
Galang telah sampai lebih dahulu di kedai kopi yang dia sebutkan kepada Beni tadi.
Ia melihat ke sekeliling kedai kopi tersebut, hanya nampak empat orang perempuan yang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Galang lalu memesan secangkir kopi hitam dan segera mencari tempat untuk duduk.
Selang 5 menit kemudian, Beni pun sampai dan langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dilihatnya Galang sedang duduk sambil menyesap kopinya dan menatap ponselnya, seperti sedang membaca sesuatu. Beni juga langsung memesan secangkir caffe latte sebelum menemui Galang.
"Selamat siang Galang" Sapa Beni begitu sampai di meja Galang.
Galang meletakkan ponselnya kemudian berdiri dan menjabat tangan Beni erat
"Siang Bro" Jawabnya ramah.
Kedua orang yang baru bertemu itu tanpa canggung lalu duduk berhadapan.
Beni tersenyum geli "sepertinya masalah cukup besar kalau sampai Galang harus bertemu saya? "
"Terus terang seminggu ini saya tidak bisa konsentrasi bekerja karena masalah ini, saya mau minta tolong Beni mungkin bisa membantu saya" Katanya pelan.
"Tapi anehnya ini pertama kalinya dia tidak menghubungi saya langsung loh setelah kejadian kemarin itu. Coba cerita dulu apa masalahnya"
Galang pun bercerita permasalahan yang mereka hadapi saat ini.
Beni terlihat mengernyitkan dahinya dan mengangguk pertanda memahami apa yang sedang dijelaskan oleh Galang.
"Ohh balik ke gua batu lagi deh anak itu"
"Jadi saya sebenarnya kalau disuruh menunggu sih nggak masalah, saya hanya takut kalau kelamaan begini dia bisa berubah pikiran dan akhirnya kita bubar" Galang menghela nafasnya.
"Kalau dia lagi dalam mode begini memang susah diajak berkomunikasi"
"Jadi sebaiknya memang saya harus menunggu kalau begitu"
Beni menggeleng "gimana kalau kita lakukan sebaliknya "
__ADS_1
"Maksudnya saya datang gitu aja kerumah dia? Nami bisa marah besar kalau begitu"
"Galang, gini.... dia kalau sampai suka terus pacaran sama kamu artinya memang dia beneran suka sama kamu. Tahu nggak waktu pertama kali kalian jalan bareng yang semalam sebelumnya ada acara di Tabanan itu bikin saya kaget juga loh. Dia orangnya sangat susah diajak jalan, apalagi sama laki-laki yang dia baru kenal sehari sebelumnya. Itu keajaiban hahahaha" Beni tertawa geli
Galang tersenyum, merasa lebih lega mendengar hal ini.
"Waktu itu saya berpikir kok bisa dia mau jalan sama orang yang baru dia kenal, dan kalian jalannya seharian sampai malam. Sudah pasti laki-laki itu mulai menempati tempat spesial di hatinya dan Nami mulai menaruh kepercayaan. Jadi wajar setelah kejadian kemarin dia merasa seperti sekarang, dia takut sekali kehilangan kamu Galang. Aku yakin dia juga merasa hal yang sama, hanya saja dia sedang meyakinkan lagi perasaannya sendiri"
"Terus terang yah Beni, saya merasa sedikit cemburu karena tampaknya kalian berdua memang sangat dekat dan Beni paham sekali tentang apa yang di rasakan Nami saat ini. Saya merasa belum tahu apa- apa tentang dia sama sekali " Galang menatap Beni dengan wajah gelisah
"Saya kenal dia sudah lumayan lama, dan sering berinteraksi jadi tentunya lebih tahu dia. Kalian kan juga baru dekat jadi masih banyak waktu untuk mengenal dia lebih baik Galang"
"Saya juga ingin komunikasi kami sebaik Nami berkomunikasi dengan Beni, dari cara dia bicara, lelucon-lelucon internal kalian, kadang saya merasa seperti jadi orang ketiga hahahaha" Galang menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk menyembunyikan perasaan tidak nyamannya membahas ini semua.
"Saya mengerti Galang, saya menganggap Nami itu seperti adik sendiri. Jangan khawatir dengan hubungan kami"
" Maaf Beni, setelah saya bicara tadi ,saya nggak bermaksud merusak persahabatan kalian, hanya mengungkapkan apa yang saya rasakan selama ini saja. Tapi saya bersyukur dia berteman dengan orang-orang baik seperti Dewi dan Beni. Kalian berdua support system dia banget. Untungnya ada kalian disaat-saat terberat dalam hidupnya" Kata Galang lagi
"Apa dia sedingin itu dari awal kalian bertemu, saya ingin tahu"
"Awal kami kenal waktu dia SMA kelas tiga, dia sering komen-komen lucu di suatu akun berita yang viral di aplikasi satu sosial Media. Kebetulan saya juga sering baca berita djsana. Komen kami selalu bersahut-sahutan dan itu lucu banget. Nah dari sana akhirnya temenan di sosial medianya. Terus sering ketemu dan jalan bareng, sampai sekarang"
"Artinya dia dari awal memang pengin temenan sama Beni yah? Beni nggak pernah naksir gitu waktu dulu?? " Galang terlihat penasaran
"Hahaha namanya umur-umur segitu yah awalnya iya suka makanya senang waktu jalan sama dia, ini nggak usah diceritakan ke Nami yah. Anak itu kalau tahu saya sempat suka ke dia wihhhh ck! bakalan heboh ngejek-ngejek , dia bakal jadiin bahan candaan seumur hidup hahaha" Beni terkekeh
"Hahahaha jahil yah anaknya"
"Banget, dia itu unik yah apa yah namanya jutek Iyah, ngeselin, ada aja celentukan dia yang bikin ngakak. Tapi kalau saya ada masalah dia bantunya sudah kayak benar-benar saudara. Bahkan adik kandung sendiri aja nggak sebegitunya. Saya pernah kecelakaan, kan ngamar tuh. Orang tua juga lagi sakit, adik ngurus orang tua dirumah dan dia yang ngurusin saya di Rumah sakit semingguan yah kalau nggak Salah. Sampai nginep juga. Pokoknya bersyukur banget deh punya teman dia. Saat itulah saya sadar ini terlalu berharga untuk diubah. Bahkan saya nggak berani minta sama Tuhan untuk jadiin dia lebih dari sahabat. Saya juga yakin dia pun merasakan hal yang sama walaupun kami nggak pernah bahas sama sekali"
"Tapi jangan berpikir saya masih suka sama Nami, nggak sama sekali. Ternyata juga lama-lama saya tahu tipe saya bukan yang seperti Nami hahahaha" Lanjut Beni lagi
"Kenapa?? "
__ADS_1
"Nanti kalau kalian sudah sangat dekat, sudah nggak jaim-jaim lagi Galang pasti tahu yang saya maksud. Celentukan dia kayak om-om yang lagi ngumpul sama temannya tapi ini versi cewek hahahaha"
"Ahhh Iyah hahahaha saya tahu itu. Dia sempat keceplosan waktu ngobrol sama kakaknya di telepon "
"Tuh kan lama-lama lebih parah loh hahaha"
Galang hanya terbahak sambil menggeleng.
" Saya ceritain satu yah yang tiba-tiba aja sekarang lagi inget. Kami kan sering double date, saya sama pacar, Dewi juga sama pacarnya, nah Nami seringan sendiri nyempil. Waktu itu kami ke pantai sanur, dia kan orangnya males nyebur, jadi dia yang nungguin baju dan tas kami di daratan. Dia paling suka tuh bengong liat ombak, kadang sambil baca novel juga. Terus ada cowok deketin dia, orangnya kan jutek yah sama yang dia nggak kenal. Saya waktu itu lagi beli jagung bakar dekat sekali. Cowok itu bilang
Cowok: "Hai kok sendirian gek. Nggak punya pacar yah?? Kasian jomblo "
"Nami sih diem aja nggak nyahut sama sekali "
Cowoknya ngomong lagi: ih budeg yah, darimana geknya?
"Nami dong langsung jawab
Nami: "dari tadi!!"
"Hahahaha jutek banget" Galang terbahak
"Si cowok itu kesel dong yah"
Cowok: "sombong banget jadi cewek, nanti pasti jadi perawan tua !!!
Naminya langsung kebakaran jenggot, nyaut kenceng: "saya lagi nggak mau diganggu yah mas, bli ato pak apalah, itu urusan saya jadi tua dan perawan. Lagian ada kok pilihan mau jadi TUA DAN PERAWAN ATAU TUA DAN TIDAK PERAWAN!!!! "
"Bahahahaha " Galang terbahak hampir menyemburkan kopi yang baru saja dia sesap.
"Tuh persis seperti orang asing yang lagi duduk dekat sana juga, dia pasti dengar, dan kaget terus ketawa minumannya sampai nyembur hahahaha"
"Saya hari itu ngakak sama sekian orang yang dengar juga"
__ADS_1