Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
Undangan


__ADS_3

Seperti rencananya ku semalam. Aku akan membuat surat pengunduran diriku hari ini. Kebetulan hari ini bu Ida sedang ada sales call, jadi aku bisa mengetik surat pengunduranku dengan tenang. Setelah selesai, segera saja aku print dan ku masukkan kedalam amplop putih. Hari telah beranjak siang, aku sedari tadi sudah was-was dengan Dira, memikirkan tentang kiriman apa lagi yang akan aku terima hari ini. Sudah sesiang ini nampaknya tidak terjadi apa-apa, sepertinya aku bisa bernafas lega sehari ini.


Aku berencana untuk makan siang di food court sebelah. Segera saja kurapikan meja kerjaku dan bergegas pergi. Saat berbalik Pak Dito mengagetkanku. Beliau sudah berdiri dibelakangku entah mulai kapan, tanpa berkata apapun. "Aduh pak, saya jadi kaget. Kenapa diam berdiri dibelakang saya" Kataku sambil mengatur nafasku kembali.


"Maaf Nami saya bikin kaget yah?!, mau makan siang? " Tanyanya


"Iyah pak, disebelah" Jawabku cepat


"Nggak sama pak Sudira kan?! "


Aku mengernyitkan dahiku "kenapa harus sama dia sih"? Kataku sewot.


"Kalau begitu saya ikut yah? " Katanya lagi


"Ya ayok pak, bapak duluan saja nanti saya menyusul "


"Bareng aja yuk, nggak apa-apa kok Nami"


"Ya sudah" Aku melangkah terlebih dahulu dan diikuti oleh pak Dito.


Di food court, kami berdua makan seperti biasa tanpa ada percakapan berarti. Memang sebenarnya aku tidak berniat menanyakan apapun tentang Galang kepadanya. Entahlah aku hanya malas membahasnya lagi. Saat kami telah selesai, tiba-tiba tangan Pak Dito memberi isyarat agar aku tidak beranjak dari tempat duduk ku.


"Sebentar Nami saya mau bicara" Katanya kemudian


"Tentang apa Pak?! " Jawabku berbasa-basi, padahal aku tahu maksud Pak Dito ingin membicarakan Galang


"Kamu baik-baik saja? Saya dengar kalian sudah berpisah"


"Bapak Dito yang bertanya atau pertanyaan titipan?? Kalau titipan katakan saya baik-baik saja pak, seperti yang pak Dito lihat hari ini " Aku tersenyum padanya, " Kalau pak Dito tidak memiliki sesuatu yang harus diceritakan pada saya artinya pembicaraan ini selesai pak sampai disini. Maaf pak saya menghargai niat baik pak Dito mengkhawatirkan saya, tapi saya memang baik-baik saja" Kataku pelan.


Pak Dito hanya bisa menghela nafasnya mendengar jawaban yang tidak terduga seperti ini dari Nami. "Saya minta maaf Nami saya memang tidak bisa banyak membantu dalam masalah ini dan saya juga tidak bisa menjelaskan apa-apa untuk saat ini. Tapi saya tahu kalau Galang masih sangat mencintaimu" Kata Dito dengan wajah sedih.


Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar omong kosong ini lagi.

__ADS_1


"Ya sudah pak, kita sebaiknya kembali. Saya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan hari ini"


"Yah Nami silahkan saja duluan"


Aku mengangguk dan berlalu dari hadapannya.


Ketika aku sampai di Kantor, Ratna memanggilku "mba Nami, sini sebentar" Katanya padaku


"Ada apa Ratna" Aku mendekat, dengan perasaan was-was


"Ada kiriman lagi tapi sepertinya bukan makanan mba. Ada tiga box, tapi saya nggak sempat cek lagi, karena tadi saya sibuk. Jadi saya taruh saja di meja mba. Tapi salah satunya saya yakin box sepatu mba"


"Ya Ratna terimakasih yah " Aku tersenyum dan berlalu bergegas ke meja ku. "Apa lagi sih Dira???!!!! " Aku menggerutu sendiri gemasss


Aku ternganga melihat apa yang ada diatas meja kerjaku. Aku meraba Dua box berwarna hitam ukuran tanggung yang diatas nya tertulis merk pakaian yang sangat terkenal dan mahal. Satu box lagi aku yakin sepatu karena merk yang tertulis diatasnya memang terkenal dengan sepatu mewahnya. "Ini tidak benar, buat apa aku dikirimkan pakaian semahal ini?!!!" Pekik ku lemah


Aku membuka satu box yang berwarna hitam , aku kaget luar biasa. Didalam nya ada gaun malam yang sangat cantik ,berwarna hitam. Aku mengambilnya dan memperhatikan Modelnya, "backless maxi dress dengan potongan dada V yang rendah, Ya Tuhan ini seksi sekali" Aku bergumam sendiri.


Aku melanjutkan membuka kotak kedua mataku semakin melotot, ada sebuah tas hitam model clutch berhiaskan sequin berwarna hitam dan juga sepasang anting berkilau berwarna senada.


"Kenapa aku harus datang, coba??!! " Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Kuputuskan untuk menghubungi Dira untuk memberikan jawaban atas undangannya ini.


Telepon berdering beberapa kali akhirnya diangkat Dira.


"Hi " Jawabnya singkat


"Dira, apa lagi ini? Kenapa kamu mengirimkan ini semua? Kenapa aku harus datang ke acara ulang tahun perusahaanmu??? " Tanyaku dengan nada emosi


"Iyah aku mengundangmu mewakili perusahaan tempatmu bekerja. Aku memang mengundang semua kolegaku" Kata Dira cepat


"Tapi harusnya kamu mengundang Dito, bukan aku"


"Aku juga mengundangnya Nami, bagaimana gaunnya?? Suka?? Aku mengira-ngira saja ukuran badan dan sepatumu setelah memelukmu semalam" Terdengar nada menggoda dalam suaranya.

__ADS_1


"Aku takkan datang, ambil saja kembali kirimanmu ini!" Kataku dingin


"Jangan begitu Nami, aku mengundangmu khusus datanglah walaupun sebentar. Dengar, aku minta maaf atas apa yang aku lakukan semalam. Itu diluar dari kebiasaan ku Nami, tapi aku tidak menyesal melakukannya. Terus terang aku benar-benar merasa sangat beruntung semalam" Jawab Dira, dari suaranya dia terdengar bahagia.


"Tapi maaf Dira aku tetap tidak akan datang "


"Ku pastikan kau akan datang, jangan mencoba mengetes kesabaran ku Nami. Jangan sampai aku melakukan hal-hal yang lebih ekstrim lagi untuk mendapatkanmu"


Aku bergidik mendengar apa yang baru saja. Dira ucapkan


"Jadi ku mohon datanglah, kali ini aku tak akan melakukan hal-hal yang membuatmu kecewa" Lanjut Dira lagi.


"Katakan Dira, kenapa harus aku yang menjadi sasaranmu? Kenapa bukan wanita lain? Aku capek menghadapimu Dira" Kataku lemah


"Tidak ada wanita lain yang lebih tepat Nami, aku hanya mau kamu. Sudahlah aku tunggu yah hari sabtu besok, take care Nami" Telepon kami pun terputus. Aku memijit dahiku yang mulai panas karena emosi yang tertahan.


"Loh Nami kenapa?" Tanya bu Ida


Aku menoleh ke asal suara, Bu Ida rupanya sudah kembali ke kantor "Bu Ida, nanti sore sebelum pulang saya mau bicara"


"Mengenai apa?? " Raut wajahnya terlihat khawatir


"Nanti saja yah bu" Kataku pelan


Mata bu Ida beralih ke atas meja ku, wajahnya terlihat tegang, matanya terbelalak.


"Ini kiriman dari Pak Sudira lagi?!! Waduh sudah serius ini, nggak becanda ini Nami. Kamu harus berhati-hati , kok saya juga jadi kepikiran"


"Bu saya dapat undangan ulang tahun perusahaannya Dira , hari sabtu besok.Saya tolak tapi dia malah mengancam saya " Kataku khawatir


"Keterlaluan"


"Nanti kita bicara diluar ya bu"

__ADS_1


"Iyah Nami"


Aku menyimpan semua kotak ini dibawah meja ku. "Aku akan menyelesaikan semua pekerjaan ini dengan baik sebelum aku menitip surat pada bu Ida" Gumamku sendiri.


__ADS_2