
"Aku berharap punya kesempatan untuk memulai lagi dari awal. Waktu aku memutuskan hubungan kita, meskipun kurang yakin tapi sangat berharap kamu akan setia menungguku. Mau yah bareng aku lagi seperti dulu" Kata Galang cemas menunggu jawabanku.
Aku yang masih merasa ragu hanya bisa menatapnya dalam dalam.
"Ok kalau aku tidak boleh menjadi pacarmu sebenarnya juga tidak masalah" Katanya kemudian. Aku masih mencerna apa yang baru saja dia katakan.
"Iyah aku tidak masalah kalau kamu tidak mau menjadi pacarku lagi. Jadi istriku saja gimana?" Katanya lagi sambil tersenyum geli.
Aku menghela napasku sambil memutar bola mataku.
"Hah!! jadi istrimu?!! Baru jadi pacar aja udah ditinggal!!!. Kamu pikir aku mau gitu aja sama Dira sialan itu. Udah ganggu, ibunya jahat, semua diukur pake uang. Hidup macam apa itu? Orang kaya sih iya tapi kelakuannya luar biasa menyebalkan. Kamu juga, udah ninggalin aku masih datang, datang lagi. Kenapa sih semuanya seenaknya saja, dipikirnya perasaan aku itu kayak batu apa yah? Ak... "
Galang dengan cepat mendekat dan menciumku tiba-tiba disaat aku sedang melampiaskan kekesalan ku padanya. Dia mengelus sayang dahi dan rambutku. Aku yang awalnya kaget tidak bisa menolak apa yang sudah lama aku rindukan. Bibir Galang ******* habis bibirku, aku membalas mesra ciumannya. Galang melepaskan ciumannya dengan perlahan "God, i miss you so badly my love" Galang berbisik padaku yang masih terpejam mencoba mengatur napasku.
Galang menarik tanganku lembut untuk berdiri, ia memelukku kemudian menggendong ku. Aku melingkarkan kakiku pada pinggangnya. Bisa ku rasakan otot lengan Galang yang kekar. Dadanya juga semakin keras. Tangannya memegang kuat bokongku. Kami bertatapan kemudian Galang mengecup bibirku berkali-kali. Aku tertawa geli "kamu kok makin kekar yah?? "
"Biar nggak kepikiran kamu terus, jadi pelampiasannya ke olahraga aja" Katanya sambil meremas bokongku gemas.
"Aduh! Hei tangan mu, jangan meremasnya" Aku menatapnya malu
Galang tersenyum sambil menatap ku tajam "Sorry Sayang aku gemas, kenapa nggak manggil bli lagi?"
Aku menggeleng "nggak mau" Kataku manja
"Kalau nggak mau aku remas lagi loh!" ujar Galang sambil menekan-nekan bokongku lagi dengan jarinya.
"Hahaha jangannnn, sakit tahu, aku kan belum bilang mau atau nggak jadi istrimu" Kataku lembut.
"Aku sudah tahu jawabanmu Nami ku Sayang" bisiknya
Galang menggigit lembut bibir bawah ku
Aku mengusap lembut wajahnya, alisnya, hidungnya, bibirnya. Tanganku dikecupnya berulang-ulang. "Nggak berat?" Tanyaku khawatir dengan posisi ini.
"Nggak, kamu kok jadi ringan begini?! Mikirin aku yah? "
"Hahaha ih nggak, enak aja, mikirin Dira tahu!!" Kataku sambil terbahak
"Oh gitu" Sahut Galang ,matanya tajam menatapku sambil berjalan membawaku ke tempat lain
"Loh aku mau dibawa kemana?" Aku mengalungkan tanganku erat pada lehernya
Dia menurunkan aku pada sebuah meja setinggi pinggang orang dewasa tempat meletakkan helm, di dalam garasinya Putra. Disana Galang dengan leluasa menciumiku bertubi-tubi, ******* habis bibirku. Aku yang tidak siap dengan serangan itu hanya bisa pasrah "Galang, aku bercanda... " Ucapku lirih sambil terengah-engah.
"Coba katakan lagi kalau kau sedang memikirkan dia"
__ADS_1
"Nggak Galang ampun kataku sambil terkekeh" Aku mengusap pelan dadanya.
"Aku jadi ingin tahu, apa kalian sempat berciuman??"
"Kalau aku ceritanya detail, kamu marah nggak?"
"Tergantung" Katanya dengan muka gelisah
"Ya kan waktu itu kita udah putus, jadi nggak berhak marah dong" Kataku berniat menggodanya.
Galang menggigit bibirnya masih memperhatikanku.
Aku menunjuk kearah bibirku, " Dia kecup disini, sama disini" Kataku menunjuk keningku.
"Kenapa kamu biarkan?! "
"Yang disini, aku nggak nyadar dia udah aja cup, gitu" Aku menunjuk keningku
Aku menunjuk bibirku "yang disini dia maksa, wihhh itu ngeri sekali. Tiba-tiba saja dia memelukku erat, Aku sampai memukul punggung nya beberapa kali, nyubitnya juga sampai tanganku kebas. Aku berontak benar-benar sekuat tenaga. Kamu kan tahu tubuh Dira sebesar apa. Aku merasa dilecehkan Galang. Dia mengecupnya bahkan berkali-kali" Aku menunduk karena kesal mengingat kejadian malam itu.
Galang menarik pelan daguku agar aku mendongak "maafkan aku sayang, aku nggak bisa jagain kamu" Katanya sedih "mulai sekarang ini milikku" Dia mengecup keningku, "ini juga" Lalu mengecup bibirku. "Yang mana lagi?" Tanyanya lembut
Aku menarik beberapa helai rambutku dan Galang mengecupnya pelan.
Pintu gerbang tiba-tiba terbuka, Putra masuk dengan santai sambil mengedarkan pandangan ke sekitarnya mencari Galang. Dia terlihat kaget melihat kami berdua dengan posisi yang bisa dibilang intim.
"Waduh, yang punya rumah mana yah? Ternyata begini kelakuan tamunya" Katanya sambil tertawa menggoda kami.
"Besok aku bayar sewa hariannya put" Kata Galang ikut tertawa
"Kalian lanjut aja, aku mau kedalam dulu. Anggap aja rumah sendiri hahaha"
Aku hanya bisa menutup wajahku dengan tangan karena malu "aku mau turun Galang"
"Sama Putra cuek aja sayang, orangnya memang begitu" Ucap Galang nyengir.
Aku beringsut turun dari atas meja, ternyata kaki Galang menghalangi ku "bli sayang, minggir dulu aku mau turun" Ucapku lembut
"Diam disini dulu, aku masih rindu padamu. Katakan padaku Nami, setelah semua terjadi apa kamu masih mencintaiku? "
Aku mengangguk pelan
"Katakan sayang, aku ingin mendengarnya"
"Aku masih mencintaimu bli, sangat mencintaimu" Aku tersenyum malu
__ADS_1
Galang membalas senyuman ku "Aku baru ingat ternyata calon istri ku itu spiderman, hebat deh"
"Hah? Kok spiderman? "
"Itu loh ada yang malam-malam manjat tembok tinggi banget di uluwatu hahaha" Galang terkekeh mengingat malam itu.
Aku menutup wajahku karena malu "kok bli tahu? "
"Aku kan ada dibelakangmu, kamunya aja yang nggak tahu. Aku sampai kaget ngeliat kamu sudah diatas sana"
Aku tersenyum menutup mulutku "kalau nggak gitu, aku mungkin aja diajak nginep disana. Mikirin itu aja udah bikin aku bergidik. Eh Iyah, bli yang bantuin aku kabur yah waktu aku dijagain sama staffnya Dira itu??
Galang mengangguk "aku kebetulan lagi nyari angin diluar, sempat dengar kamu teriak. Makanya tahu waktu staffnya jagain kamu disana. Mmm disanalah aku tahu kalau kalian nggak pacaran. Apalagi kamu sampai kabur begitu. Siapa yang jemput? "
"Mmm ada deh" Kataku sambil terkekeh sendiri
"Palingan sama Beni" Tebak Galang
"Terus sempat tinggal dimana?" Tanyanya lagi
"Di sewain rumah sama om-om" Jawabku lagi sambil tertawa geli
"Hmm gitu, dikasih uang bulanan berapa? Aku bayarin deh lebih banyak dari om-om itu. Tapi aku servisnya tambahin pijat plus-plus yah" Katanya dengan wajah serius. Tangannya mencubit pelan pipiku.
Aku tergelak mendengar ucapan Galang.
"Aku serius sayang kamu tinggal dimana? "
"Rumah adik nya Bapa, dideket sini kok. Aku sekarang juga kerja di perusahaan beliau" Aku mengeluarkan kartu nama dari dalam tas ransel kecil yang sedari tadi masih ku gendong.
Galang membacanya, dan tertawa geli
"kamu tahu nggak aku sering bertemu dengan bibi dan pamanmu ini di lapangan. Kadang di tempat orang membuat villa, kadang di rumah pribadi. Bali ternyata memang sempit yah sayang. Mereka manggil aku itu putu"
"Oh jadi laki-laki yang katanya baik mau dikenalin ke aku itu kamu toh " Aku menggeleng sambil tertawa juga.
"Kan aku memang laki-laki baik sayang"
"Semua kecap memang nomor satu bli, nggak ada yang kedua" Aku mengernyitkan hidungku.
Galang tersenyum melihat ku begitu lalu duduk disebelahku "kata Dito waktu kamu resign, pak Sudira marah besar dikantornya. Semua orang dimarahi , terus langsung pergi tanpa pamit"
"Sudah kuduga orangnya memang begitu. Mending kabur ajalah daripada nambah masalah lagi"
"Duh cobaan kali ini luar biasa yah sayang. Aku bersyukur sekali bisa bertemu kamu lagi. Bisa dapat kesempatan untuk bersama kembali seperti ini" Galang meraih tanganku dan menyelipkan jari-jari tangannya diantara jari-jari tanganku.
__ADS_1