Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
Pak Sudira


__ADS_3

Seperti biasa aku merapihkan berkas yang aku butuhkan untuk hari ini dan memasukkannya kedalam tas tenteng berbahan blacu berwarna krem. Hari ini aku punya janji bertemu dengan salah satu travel agent di daerah Kuta setelah makan siang. Aku melihat jam di ponselku ternyata baru jam 12.00 "Hmm masih sekitar 1 jam lagi sebaiknya aku makan siang dulu "


Aku beranjak dari kursiku dan mengambil dompet dan ponselku dari atas meja. Bu Ida hari ini sedang sakit jadi beberapa urusan dihibahkan padaku termasuk meeting ini.


Aku sudah memesan seporsi gado-gado dan segelas es teh manis. Ponselku berbunyi pertanda ada pesan yang masuk. Ternyata dari Galang.


Galang : "sayangku❀ lagi apa? "


Aku : "makan siang, bli udah makan siang? "


Galang : "ini lagi makan "


Aku: " Abis ini mau ada meeting di Kuta"


Galang: "sama dong, dimn? "


Aku : jalan majapahit ☺


Galang: "Wah deket dong, aku sekitaran situ juga. Mau ketemu bentar nggak sebelum meeting? πŸ˜—


Galang: "meeting jam berapa? "


Aku : " Jam 13.30, boleh deh. Share loc yah sayang πŸ’•"


Galang: "yah abis ini aku kirim


Aku: aku dah selesai makan siang, mo balik ke kantor terus langsung berangkat 😍"


Galang: "Iyah hati-hati dijalan sayang πŸ’•πŸ˜˜"


Aku : "😍😘 Iyah bli"


Sekitar 15 menit setelah Galang mengirimkan alamatnya kemudian aku berangkat menggunakan motor. Bulan ini Denpasar lumayan sejuk mengarah ke dingin membuat semangatku sedikit mengendur, untung saja bisa bertemu dengan Galang walaupun hanya sebentar saja.


Ternyata lokasi meeting Galang berseberangan dengan lokasi yang aku tuju. Galang akan meeting di satu kedai kopi dan aku di kantor travel agent yang tepat sekali berada di depan kedai tempatku sekarang parkir.


Aku melepas helm, jaket dan kain yang melilit pinggang ku. Aku hari ini mengenakan rok hitam sebetis, sepatu model pump shoes berwarna krem dan atasan sweater dengan model kerah berbentuk v yang pas dibadan berwarna biru muda. Di parkiran motor rambutku ku sisir rapi dan ku ikat seperti ekor kuda agak tinggi sebelum akhirnya masuk ke kedai kopi tersebut.

__ADS_1


Begitu masuk kedai aku langsung bisa melihat Galang yang duduk dengan nyaman. Dia tersenyum dari kejauhan begitu melihatku.


Dengan langkah cepat dan panjang aku mendekat


"Pacar siapa ini cantik banget " Kata Galang, yang sontak membuatku tersenyum salah tingkah.


Aku duduk disebelahnya, Galang meraih tanganku "mau aku pesenin kopi? "


"Boleh deh" Aku mengangguk


Galang berdiri dan menuju counter pemesanan.


Galang telah kembali ke mejanya.


"Dingin yah" Kata Galang kemudian


"Iyah dingin, tadi sebenarnya aku pake blazer lagi diluar baju ini, eh nggak sengaja kena siram teh sama Ratna anak kantor depan.


Ya udah aku bawa ke laundry dekat kantor, noda teh kalau kelamaan nggak dicuci susah hilang bli" Aku bercerita sambil merapikan rambut Galang yang mencuat keatas


Galang hanya tersenyum mendengar ceritaku


Ck! Sexy apa ? ini biasa aja, kan ketutup semua"


"Lekuk nya kan keliatan " Galang manyun


"Masak aku pake jaket gede mau meeting begini" Aku tak kalah manyun.


"Iyah sayang besok- besok pakai blazer nya yah" Galang membelai rambutku lembut.


Aku mengangguk "Iyah bli"


Di saat mereka sedang mengobrol, seorang laki-laki sedang memperhatikan mereka dari dalam mobil mewah berwarna hitam yang terparkir diluar kedai. Orang tersebut sudah memperhatikan Nami sedari tadi sejak Nami baru sampai di kedai kopi ini.


"Pak Dira kenal wanita itu? , sepertinya kekasih pak Galang" Tanya Gani sekretarisnya


Sudira hanya mengangguk pelan, wajahnya terlihat murung.

__ADS_1


Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk lututnya tanda sedang berpikir.


"Gani, Saya mau kamu menabraknya saat dia keluar nanti. masukkan dompet saya dalam berkas ini ke dalam tas wanita itu." Kata Sudira sambil mengeluarkan debit card platinum dari dalam dompet lalu menyerahkan dompet beserta satu bundel berkas ke tangan Sekretarisnya.


Gani berpikir sejenak untuk mencerna maksud direkturnya ini. "Maksud Bapak pura-pura tidak sengaja? "


Dira lagi-lagi mengangguk.


Gani turun dari mobil dan bersiap-siap untuk tugas yang diberikan Pak Sudira. Gani bersembunyi dan menunggu didekat pintu masuk, sambil mengintip Nami dari celah pohon yang rimbun.


Di dalam mobil tampak Pak Sudira memejamkan matanya, ia mengingat pertemuan tidak sengaja nya dengan Nami, Iyah ia masih ingat nama itu. Nama yang tidak pernah bisa ia enyah kan dari benaknya bertahun-tahun. Sudah lama ia mencari wanita ini, sampai akhirnya ia menyerah karena tak satupun petunjuk ia dapatkan dari kartu nama yang diberikan oleh Nami saat itu.


Saat itu keadaan Perusahaan yang ia pegang sedang mengalami masalah keuangan yang cukup membuatnya stres. Jadwalnya yang padat dan serba cepat selalu membuatnya lupa waktu dan sering tidak bisa menikmati waktu istirahat bahkan untuk makan.


Sepulangnya dari Jakarta dirinya memperoleh kabar dari karyawan dikantor bahwa pak Nyoman- sopirnya tidak bisa menjemput karena tiba-tiba saja sakit.


Kepalanya yang sudah pusing semenjak turun dari pesawat hari itu semakin menjadi. Jangankan untuk memesan taksi, untuk berjalan saja rasanya dia harus memaksakan menggerakkan kakinya menuju tempat dimana taksi menurunkan penumpang.


Ia berhenti sejenak sebelum lanjut melangkah Tempat yang ia tuju sebenarnya sudah dekat tapi tiba-tiba saja pandangannya menjadi kabur dan gelap seketika. Saat ia merasa mulai tumbang ada sepasang tangan yang menangkap badannya untuk tetap tegak dan menuntunnya mencari tempat untuk duduk.


Samar- samar ia masih bisa merasakan tubuhnya direbahkan pelan dan kakinya diangkat untuk diluruskan saat berbaring.


Ikat pinggangnya dikendurkan serta kancing kemejanya bagian atas dibuka.


Suara seorang wanita terdengar meminta tolong seseorang untuk memanggil petugas medis. Suara Wanita itu membuatnya kaget, ternyata yang membantunya seorang wanita.


"Pak bisa dengar suara saya,nama Bapak siapa?" Dalam kondisi setengah sadar ia menjawab pertanyaan petugas medis yang sedang memeriksanya dengan cepat.


"Sepertinya bapak ini harus dibawa ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut mba" Kata petugas medis itu sambil memasangkan tabung oksigen.


Ia bisa mendengar jawaban wanita yang menolongnya tadi " Iyah sebaiknya dibawa saja dok, saya tidak mengenal Bapak ini tapi identitasnya pasti ada didalam dompetnya"


Tangannya yang masih lemah langsung memegang erat tangan wanita itu. Berharap wanita ini mau menemaninya sampai dirumah sakit.


"Pak nanti saya bantu menghubungi keluarga bapak yah, sekarang kita sebaiknya kerumah sakit. Saya akan ikut dengan ambulance yang membawa bapak sekarang." Kata wanita ini cepat.


Ia hanya bisa mengangguk pelan.

__ADS_1


"Saya ikut deh dok"


Setelah ia di masukkan kedalam ambulance kesadarannya hilang sama sekali.


__ADS_2