
Beni sebenarnya hari ini sedang dalam perjalanan kembali ke kantor setelah bertemu kliennya, tiba-tiba saja dia mendapat telepon dari Nami yang memintanya untuk mengantarkannya ke suatu acara di Uluwatu sana. Nami bahkan tidak menyebutkan acara apa yang akan ia datangi. "Nggak usah banyak nanya, pokoknya jemput! " Itu kata-kata yang ia ingat dari pembicaraannya tadi siang dengan Nami. Kalau sudah begitu ia pasti akan melakukan permintaan Nami tanpa banyak pertanyaan lagi.
Sesuai janji dia akan menjemput Nami sekitar pukul 17.00 di sebuah salon di Denpasar.
Usai memarkirkan mobilnya, Beni langsung saja menghubungi Nami.
"Nam aku dah di depan"
"Bentar yah ben, tunggu disitu" Nami menutup telepon dari Beni.
Beni menunggu dengan sabar didalam mobilnya. Sambil mendengarkan musik matanya fokus pada pintu masuk salon.
Beberapa menit kemudian ia melihat seorang wanita keluar dari dalam salon, langkah wanita itu elegan, gaun yang dikenakannya sangat seksi. Angin lembut yang menerbangkan gaunnya yang terjuntai dan rambutnya yang tergerai terlihat seperti adegan dalam video klip yang biasa ia lihat di televisi. Ia bisa merasakan aura kecantikan yang luar biasa dari wanita itu. Sekian detik ia tertegun, kemudian matanya terbelalak kala tersadar wanita yang keluar dari salon itu ternyata Nami.
"Hahahaha aku cantik yah Ben!?!" Ujarku sambil terbahak melihat Beni terpana ketika ku mendekati mobilnya.
Tawa khas Nami yang ceria dan renyah menyadarkan pikiran Beni kembali.
"Astaga Nami, cantik banget. Eh ini gaunnya nemu dimana keren banget, seksi. Gila sepatu, tas semua bermerk gini, emangnya itu acara apa sih yang di uluwatu?" Kata Beni sambil memandangku naik turun
"Terimakasih penggemarku, beginilah kehidupan selebriti glamour seperti saya" Aku mendekat dan berputar di hadapannya bak seorang model
Beni hanya bisa menghela nafasnya melihat kelakuanku ini.
"Eh bentar aku dari dulu pengin nyoba begini"
Dengan dagu terangkat aku melambai seperti dalam acara miss Universe "Kadek Ayu Namidia Purnama, Indonesia!! " Suaraku meninggi dengan senyum sumringah "hahahaha " Aku terbahak karena merasa geli sendiri
"masuk buruan, jadi ilfil" Kata Beni dengan muka malas.
"Hahahahaha, Iyah deh om Ben, saya sih nurut aja sama om yang booking saya" Kata Nami berseloroh sambil berlari kecil masuk kedalam mobil Beni.
Beni pun bergidik kemudian terkekeh kembali.
Mobil pun bergerak perlahan meninggalkan tempat itu.
"Aku serius penasaran, ini asli kan" Tanya Beni , jari telunjuk kirinya menunjuk bergerak naik turun di hadapan gaun ku.
"Asli, kamu pikir aku nggak mampu hah!!? Ya jelas dong nggak hahahaha. Aku punya sugar daddy Ben"
"Galang yang belikan? "
"Bukan, aku sudah putus Ben sama dia" Aku tertunduk sedih tiba-tiba teringat kembali dengan Galang.
"Hah!!! kalian putus?? Kok bisa??, jangan-jangan kamu memitra (berselingkuh) yah?!" Beni terlihat penasaran.
Aku menggeleng "beberapa hari belakangan hidupku kacau Ben, aku per hari ini juga resign"
"Hah?? Resign??!! " Beni makin terkejut.
__ADS_1
"Iyah, aku capek banget kepingin jauhhh aja rasanya dari semua ini"
"Kok nggak ngabarin aku? "
"Aku nggak mau nambah-nambahin beban hidupmu lagi Ben, kamu pasti juga punya masalah sendiri"
"Kalau hanya mendengar cerita saja kan nggak beban Nami, kamu lupa kita pernah berjanji kalau ada masalah harus saling cerita. Sekedar curhat aja biar hati lebih plong "
"Tapi sekarang aku punya masalah yang lebih besar"
"Masalah apa sih? Coba cerita dulu"
"Kamu pernah dengar nama pak Sudira Ben?"
"Pak Sudira?? Yang kaya itu bukan? kenapa sama dia? " Kata Beni yang sedang kembali fokus mengendarai mobil.
"Dia yang kirimin gaun sama printilannya ini Ben" Aku nyengir
"Kenapa dia ngirimin kamu hal semewah ini sih? Hubungan kamu sama dia apa?" Wajah Beni terlihat bingung.
"Aku ceritain awalnya gimana yah " Aku pun menceritakan semuanya pada Beni dimulai dari Galang yang mendapat tawaran untuk ikut serta proyek besar, sampai ke Pak Sudira yang memaksa masuk ke kehidupanku.
"Waduh ternyata orangnya seperti itu yah Nam, aku nggak nyangka aja. Kok bisa sih kamu nemu laki-laki model begini. Bumi juga posesif banget kan dulu. Eh ini lebih ngeri lagi hahahaha"
"Ya aku nggak tahu Ben, kok bisa jadi begini " Aku menjawab sambil meringis.
"Ganteng kok"
"Kok nggak mau? Kamu Kan sekarang udah jomblo lagi? "
"Nggak ah Ben, aku bawaannya waspada kalau sama dia, ada rasa takut kalau sebelahan sama dia. Aku nggak nyaman"
"Kalau kamu jadi sama si Sudira, dari ceritamu yang dia meluk aja maksa, kamu bakalan abis di bolak balik hahahaha"
"Ihhh nggak mau" Aku bergidik
"Bener nggak mau? Duitnya banyak loh, dia bisa kasih kamu baaaanyak hal. Liat aja belum jadian sudah ngirim macem-macem, terus sekarang ngirim gaun branded ini. Mana pas banget di badanmu kayak dia tahu banget ukuranmu. Terobsesi sekali bapak itu hahahaha Sumpah ini ngeri banget hahaha"
Aku hanya bisa menghela napas panjang mendengar ocehan Beni
"By the way balik ke cerita Galang yah, masak gara-gara proyek itu kalian putus?! "
"Aku juga nggak ngerti "
"Apa mungkin diancam Pak Sudira yah?! "
"Mungkin, tapi bisa jadi karena hal lain juga"
"Atau dia punya wanita lain?"
__ADS_1
"Entahlah"
"Eh kamu abis putus kok malah nggak drama, waktu sama Bumi kan nangis darah hahaha" Ujarnya lagi sambil terkekeh
"Bukan nggak drama, abis putus dapat pengalihan banyak begini, aku jadi nggak sempat mikirin sedihku ditinggal Galang Ben. Tuh Kita ngomongin Galang, aku jadi inget dia lagi. Kok aku diputusin yah??" Tiba-tiba memori di pantai itu datang kembali.
"Udah Nami diikhlasin aja. Hmm terus terang aku jarang ketemu orang langsung klik kayak dia loh. Aku langsung ngerasa orang ini cocok banget sama kamu. Tapi aku juga bisa salah kan. Mungkin dia punya alasan yang dia belum siap ceritakan ke kamu"
" Terus kamu datang ke acara ulang tahun perusahaan Sudira ini buat apa sih?! " Lanjut Beni lagi sambil menepuk tanganku pelan
"Aku pengin ketemu Ibunya Pak Sudira"
"Hah?! Ngapain ketemu dia?"
"Aku pengin bilang anaknya ganggu kehidupan aku, sapa tahu setelah ibunya bertindak dia bisa nurut terus nikah sama pilihan keluarga nya "
" Kenapa kamu yakin ibu nya begitu? "
" Aku 2 kali dipepet orang pas pulang kerja Ben, yang pertama untung ada bus muter jadi aku bisa lolos terus ubah rute ke jalan kecil gitu, menghindar. Yang kedua kalinya motorku sempat kena tendang orang yang sama. Untung aja aku nggak jatuh. Aku sampai masuk gang-gang daerah di pemogan sana tahu nggak, kerumah temanku eS eM A. Rumahnya kan susah dicari kalau nggak inget jalan"
Beni menoleh sambil terbelakak, "ini beneran??!!!"
" Beneran, banyak kejadian tak terduga beberapa hari terakhir Ben."
"Astaga Nami kenapa semua hal jadi berantakan begini yah?? " Beni mengacak rambutnya berulang kali karena merasa frustasi mendengar ceritaku.
"Entahlah, yang pasti setelah aku dipepet begitu, aku dapat telepon teror yang bilang "itu hanya peringatan, kalau masih berani dekat dengan Pak Sudira kamu akan tahu akibatnya" gitu kalau nggak salah"
"Kok kayak sinetron ditipi-tipi itu yah? Nggak takut Nam?? "
"Iyah takut. Aku yakin sekali yang mepet aku itu orang suruhan Ibunya"
"Terus rencanamu ke depan gimana? Gak usah ah pergi ke acara ini. Aku jadi khawatir"
"Jelas aku punya rencana, nanti aku kasih tahu lagi kalau ini sudah berhasil"
"Duh Nam, kok aku yang jadi deg-degan parah gini. Nanti kalau kamu disiksa bagaimana?, tahu gitu kan aku ikut aja ke acara ini"
"Kalau kamu ikut, besok-besok misal si Sudira nyariin aku pasti jadinya nyari kamu juga. Mau hidupmu diacak-acak kayak hidupku sekarang? Kemarin aja aku nolak datang, dia langsung bilang "jangan menguji kesabaranku yah?" Aku meniru cara Dira berbicara.
Beni hanya terdiam beberapa lama.
"Duh aku jadi speechless Nam. Tapi janji yah nanti kalau keadaannya jadi berbahaya cepetan kabur. Aku tungguin deh teleponmu.
"Nunggunya agak jauh yah, Jangan terlalu dekat lokasi, nanti aku yang lari nyamperin kamu. Tenang aja" Aku tersenyum mengacungkan jempolku padanya.
"Kalau senyummu dah kayak gini aku udah nggak bisa ngomong apa-apa lagi deh. Semoga masalahnya cepet selesai yah Nam, take care nanti disana"
"Siap bos" Jawabku bersemangat
__ADS_1