Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
Dia ke rumah


__ADS_3

Pukul 17.30 menit,  aku merapikan meja kerjaku,  bersiap-siap untuk pulang.


"Bu Ida saya duluan yah,  mau sembahyang Purnama,  dirumah kayaknya belum mebanten,  Ibu saya lagi ada kondangan ke Karangasem"


"Oh Iyah Purnama,  kalau gitu saya juga pulang,  baru ingat untung kamu nyebut Purnama"


"Hehehe yuk bu"


"Iyah hati-hati Nami"


"Iyah makasi bu"


Setelah sampai aku bergegas mandi untuk menghaturkan canang dan beberapa sesajen khusus hari Purnama di sanggah (di pura pribadi selain itu bisa disebut juga merajan) . Kata meme, menjadi seorang wanita Bali beragama Hindu, kita dituntut untuk tahu tentang sesajen, paling tidak apa saja nama sesajen yang dihaturkan pada saat hari - hari besar keagamaan,  termasuk untuk hari Purnama. Jadi aku belajar hal ini dari kecil dan sampai dewasa menjadi kebiasaan. 


Setelah selesai aku mengajak kakakku untuk sembahyang bersama di sanggah kami.


"Pacarmu jadi ikut?" Tanya Bli Putu dengan mimik muka menggoda


"Dibilangin bukan pacar ihhh, jadi lah kan dah janji" Aku menjawab sewot


"Yah sudah bilangin ke cowok yang bukan pacarmu itu sekitar jam 07.30 aja biar kamu nggak buru-buru mepayas (dandan) hahaha"


"Iyahhh" Sahutku ketus


"Ihh gemesin kalau marah" Bli Putu menarik sebelah pipiku


"Sakitttt!!! " Aku melepas tangannya dari pipiku


"Hahahaha eh bawa motor yah,  aku sama teman-teman mau bawa motor aja,  pasti macet dijalan"


"Nahhh!! " (iyah dalam bahasa Bali)


Aku mengambil ponselku untuk memberi tahu Galang


"Kesininya jam 07.30 aja,  aku mau makan dulu"


"Trus bawa motor yah biasanya macet banget kalau sudah Purnama begini"


Karena belum ada jawaban,  kutaruh ponselku kembali ke meja,  dan pergi ke dapur untuk makan malam.


Galang yang sepertinya sudah bersiap untuk berangkat,  memeriksa ponselnya, dia melihat ada pesan masuk dari Nami


"Ok,  baru aja mau berangkat,  gpp kan berangkat sekarang,  kamu santai aja"


Galang menyambar kunci motornya,  sesaat dia melewati ruang tamu,  terlihat olehnya anak berumur sekitar 2 tahunan bermain bersama seorang Ibu.  "Papa berangkat dulu yah sayang,  nggak boleh nakal yah" Lalu mencium pipi anak lelaki lucu itu, si anak memandang Galang dengan muka lucu "papa ayang itutt... "


"Besok kita main lagi yah,  papa mau sembahyang dulu" Galang mengusap kepala si anak dengan sayang.


"Ke pura mana Galang" Ibunya si anak bertanya


"Jagatnatha"


"Sama Nami? "


"Iyah,  sama kakaknya juga"

__ADS_1


Ibu si anak tersebut tersenyum


"Aku berangkat dulu yah"


"Iyah hati-hati dijalan Galang"


Sepanjang jalan kerumah Nami,  pikiran Galang dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan.


Salah satunya "kapan dia akan menyatakan perasaannya? ", " Apa dia harus mengatakan statusnya saat ini? ",  " Apa dia akan menerima dengan baikl? " Sejujurnya aku takut,  begitu dia tahu masa laluku dia akan pergi begitu saja,  aku belum siap mengalami hal itu.  Karena bagiku dia satu-satunya yang aku harapkan,  aku hanya mau Nami bukan perempuan lain.


Yang aku tahu saat ini Nami juga mempunyai perasaan sama padaku,  semoga aku tidak salah menangkap perhatiannya selama ini. 


Galang menghela nafasnya panjang ketika sampai di depan rumah Nami.


Galang memarkir motornya dekat dengan pintu masuk dan masuk ke dalam rumah. Rumah Nami penataannya khas Bali,  dimana beberapa bangunan berjejer membentuk susunan arah mata angin.  Disebelah Selatan dekat pintu masuk bangunannya menghadap ke Utara, sepertinya dapur dan ruang makan,  sebelah Utara merupakan bangunan dengan arsitektur Bali sederhana yang biasa dinamakan Bale Daje,  sebelah Timur menghadap ke barat ada bangunan yang peruntukannya khusus untuk acara keagamaan dengan pancang bangunan berjumlah 8 yang biasa disebut sekutus( sake kutus/ pancang8),  Ruang keluarga dan kamar tidur utama dan mungkin bisa ditambahkan beberapa kamar tidur lagi disesuaikan dengan luas bangunan menghadap ke arah Timur. Biasanya bangunan ini ada perhitungannya sendiri baik luas maupun letaknya, diukur oleh orang yang pintar mengukur dan saat ini sudah sangat langka keberadaannya. 


Karena masih memperhatikan letak bangunan rumah Nami, Galang jadi lupa memanggil pemilik rumah,  dan dikejutkan oleh suara Nami


"Mo maling yah hahaha,  ngapain bengong disitu komat kamit pula" Nami terkekeh


"Hahaha sori Nam,  melihat bangunan rumahmu aku jadi teringat rumah Bali jaman dulu, rumah kakekku juga begini tapi lebih vintage Bangunannya,  sampai lupa bilang permisi"


" Sini duduk dulu" Aku menarik tangannya ke Bale Daje,  kita duduk berdampingan di teras Bale Daje.


" Rumahku di suwung kan sudah modern jadi jarang lihat yang begini"


"Kamu asli sana? "


"Bukan aku Tabanan,  Bajera"


"Dikampung memangnya nggak begini"


"Kamu kost disini aja hahaha" Candaku


"Kamu ngajakin aku tinggal bareng?" Galang menimpali omonganku


"****... kenapa perutku tiba- tiba terasa nyeri-nyeri aneh mendengar perkataannya ini "


"Apa sih,  becanda kali " aku mencoba menenangkan diri.


"Serius juga nggak papa"


Galang memandangku lekat dan meraih satu tanganku


"Hmm.. " Galang sepertinya ingin mengucapkan sesuatu,  tapi tiba-tiba Bli putu muncul dari kamarnya di Ruang tengah merusak suasana.


" Oi!!! siap-siap gih udah jam berapa ini,  jangan pacaran aja hahaha" Candanya sambil terkekeh


Aku melepas genggaman tangan Galang dan sedikit salah tingkah


"Iyah sekarang,  eh Iyah kenalin Bli ini Galang"


Galang berdiri dan menyalami kakakku


"Putu"

__ADS_1


"Saya Galang"


"Duduk bentar yah,  ini anaknya kalau dandan suka lama"


"Biarin" Aku menyahut pendek


"Kamu mau minum nggak? "


Galang menggeleng "nggak usah kamu siap-siap aja dulu"


Bli Putu yang tampak sudah rapi duduk disebelah Galang,  aku memperhatikan kumis dan brewoknya


"Duh kumis ma brewoknya dicukur dikit kek, mana ada cewek yang mau"


"Ih kamu aja yang nggak tahu, aku kan sudah punya pacar lagi"


"Masak?  Kok nggak diajak ikut sekarang? "


"Memangnya kamu,  kemana-mana ngikut aja" Bli Putu menjulurkan lidahnya mengejek.


"Ihhhhh" Sahut Nami sewot


"Udah siap-siap sana" Bli Putu memutar bahuku kearah kamar.


Galang tampak tersenyum geli melihat kami seperti ini.


Aku bergegas masuk kedalam kamarku untuk bersiap.


Kukenakan Kebaya brokat putih dan kain tenun endek biruku.  Riasan yang aku pakai memang cenderung tipis karena memang aku lebih suka riasan yang tipis seperti sehari-hari bekerja.


Kutengok dari jendela,  sepertinya kakakku dan Galang mengobrol seru,  entah apa yang dibicarakan.


Untungnya aku punya kakak yang supel dan menyenangkan,  siapapun lawan bicaranya pasti dia mampu menyesuaikan.  Kalau kata orang seseorang yang bekerja sebagai IT kemungkinan besar orangnya kaku dan aneh,  tapi berbeda dengan kakakku. Mungkin karena itu dia dipercaya sebagai marketing wilayah Bali dari perusahaan yang bergerak dibidang penyedia layanan Internet yang cukup memiliki nama di Indonesia.


Lipstik berwarna coklat muda kuulas terakhir sebagai penanda aku sudah siap untuk pergi.


Aku memakai sendal kulit flatku yang berwarna coklat muda, mengalungkan tas kecil lalu menuju dapur untuk mengambil bokor yang berisi tumpukan canang beserta sebungkus dupa dengan aroma wangi melati kemudian menyusul ke bale daje.


"Kalian ngomongin apa sih kayaknya seru banget"


"Ternyata Galang main game online yang sama denganku,  level kita juga beda cuman dua level,  mau mabar dong entar malem" Putu terlihat semangat.


"Oh yah,  ada temennya deh diajakin main,  awas loh diajak begadang" Aku menoleh kearah Galang


"Iyah kan mainnya memang lebih sering malam"


"Yoi bro" Putu menimpali


Aku hanya sanggup geleng-geleng melihat mereka berdua


"Yuk ah udah siap nih"


" Yuk,  kita jemput Deka yah,  dia harusnya sudah siap juga"


"Eh meme jak bapa mulih jam kude? " (Ibu sama Bapak pulang jam berapa?)

__ADS_1


"Lagi dijalan otw pulang,  paling entar lagi,  kunci taruh ditempat biasa aja" Sahut bli Putu sambil memutar motornya keluar rumah.


"Ok" Aku bergegas mengunci semua pintu dan terakhir pintu gerbang


__ADS_2