
Beberapa menit kemudian aku kaget dan terbangun "ahh kok jadi ketiduran sih" Mataku melihat sekeliling, tidak nampak Galang disana. Aku turun dari tempat tidur dan mencarinya keluar , aku mendengar suara Galang sedang berbicara melalui ponselnya dilantai bawah.
"Iyah nanti saya hubungi lagi yah, hmm Iyah terimakasih Gani" Galang menutup pembicaraan. Aku menatapnya tajam "kenapa dia berbicara diluar? Apa sepenting itu sehingga aku pun tidak boleh mendengarnya? " Aku menggerutu sendiri
Galang kemudian menaiki anak tangga untuk kembali keatas, dilihatnya Nami sedang berdiri pada mezzanin. "Loh sudah bangun, enak tidurnya?" Kata galang tersenyum lalu merangkul pundakku.
"Telepon dari siapa? "
"Yang barusan? Dari Gani ngomongin kerjaan"
"Kok ngomongin kerjaannya nggak di kamar aja, kayak ada rahasia" Aku membuang muka ketempat lain
"Eh kok marah, aku takut kamu terganggu. Tadi aku sempat nelepon orang tuaku terus Gani telepon aku"
"Nelepon kerjaan kok dihari minggu, memangnya dia kerja sama Dira nggak libur-libur yah?" Selidik ku
Galang mengulum senyumnya "cemburu yah sayang?"
"Nggak, kamunya aja yang mencurigakan. Mana ngomongnya sama dia lembut banget ihh males" Kataku ketus
"Mencurigakan gimana?, kan aku dah jelasin sama kamu. Aku kalau ngomong kan memang begini, masa harus kasar"
"Perasaanku bilang Gani suka sama kamu"
"Memang iya, biarin aja dia suka, kan akunya nggak"
"Tuh kan bener! Selama kita pisah pasti kalian sempat jalan yah? "
"Jalan iyah untuk urusan kerjaan nggak lebih, kalau aku ngerasa itu sudah berlebihan aku pasti menolak ajakannya bertemu" Galang terlihat sedang menahan tawanya
"Udah ah aku pulang aja, tahu gini aku mending nggak usah balikan sama kamu!" Aku bergegas kekamarnya untuk mengambil ponsel dan tasku.
Galang masih menahan tawanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat kelakuan Nami.
Aku sudah siap dengan ransel ku dan berlalu dari hadapan Galang, sebelum kakinya menyentuh anak tangga, dalam sekali angkat tubuhku sudah berada dalam gendongan Galang "mau kemana? Yang lagi cemburu buta nggak boleh pulang dulu" Katanya lembut
"Turunin aku, aku mau pulang sekarang" Aku berpaling dari wajah Galang
Galang membawaku masuk kekamarnya dan menurunkan aku ditempat tidur dan bergegas mengunci kamarnya rapat.
"Kok dikunci?"
"Kalau nggak dikunci takut ada spiderman ngamuk disini hehehe" Galang terkekeh mendekatiku
__ADS_1
Aku terdiam
Galang berjongkok di depanku kemudian meraih kedua tanganku "Nami ku sayang kalau lagi cemburu bikin gemes. Aku baru tahu kamu ternyata juga cemburuan begini. Pasti karena bli Galang paling manly seBali yah? Nanti pas nge-gym terus keringatan aku foto-foto deh buat kamu" Katanya sambil mencubit lembut pipiku
Aku masih malas mendengar leluconnya
"Duh jokesnya nggak mempan, hmm mau es krim nggak? Aku punya stok loh dikulkas"
"Itu stok buat siapa?"
" Ada deh" Katanya sambil tertawa geli "duh salah ngomong lagi. Yah buat aku dong, masa buat Gani hahaha" Katanya terbahak dengan ucapannya sendiri menggodaku
"Nggak lucu bli" Aku merasa makin kesal dibuatnya
"Ya sudah aku harus gimana biar kamu percaya sama aku? Aku telepon Gani yah biar dia jelasin kita tadi ngomongin apa aja" Ujar Galang dengan nada serius
Galang mengambil ponselnya dari atas Nakas. Belum sempat ia menekan layar ponselnya dengan cepat aku merampasnya dan meletakkan kembali keatas nakas. Galang hanya memandangku dengan wajah bingung.
"Aku mau es krim aja" Kataku sambil menghela napas
"Ok siap Nyonyah saya bawakan sekarang" Ujar Galang dan bergegas keluar kamar.
Galang membawa satu kotak sedang es krim tiga rasa kehadapanku. Dia membukanya dan menyendokkan satu sendok full es krim rasa strawberry dan menyuapi ku pelan-pelan sambil duduk disebelahku
Aku hanya mengangguk
"Nggak ada apa-apa kok antara aku sama Gani. Hanya urusan pekerjaan. Lagian aku kan cintanya sama Ayu Nami" Galang menatapku mesra "masih marah? "
Aku menggeleng, Galang mengecup bibirku dengan cepat "manis" katanya sambil tersenyum
"Bener yah kata Beni, kamu kalau lagi ngambek dikasih es krim eh langsung anteng"
Aku akhirnya terkekeh mendengar ucapan Galang.
"Aneh banget bli, kok aku bisa kesel yah? Padahal cuman telepon doang loh. Rasanya kayak pengin jitak kepala orang. Biasanya aku nggak gini loh"
"Artinya kamu takut kehilangan bli Galang" Kata Galang, tangannya meletakkan sisa es krim tadi keatas nakas.
"Kok ditaruh es krim nya? , aku kan mau lagi"
"Sini" Galang mengangkat tubuhku dengan cepat. Aku yang masih kaget ternyata sudah berada diatas pangkuan Galang.
"Aku ringan banget yah? Ngangkat nya kayak effortless gitu loh" Kataku heran
__ADS_1
"Emang, kurang makan yah, sini bli Galang suapin lagi" Galang mengambil lagi sisa es krim tadi dan menyuapiku kembali.
Belum sampai sendok menyentuh bibirku, Galang mengecup bibirku berkali-kali "ini buat yang cemburu buta hari ini hehehe" Dia terkekeh menyuapi ku.
Aku hanya bisa tersenyum dan mengernyitkan hidungku.
Setiap kali Galang menyuapkan es krim, dia akan mengecup satu persatu bagian wajahku. Mataku, hidungku, keningku, pipiku, daguku, sampai leherku
Kali ini dia menyendokkan es krim tapi tidak menyuapiku hanya diam menatapku dengan pandangan penuh arti "apa bli?" Tanyaku penasaran.
"Boleh cium disana?" Katanya menunjuk dengan dagu ke arah dadaku.
"Hmm eee gimana yah?!"
"Nggak boleh yah?" Suara Galang terdengar kecewa.
Aku menghadap kearah Galang dengan mengubah posisi kakiku yang awalnya menyamping jadi berada disisi kanan dan kiri tubuh Galang. Aku memegang wajahnya "jangan sekarang yah bli, tunggu kita sah dulu"
"Aku ngerti kok" Dia tersenyum lembut
Aku letakkan es krim ditangannya kembali keatas nakas. Tanpa ragu aku mulai menciumnya perlahan. Galang tentu saja menyambut ciuman ku dengan hangat. Aku memiringkan wajahku dan menelusup kan tanganku kedalam rambutnya yang lebat.
Dengan bergairah Galang ******* habis bibirku. Tangannya mengusap-usap lembut punggungku. Bibirku makin terbuka saat lidah Galang dengan perlahan menyentuh lidahku. Ciuman kami makin dalam. Galang menghentikan ciuman kami untuk mengambil napas. Kemudian dengan beringas dia menciumi leher dan pundakku yang terbuka. Cardigan yang aku kenakan diatas tanktopku terlihat semrawut.
"Aku gemas sayang" Bisiknya kembali mencium dan menggigit-gigit kecil leherku. Aku hanya bisa pasrah dengan mata terpejam menengadah menikmati cumbuan Galang yang semakin panas.
Aku merasa dia mulai turun menuju kearah dadaku, aku mulai bimbang antara lanjut atau menghentikan ini sebelum terlambat. Terus terang aku sangat menikmati cumbuannya.
Aku putuskan untuk menahan kepalanya agar tidak terlalu turun kearah sana. Galang menatapku dengan wajah sendu, tersirat permintaan ijin untuk turun kesana. Aku menggeleng "jangan sekarang" Kataku lembut
Dia tersenyum "maaf sayang, kesannya seperti aku memaksa tapi ini rasanya luar biasa"
Aku merasakan ada yang bergerak dibawah sana, aku hanya bisa ternganga
Galang tertawa geli sambil menutup wajahnya. Aku yang bingung juga jadi ikut tertawa melihat Galang seperti ini.
"Aku harus gimana bli Galang?"
"Nggak usah ngapa-ngapain, diem aja dulu. Kalau dia nggak tenang juga artinya aku harus ajak dia kekamar mandi" Bisik Galang dengan suara parau sambil memelukku.
"Ini beneran yah bli bisa kayak gitu? Ini pertama kalinya aku tahu dan merasakan sendiri, ternyata ini benar terjadi di kehidupan nyata yah" Ujarku dengan wajah takjub.
Galang makin terkekeh mendengar ucapanku "kamu ada-ada aja, yah benerlah" ."Tapi setidaknya aku bahagia mendengar pertanyaan lugu seperti ini, tandanya memang dia belum pernah berhubungan terlalu jauh dengan laki-laki lain" Galang membathin
__ADS_1