Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
you look so lovely, baby


__ADS_3

Setelah berjuang mencari lokasi villa dengan bantuan aplikasi peta akhirnya kami berdua menemukan jalan menuju villa yang dimaksud.


"Duh nyari lokasinya aja puyeng, kalau kamu make taksi online untuk pulang pasti banyak driver yang cancel"


"Apa itu taksi online, aku kan sudah punya om Beni yang selalu mampu memberikan servicenya yang terbaik" Aku tersenyum geli


"Ck! " Beni hanya bisa menggeleng


Kami bisa melihat beberapa mobil mewah yang lewat mendahului kami. Tanpa membicarakannya, kami berdua tahu pasti mobil-mobil ini menuju ke tempat yang sama dengan kami.


"Kita berhentinya agak jauh dikit yah, nah disini aja. Aku jalan mulai dari sini, siapa tahu ada yang mengangkut kan?! Hahaha, aku turun yah. Nanti kamu jemput aku deket sini juga, tapi inget muter dulu biar bisa langsung kabur kalau aku kepepet" Aku nyengir ke arah Beni


Beni menghela napasnya, dia lebih mengkhawatirkan Nami saat ini. "Jaga diri, jangan terlalu mencolok yah, aku tunggu telepon mu"


"Iyah bawel ah" Aku menutup pintu mobil dan melambai elegan padanya.


Beni memutar bola matanya melihat kelakuan Nami "Cewek gila, bisa-bisanya yang rasanya lebih khawatir itu aku, padahal dia yang bakalan kena masalah" Beni memijit dahinya gelisah.


Beni memutuskan untuk membeli makanan sebentar terlebih dahulu, karena nampaknya hari akan mulai gelap.


Nami yang baru saja sampai di pintu gerbang kawasan private villa langsung menuju ke pos keamanan disana.


"Selamat sore bu, bisa saya melihat undangannya? " Tanya bapak yang menjaga pos tersebut


"selamat sore pak"


Undangan telah ia serahkan, bapak itu membacanya sekilas dan memandang lekat kearahnya. Dia lalu kembali melihat undangan yang diberikan Nami tadi.


"Ditunggu sebentar yah bu" Katanya sopan sambil mengambil HT dari atas meja.

__ADS_1


Nami bisa mendengar pembicaraan bapak itu dengan seseorang, "kalau tidak salah tangkap aku adalah tamu VIP Dira, dan dia minta seseorang mengirimkan satu buggy car ke depan" Aku bergumam dalam hati.


Benar saja, beberapa detik kemudian tampak satu buggy car mendekat.


"Silahkan bu" Katanya tersenyum sambil mempersilahkan aku untuk naik.


Aku duduk dengan perasaan tegang sambil memperhatikan sekeliling, banyak patung abstrak besar berjajar di kanan kiri jalan masuk. Pepohonan besar dan tanaman perdu mengelilingi patung-patung itu. Dari pintu gerbang sampai lokasi tempat acara jaraknya sekitar 100 meter. Aku pun telah sampai di lobby villa. "Terimakasih pak" Ujarku pada driver buggy car itu


"Sama-sama Bu" Katanya tersenyum


Aku melangkahkan kakiku dengan tenang. Bisa kulihat kemewahan yang luar biasa dari villa ini. Lobby mereka bergaya minimalis dengan sedikit sentuhan kontemporer. Bernuansa dominan putih dan sedikit sentuhan warna mencolok pada interiornya.Beberapa papan penunjuk jalan terlihat dipasang di setiap belokan untuk mempermudah tamu menuju lokasi acara. Sesuai yang tercetak dalam undangan, acara ini berlangsung pada satu function room yang sangat luas. Dengan dinding kaca yang bersekat-sekat dan berada ditengah-tengah 10 private villa. Function room ini terhubung dengan villa-villa yang berjejer pada sisi-sisinya.


Karena dindingnya terbuat dari kaca, dengan leluasa aku bisa melihat pemandangan laut biru yang terhampar luas. Sungguh pemandangan yang luas biasa Indah.


Aku mengedarkan pandangan kesekitarku. Sebagian besar kursi dengan meja bundarnya telah terisi. Nampak antrian tamu undangan yang mengular, satu persatu tamu undangan diarahkan staff menuju meja yang sudah diatur sebelumnya. Akhirnya tiba giliranku, aku diarahkan oleh satu staff ke sisi kanan ruangan. Staff tersebut berjalan perlahan didepanku, aku yang mengikutinya bisa melihat wajah beberapa tamu undangan yang telah duduk terlebih dahulu. Dari beberapa wajah itu, aku bisa mengenali 5 sampai 10 orang. Seingat ku semuanya orang terkenal, ada yang public figure, ada pejabat dan ada pula yang berasal dari keluarga berada dan ternama, kemungkinan teman dari Dira.


Aku merasa semua mata memandangku tatkala aku melangkah lebih jauh lagi ke depan. Ketika aku berhenti, staff yang mengantarku kemudian ikut berhenti dan mendekatiku "Maaf Bu, meja ibu masih didepan sana " Katanya ramah


"Benar Bu, pak Sudira sendiri yang mengaturnya demikian" Katanya lagi


Aku tercengang " Bukannya meja didepan itu untuk tamu-tamu yang sangat penting untuk beliau " Ujarku cepat


"Benar bu, silahkan mari lewat sini"


"Aduh mati!! Bagaimana ini, jangan sampai yah aku masuk berita surat kabar lokal, hanya karena kedekatan yang tak masuk akal seperti ini" Aku mengepalkan tanganku, mulai gelisah.


Ketika sampai, aku segera saja duduk dengan tenang. Tapi pikiranku tidak setenang seperti yang terlihat dari luar.


Ternyata mejaku nomor dua dari depan panggung dan juga meja kedua dari tepi kanan. Aku duduk bersama bapak- bapak entah siapa, aku tidak mengenalinya sama sekali. Lalu ku dengar bisik-bisik riuh dibelakang, beberapa percakapan mampir dengan mulus ketelingaku.

__ADS_1


"Sepertinya mereka sedang membicarakan ku, kalau begini bukan bisik-bisik lagi namanya " Aku hanya bisa menggeleng mendengar obrolan mereka


"siapa wanita ini?? Lumayan cantik", "Kenapa dia duduk di sebelah sana? ,bukannya itu untuk VIP? ", "Yang duduk di sebelah sana super partner dari usaha Pak Sudira bukan? kamu pernah liat tidak wanita itu ?" , "apa dia new money, kok tidak pernah keliatan di acara-acara penting?", " Apa jangan-jangan pacarnya Pak Sudira? ", " Liat aja gaunnya branded, tasnya, perhiasan itu jangan-jangan gold digger" , "artis bukan sih? ", "Pasti barang yang di pakai palsu"......


Aku meremas tanganku untuk meredam rasa insecure dan kesal yang muncul karena ucapan-ucapan itu. Aku memutuskan untuk tidak peduli lagi dengan apa yang dikatakan orang -orang ini.


Bapak disebelahku mengulurkan tangannya "Saya Kusuma" , aku juga mengulurkan tanganku untuk bersalaman, "Saya Nami pak"


Bapak tersebut mengeluarkan kartu namanya, aku menerimanya dan membaca nama perusahaanya "Kusuma amenities"


"Rupanya beliau owner supplier amenities hotel "


Aku tersenyum dan memasukkan kartu namanya ke dalam tasku.


"Mba dari perusahaan mana? " Katanya kemudian


"Saya belum punya perusahaan sendiri pak" Kataku mencoba sopan.


Dia mengangguk kemudian kembali mengobrol dengan bapak-bapak disebelahnya.


Terdengar gemuruh orang - orang di sekitarku, aku melayangkan pandangan ke arah yang membuat suasana menjadi riuh tersebut. Aku melihat keluarga besar Dira memasuki tempat acara kemudian duduk pada posisi paling depan, tepat di tengah-tengah.


Dira menoleh ke arahku dan tersenyum sumringah, aku membalas senyumnya. Kemudian dia terlihat sedang mengetik sesuatu di ponselnya.


Sejenak ponselku bergetar, aku memeriksanya. Kulihat nama Dira mengirimkan pesan padaku.


Dira: "you look so lovely baby ☺❤ "


Aku membaca kata baby di pesannya, itu membuatku geli "Baby??? Orang ini halunya sudah level Internasional, parah!!" Aku berkata dalam hati

__ADS_1


Aku :" Thank you 🙂" jawabku dingin


__ADS_2