Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
Galang sakit 2


__ADS_3

Ku letakkan tray diatas meja kerjanya.


Pandanganku menyapu isi ruangan kamar Galang. Kamarnya terlihat rapi, ringkas dan sangat bersih. Diatas nakas masih terbungkus rapi makanan yang dipesan Galang lewat ojek online. Aku membuka bungkusan tersebut, sepaket bubur ayam yang kuahnya sudah dingin dan sepaket pisang goreng keju cokelat.


Ku putuskan untuk menghangatkan kuah bubur itu dibawah dan ku bawa kembali ke kamar Galang.


Aku masih melihat dia meringkuk dengan posisi sama sepertu waktu aku tinggalkan tadi. Kubangunkan Galang dengan hati-hati.


"Bli bangun sebentar, makan dulu yuk "


Aku menyentuh keningnya dengan punggung tangan, ternyata masih panas.


Galang menggeliat pelan dan membuka matanya.


"Belum lapar " Katanya kemudian.


"Dipaksa makan sedikit aja, ini sudah siang bli. Biar cepat pulih" Kataku sambil mengambil bubur dan menyiramkan kuah yang telah aku hangatkan tadi keatasnya. Aku menuang satu mug teh hangat, kuserahkan pada Galang. Galang bangun dari tidurnya dan bersandar pada sandaran kasur. Mukanya kusut dan pucat. Ia mengambil teh hangat yang ku sodorkan di hadapannya.


"Minum yang banyak sayang" Kataku sambil memegang bubur dan menunggu dia selesai minum teh.


Setelah beberapa teguk, Galang meletakkan sisa teh hangat itu di atas Nakas.


"Aku suapin buburnya yah"


Galang hanya mengangguk pelan.


Setelah 6 kali suapan, Galang menaikan tangan kanannya "udahan buburnya" Katanya sambil menyisir rambutnya yang hitam bergelombang dengan jari tangan sehingga membentuk belahan samping ke kanan.


Sisa bubur kuletakkan diatas nakas.


Aku mengambil obat penurun panas dari dalam tas ku, kuserahkan pada Galang.


"Minum obatnya lagi yah bli"


Galang menuruti ucapanku tanpa banyak kata.


"Mau aku kompres"?


"Nggak usah, malah rasanya kurang nyaman"


Aku mengangguk tanda mengerti.

__ADS_1


Aku berniat untuk turun sebentar membereskan buah yang masih ada diatas meja makan sambil membawa sisa bubur tadi.


"Jangan lama-lama" Kata Galang pelan dengan nada manja.


"Iyah, tunggu sebentar yah sayang" Aku hanya sanggup tersenyum mendengar ucapan Galang yang manja.


Sekembalinya aku ke kamar, Galang sudah kembali meringkuk seperti tadi. Rupanya dia sudah tertidur kembali.


Aku menarik bean bag dari samping tempat tidur Galang dan duduk dengan santai sambil membaca beberapa artikel di media sosial.


Selang satu setengah jam kemudian Galang terbangun dari tidurnya dan langsung terduduk sambil mengedarkan pandangan ke segala arah. Begitu dia melihatku, wajahnya menunjukkan kelegaan yang luar biasa.


"Kenapa Galang? Masih demam?" Aku mendekat dan memeriksa kembali dahinya yang berkeringat dengan punggung tanganku.


Aku tersenyum lega "panasnya sudah turun"


Ia memegang tanganku yang baru saja turun dari dahinya.


"Aku pikir kamu kemana, tadi aku sempat bermimpi kita berpisah di suatu jalan yang gelap"


Aku mengambil tisu dan mengelap keringat di dahi dan lehernya.


"Mimpi di siang hari itu katanya nggak berarti apa-apa bli, mungkin karena demam tadi" Aku menghiburnya.


"Sekarang mandi pakai air hangat, tapi jangan lama-lama. Terus Ganti baju yang lebih nyaman. Ada pemanas air? Atau aku buatkan air panas? " Ujarku kemudian.


Galang mengangguk "ada kok, aku mandi dulu"


Kulihat Galang mengambil baju ganti dari lemarinya dan bergegas ke kamar mandi.


5 menit kemudian Galang sudah kembali dengan dengan wajah yang lebih segar


"Badanku rasanya pegal -pegal " Galang memijat-mijat tengkuknya sendiri.


Aku lalu teringat dengan minyak gosok yang aku beli tadi di apotek.


"Sini aku bantu balurkan minyak gosok, mau nggak? "


Galang terlihat ragu dan menjawab " Boleh" Katanya sambil tersenyum senang


Aku mengambil minyak gosok dari dalam tas.

__ADS_1


"Bajunya mau dibuka apa mau diangkat aja, aku mau usap minyaknya di punggung ?" Kataku dengan nada wajar.


Kali ini Galang tanpa ragu membuka bajunya dan langsung tengkurap.


Aku meneteskan beberapa tetes minyak gosok di telapak tanganku lalu menggosokkan kedua telapak tanganku agar hangat dan minyak menjadi rata di permukaan telapak tangan. Aku mulai mengusap punggung Galang. Aku baru sadar ini pertama kalinya aku melihat secara langsung tubuh bagian atas yang telanjang dari lawan jenis selain bli putu dan bapa. Tentu saja selain dari film dan acara di televisi yang pernah aku tonton.


Punggungnya tampak bersih dan sedikit berotot. Aku tersenyum geli menahan rasa maluku saat ini.


"Sayang, aku belum pernah dipijat begini sama lawan jenis selain ibuku. Terus terang aku merasa sedikit risih, tapi sekarang kok rasanya nyaman banget yah di usap begini" Galang berkata sambil menoleh ke samping.


"Aku juga pertama kali melakukan ini pada lawan jenis bli, selain kakak dan bapak. Iyah rasanya agak beda yah" Aku menjawab dengan desiran aneh di dadaku.


" Pijatanmu enak banget, belajar pijat dimana sayang??"


"Waktu aku training kerja di ubud dulu aku punya teman spa therapist. Awal-awal dia training dia pinjam punggungku untuk belajar tekniknya. Jadi aku ingat beberapa teknik dari gerakan-gerakan pijat yang dia lakukan dipunggungku"


Galang tertawa kecil


Setelah beberapa lama aku ingin memijat bagian bokongnya tapi aku ragu. Yang aku tahu, dahulu saat temanku menekan bagian bokongku rasanya sangat nyaman dan rileks. Dan itu terasa ke semua bagian tubuh.


"Hmmm bli aku boleh menekan bokongmu nggak? "


"Boleh" katanya pelan


Sebelum aku turun ke bagian bokongnya aku menutup punggung Galang dengan selimut.


Aku menekan kedua bagian bokongnya masing-masing dengan telapak tangan bergantian. Setelah itu aku kepalkan tanganku dan menekan lagi bergantian. Berulang-ulang.


"Shhh!!! "


Galang mendesis


"Enak nggak?"


"ini enak Banget" Jawab Galang sambil menutup mata menikmati pijatan Nami.


"Aku aslinya tukang pijat plus-plus loh bli hahahaha" Aku terkekeh


"Asyik abis ini aku dapat plus-plus nya juga kan sayang? Hahahaha " Jawab Galang sambil ikut terkekeh.


Aku mencubit pinggangnya

__ADS_1


"Ck! Hahahaha" Galang makin terbahak.


Kemudian aku memijat kedua kakinya sebentar.


__ADS_2