Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
Rencana sementara


__ADS_3

Galang nampak lebih banyak merenung hari ini, tidak ada hal yang menarik perhatiannya selain memandangi foto Nami di ponselnya. Dito hanya bisa menemani sahabatnya ini sedari pagi, setelah dia mendapat telepon dari Galang yang mengatakan kalau mereka telah berpisah. Wajah kusut Galang yang sepertinya kurang tidur menambah iba perasaan Dito saat ini.


"Lang kalau itu memang keputusanmu, harusnya kamu jalani dengan tegar. Hari ini bolehlah bersedih, esok semangat mu harus bangkit lagi, kamu bisa melewati ini semua dengan baik" Ujar Dito memberi semangat


"Iyah Dit aku tahu. Aku hanya sedang tidak ingin melakukan apa-apa hari ini" Kata Galang dengan wajah murung.


"Aku yakin Nami akan melewati fase ini dengan baik, dia wanita yang tegar lang".


"Aku merasa sangat bersalah pada Nami dan keluarganya Dit. Kalau aku ingat lagi bagaimana ekspresi wajahnya semalam hatiku rasanya hancur, remuk. Aku belum pernah melihat Nami menangis seperti semalam. Aku telah menghilangkan senyum ceria itu dari wajahnya Dit. Laki-laki macam apa aku ini?, aku tega melakukan semua ini demi uang dan pekerjaan " Galang berkata pelan, wajahnya penuh penyesalan.


"Hei! Jangan menyalahkan diri mu seperti itu lang, aku tahu sekali sebesar apa rasa tanggung jawabmu terhadap orang-orang disekitarmu. Kamu bukan orang yang lari dari tanggung jawab. Kamu tahu sendiri kenapa kamu harus melakukannya. Untuk kebaikan keluargamu lang. Kamu memprioritaskan keluarga mu Galang!!! " Suara Dito meninggi "aku juga yakin kalau saja keuangan keluargamu baik-baik saja pasti kamu takkan menerima tawaran Sudira S*alan itu. Kamu pasti urung ikut serta proyeknya"


"Tetap saja rasanya aku egois Dit, aku nyatanya belum bisa menjaga Nami seperti yang aku janjikan dulu" Galang memeluk lututnya kembali.


"Akan ada waktunya semua berakhir dengan baik lang. Semua akan baik-baik saja"


"Tapi setelah ini semua berakhir seperti katamu, saat itu Nami tidak ada lagi untukku" Galang menghela nafasnya. Ia pada akhirnya hanya bisa menyerah pada takdir. Dalam kondisi ini ia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk memintanya lagi pada Tuhan.


Mereka berdua hanya bisa melihat hari berlalu begitu saja, tanpa bisa berbuat apa-apa lagi.


Sementara itu sepeninggalan Nami, Dira yang berada didalam mobil masih termenung dengan apa yang ia lakukan tadi terhadap Nami. Bisikan pak Nyoman menyadarkannya untuk melepaskan Gadis itu dari pelukannya.


"Pak saya mohon lepaskan Mba Nami, kasihan dia wanita yang baik. Lagipula Nyonya sepertinya mengirim orang untuk mengintai bapak hari ini. Saya takut beliau berbuat sesuatu yang mengancam keselamatannya"


"Pak, apa saya tadi keterlaluan yah ?! "


"Jujur saya katakan iya pak, dia sekarang pasti sedang ketakukan dan tentu saja tidak mau bertemu bapak lagi" Ucap Pak Nyoman pelan


"Tapi hanya dengan cara itu saya bisa memeluknya pak. Sebenarnya hari ini saya menerima kabar menyenangkan, kalau ternyata Pak Galang setuju dengan syarat yang saya berikan. Artinya Nami sekarang sudah tidak memiliki kekasih lagi. Saya hanya ingin memeluknya karena bahagia. Tapi tadi saat dia meronta saya jadi merasa tertantang untuk melakukan hal lebih padanya" Suara Dira pelan mengandung penyesalan.


"Maaf , Saya boleh berkomentar jujur lagi pak? "Silahkan pak Nyoman bicara saja" Kata Dira lagi


"Cara pak Sudira salah, kurang sabar dan perhitungan. Kalau seandainya bisa sabar menunggu, dan selalu memberi perhatian lebih kemungkinan besar dia mau bersama anda dengan kemauannya sendiri".


"Apa yang harus saya lakukan sekarang pak?


"Untuk saat ini sabar saja jangan menghubunginya, lagipula nyonya sudah mulai curiga. Saya jadi khawatir dengan mba Nami"

__ADS_1


"Nanti coba saya bicarakan dengan ibu saya, semoga beliau mau mengerti"


"Nyonya tidak akan mau mengerti pak, dan Nami hanya akan menjadi bulan-bulanan Nyonya kalau sampai Anda memaksa untuk berhubungan dengannya" Pak Nyoman bergumam di dalam hatinya


"Pak Nyoman, tenaga Nami besar sekali loh untuk tubuh yang sekecil itu. Tadi waktu dia meronta, saya sebenarnya agak kewalahan. Apalagi dia sempat mencubit dan memukul saya, sampai sekarang cubitannya masih terasa di pinggang dan punggung saya. Hahahaha saya heran dia dapat tenaga dari mana yah?? " Dira terkekeh sambil mengusap pinggangnya yang nyeri.


"Iyah sangat energik pak" Sahut pak Nyoman sambil tersenyum.


Dira masih ingat bagaimana Nami meronta dalam pelukannya, gairahnya memuncak seketika saat gerakan merontanya semakin menjadi. Ketika dia mendongak tadi dia melihat ada kesempatan untuk menciumnya. Kesempatan itu tidak dia sia-siakan walaupun dia hanya bisa melakukan kecupan terhadap bibir mungil itu. "Kecupan bertubi-tubi yang manis tepatnya, dan itu sudah lebih dari cukup untukku" Dira berkata dalam hati sambil tersenyum senang. Dira memejamkan matanya untuk membayangkan wajah Nami sepanjang perjalanannya kembali pulang.


Waktu semakin larut, Nami nampaknya masih Gelisah diatas tempat tidurnya. Matanya sama sekali tidak bisa terpejam karena teringat kejadian tadi yang menimpanya. "Aku sepertinya punya rencana baik untuk menyelamatkan diriku" Nami bergumam sendiri dan memutuskan menelpon kakaknya sebentar.


"Dek, kok belum tidur" Kata Bli Putu cepat setelah mengangkat telepon dari ku.


"Aku nggak bisa tidur bli tu"


"Mikirin apa? , kenapa nggak ngobrol sama Galang aja. Kan biasanya kalian ngobrol sampai malem, kedengaran tau suaranya bisik-bisik terus kamu cekikikan hehehe"


"Aku udahan sama dia Bli tu" suaraku jadi bergetar karena membahas Galang.


"Loh kenapa?!!!" Bli Putu terdengar kaget


"Aneh yah, kenapa dia tidak memberikan alasannya?? Apalagi dia sempat bilang cinta sama kamu sebelum putus yah. Ck! Bingung aku mendengarnya. Artinya mungkin saja ada keadaan dimana dia harus memutuskan hubungan kalian, bisa jadi karena tekanan seseorang"


"Apa mungkin orang tuanya yah bli? "


"Hmm mungkin saja, tapi masak dia nggak fight sih? , bumi? "


"Udah nikah dia, kalau Bumi kayaknya sangat tidak mungkin Bli"


"Oh iya aku ingat Bli , sepertinya Galang ikut proyeknya pak Sudira. Aku ingat waktu dia bilang mau bertemu seseorang untuk proyek besar di kedai kopi beberapa waktu yang lalu. Setelah itu tingkahnya sedikit aneh. Aku ditabrak sekretarisnya juga di sana, dompetnya jadi masuk ke dalam tas ku gara-gara itu. Ini bukan kebetulan kalau aku pikir-pikir"


"Oh aku mengerti sekarang ceritanya, pasti itu memang kerjaannya pak Sudira sehingga hubungan kalian putus seperti ini"


" Tapi kenapa hanya karena ikut proyek ini dia jadi memutuskan hubungan kami yah bli? "


"Entahlah itu juga yang menjadi pertanyaanku"

__ADS_1


"Pasti ada yang tidak aku ketahui, pak Dito pasti juga nggak mau mengatakannya padaku"


"Terus rencanamu bagaimana selanjutnya? "


"Aku mau resign aja bli, mana si Dira s*alan itu nggak berhenti menggangguku, bahkan makin jadi dia. Tadi waktu aku pulang juga tiba-tiba ada yang sengaja mepet motorku. Ihh hari ini kenapa yah bli?! Aku kayak dapat teror " Aku sengaja tidak menceritakan detail kejadian dengan Dira kali ini, aku takut kakakku akan meledak amarahnya. Kalau dia sudah marah bahkan aku akan dilarangnya kemana-mana sementara waktu dan pasti disetujui meme dan bapa juga.


"Hati-hati dek bisa jadi itu memang sengaja dikirim orang tapi entah siapa. untung kamu selamat yah. Hmm kalau kamu merasa sudah tidak nyaman sebaiknya memang resign saja dek."


"Sebenarnya aku menyukai pekerjaanku yang sekarang bli, tapi mau gimana lagi. Aku mau tinggal dirumah mekde aja sementara yah bli? " Kataku ragu.


Mekde yang kumaksud adalah adik kandung dari ayahku yang nomor dua bernama Bu made, aku dan Bli Putu biasa memanggilnya mekde. Beliau menikah dan tinggal di Renon dan saat ini sedang sibuk dengan bisnis jasa perawatan kolam renang yang dirintis bersama suaminya sejak lama.


"Oh gitu aja bener dek, kan mekde juga sudah minta kamu berkali-kali untuk membantu usahanya. Pasti mek de senang banget kamu mau tinggal disana"


"Terus kamu resign kapan? "


"Secepatnya. Biarlah katanya aku kurang profesional karena tidak menunggu lagi 30 hari. Aku sudah tidak tahan, Aku mau buat surat pengunduran diriku besok bli.


"Aku pikir kalau memang Sudira itu yang menyebabkan kalian putus itu keterlaluan yah. Mungkin Pak Sudira memang tulus juga menyukaimu dek tapi dengan cara yang salah. Kasian sih, demi perasaannya ke kamu dia melakukan segala cara. Cinta memang misteri yah, dia tumbuh begitu saja tanpa diduga darimana datangnya" Bli Putu berkata pelan.


"Aku hanya takut dia lebih nekat lagi nanti"


"Iya benar, ya sudah sekarang km istirahat yang banyak aja dulu jangan mikirin Galang aja"


"Iyah bli"


"yang sabar yah dek, entah kenapa aku yakin Galang sedang dalam situasi sulit, kalau kalian berjodoh bisa jadi bertemu lagi di masa depan"


aku terdiam karena merasa ucapan kakakku terdengar klise


"klise yak hahahaha, tapi bener deh wait and see aja, duh kasihan adikku jadi galau lagi. baru aja dapat pacar idaman sudah harus jomblo lagi"


"ck! udah ah"


"hahahaha sana tidur udah malam, aku juga udah ngantuk"


"iyah bli"

__ADS_1


aku segera menutup telepon ku.


__ADS_2