Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
Hari yang berat


__ADS_3

Di sepanjang jalanku pulang tak henti-hentinya aku menangis, sampai dadaku terasa sesak dan nafasku tersengal-sengal. Aku menghentikan langkahku dan memutuskan untuk duduk sebentar di sebuah kursi milik satu restaurant yang nampaknya sedang tutup. Lampu depan restaurant yang redup menguntungkanku yang saat ini tak ingin terlihat oleh siapapun.


Aku menutup mataku yang panas dengsn telapak tanganku sambil mengatur nafasku kembali. Nampak beberapa turis dan orang lokal masih berlalu lalang. Aku memeriksa ponselku, waktu menunjukkan pukul 20 lewat 18 menit. Ada beberapa pesan masuk yang aku lewatkan siang ini. Dua pesan dari Beni, dan lima lainnya dari Dira.


Beni: "Nyonya Galang apa kabarnya?" 😜


Beni: "yahhh dicuekin, pasti lagi lalala yeyeye nih 😲"


Aku sedang malas membalas pesan Beni malam ini. Kemudian aku membuka pesan dari Dira


Dira : "lagi libur yah?? "


Dira : "ngapain aja seharian? "


Dira: "pasti bacanya lewat notif lagi"


Dira: "kenapa nggak dibalas Nami??"


Dira: "kalau nggak dibalas, besok aku kirimin sesuatu lagi aja yah ke kantor 😋🤭"


Aku hanya membaca pesannya sebentar dan menutup ponselku kembali.


Tiba-tiba saja ponselku berbunyi, aku melihat nama Dira disana. Aku biarkan sampai beberapa kali berdering.


Ada pesan masuk kembali dari Dira


Dira: "marah yah? Please angkat teleponku Nami"


Aku hanya melengos, Saat ini pikiranku sedang kacau dan sedang tidak ingin diganggu sama sekali. Aku meraba isi tas ranselku, botol air mineral sisa tadi siang ternyata masih ada disana. Aku gunakan air itu untuk mencuci wajahku. Beberapa kali mataku kubilas agar nampak lebih segar. Setelah tenang aku melanjutkan perjalanan pulang. Ketika sampai dirumah pelan-pelan gerbang kubuka, dan bergegas menutup kembali dan menguncinya.


Dengan langkah terburu-buru aku masuk ke dalam kamar. Untungnya meme dan bapa sedang beristirahat di dalam. Jadi aku tidak perlu menjelaskan sekarang apa yang sedang terjadi.


Setelah mandi, aku memandang wajahku di depan cermin, mataku kelihatan sembab."kompres pakai air es harusnya bisa mengurangi sembabnya" Aku bergumam sendiri. Setelah mengambil air es dari dalam kulkas, 2 potong kapas aku masukkan kedalamnya. Kapas ku peras sedikit dan ku tempelkan pada kedua kelopak mataku yang terpejam.


Berulang kali aku menempelkan kapas dingin dikelopak mataku, entah bagaimana, mungkin karena kelelahan aku pun tertidur pulas.

__ADS_1


Pagi ini tidak seperti hari-hari sebelumnya, berangkat kerja menjadi hal yang sangat berat untuk dilakukan. Aku nyaris memutuskan untuk tidak masuk kantor hari ini, tapi urung aku lakukan karena teringat beberapa pekerjaan yang belum tuntas aku kerjakan sebelum libur kemarin. Mataku masih agak sembab tapi jauh lebih baik dari semalam. Aku memutuskan menggunakan make-up lebih tebal untuk menutupi raut wajahku yang sendu.


"Mek yang berangkat ke kantor nah (bu saya berangkat ke kantor yah) " Kataku tanpa menoleh ke arah meme, aku takut beliau melihat ketidak wajaran mataku.


"Sing sarapan malu dek? ( tidak sarapan dulu dek? " Ibuku setengah berteriak dari arah dapur


"Sing mek, yang buru-buru be tengai " (Nggak bu, saya buru-buru sudah siang)


Aku melajukan motorku menembus jalanan yang nampak mulai ramai kendaraan.


Di kantor aku menghindari kontak mata dengan siapapun, kalaupun aku harus menoleh kulakukan dengan singkat. Bu Ida mungkin merasakan keanehanku pagi ini, karena aku lebih banyak diam dan sibuk dengan urusanku sendiri.


"Nami, kamu kenapa? "


Aku menoleh cepat dan tersenyum kemudian mataku kembali ke layar komputer di depanku.


"Kenapa gimana bu? "


"Kok rasanya ada yang beda yah, biasanya ceria kenapa hari ini lebih banyak diam? "


"Jangan-jangan sama Dira-Dira itu hehehehe" Kata bu Ida sambil terkekeh sendiri


"Aku ikut tertawa kecil, Bukan bu sama yang lain" Aku menoleh lagi dengan cepat.


"Wah iya Nami sudah punya pacar yah, saya baru ingat"


Aku tidak menanggapi lagi obrolan bu Ida setelahnya. Mendengar kata pacar membuatku kembali teringat kejadian semalam. Air mataku tanpa diundang datang kembali, berkumpul memenuhi setiap celah mataku dan menggenang disana.


"Nami... Nam... " bu Ida mendekat dan menepuk pelan pundakku.


Aku terperanjat tersadar dari lamunanku, satu dua tetes air mata jatuh tanpa bisa kucegah lagi. Bu Ida terhenyak dan mengambilkan selembar tisu dan disodorkan ke hadapanku yang sedang mencoba menahan diri dari serbuan kesedihan semalam.


"Tarik nafas yang panjang Namj, mau saya suruh Oming minta tolong buatkan es teh?? Biar perasaannya lebih enak. " Bisik bu Ida


Aku mengangguk lemah. Bu Ida langsung menghubungi pantri untuk mencari Oming.

__ADS_1


Setelah beberapa tarikan nafas panjang akhirnya air mataku kembali ke tempatnya semula.


"Masalah sama pacar?"Tanya Bu Ida masih berbisik


Aku mengangguk pelan


"Mestinya Nami tidak perlu ngantor hari ini, istirahat saja biar bisa menenangkan diri "


"Tadinya mau begitu bu, tapi saya langsung ingat kerjaan saya yang masih banyak di kantor" Kataku berbisik dengan suara parau.


"Cepat selesaikan yang penting hari ini, nanti jam berapa selesai saya ijinkan Nami pulang lebih awal, nanti saya bilang saja tiba-tiba pusing atau apalah, gampang Nami " Kata Bu Ida sambil tersenyum.


"Baik bu terimakasih" Kataku pelan.


Bu Ida menepuk punggung tanganku yang sedang berada diatas pangkuanku dan kembali ke mejanya.


Sejenak Oming datang membawa segelas es teh dan dia letakkan di atas meja ku.


"Terimakasih banyak Ming" Kataku sambil tersenyum


"Sama-sama mba Nami" Lalu berlalu kembali ke pantri.


Aku meneguk es teh manis itu dengan


Hati-hati, "minuman dingin dikala hati sedih ternyata memang selalu membantu memulihkan moodku yang kacau" Aku bergumam dalam hati.


Telepon internal di meja ku berbunyi dan segera ku angkat, belum sempat aku mengucap salam Ratna mendahului aku berbicara " Mba Nami, ada kiriman lagi " Katanya semangat.


Alis bu Ida naik saat menoleh ke arahku, mengisyaratkan pertanyaan " Ada apa?" Setelah telepon itu aku tutup. Aku menggeleng "bentar saya mau lihat dulu ke depan" Jawabku bergegas melangkah ke kantor depan.


Kali ini aku melihat kotak dengan merek chicken steak ternama di Denpasar beserta minuman segar bertumpuk diatas meja Ratna.


"Ini belum semua mba, dibawah sini ada donat juga beberapa kotak, dan ini khusus untuk mba Nami" Ratna menyerahkan satu kotak berwarna hitam bertulis bbq beef ribs, satu minuman, satu kotak frozen youghurt dan satu kotak dessert bergambar kue yang isinya entah apa aku tak tahu.


"Bantu saya lagi membagikan kepada yang lain yah Ratna, terimakasih banyak Ratna" Aku menyunggingkan senyum.

__ADS_1


"Baik mba, saya sepenuh hati senang membantu mba, lumayan dapat makan siang gratis " Kata Ratna terkekeh


__ADS_2