Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
Bon appetit ma cherie


__ADS_3

Pagi ini aku berangkat ke kantor lebih awal. Ketika aku sampai, belum ada yang datang kecuali Oming OB kantor, dia memang diharuskan datang satu jam lebih awal.


Aku menuju meja kerjaku, sepertinya Oming sedang sibuk di pantri. Bisa kudengar kucuran air dari kran dan suara gelas serta piring yang beradu dengan rak aluminium yang ada di pantri.


Ketika aku sampai aku terkejut melihat rangkaian bunga mawar merah dan baby's breath yang sangat besar. Saking besarnya sampai menutupi meja kerjaku yang biasanya cukup luas untuk aku gunakan. Aku menarik kartu yang disematkan diantara bunga mawar itu, sudah kuduga ini dari Dira. Aku membaca isi kartunya " Maaf untuk yang semalam"


Aku mengernyitkan dahiku. "Kayak kita ngapain aja semalam, buat apa coba ngirimin aku bunga segede gaban, kirim duit kek, eh nggak jadi. Kalau dia sampai ngirim duit, aku sah jadi sugar baby dia dong" Aku bergumam sendiri sambil menepuk kepalaku pelan sambil menggeleng. Aku menuju pantri untuk menanyakan kiriman bunga itu.


"Oming, bunganya kapan dikirim? " Kepalaku menyembul dari balik pintu pantri


"Eh mba Nami, baru saja mba. Duh senangnya dapat bunga pagi-pagi" Oming tersenyum senang


"Dibawain tukang bunga Ming? "


"Iyah sepertinya begitu, sampai harus digotong dua orang loh mba bunganya, pasti berat itu" Kata Oming dengan wajah serius


"Ck!. Terus saya kerja dimana dong Ming?! Mejanya penuh. Ada- ada aja nih orang" Aku menggerutu sambil berlalu dari hadapan Oming. Oming hanya bisa tersenyum geli.


"Wahhhh besar sekali"... " Duh saya juga mau Dikirimkan bunga, saya jadi iri sama Nami".... "Pak Sudira luar biasa yah"... " Orang kaya yah bebas aja mau ngapain "..


Aku mendengar riuh rendah komentar bersahut-sahutan tepat didepan meja kerjaku. Semua yang baru saja datang berkumpul disana. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. " Wah Nami pagi-pagi sudah dapat surprise dari seorang pangeran " Kata Bu Teni bersemangat.


Aku tersenyum pada Bu Teni " Suprisenya nggak kira-kira yah bu, terus ini saya kerjanya dimana kalau begini?" Yang lain ikut tersenyum mendengar komentar ku.


Bu Ida yang baru saja datang bingung melihat keramaian di mejaku "Ada apa ramai-ramai disini? , loh bunga mawar... Besar sekali Nami. Pasti yang mengirim pak Sudira yah? Hahahaha" Bu Ida terkekeh


" Bu Ida pengin ngulang masa muda lagi nggak? Liat Nami begini kok saya jadi ikut deg-degan ingat masa lalu hahahaha" Bu Teni ikut menimpali


"Banget yah Bu Teni hahaha " Bu Ida Terbahak


Aku hanya bisa tersenyum geli mendengar obrolan mereka.


"Pak Yanto, saya minta tolong bantu saya angkat bunganya. Saya mau taruh di ruang meeting aja. Biar saya bisa kerja pak" Aku menoleh pada pak Yanto yang sedang berdiri di depan rangkaian bunga besar itu.


"Ini benar mau di taruh di ruang meeting?" Pak Yanto terlihat ragu.


"Sementara pak, nanti saya deh yang minta ijin ke Pak Dito. Mau taruh dimana lagi coba pak? " Aku cemberut dengan kerepotan yang harus aku lalui pagi ini.


"Apa ini? Siapa yang kirim bunga sebesar ini?" Kata Pak Dito yang ternyata sudah datang juga dengan wajah heran.


"Pak Sudira pak, saya minta ijin titip di ruang meeting pak yah?!" Tanyaku penuh harap.


"Iyah bawa kesana dulu aja Nami, berlebihan sekali bapak satu itu" Pak Dito menggeleng sambil melangkah lagi ke ruangannya.

__ADS_1


Setelah bersusah payah berdua dengan pak Yanto akhirnya rangkaian bunga yang ternyata memang berat itu sudah berada di meja ruang meeting.


"Makasi yah pak Yanto" Aku tersenyum


"Sama - sama mba, anggap saja olahraga pagi hahaha" Pak Yanto terkekeh


Aku hanya bisa ikut tertawa.


Aku menghidupkan komputer ku dan mengeluarkan ponselku. Nampak ada pesan Baru dari Dira.


Dira: "terimakasih kembali Nami, dengan senang hati β˜ΊπŸ˜„πŸ˜† "


"Hihhh!! aku aja belum ngomong apa-apa, ini orang kenapa sih tengal (garing) sekali"


Aku memang berniat untuk tidak memperdulikan pesan hari ini.


Hari beranjak siang, pekerjaanku hari ini sangat banyak sampai tidak menyadari sudah waktunya makan siang.


Telepon di meja ku berbunyi, segera ku angkat "Selamat siang sales and marketing, dengan Nami"


"Mba Nami ada kiriman makanan banyak banget" Kata Ratna dengan suara berbisik


"Dari siapa Ratna? "


"Saya kedepan deh"


Aku menoleh ke bu Ida "bu Ida, orangnya sekarang malah ngirim makanan" Aku berkata dengan wajah khawatir


Bu Ida yang sedang serius dengan pekerjaannya menoleh padaku sambil mengernyitkan dahinya" Segitunya yah bapak satu ini, coba saya mau lihat juga ke depan"


Kami berdua lalu menuju kekantor depan. Sesampainya kami di sana, mulut kami berdua otomatis ternganga, terlihat meja Ratna di penuhi tumpukan bento dan puding. Nampak minuman ringan juga berjejer dari ujung ke ujung meja.


Ratna berdiri dari duduknya dan menyerahkan satu box sushi serta cake tiramisu di atasnya ke hadapanku. "Ini mba katanya khusus untuk mba Nami. Saya nggak baca kartu diatasnya loh yah" Kata Ratna sambil tersenyum dengan mata penuh tanda tanya.


Aku mengambil box sushi yang disodorkan Ratna " Mereka pake jasa kurir yah? "


"Bukan mba, yang membawa kemari sepertinya sopir pak Sudira"


"Ya deh Ratna, tolong bantu saya bagi untuk yang lain juga yah, saya mau telepon orangnya dulu" Kepalaku rasanya pening tiba-tiba.


"Termasuk pak Dito kan mba? " Tanyanya lagi


"Iyah Ratna, bilang saja itu dari Pak Sudira"

__ADS_1


"Baik mba"


Bu Ida mengusap punggungku " Yang sabar yah Nami, ngomongnya jangan emosi nanti dia tersinggung. Malah muncul masalah baru, pak Sudira mungkin hanya berniat membuat Nami senang"


"Tapi kan bu saya ngerasa beban kalau seperti ini, ini sudah berlebihan. Kalau kita memang ada hubungan sih saya tidak masalah tapi ini kan... " Aku tidak melanjutkan bicaraku


"Saya mengerti Nami, coba dibicarakan baik-baik dulu yah "


Aku mengangguk pelan. Aku bergegas menuju meja kerjaku untuk meletakkan box sushi tadi dan mengambil ponselku. Aku segera keluar dari kantor mencari tempat yang agak sepi dipojok ruko. Ku tekan nomor Dira, dan langsung diangkat olehnya.


"Yaa Nami, sudah terima kiriman makan siangnya? Aku juga kirim untuk teman-temanmu dikantor" Suara Dira terdengar gembira


"Ya Dira aku sudah menerimanya, terimakasih atas kebaikanmu....tapi aku mohon hentikan kiriman-kiriman ini, ini terlalu berlebihan Dira". Aku berkata pelan.


"Untuk wanita baik dan luar biasa seperti dirimu tak ada istilah berlebihan. Apa yang ku berikan itu belum seberapa Nami" Kata Dira dengan nada pelan.


"Tapi hubungan kita hanya sebatas pekerjaan Dira, dan maaf aku sudah memiliki kekasih"


"Kekasih?? Aku sama sekali tidak peduli Nami. Yang aku tahu saat ini aku menyukaimu"


"Kenapa ini rasanya seperti pengakuan Cinta" Aku bergumam dalam hati


"Ini hanya akan menjadi beban untukku Dira, aku merasa sangat tidak nyaman dengan semua ini, aku tidak akan bisa membalasnya" Aku menghela napasku.


"Beban?? Pemberianku ini tulus Nami. Cukup jalani saja hari-harimu seperti biasanya jangan berpikir macam-macam. Kalau Merasa ingin membalasku, sekali-sekali kalau sedang tidak sibuk mengobrol lah denganku. Aku senang sekali kamu mau menelponku seperti ini.


Lidahku menjadi kelu, aku kehabisan kata-kata.


"Nami, thank you so much. Enjoy your meal. aku tutup yah aku ada banyak sekali urusan hari ini" lanjutnya lagi.


"Ok" Aku menjawab lemah


Sambungan telepon kami terputus. Aku menyender pada tembok ruko "kenapa perhatian ini belakangan aku malah peroleh dari Dira, dan bukan Galang, ini membuatku sedih sekaligus bingung" Aku bergumam sendiri.


Aku kembali ke kantor untuk makan siang, sepertinya yang lain telah selesai. Begitu aku masuk, semua orang di kantor langsung saja berterima kasih padaku untuk makan siang hari ini, aku hanya bisa tersenyum dan mengigit bibirku meringis.


Aku berpapasan dengan Pak Dito, sepertinya ia sedang buru-buru keluar kantor, mukanya terlihat kesal luar biasa.


"Bu Ida, pak Dito kenapa mukanya kesal begitu? " Tanyaku pada bu Ida begitu sampai dimejaku kembali.


"Saya juga heran, tadi sih baik-baik saja, setelah tahu ada kiriman lagi dari pak Sudira wajahnya langsung berubah kesal. Bento yang diberikan Ratna ditinggalkan begitu saja di meja saya, nih masih disini " Bu Ida menunjukkan bento yang ia Maksud. Mataku mengikuti arah tangan bu Ida.


"Kemungkinan Pak Dito kesal dengan kiriman-kiriman ini, karena mewakili perasaan Galang barangkali?? Mereka kan berteman baik" Aku bertanya-tanya sendiri. Aku menarik kartu yang menempel pada box sushi dimeja kerjaku. Tertulis "Bon appetit ma cheri"

__ADS_1


Aku hanya bisa tersenyum kecut membacanya.


__ADS_2