
Sampailah hari jumat, Galang janji menjemputku sekitar pukul 07.00 pagi.
"Ting!" Aku membuka layar ponselku
Galang: dah siap?, aku mo otw nih 😎" Galang mengirim pesan
Aku: "Sudah tinggal jalan aja, dah sarapan? "
Galang : "Belum bentar mau beli donat aja, lagi bosen sarapan dirumah"
Aku: "Aku bawa sandwich telur keju sama teh, entar maem bareng aja"
Galang: "Sip"
Aku bergegas ke dapur untuk mengepak sandwich kedalam kotak bekal dan teh hangat kemasukkan ke tumbler berwarna biru.
"Mau sarapan di jalan? " Tanya Ibuku
"Iyah mek, bensep jemput ajak Galang" ( bentaran di jemput sama Galang)
"Kok tumben? "
"Nyanan dimulihne ajakin keumahne Gungde anaknya ulang tahun, inget sing mek pidan ane ceritang yange dugas nu megae di Ubud? " ( nanti pulangnya diajak ke rumahnya Gung de, anaknya ulang tahun, inget nggak bu dulu yang aku ceritain waktu masih kerja di Ubud)
"Ohh Iyah inget, kok bisa kenal jak Galang"
"Sing sengaja, jani kerjasama ye ngae proyek bareng" (gak sengaja)
Ibuku mengangguk tanda mengerti
"Jangan terburu-buru suka sama laki-laki dek" Kata ibu tiba-tiba
"Semua hal memang awalnya terlihat sangat baik dipermukaan, kamu harus gali sedikit demi sedikit, pasti nanti ketahuan karakter apa yang dimilikinya"
"nah mek yang be ngerti" (Iyah bu saya mengerti)
"Iyah meme percaya gek tahu yang mana yang baik dan yang mana yang buruk"
aku mengangguk tanda mengerti
"Bape dah berangkat ke kantor mek? "
"Belum masih mandi, Putu mare sube, kone ade event di Nusadua" (Putu sudah, katanya ada event di Nusadua)
Aku mengangguk lagi.
Bapakku bekerja di Kantor Desa sebagai sekretaris Kepala Desa, biasanya kalau ada acara pertemuan penting atau rapat beliau pasti berangkatnya lebih pagi untuk persiapan, sepertinya hari ini tidak ada pertemuan penting dikantor desa jadi bapa lebih santai.
sekitar 15 menit Galang sudah sampai rumahku.
"Om Swastiastu, Permisi"
"Om Swastiastu, nggih sebentar" Ibu menyahut dari dapur
Ibuku keluar dari dapur dan menoleh ke pintu gerbang yang sudah terbuka
"Nggih, mau cari siapa Gus? "
"Nami bu , tiang Galang hari ini sudah janji mau berangkat kerja bareng" Galang tersenyum
"Oh masuk dulu gus"
Nami muncul dari belakang Ibu
"Yuk langsung aja" Aku menyahut sambil melihat jam pada ponselku
__ADS_1
"Mek yang langsung berangkat nah, nyeh macet di jalan" (Bu, aku langsung berangkat yah, takut macet dijalan)
"Oh nah hati-hati kalian "
"Nggih tiang pamit bu"
"Nggih" Ibuku memandangku tersenyum dengan muka sumringah, menaikkan satu alisku seperti menggodaku
Kubalas senyumnya.
Aku meletakkan tasku di jok belakang, kemudian memakai sabuk pengaman.
Cuaca tampak cerah pagi ini, semburat kuning keemasan matahari menyembul dari balik pepohonan yang berwarna hijau cerah,
Jalanan masih lancar, hembusan sejuk udara pagi diiringi dengan hangat dari mentari yang baru saja muncul, sungguh membuat perasaan menjadi tenang.
Aku membuka sarapanku yang sedari tadi aku pegang ditangan kiri. "Mau Galang? "
" Sandwich yang tadi kamu bilang? "
"Iyah" Kusuapi Galang yang sedang konsentrasi menyetir, kebetulan setelah sandwich jadi aku. potong menjadi beberapa bagian agar mudah untuk dinikmati.
Galang sepertinya kaget tapi membuka mulutnya.
Ia mengunyah pelan.
"Enak, lagi dong" Ujarnya
Beberapa kali suapan akhirnya dua tangkup roti isi tandas sudah, kusodorkan tumbler yang berisi teh hangat, Galang mengambilnya dan meneguk isinya.
Kulakukan hal serupa, manis dan hangat tehnya pas. Baru kusadari kita minum dari tumbler yang sama , aku menutup mulutku.
"astaga ini artinya kita udah ciuman walaupun secara nggak langsung"
Galang menoleh kearahku
aku menggeleng cepat
"pagi-pagi sudah memikirkan yang tidak-tidak. Nami.. nami...
"Jadi beli donatnya? " aku bertanya untuk menghalau pikiran tadi
"Nggaklah kenyang banget, enakan ini daripada donat, disuapin pula hehehe, makasi yah Nami"
"Iyah, aku memang buatnya lebih"
" Hari ini sibuk Galang? " Tanyaku lagi
"Nggak juga sih, mau ketemu klien aja biasa revisi-revisi, aku kok nggak lihat kakakmu? "
"Dia sudah berangkat pagi tadi jam 5, katanya ada event kantor penting di Nusadua"
"Kakakmu itu orangnya semangat sekali, orangnya asyik juga diajak ngobrol"
"Iyah seru kalau ada dia"
"Adiknya juga seru" Galang melirik sambil tersenyum
"Seneng banget aku pagi ini, ketemu kamu sarapan bareng jadi semangat banget" katanya lagi
Aku tersenyum
Hatiku tiba-tiba terasa hangat pagi ini, jalanan masih terbilang sepi, karena waktu masih menunjukkan pukul 7 lewat 10 menit.
"Nanti kamu pulang jam berapa? " tanya Galang
__ADS_1
"Sekitar jam 5, aku telepon kalau kerjaanku sudah beres"
"Iyah, apa aku masuk kantormu dulu nungguin di ruangannya Dito? "
"Jangan, nanti semua orang tahu kalau kamu jemput, aku malas kalau ada gosip"
"Hehehe takut banget digosipin sama aku, ada gebetan yah dikantor? "
"Ihh apaan? Mana ada laki-laki single dikantor"
Galang tertawa kecil mendengar jawabanku
"eh Iyah Gusde kan dah nikah, istrinya darimana? "
"Kalau tidak salah dari Karangasem, Ida Ayu "
"Wah bagus dong sesuai"
"Kamu nggak cemburu? Hahaha"
"Hahaha nggak lah justru aku senang kan artinya dia sudah move on"
"Sayangnya mereka bercerai sekitar 5 bulan yang lalu, mantan istrinya ketahuan berselingkuh"
"Ya ampun, anaknya sudah berapa? " aku tiba- tiba merasa tidak enak hati mendengar berita ini.
" Ada dua, cewek ma cowok"
"Kasihan anaknya, aku kok jadi tambah merasa tidak enak"
"Yang selingkuh istrinya kenapa kamu yang merasa bersalah"
"Bukan begitu, maksudku siapa tahu gara-gara aku pergi dia jadi ketemu sama pasangan yang begitu"
"Terus kalau kamu nggak pergi keadaan jadi lebih baik? "
"Yah nggak gitu juga"
"Itu namanya takdir Nami, bertemu, berpisah itu sudah ada jalannya masing-masing"
Aku mengangguk
"Eh Iyah Pulangnya kita beli oleh-oleh sama kado dulu yah Galang"
"Iyah Nami" Jawab Galang
Ponsel Galang berbunyi, dia mengambil earphone yang telah terpasang diponselnya
"Iyah sayang, Iyah kan kerja hari ini, besok aja yah kita jalan-jalannya? " Jawab Galang penuh senyum.
"Iyah, Iyah sayang, dah sayang jangan nakal yah"
Galang melepas earphonenya dan menoleh kearahku
"Ponakan" Katanya kalem
"Deket banget yah kamu sama ponakan"
"Iyah deket banget sama aku, bapaknya jauh"
"Urusan kerjaan? "
"Iyah semacam itu"
"Kalau nggak salah kamu kan anak tunggal"
__ADS_1
"Itu anak dari anak sahabat orang tuaku, yang sudah kuanggap keluarga sendiri, jadi kuanggap ponakan juga"
"Hmm" Aku mengangguk tapi perasaanku menangkap ada sesuatu yang terasa janggal, entah apa tapi kutepis perasaan itu secepatnya, takut menjadi pikiran negatif yang tidak akan berhenti berputar di pikiranku.