
"Selamat pagi" Ujarku ragu sambil tersenyum
"Saya Nirma mba"
"Mba Nirma dari Cantika Florist yah" Sambutku cepat
"Iyah mba saya baru saja datang untuk mengawasi staff bekerja, menggantikan Bu Susi yang berhalangan hadir"
"Ketemu juga yah akhirnya kita, Iyah Bu Susi juga sempat info ke saya katanya nanti ketemu sama Nirma"
"Iyah benar mba"
"Saya sudah periksa dekorasi yang sudah terpasang, sekitar lima puluh persen sudah ok sekali loh mba, sesuai dengan pesanan"
"Iyah mudah-mudahan semua sesuai mba,
Tinggal penyelesaian di depan dan sedikit lagi dipool"
"Bunganya masih segar yah padahal dropping nya kan sekitar sore hari jam 5 yah”
" Iyah bunganya memang sangat segar waktu dikirim kemari, dan pak Made memberikan tempatnya cukup luas dan Ber-Ac jadi bunganya tetap segar sampai hari ini mba"
Aku tersenyum mendengarkan Mba Nirma dan mengobrol lebih lanjut, Obrolan kami terhenti karena tiba- tiba saja ada sebuah tangan menyentuh lenganku dengan lembut
Aku menoleh perlahan sambil melihat kearah tangan yang menyentuh lenganku tersebut
Betapa terkejutnya aku melihat dia tepat di depan mataku. Mata kami bertemu, iyah mata jernih dan kekanakan itu ada di depanku saat ini. Dengan pikiran yang tiba-tiba kosong aku mencoba mencerna situasi ini.
"Kenapa dia disini?? "
"Aku sepertinya berhalusinasi?? Apa karena kurang tidur yah?" Aku berpikir sendiri
Waktu terasa berjalan sangat lambat. Udara dingin disekitarku berdesir menerpa wajahku, yang kian mematung hanya bisa memandang mata indah itu.
"Hi Nami..." Sapanya lagi dengan senyum yang masih sama. Tatapan matanya yang tajam masih seperti dulu. Wangi ini… . Kenapa semua hal masih sama seperti ingatan bertahun-tahun lalu.
"Astaga ini memang dia! "
"Tenang Nami, tenang, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, jangan terlihat kikuk. Biasa saja… Iyah biasa saja" Aku berkata lagi dalam hati.
"Hi kok..??? Kenapa kamu ada disini? " Kataku sedikit tercekat , akhirnya aku mampu menguasai diriku kembali.
"Maaf yah saya menyela pembicaraan kalian, saya Bumi dari Jasa Katering "Paon Jaen", mba pasti dari Cantika Florist yah, kita beberapa kali menangani acara yang sama, tapi tidak pernah bertemu langsung karena biasanya dilapangan saya serahkan langsung ke staff " Sambil menyalami tangan Nirma dengan semangat
Aku memandang laki-laki ini dengan perasaan bercampur aduk. Entah aku harus senang, sedih atau marah aku tidak tahu. Aku hanya sanggup berpura-pura baik-baik saja saat ini.
Seperti biasa auranya tidak berubah, selalu mampu membuat lawan bicaranya kagum dan tertarik. Aku harus pergi dari situasi ini. Ini terasa sangat aneh.
"Iyah saya Nirma, biasanya saya bersama Ibu Susi, tapi hari ini beliau berhalangan hadir, tidak menyangka kita akhirnya ketemu disini" Nirma menyambut jabat tangan Bumi dengan sangat antusias dan menyerahkan kartu namanya
"Orang tua Pak Dito teman baik orang tua saya waktu di sekolahan dulu, jadi saya yang menangani langsung acara ini" Sahut Bumi dengan mantap.
"Kalian sudah saling kenal yah?" Tanya Nirma sambil menoleh kearahku yang sedari tadi hanya terdiam memperhatikan percakapan mereka
__ADS_1
"Mmm Iyah saya kenal Pak Bumi cukup lama" Sahut saya kemudian tersenyum berusaha santai "Kalau begitu saya kebelakang sebentar yah, masih ada yang harus saya periksa lebih lanjut, kalian berdua silahkan mengobrol dulu disini " Sahut saya lagi berniat melarikan diri dari perasaan tidak nyaman yang mulai menyeruak kembali kedalam relung hati, saya pun bergegas melangkah, tidak disangka sebuah tangan kokoh mencengkram lembut lagi lenganku
"Sebentar Nami, bisa bicara sebentar?" Tanya Bumi dengan wajah yang bahagia.
Aku memandangnya dengan gelisah
"Bu Ida belum datang yah?, saya ada sedikit informasi tambahan terkait katering hari ini, bukannya saya harus berhubungan dengan Ibu Ida? " Lanjut Bumi lagi dengan tenang masih dengan tatapan mata tajamnya berusaha menelisik hal apa yang ada dalam benakku saat ini.
Aku menyerah dan akhirnya menjawab "Bu Ida memang belum datang, sepertinya datang lebih siang, saya yang menggantikan beliau sementara" Tiba- tiba teringat pesan Bu Ida semalam, anaknya sakit jadi kemungkinan datang lebih siang hari ini.
"Kalau begitu Bu Nirma, saya dan Nami mau membicarakan tentang katering hari ini sebentar kalau tidak keberatan? " Ujar Bumi dengan muka dan nada yang ramah
"iyah silahkan pak, saya juga masih ada yang harus dikerjakan" Sahut Nirma dengan sopan dan penuh kekaguman ke arah Bumi.
"Nanti kita sambung lagi yah mba " aku masih mencoba agar terdengar antusias dihadapan Nirma.
"iyah Mba, tentu " Nirma tersenyum.
Aku melepas tangan Bumi yang masih menggenggam lenganku dengan pelan ,berharap Bu Nirma tidak memperhtikannya dan bergegas melangkah dan diikuti oleh Bumi.
Aku memilih tempat yang jauh dari keramaian dibelakang kolam renang dekat dengan pagar pembatas villa dengan lembah. Lembahnya sangat indah, terlihat perkebunan sayur dan perbukitan yang berwarna hijau dari jauh, dan udara menjadi sedikit lebih dingin.
"Wah langsung diajak mojok nih hehehehe" Seru Bumi cengengesan.
"Jodoh yah ternyata kita ketemu lagi" Lanjut Bumi dengan entengnya.
Aku menghela panjang nafasku dan memandangnya tak nyaman "mo ngomongin apa? " Sahutku dingin
Dia berdiri didepanku berjarak sekitar 1 meter. kemudian tersenyum sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana panjang jeans berwarna hitam yang dikenakannya dengan sangat santai.
Kebiasaan lamanya ketika ingin berbicara serius.
Dia masih sama seperti yang dulu, senyum tengil yang sama, mata yang berbinar, hanya rambutnya lebih rapi dicukur model korean cut seperti model yang sedang banyak disukai saat ini. Dia menggunakan kemeja berwarna biru muda dengan model kekinian, badannya lebih tinggi, lebih berisi, tegap dengan muka yang lebih dewasa dan maskulin. Kulitnya lebih bersih dari sebelumnya. Dia masih seganteng itu. BUKAN!!! malah lebih ganteng lagi " aku menggeleng "Astaga aku berfikir yang bukan-bukan lagi" Aku menggumam sendiri
"Segitunya ngeliatin aku, kangen yah? Sama dong berarti" kata Bumi
Aku tersadar dari lamunanku " Ehmm" Aku berdehem untuk mengurangi perasaan aneh yang tiba-tiba datang lagi ini.
"langsung aja deh, kamu mau ngomongin apa? aku yakin bukan tentang katering kan??" Tanyaku ulang
"Kamu masih saja dingin Nam, sama seperti awal dulu kita berkenalan. Masih ingat? Apa kabar Namiku?? "
"Aku bukan Namimu, dan aku baik -baik saja" Aku menjawab ketus sambil mengalihkan pandanganku
"Aku tahu kamu pasti baik- baik saja. Aku terus terang senang banget ketemu kamu lagi hari ini.
Melihatmu tadi dari jauh rasanya lebih seperti mimpi. Karena takut ini hanya ilusi aku tadi buru-buru mendekat dan ternyata benar itu kamu.
Ngerasa kayak ini kebetulan yang sudah digariskan Tuhan " kata Bumi kemudian dengan muka sumringah
" Berapa tahun kita nggak ketemu yah? empat? apa lima yah Nam?! " Bumi seperti memikirkan sesuatu
"lama juga yah, tak satupun cahaya cantik itu pudar dari dirimu, bahkan malah sekarang makin berpendar, aku merasa sangat-sangat menyesal Nami.
__ADS_1
Jujur Sekian tahun berlalu aku tetap belum bisa melupakanmu Nami. Setiap lamunanku selalu terselip wajahmu. Don't you miss me even a bit? " Bumi menggigit bibir bawahnya sambil menunduk
" ****" Aku memaki diriku sendiri di dalam hati, kenapa aku harus berdebar-debar lagi setelah "mendengar kata-katanya barusan. Aku harus pergi dari sini".
" Setelah kata-katamu itu tadi, Kamu mau aku menjawab seperti apa harusnya! ? " aku mendengus tiba-tiba saja rasa kesalku naik ke permukaan.
"Sudahlah Bumi, ini bahkan sudah tidak ada artinya lagi buatku. Sebaiknya aku memeriksa persiapan ini kembali, hari sudah semakin siang" Kataku menghindari pembicaraan lebih lanjut lalu beranjak pergi.
Lagi-lagi lenganku dipegangnya dengan cepat, aku melepaskannya dengan halus masih mencoba bersabar.
"Please nami 5 menit saja" Sahut Bumi sedikit mengiba
Aku pun menurut karena tidak mau ada keributan ,karena ada beberapa staff yang sedang bekerja sepertinya memperhatikan kami, akupun berbalik arah ke tempat semula diikuti dengan langkah panjang Bumi
"Kamu masih marah yah sama aku, wajar sih aku memang sejahat itu. …....Tapi aku senang kalau kamu masih marah artinya kamu masih belum move on dari aku" Sahut Bumi dibarengi dengan senyum lebar yang dia tunjukkan.
"In your dream, kita sudah tidak ada hubungan apa- apa lagi yah Bumi, kamu sudah aku anggap orang asing jadi buat apa aku ramah sama kamu? "
"Masih saja seperti dulu, ketus banget kalau lagi marah, sepertinya kamu masih salah paham atas kejadian dahulu itu nami" Bumi mencoba melembutkan suaranya
"Kepergok selingkuh kok jadi salah paham?" Aku mendengus kesal
"Iyah maksudku aku menyesal, tapi setelah kamu pergi aku merasa sangat kehilangan nami" Bumi menunduk
"Aku mencoba menghubungimu, tapi teleponku tidak pernah kamu angkat, beberapa kali kerumah selalu kamu tidak ada dirumah, kutunggu sampai malam, didepan rumahmu kamu tidak muncul juga, aku sangat menyesal Nami, aku merasa menjadi orang terbodoh didunia melepaskan orang yang paling aku sayangi begitu saja, aku ingin sekali memperbaiki kesalahanku tapi ternyata terlambat kamu pasti benci banget sama aku waktu itu" Lanjut Bumi lagi dengan nada penuh penyesalan
"Terus terang setelah ketemu kamu hari ini, aku kok jadi merasa aku bego banget yah waktu itu, selalu percaya begitu saja sama kamu" Sahut ku terus terang.
"Aku tahu pasti kamu sakit hati dan sedih waktu itu, aku benar-benar minta maaf Nami, terbayang kamu menangis sejadi-jadinya setiap hari mungkin karena aku"
"Sebulan lalu aku sepertinya melihatmu semobil dengan Mia? Kalian masih pacaran?" Tanyaku untuk menghela debaran yang datang tanpa diundang ini.
"Kamu lihat dimana? kami tidak sengaja bertemu dan kuantar pulang, aku dekat dengan dia hanya sebentar. Waktu mengantar dia pulang aku hanya ingin tahu kabarmu siapa tahu dia mengetahui, ternyata kamu juga putus komunikasi sama dia"
Aku menggeleng lemah
"Entahlah Bumi….aku sebenarnya sudah malas mengungkit hal ini lagi sama kamu, aku bahkan sudah nggak mau tahu lagi, sebaiknya kamu nggak usah ganggu aku lagi" Jawabku tegas.
Tiba-tiba dia beranjak dari tempatnya berdiri dan mengulurkan tangannya, ia mengelus pipiku dengan ujung jarinya "aku kangen sama kamu..." Katanya dengan suara yang parau dan muka yang sedih.
Aku terkejut, darahku berdesir. aku tertegun
Jari telunjuknya menelusuri pipiku merapikan sedikit rambut yang menutupi wajahku.
"Nami!! " Tiba-tiba ada suara memanggil dari arah belakang, aku tersadar itu suara Atasanku Dito, aku menoleh dengan cepat
"Selamat siang pak" Sahutku dengan segera menyembunyikan rasa terkejutku
"Hi bro sudah dari tadi datangnya?" Sambil melirik ke arah Bumi yang tampak tenang di depanku "ada apa ini ngobrol berdua begini, saya ketinggalan cerita apa?, kalian sudah saling kenal yah ternyata? " Selidik Pak Dito mencoba mencerna situasi ini
"Iyah pak saya tidak menyangka juga ternyata pemilik kateringnya ternyata orang yang saya kenal" Sahutku mencoba santai
"Maaf Pak Dito saya harus memeriksa beberapa hal kembali ke lokasi, nanti kalau ada update penting saya kabari Bapak" Sahut saya lagi upaya melarikan diri dari situasi yang tak nyaman ini.
__ADS_1