
Jalanan tampak lenggang, sekitar 20 menit perjalanan akhirnya aku sampai diparkiran mall yang disebutkan oleh Beni tadi. Setelah motor yang kubawa parkir dengan aman aku langsung menuju pintu masuk mall. Sambil menunggu kuputuskan untuk berjalan-jalan sekitar mall.
Sekitar pukul 16.00 suasana mall masih terlihat lenggang, aku menyusuri gerai demi gerai untuk sekedar melihat apa yang sedang populer saat ini.
Pandanganku terpaku pada jaket yang tergantung pada salah satu gerai busana yang sepertinya dari produksi lokal, dengan model jaket Varsity berwarna hitam dan bergaris abu pada bagian kerahnya.
Aku menyentuh kainnya memastikan bahannya lembut dan nyaman. Sejenak aku tiba-tiba merasa ada seseorang disebelahku yang mendekat, aku menoleh dan terkejut.
Di hadapanku sudah berdiri Bumi dengan senyum lebarnya.
"Hi bener kan kataku tadi, aku pasti bisa menemukanmu"
"Darimana kamu tahu aku ada disini? "
"Nebak aja, ternyata benar sih hehehehe" Sahut Bumi cengengesan
"Aku temenin yah sambil jalan aja, kan kamu sendiri"
"Siapa bilang? Aku ada janji"
"Beni yah?!, nggak usah bilang "kok kamu tahu?" Aku memang tahu tentang kamu, segini aja aku masih bener kan tebakannya"
"Terserahlah"
"Asikk bisa jalan sama kamu lagi"
"Yeee...Kan sudah bilang aku ada janji sama Beni"
"Terus Beninya kemana? "
"Lagi meeting dia bentar lagi selesai"
"Iyah sambil nunggu dia kan aku bisa nemenin kamu"
"Kamu nggak usah repot-repot nemenin aku"
"Aku nggak repot, aku seneng bisa nemenin kamu"
Aku mengusap keningku yang tiba-tiba saja terasa panas "maaf yah Bumi, aku bingung mau bersikap seperti bagaimana lagi sama kamu, kamu tahu kan kalau aku nggak bakal balikan sama kamu dan aku sudah jalan sama orang lain"
"Aku tahu, kan aku sudah bilang juga aku tidak akan memaksa kamu lagi, menemani jalan begini kan nggak masalah Nami"
"Tapi aku nggak nyaman ditemani sama kamu"
"Aku jaga jarak deh berapa sentimeter? Atau berapa meter? " Jawabnya enteng dengan senyuman lebar
Aku memandang dia dengan muka malas
"Aku yakin kamu bersikap seperti ini ada maksudnya, entah apa aku tidak mengerti dan tidak mau tahu, sebaiknya aku jalan sendiri saja"
"Ok, kalau begitu sebaiknya aku pulang saja"
Aku mengangguk dengan muka datar.
"Hmm Iyah satu lagi, pacarmu Galang punya masa lalu yang kamu belum tahu Nami, hati-hati yah jangan sampai kamu merasa dibohongi"
"Masa lalu apa? " Tanyaku sedikit khawatir
__ADS_1
"Nanti juga kamu tahu" Sahut Bumi dengan senyum sinis dan bergegas pergi meninggalkan aku yang berdiri mematung sambil memandangi punggungnya yang pergi menjauh.
Deringan ponselku membuyarkan pikiranku
yang sedang dipenuhi pertanyaan "masa lalu apa? "
Aku mengangkat telepon dari Beni
"Nami aku sudah selesai, kamu kesini aja, klienku baru saja pulang"
"Ok tunggu yah"
Aku memasukkan ponselku ke dalam tas dan segera menuju ke coffee shop.
Setelah sampai Beni terlihat melambaikan tangannya kearahku dengan senyum yang lebar.
Beni memelukku erat
"Baik-baik aja kan" Tanya Beni memandang raut mukaku yang sedikit cemas sambil merapikan file diatas meja.
Aku duduk disebelah Beni
"Weekend pun masih full meeting yah? " Aku berbasa-basi
"Biasalah klien kadang punya waktu weekend aja ngurusin pajak beginian" Kata Beni masih memasukkan berkas-berkas kedalam map plastik berwarna merah.
Aku tersenyum, terus terang aku sangat bangga dengan Beni, dia menjadi orang kepercayaan pimpinanannya dikantor yang bergerak dibidang jasa konsultan pajak, sedari usianya yang masih diawal 20-an.
Beni tidak hanya cekatan tapi juga luas pergaulannya.
"Gimana kehidupan nam? "
"Kok bisa ketemu dia disini, nggak maksa-maksa lagi kan? "
"Nggak, tapi aneh hmmm"
"Kenapa? "
"Sebenarnya aku pengin ketemu kamu mo bilang aku sekarang pacaran sama Won Bin hehehe"
"Wah bener kan apa yang aku bilang, mencurigakan perhatiannya sama kamu hahaha" Beni tertawa kencang
"Tapi kenapa barusan Bumi bilang dia punya masa lalu yang buruk, bikin aku kepikiran dan moodku ngobrol seru sama kamu jadi hilang gara-gara itu"
" Hmmm dia kenal banget sama Galang? "
"Mereka sering kumpul bareng Bosku kan dari jaman kuliah tapi belakangan setelah bekerja jadi jarang ketemu"
"Galang baik kan sama kamu?, apa ada hal yang mencurigakan selama ini? "
"Aku merasa sih baik-baik aja, tapi kan aku baru kenal Ben"
"Semua orang punya masa lalu Nam, baik ataupun buruk tapi kalau dia sekarang lebih baik dari masa lalunya kan bagus"
"Apa aku tanya langsung ke Galang yah? "
"Yah bagusnya sih begitu"
__ADS_1
"Kok aku ngerasa belum sanggup dengerin ceritanya sekarang yah Ben, terlalu gimana yah?"
"Ngerasa belum pantas tahu sejauh itu yah?"
"Iyah rasanya kalau aku pengin tahu banyak hal itu kayak aku mau benar-benar serius sama dia"
"Kan bagus, kamu serius pacarannya. Sudah sepantasnya kan!?"
"Tapi aku maunya proses ini pelan-pelan Ben, aku ingin menikmati prosesnya apalagi baru kan, masak baru jadian masalahnya dah berat, sapa tahu masa lalunya berat banget"
"Kok aku ngerasa kamu sayang banget sama dia. Takut kenyataan merusak hubungan kalian terus kalian pisah, gitu kan kalau aku nggak salah tangkap"
Aku mengangguk pelan dengan mata yang tiba-tiba saja mulai berkaca-kaca
" Ya ampun Nami" Suara Beni terdengar sedih
"Bentar, Aku pesan minuman dulu yah" Aku beranjak dari tempat dudukku menuju tempat pemesanan
Beni hanya sanggup mengangguk pelan.
Aku memesan coklat hangat dan sepotong banana cake dan langsung membayarnya dikasir.
Sementara itu ponselku berdering, dari nada dering yang aku pasang khusus, sepertinya dari Galang.
"Yah sayang"
" Lagi dimana sayang? " Galang terdengar gelisah
"Lagi di mall"
"Sama Bumi!? "
"Nggak, aku janjian sama Beni"
" Nggak bohong? "
"Nggak, emang kenapa?! "
"Kamu beneran nggak sama Bumi? "
"Iyah beneran, tapi tadi aku ketemu nggak sengaja sama dia disini, aneh juga kok dia tahu aku disini"
"Kalian pasti janjian" Suara Galang terdengar ketus
" Aku nggak janjian sama dia, aku janjiannya sama Beni! " Aku setengah berteriak
" Tapi kenapa dia bilangnya begitu" terdengar suaranya tegas
"Terus kamu lebih percaya dia dibandingkan aku?!"
"Entahlah Nami dari kamu kasih nomormu kedia semalam, aku merasa sedikit curiga"
"Jadi kamu beneran lebih percaya dia??"
"Kalian ngobrolin apa aja semalaman? … "
Seketika emosiku memuncak dan langsung menutup telepon dari Galang.
__ADS_1
Aku malas mendengar pertanyaan tidak masuk akal lebih lanjut dari Galang dan kembali ke meja dimana Beni duduk sambil memperhatikanku yang terlihat kesal