar-debar tidak karuan. Sementara Galang sudah sampai dimeja kami.