Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
Aku lelah


__ADS_3

Setelah diam beberapa saat,  dan Putu telah selesai dengan es buahnya dia menoleh kearahku " Sebaiknya kamu pikirkan lagi,  jangan memutuskan apa- apa saat hati sedang dalam kondisi tidak baik "


"Aku juga merasa aku butuh waktu,  apa mau lanjut apa bagaimana,  aku nggak kuat sakitnya kalau ada masalah yang mungkin lebih besar lagi bli"


"Itu bagian dari proses kedewasaan dek, jalan hidup ini nggak melulu mulus,  kadang terjal kadang berbatu,  asal niatnya baik pasti bisa dilewati bersama dek"


"Bli tahu nggak kenapa aku baru sekarang punya pacar lagi setelah sekian tahun? "


"Tahu, yang aku tahu itu kamu bukan belum move on kan? kamu takut rasa kehilangan dan sakit yang kemarin itu datang lagi, bener nggak? "


"Mmm, tadi di mall itu rasanya berkali-kali lipat sakitnya bli, aku ngerasa duniaku runtuh seketika kayak sakitttt banget"


"Dek rasa sakit itu bagian dari emosi yang kita miliki, hanya saja mungkin perasaanmu jadi lebih rapuh daripada orang lain. Dan itu wajar, tiap orang beda-beda hasilnya ketika menghadapi suatu masalah. Sekarang tinggal kamunya aja mau kayak gini terus apa mau mencoba fight! demi diri sendiri"


Aku menghela nafas panjang


"Akan ada banyak sekali masalah yang menanti di masa depan, kalaupun bukan dari kalian berdua bisa jadi dari orang lain, kalau nggak belajar fight dari sekarang kamu nggak akan ke mana-mana dek" lanjut bli Putu lagi.


"Boleh fight nya pelan-pelan nggak bli, aku kayaknya mau ambil jeda dulu, mau nafas dulu"


"Ya Boleh kenapa nggak, nanti kalau kamu sudah merasa lebih baik, ngobrol deh sama Galang baik-baik"


"Aku kayak belum bisa percaya dia sepenuhnya bli karena kejadian ini"


"Itupun juga wajar dek, eh iya katanya kalau kamu mau, Galang bisa ajak orang tuanya kerumah untuk menjelaskan lagi, gimana"? kata bli putu sambil memberikan senyum lebar jenakanya


"Kalau mereka main kerumah jadi serius banget dong hubunganku, padahal aku maunya pelan-pelan aja. Kayak yang mau cepet nikah" aku makin gelisah mendengarnya


"Hahahaha dek... dek" bli putu terbahak sambil menggeleng


"kamu dong duluan nikah, masak aku"


"Yah kalau kamu siap aja, aku belakangan juga nggak masalah, cie yang mau cepet nikah" Bli putu menggodaku


"ck! " aku hanya sanggup berdecak kesal


"Iyah... aku bercanda" bli putu menepuk pelan tangannku

__ADS_1


" Kalau dia nanti ternyata nggak setia gimana bli? "


"Masa depan siapa yang tahu dek,  kita hanya bisa memilih yang terbaik,  sisanya tergantung nasib.  Sudah milih aja kadang hasilnya tidak sesuai bagaimana kalau tidak memilih yang terbaik? "


Aku merenungi ucapan Putu


"Lelaki yang baik itu susah dicari dek,  dan aku entah kenapa yakin dia laki-laki yang baik, bertanggung jawab,  berkomitmen,  sudah bekerja dan bonusnya ganteng"


"Kamu dikasih apa sampai promosi begini? "


Bli Putu tersenyum geli " eh tapi aku salut loh sama dia, mau mengambil tanggung jawab yang sebenarnya bukan karena kesalahan dia. Apalagi dia sepertinya sayang banget sama anak itu, apalagi nanti sama anaknya sendiri"


"Coba kalau orang lain di posisi dia, pasti menolak Habis-habisan. Udah nggak cinta sama istri ,harus tiba-tiba jadi bapak dan selama masa dia jadi suami harus bisa membatasi diri ke lawan jenis. Awas loh diembat cewek lain" Kata Bli Putu lagi 


"Kalau memang bukan jodohku yah nggak apa sih bli" Aku melengos


"Nggak apa tapi nangiisss drama,  dipikirin berhari-hari...  Hahahaha"


"Hahahaha nggak ah, nggak gitu"


"Pasti gitu" 


"Wajar dek, coba pikirin lagi deh. Aku sih terserah kamu aja gimana baiknya. Apapun yang membuat kamu bahagia dek" Bli Putu tersenyum dan menyenggol pundakku 


Akupun ikut tersenyum. 


"Eh bentar kamu tau Galang ada di mall itu darimana? "


"Awalnya akunya memang niat jalan-jalan sebentar sepulang kerja,  karena kata Galang dia lagi ada urusan keluarga,  terus Bumi kirim foto dia bareng mantan istrinya sama anaknya itu duduk di food court mall, ? yah udah aku juga penasaran kusamperin aja kan yah"


"Oh Bumi,  orang itu yah nggak ada habisnya gangguin kamu,  block aja nomornya nggak berguna juga masih komunikasi sama dia"


"Iyah loh sudah aku block,  kesel deh tapi kalau dia nggak kirim foto itu aku juga nggak bakalan tahu secepat ini kan? "


"Iyah tapi waktunya benar-benar nggak tepat" 


" Pulang yuk Bli,  aku capek banget pengin cepetan mandi trus tiduran"

__ADS_1


"Ya udah yuk"


Kami pun bergegas beranjak dari tempat itu usai membayar es buah pesanan tadi. 


Usai mandi aku menjatuhkan tubuhku keatas tempat tidur empuk ini,  masih terbayang wajah Ayah dan Ibu terlihat begitu khawatir menunggu di meja makan. Setelah aku dan Bli Putu pulang kerumah,  Ibu langsung menyambutku dengan suara lembut "be ngajeng dek?" (Sudah makan dek? )


Aku menggeleng dan tanpa berkata apa-apa lagi Ibu menarikku lembut ke meja makan.  


"Ngajeng malu pang sing masuk angin, mek mare meli lawar enakkk sajan" (Makan dahulu biar tidak masuk angin, ibu baru saja beli lawar enak sekali) Suara Ibu terdengar riang


Aku hanya sanggup tersenyum lalu bergegas mencuci tanganku dan mengambil piring.  Dibelakangku bli Putu juga melakukan hal yang sama, hanya saja setelah dia mengambil nasi dan lawar serta lauk yang lainnya ia memilih duduk di teras depan kamarnya seperti yang biasa ia lakukan.


Ayah hanya diam tersenyum sambil memperhatikan aku yang mulai lahap makan. "Bape jak meme be ngajeng? " (Ibu sama bapak udah makan?) 


"Be dek mare sajan " ( Sudah dek baru saja) Sahut Ayahku tenang


"Ae me mare suud ngajeng jak bape" (Iyah ibu baru saja makan bareng bapak) Ibuku ikut menjawab


Setelah makan kuputuskan untuk mandi karena sedang malas membahas kembali masalah tadi. 


Ibu melihat aku beringsut mencuci piring lalu mengambil tas dan jaket yang aku letakkan diatas kursi kosong "manjus malu pang segeran, ngelantas be istirahat be peteng masih" (Mandi dahulu biar segeran, langsung dah istirahat sudah malam) 


Aku mengangguk sambil tersenyum. 


Ibu dan ayah memang orang tua yang sangat pengertian, mereka pun tidak menuntutku untuk menceritakan masalah ini secepatnya. Mungkin karena mereka paham sifatku yang ingin menyendiri sementara dan aku sedang tidak ingin membahas hal tersebut saat ini. 


Ku raih ponselku yang tadi kuletakkan diatas meja. Ku pandangi foto Galang yang sedang tersenyum manis menatap kearahku, seingatku foto ini kuambil secara tiba-tiba saat dia datang kerumah. 


"Hi, sepertinya aku masih butuh waktu untuk bisa berbicara langsung sama bli" Aku kirimkan pesan pertama kepada Galang.  


"Sementara jangan menghubungi aku, disaat aku sudah siap bertemu, nanti akan aku kabari" 


Pesan kedua juga telah aku kirim. 


Terlihat muncul dua centang biru di masing-masing pesan yang telah aku kirim tadi, pertanda pesan tersebut telah dibaca oleh Galang, dan muncul tanda dia sedang mengetik sesuatu. 


" Aku mengerti Nami 😔 maafin aku sayang😫, aku akan menunggu selama apapun ❤"

__ADS_1


Balas Galang singkat. 


Karena kelelahan mataku terasa berat dan tidak berselang terlalu lama aku tertidur. 


__ADS_2