
"Nih" Aku meletakkan kertas dan pulpen dihadapan Galang dan duduk disebelahnya.
"Ok sebentar" Galang mulai menggerakkan tangannya diatas kertas
Aku memandangnya dengan tatapan takjub karena ternyata Galang memang bisa menggambar dengan baik. Dia menggambar sketsa wajah perempuan sepertinya wajahku.
"Nggak usah terpesona begitu dong sayang" Galang menggodaku setelah dia melirik kearahku
" Bagus " Kataku kemudian
" Mirip nggak sama kamu? " Galang melihat kearahku
"Mirip hehehe ahhh aku iri, kamu beneran bisa gambar"
Kemudian dia menuliskan kata "sayangku" Dibawah sketsa tersebut.
Aku memandang lama tulisan itu, seperti pernah melihat tulisan yang sangat mirip dengan tulisan Galang. Huruf y yang tangkai bawahnya melengkung sempurna, dengan tulisan miring ke kanan dan bagian bawah tulisan ada garis yang tegas disertai titik. Perasaanku tiba-tiba menjadi sangat bahagia bahkan meletup-letup setelah mengetahui Tyson itu ternyata seganteng ini.
Galang memperhatikan perubahan ekspresi wajahku "kenapa sayang? Ada yang aneh? "
Aku menggeleng
"Susah banget yah? "
"Apanya? Gambar? Nggak juga" Sahut Galang
"Bukan, ngedeketin akunya"
Dia mengangguk dan tersenyum, tangan Kananku diambilnya. Jari jari tangan kirinya menelusup di sela-sela jari tangan kananku dan menggenggamnya erat diatas meja makan. Galang memandangku lekat, tangan kanannya menyisir anak-anak rambutku yang tumbuh lebat di dahiku.
"Susah, dan akunya juga hati- hati nggak mau gegabah, aku takut kalau aku agresif kamunya tiba-tiba makin menjauh. Aku mau kamu melihat aku dengan ketulusanku, tapi bingung juga mulai darimana"
"Bentar yah" Aku perlahan beranjak dari tempat dudukku
"Kemana? " Tangan Galang masih menggenggam erat
" Mau mengambil sesuatu "
" Jangan sekarang, aku belum siap " Canda Galang dengan ekspresi kekanakan sambil mendekap gemas badannya dengan tangan kanan.
" Hahahaha, yeeee... Bentar ah" Aku melepaskan tanganku dari genggamannya dan berlari kecil kedalam kamarku
Setengah berteriak Galang berkata "Mau deh, aku siap kapan kamu mau aja hahaha"
" Hahahaha dasar om-om " Aku menjawab geli dari dalam kamar sambil mengambil satu tas tenteng berbahan blacu dari dalam rak buku
"Hahahaha" Terdengar Galang tertawa terbahak-bahak mendengar jawabanku
Aku meletakkan tas tenteng tersebut diatas meja, dan mengeluarkan notes yang aku simpan dengan rapi selama beberapa bulan ini.
Galang menarikku lembut untuk duduk dipangkuannya. "Apa itu sayang? "
Matanya mengamati tas yang aku bawa dengan air muka bingung.
Aku duduk dengan nyaman dipangkuan Galang
" Sukma yah bli sayang untuk kiriman-kiriman isyarat sayang dan perhatiannya beberapa bulan yang lalu" Aku meletakkan sejumlah Notes yang kukumpulkan menjadi satu digenggaman tangannya
Galang memperhatikan Notes yang ada di tangannya dan tertawa kecil seperti menahan malu "kok kamu tahu?, aku bahkan malu kalau ingat saat-saat itu"
"Tulisan tanganmu Galang, khas sekali tapi aku suka, buku yang kamu kirim aku simpan kok"
"Aku pikir sudah kamu buang"
"Kok dibuang kan sayang"
"Eh tapi kalau ternyata yang kirim bukan aku, kamu masih simpen nggak? "
"Yah simpen juga, bukunya bagus, kalau akhirnya ketemu orangnya paling bilang terimakasih aja"
__ADS_1
"Aku juga barusan cuman dapet terimakasih aja, padahal pacarnya" Kata Galang manyun
" Hahahaha aku baru tahu ternyata kamu begini yah manjanya"
"Ihhh kan sama pacar sendiri"
Aku memutar tubuhku menghadap kearah Galang dan memeluknya
"Terimakasih yah sayang"
"Iyah nanti kalau kamu mau beli buku yang lain kasih tahu aja kita bisa beli bareng lagi" Bisik Galang
Aku melepas pelukanku, tangan Galang masih melingkar dipinganggku
"Kiss me" Kata Galang dengan mata menatap tajam kearahku.
Aku memegang pipinya dengan kedua tangan lalu mendekat kearahnya dan mengecup bibirnya yang tebal berwarna merah pucat. Belum sempat aku melepas kecupanku, Bibirnya menyambut bibirku pelan. Semakin lama semakin dalam Galang mendominasi ciuman ini. Aku tanpa sadar mulai membalas ciuman Galang lebih panas lagi. Ciuman ini membuatku lupa segalanya, tangan Galang mengusap-usap punggungku, sedangkan tanganku mencengkram rambutnya. Sekitar beberapa detik kemudian aku mulai mengendurkan cengkramanku dan menarik diriku dari situasi yang panas ini.
Galang mengecup bibir dan hidungku sekali lagi.
" Aku takut tiba-tiba orang tuaku muncul hehehe"
"Memangnya kalau bukan dirumah mau lanjut lagi? "
Aku hanya bisa menatapnya dan menggigit bibir bawah ku menahan gemas.
Galang mencium lenganku dan meletakkan dagunya dipundakku, tangannya masih melingkar dipinggangku, aku masih dipangkuannya membelakangi tubuh Galang.
"Masih kayak mimpi Sayang, waktu aku ngirim buku itu aku nggak berfikir sampai punya hubungan sejauh ini sama kamu, paling beruntung mungkin menjadi teman ngobrol"
"Kamu happy nggak jalan terus pacaran sama aku ? " Tanya Galang kemudian
"Banget, kamu? "
"Iyah sama, ini saat-saat yang terindah dihidup aku Nam"
"Dia tahu?, Kenapa? "
"Aku kan cerita ada orang kirimin aku ini itu, kata dia jangan-jangan yang ngirimin itu mukanya kayak Tyson, katos hahahaha, sering godain aku, Tyson apa kabar? "
"Hahaha Tyson? Tyson petinju? "
"He eh geli nggak sih di kejar cinta Tyson hahahaha"
" Hahahaha ada -ada aja " Kata Galang geli
"Untungnya bukan "
"Kan aku won bin" Kata Galang dengan muka bangga
" iya tapi jokesnya kayak bapak- bapak yang suka nongkrong di depan Gang hahahaha"
"Hahaha biarin kan kamu suka"
"Nggak, nggak suka"
"Kalau nggak suka kok berani cium duluan" Galang menggodaku
Aku hanya bisa menutup mukaku yang terasa panas
"Aku suka sayang, coba kalau waktu itu kamu nggak nekat, aku juga pasti bingung bilangnya gimana. Aku suka semua tentang kamu"
Terdengar bunyi motor mendekat, aku terlonjak dari Pangkuan Galang dan duduk disebelah Galang.
Galang merapikan rambut dan bajunya berusaha terlihat santai.
Motor memasuki garasi.
"Teka uli pasar malam e mek?" ( datang dari pasar malam yah bu? ) Tanyaku ke Ibu
__ADS_1
"Ae, ne ade martabak sama terang bulan" Ibu menyodorkan kresek hitam.
"Ten mekelo nggih Gus ngantiang Kadek tunian?" (Nggak lama yah Gus nunggu Kadek tadi) Tanya Ibu kemudian ke Galang
"Ten bu, (nggak bu) sekitar 15 menit terus Naminya dateng"
"Negak be malu dini, mek ke tengah malu" (Duduk disini dulu, ibu mau ke dalam)
"Nggih bu" (Baik bu)
"Disambil sama martabaknya" Kata Bapak menimpali sambil berlalu ke ruang tengah bersama Ibu
"Nggih pak" Kata Galang
Aku cuma mengangguk senang
"Biasanya orangtuaku jarang meninggalkan tamu sendirian dirumah, apalagi kakakku pasti ditungguin sampai yang dicari datang" Kataku kemudian
"Artinya mereka percaya sama aku"
"Kamu sudah dianggap keluarga" Aku menekankan kata keluarga di Kalimat yang aku ucapkan baru saja.
Galang tersenyum lebar dan menyomot satu buah martabak dari kotak yang aku buka.
Sedangkan aku menikmati terang bulan coklat keju kesukaanku.
Kaki Galang mengapit kaki kananku dibawah meja makan dengan wajah yang biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa dan masih mengunyah martabaknya dengan santai.
"Mesti yah kakinya begini" Sahutku berbisik
"Abisnya nggak bisa peluk kamu hehehe "
Jawab Galang dengan muka naif.
Aku hanya mengernyitkan hidungku untuk meledeknya.
Galang pun ikut melakukan hal yang sama dan kitapun tertawa geli.
Aku menoleh ke jam dinding yang terpajang ditembok dapur diatas lemari pendingin. Waktu menunjukkan pukul 21.50 wita
"Sudah mau jam sepuluh aja loh bli"
"Cepet banget yah, rencana kamu minggu besok apa sayang? "
"Nggak ada sih paling goler-goler dirumah atau ke rumahnya Dewi"
"Sayangnya aku nggak bisa nemenin , ada klien baru ngajakin meeting besok siang, mungkin semingguan kedepan aku bakalan sibuk lagi"
"Oh bagus dong ada klien baru lagi, aku minggu depan juga mulai sibuk lagi, kemungkinan lembur, biasa musim nikah aku ada jadwal datang ke dua nikahan klien minggu depan"
"Kan sudah ada wedding coordinator, kenapa harus datang juga? "
"Spesial permintaan klien karena bantuin dia komunikasinya. Merasa selama ini komunikasi sama aku yah segala macam detailnya dia merasa aku yang paling tahu jadi harus datang, seharian sampai malam lah kemungkinan"
"Hmm jaga kesehatan yah sayang" Galang melihat sekeliling dan dengan cepat mengecup keningku.
Aku tersenyum serta menggigit bibir bawahku menyembunyikan perasaan malu dan senang yang datang secara tiba-tiba ini "Iyah bli juga yah"
"Aku pulang dulu yah, nggak enak bertamu sampai larut malam"
"Iyah hati-hati di jalan yah"
"I love you Nami"
"I love you bli"
Galang berdiri dan menggandeng tanganku berjalan kedepan rumah dan langsung masuk kedalam mobilnya.
Aku melambaikan tanganku, Galang membalas lambaian tanganku sambil tersenyum.
__ADS_1