Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
Orang tuanya datang


__ADS_3

Saat ini perut kami berdua terasa penuh.


"Terimakasih yah Bli, makan malamnya enakkkk banget. Restauran Michelin Star aja kalah" Aku mengacungkan dua jempolku kearah Galang "Kalau aku punya 10 jempol pasti semua aku keluarkan sekarang" Lanjut ku sambil nyengir.


"Iyah sayang, duh yang jago makan hahahaha" Galang tergelak memelukku yang sedang manyun digoda olehnya.


"Aku senang sayang, kamu lahap makannya. Cepat besar dan pintar yah hahaha"


Aku ikut tergelak dengan ucapan Galang.


Galang beranjak dari tempat duduknya lalu mengambil baki untuk tempat piring yang kosong. Ketika aku berniat membantu, dia menahanku "nggak usah dibantu, bantu yang lain aja nanti" Katanya tersenyum sambil mengedipkan satu matanya.


"Bantu apa?" Tanyaku kemudian ketika ia sudah kembali duduk disebelahku


"Bantu aku disini" Ia mengambil tanganku dan meletakkan tepat didadanya "berdebar kencang terus kalau sama kamu, gimana dong"


Aku hanya sanggup tertawa geli mendengar ucapannya "kalau nggak berdebar, artinya mati dong bli"


Galang melengos "huh nggak romantis" Katanya sambil ikut tertawa.


"Bli belajar masak sama siapa?" Tanyaku penasaran.


"Dari youtube, emangnya kamu aja yang bisa pijat plus-plus, aku juga bisa tapi masak plus-plus hehehe" Galang mendorong kepalaku dengan kepalanya. Aku hanya bisa tertawa mendengar kata plus-plus dari mulut Galang.


"Pak Sudira nikah bulan depan loh sayang, calonnya anak pejabat. Kalau dari sekarang sekitar 2 minggu lagi. Kamu nggak diundang?"


"Diundang pun aku takkan datang bli, nggak penting banget. Kalau aku datang , bisa kacau kalau dia berulah lagi"


"Kamu nggak merasa sedih kehilangan? sedikit pun nggak sayang? Dia kan penggemar beratmu" Kata Galang sambil mengulum senyumnya.


Aku menggeleng pelan.


"Ck! Kasihan pak Sudira, cintanya benar-benar bertepuk sebelah tangan. Sudah tiga laki-laki yang aku tahu, patah hati gara-gara kamu sayang. Untungnya Gungde ikhlas yah hehehe"

__ADS_1


Aku tersenyum kecut "Oh iya apa kabar Gungde bli? "


"Baik, beberapa bulan lalu aku main kesana. Begitu tahu kita putus aku dimarahi habis sama dia hahahaha. Kata dia keterlaluan kamu Galang, tahu gitu kan aku aja yang ngejar dia lagi. Aku bilang sama dia, aku bakalan ngejar kamu lagi setelah urusanku selesai jadi jangan harap ada celah untuk orang lain bisa masuk"


"He is a good Man bli"


"Iyah baik banget, aku aja banyak dibantu Gungde. Kalau beneran kita berpisah jujur aku lebih rela kamu nikah sama Gungde daripada pak Sudira Sayang" Tangan Galang erat menggenggam tanganku.


"Kenapa ngomong gitu bli, aku nggak mau pisah lagi" Aku memeluknya erat.


"Bukan begitu, maksudku kemarin waktu kita pisah sayang. Karena aku juga laki-laki jadi tahu yang mana yang benar-benar baik dan mencintaimu tanpa syarat dan itu Gungde"


"Apa cintamu seperti itu bli?" Tanyaku masih memeluknya


"Entahlah sayang, menurutmu bagimana?"


"Kamu laki-laki yang baik juga bli. Semoga saja begitu untuk seterusnya. Yang pasti aku tahu aku sangat mencintamu sepenuh hatiku bli, gombal nggak sih ngomong begitu hahaha" Aku terbahak dengan ucapanku sendiri.


"Kamu nggak gombal kita memang saling jatuh cinta sayang, semoga kita bisa selalu saling mencintai seperti ini di masa-masa mendatang" Kata Galang sambil bangun dari duduknya dan menarikku untuk ikut dengannya duduk didiatas bean bag. Galang memelukku erat diatas pangkuannya.


"Kok kamu tahu banget tentang dia? Kalian sering ngobrol deep talk kayak gini juga? " Nada suara Galang menjadi sedikit tegang, jarinya menelusuri lenganku dari atas sampai bawah berulang-ulang.


"Sopirnya yang cerita, boro-boro mau deep talk. Aku kalau sama dia tingkat waspadanya naik 100 persen. Tiap dia ngomong apa jadi mikir gimana jawabnya, takut dia melakukan hal-hal diluar kedaliku bli"


"Kayak gimana misalnya?"


"Nih kayak kita ngobrol nih, tiba-tiba aja dia bisa narik rambut aku terus diciumin. Karena aku nggak mau itu terjadi yah jadi waspada sendiri"


"Tapi tetap kecolongan yah? Hehehe" Galang tertawa kecil


"Gimana nggak kecolongan, gerakan dia aku nggak bisa prediksi mau ngapain"


"Kayak gini?" Galang menghujani wajahku dengan ciuman.

__ADS_1


"Kalau sama bli aku nggak masalah mau diapain kan, karena aku kan memang suka" Jawabku malu-malu


Galang berhenti dengan ciumannya "nggak masalah mau diapain? Bener nih!?" Pandangan matanya tajam kearahku


Aku terperanjat "bu..bukan itu maksudku bli"


"Hahahaha" Galang terbahak melihat wajahku yang bingung.


"Ck! Bli loh senangnya bikin aku deg-degan"


"Duh segitu aja dah kaget banget" Tangan Galang menepuk tanganku pelan.


"Besok inget pulang kerja jangan kemana-mana lagi. Kalau pulang terlambat nggak apa-apa asal kabarin aku yah" Katanya kemudian.


Aku mengangguk pelan


______________


Singkat cerita kunjungan orang tua Galang kerumahku berjalan dengan cukup baik. Orang tua kami sama-sama menerima hubungan baik ini dengan perasaan nyaman. Aku merasa sedikit lega karena ternyata orang tua Galang terlihat baik dan sabar. Setelah Galang pulang dengan orang tuanya, Ibu mengajak ku bicara di meja makan.


"Jani (sekarang) secara tidak langsung dek sudah terikat dengan Galang. De nyen buin medemenan ajak nak muani lenan bin dek. Galang nak sube serius ngajak dek adane ne (jangan lagi suka-sukaan sama cowok lain dek, Tu Galang sudah serius sama kamu, dek)"


"Nah me, yang be ngerti (Iyah bu, saya sudah mengerti)


"Bapa jak meme hanya bisa mendoakan dek jak Putu Galang, semoga berjodoh. Putu anaknya benar-benar cepat dan dewasa pemikirannya, nggak mau buang waktu. Mungkin karena kejadian ini yah dek"


"Mungkin bu"


"Nah rencana selanjutnya terserah kalian maunya kapan. Tadi juga Orang tua Tu Galang bilang hal yang sama"


"Yang ngantosang bli Putu mek (saya nungguin bli Putu bu)" ucapku pelan.


"Mekelo men keto(lama kalau begitu) hehehe, dek nawang kan engken Putu ( dek tahu kan gimana Putu)" Meme terkekeh mengingat betapa cueknya bli Putu mengenai kehidupan asmaranya.

__ADS_1


Kami berdua kemudian sibuk membicarakan Bli Putu dan mantan-mantannya. Ibuku berharap agar kakakku cepat mendapatkan jodohnya.


Semenjak Galang datang bersama orang tuanya, dia jadi sering main kerumah. Yang awalnya hanya dimalam minggu, menjadi dua bahkan tiga kali seminggu. Lama-lama dia datang sekehendak hatinya, seperti hari ini pagi-pagi sudah sarapan dirumahku. Meme dan Bapa nampak tidak keberatan dengan Galang yang semakin dekat dengan keluarga kami. Bahkan sekarang meme selalu menanyakan Galang kalau lebih dari dua hari dia tidak datang berkunjung.


__ADS_2