Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
Ada Serigala


__ADS_3

Konsernya seperti yang kami duga, berlangsung sangat seru. Aku Galang ikut bernyanyi sepanjang waktu sampai suaraku serak.


Konser pun berakhir , dalam perjalanan ke tempat parkir motor aku memperhatikan sekeliling, banyak lampu temaram sepanjang jalan. Galang mendekat dan mengecup cepat bibirku. Aku hanya bisa tersenyum malu dan mempererat genggaman tanganku.


"Lapar nggak??! Tanyanya


" Sedikit "


"Mau nyari cemilan? "


Aku merogoh ponselku dari dalam tas, melihat jam yang tertera.


"Baru jam 22.15, boleh deh"


Laju motor kami pelan keluar dari Kawasan art Center, tampak antrian yang lumayan padat di pintu keluar.


Aku memeluk erat pinggangnya


"Pinggang bli kok makin kencang? " Aku mengusap lembut perutnya.


"Jangan di elus, nanti naganya bangun" Kata Galang sambil terkekeh


"Ck!" Aku ikut terkekeh.


"Selama kita nggak ketemu aku jadi rajin olahraga, biar gak kepikiran kamu terus"


"Ada gunanya juga ternyata aku cuekin yah" aku mencubit pinggangnya


"Duh " Galang meringis


"Boleh bales nggak sih? " Kata Galang


"Nggak boleh"


"Awas aja entar " Kata Galang lagi


Aku terkekeh lagi


Aku baru sadar kita sudah jauh ke arah selatan, melewati By Pass Sanur "kita mau beli makan dimana bli?


" Tenang, sabar nanti juga kamu tahu" Galang terdengar penuh rencana.


"Cari tempat makan yang dekat aja"


"Iyah... Sayang"


Sekitar 10 menit kemudian, kami berbelok masuk jalan di seputaran Suwung, lalu Galang masuk ke suatu perumahan yang asing bagiku. Akhirnya berhenti didepan sebuah rumah yang cukup besar, dengan bentuk yang modern sepertinya bertingkat tiga.


"Aku turun dari motornya mengikuti Galang yang membuka gerbang dengan gerakan cepat.


"Ini rumah siapa? "


Dengan entengnya dia berujar "rumahku, mau nyulik kamu"


"Eh bentar dulu, ini sudah malam. Kalau aku masuk apa kata orang tuamu bli, ngajak anak gadis kerumah malam-malam. Kayak nggak sopan aja" Ujarku khawatir.


"Orang tuaku nggak dirumah sini, mereka sudah setahun ini tinggal di kampung Tabanan jadi tenang aja"


"Apalagi kalau mereka nggak dirumah... Mmm.... Aku takut .... Aku Belum siap" Dengan polosnya aku berujar, terbayang sudah banyak hal negatif dipikiranku. Aku mematung di tempatku berdiri.


Terdengar Galang tertawa terbahak-bahak sambil memasukkan motornya ke dalam.


"Nami... Nami... kamu pikir kita mau ngapain coba??, sini sayang... Hei kok malah bengong disitu " Galang menarik tanganku lembut.


Aku hanya mampu mengikuti langkah Galang dalam diam sambil memperhatikan rumahnya. Meski minim pencahayaan aku masih bisa melihat jelas walaupun sekilas. Terus terang aku terpukau dengan desain rumah ini. Benar-benar desain rumah minimalis seperti yang ada di majalah-majalah yang pernah aku baca. Kami memutar ke bagian samping rumah, kulihat tangga dengan pencahayaan redup di bagian bawahnya, sepanjang tangga tersebut. Galang mengajakku ke atap dak yang letaknya paling atas rumah ini.


Begitu sampai aku hanya bisa ternganga. Tempat ini seluruhnya tertutup kayu, ada sebuah meja kayu besar dan panjang yang tidak rata permukaannya tapi terlihat mengkilap karena divernis dibagian sisi kiri. Disebelahnya berbaris dua buah bangku panjang di sisi kanan dan kiri meja.


Galang melepas tanganku "tunggu disini yah sayang" Kata Galang sambil mengecup pipiku lembut.


Galang tampak masuk ke satu-satunya ruangan diujung dak. Aku mendekat ke sisi dak yang diberi tembok pembatas dari kayu setinggi dadaku.


Makin terkejut karena aku bisa melihat pemandangan kota dengan kerlip lampu penerangan dibawah sana. Sungguh Indah gemerlap kota dibawah sana. Langit pun sedang semarak, awan tipis menyelimuti langit hari ini. Bintang-bintang terlihat bertebaran bagai berlian . Angin malam menyapu anak rambutku, udara semakin dingin. Aku hanya bisa berdecak kagum dan menahan nafasku sebentar.

__ADS_1


Sejenak kemudian Tangan Galang melingkar di dipinggangku, yang membuat aku memekik karena terkejut


"Aakk!!!, ah Bli " Aku memekik


"Aku bikin kaget yah, maaf. suka nggak tempat ini? "


Aku mengangguk


"Ini bagus banget bli, kayak mimpi rasanya berdiri disini"


"Lihat nggak di ujung sana, itu hutan mangrove disebelah sana, pelabuhan disana, kalau siang bisa terlihat walaupun tidak sejelas itu" Kata Galang lagi sambil menunjukkan arah yang dimaksud.


"Ini rumah impianku Nami, dak ini akhirnya selesai seminggu yang lalu, dan orang yang pertama kuajak kesini itu kamu"


"Orang tuaku saja belum lihat"


Aku menggigit bibirku sendiri, tertunduk malu mendengarnya


"Kamu pikir kita kesini mau ngapain? " Galang berbisik telingaku


"Astaga lututku seperti lemas mendengar pertanyaan ini, nyeri-nyeri aneh itu datang lagi"


"Entahlah" Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku yang dipenuhi perasaan malu.


"Kalau kamu lagi malu begini aku makin gemas Nami, liat aku sayang"


Aku membalikkan tubuhku, wajahku sepertinya sedang merah padam


"Aku bahagia sekali malam ini, bisa ketemu kamu lagi, hubungan kita balik lagi seperti semula. Ditambah malam ini aku bisa ngajak kamu kesini"


Aku hanya sanggup tersenyum, dan memeluk Galang erat


"Aku cinta dan sayang banget sama kamu, masalah apapun yang terjadi nanti setelah ini, kita hadapi bareng-bareng yah Sayang"


Suara Galang berbisik di telingaku terdengar bagai alunan nada yang merdu sekali.


Aku melepas pelukanku "Iyah bli aku janji" Ucapku kemudian.


"Ck jangan menggodaku, aku kan memang masih benar-benar belum tahu apa-apa" Aku tertunduk malu


"Memangnya aku sudah berpengalaman? "


"Sapa yang tahu, kan Duda " Aku berucap berbisik


"Duda kan bukan berarti berpengalaman, aku duda perjaka tahu, mau aku buktikan kalau aku masih perjaka? " Terdengar nada serius di ucapan Galang


Tanganku ditarik ke arah pinggang turun ke bokongnya "ini semua milik kamu selamanya "


Aku terkejut mencoba melepaskan tanganku


"Ck! Bliii. .. " Aku gusar


Dia terkekeh senang , aku hanya bisa mencubit pelan pinggangnya lagi.


Galang makin terkekeh


"Yuk aku punya mie cup, sama cemilan" Galang mengarahkan aku duduk di pangkuannya diatas bean bag yang telah ia persiapkan sedari tadi. Disebelahnya ada 2 buah mie cup yang sudah siap disantap dan beberapa makanan kecil beserta satu botol air mineral.


Sambil makan kami membahas banyak hal.


Aku hanya terkekeh mendengar dia bercerita tentang dia yang bertemu Dewi, sampai meminta bantuan Beni untuk ikut mencarikan jalan bertemu denganku.


Dia mencubit gemas pipiku "lain kali please sayang, kalau ada masalah setidaknya kita bisa ketemu. Mau aku di maki-maki sama kamu. mau di pukul, apalagi dicium aku kasih dah semua asal bisa ketemu. Aku tersiksa setengah mati gara-gara kamu." Galang menatapku dengan wajah memelas lucu.


"Iyah, Iyah aku minta maaf juga sayang. Aku sebenarnya terlalu takut kehilangan kamu bli, tapi pertahanan ku dari rasa sakit malah bikin aku menarik diri jauh dari kamu"


Dia mengangguk tanda mengerti.


"Aku nggak menyangka ternyata kesedihanmu di masa lalu membuat kamu seperti sekarang. Dewi cerita ke aku beberapa hal tentang hubungan kamu sama Bumi dulu. Aku jadi mengerti perasaanmu Sayang. Yang perlu kamu ingat aku bukan Bumi, kami berdua sama sekali berbeda Nami".


"Iyah bli"


Setelah makan dia membersihkan tanganku dengan tisu basah secara perlahan, kemudian tanpa basa-basi dia memelukku dan menciumku dengan panas.

__ADS_1


Awalnya terkejut sampai pada akhirnya aku pun ikut larut dalam ciuman itu.


Ciuman berlangsung panas dan lama seperti menumpahkan emosi yang terpendam bebrapa hari ini. Kami saling memagut dengan nafas memburu. Aku mulai lupa diri mungkin karena naluri, aku mengerang tiba-tiba yang sontak membuat Galang makin bergairah mencumbuku.


Ciumannya turun keleherku, tanganku sudah berkali- kali menggerayangi tubuh Galang, mengelus kepala, punggung dan lengan Galang tak terkendali. Begitupun juga Galang, tangannya mengelus rambut, punggung dan akhirnya ciumannya berhenti di dadaku. Kesadaranku kembali, aku tersentak dan melepaskan diriku. Galang pun sadar "maaf Nami aku selalu tidak bisa mengendalikan diriku saat kita bersama" Katanya berbisik lemah dengan wajah penuh rasa bersalah.


Bibirku terasa kebas, aku mengatur nafasku yang memburu dan merapikan baju serta rambutku yang mencuat kesana kemari.


Terus terang aku menikmati sentuhan Galang yang panas ini.


Aku tersenyum, Galang ikut tersenyum dan mulai terlihat rilex.


Aku memeluknya dan berbisik "aku suka ciumanmu yang panas ini"


"I can't help it Sayang, am sorry" Dia menjawab berbisik.


"Aku takut kalau seperti ini terus kita bisa benar- benar... benar-benar melakukannya " Aku berkata ragu


"Terus terang aku sekarang sedang " Turn on"" Kata Galang sambil tersenyum malu


Aku memandang kebagian bawah tubuhnya yang aku duduki "astaga pasti sakit yah aku dudukin begini"


"Nggak, posisinya nggak disana, tapi sekarang udah tenang lagi dia"


Aku terkekeh , Galang juga


"Aku lega reaksimu nggak berlebihan"


"Kan wajar, masak umur segini aku nggak tahu"


"Hmm Nikah yuk sayang" Kata Galang sambil menggigit bibir bawahnya sendiri pertanda gemas.


"Dheg!


"Hah? Kita baru pacaran sebentar loh, kebiasaan buruk ku banyak yang kamu nggak tahu".


"Aku nggak peduli kebiasaan burukmu, yang jelas aku benar-benar cinta sama kamu. Aku ingin memilikimu seutuhnya" tangannya mengelus rambutku pelan,"I could eat you alive right now, for sure" Kata Galang berterus terang dengan tatapan siap menerkam.


"Aku juga cinta banget sama bli Galang, tapi kita jalani dengan santai yah, aku ingin menikmati masa pacaran ini bli"


"I know, tapi hari ini aku jadi tahu kamu mau jadi istriku dan hubungan ini serius"


"Masak dilamarnya begini" Aku cemberut


"Nggak, maksudku tentang arah hubungan ini. Aku jadi lega, jadi tahu keinginan kita sama"


"Oh begini yah rasanya jatuh cinta lagi setelah sekian lama dan sekarang aku diumur yang sudah matang" Pikirku


Galang memelukku erat dari belakang


"Udah malem, nginep sini aja" Galang berbisik


"Nggak ah, nanti ada serigala malam-malam ih" Aku pura-pura bergidik


"Hahahaha aku bakalan jadi anak baik kok, serius"


"Nggak mungkin bisa" aku menoleh menatapnya dengan wajah jutek


"Hahaha bisalah, kan aku jagain pacarku masak aku serigalanya " Galang makin terkekeh.


"Malam- malam pasti deh Auuuuuu!!! hahahah" Aku mengikuti auman serigala sambil tertawa geli.


"Auuuuuuu" Galang mengikuti apa yang aku lakukan dan tiba-tiba mengecup leherku lembut sambil menelusup di tengkukku diantara leher dan rambutku yang tergerai. Tangannya memelukku pinggang ku dengan erat. Hembusan nafasnya terasa hangat "Nami" Bisiknya membuat sekujur tubuhku merinding.


Nafasku tercekat aku hanya sanggup menjawab "Mmm" sambil mencoba mengatur nafasku yang mulai berat.


"Galang serigala please stop it" aku berkata lemah sambil terkekeh


"Kayak nama penyanyi dangdut" Kata Galang sambil tertawa


"Hahaha Tuh kan, baru sebentar aja udah begini, gimana mau nginep" Aku mengomel


"Iyah sayang, iyah kita pulang aja yuk. Lama-lama beneran ternyata akunya bakalan jadi serigala"

__ADS_1


__ADS_2