Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
Gung Biang


__ADS_3

Setelah mendapat parkir yang nyaman kita pun berjalan sekitar 200 meter untuk menuju ke kawasan rumah Gung de. Tanganku penuh dengan bungkusan Kue,  sedangkan Galang ikut membawakan hadiah untuk Gung gek.


Di pintu masuk kawasan terdapat pos satpam untuk menjaga kawasan tersebut.  Kawasan tempat tinggalnya dibagi dua sebelah kanan merupakan akomodasi berupa Villa dan Hotel dan sebelah kiri Merupakan rumah Gung de sekeluarga tinggal.  Untuk menuju kesana masih harus berjalan kaki sekitar 400 meter. 


"Om Swastyastu,Selamat sore Pak,  kami berdua tamunya Pak Gung de " Sapa saya kepada Bapak satpam yang bertugas


"Om Swastyastu, maaf diperiksa sebentar Bu, Pak, " Jawab pak Satpam dengan nama Tude,  terlihat dari Nama yang terpampang didada baju kerjanya, sambil memeriksa barang - barang bawaanku dan Galang


"Sudah pak?"


"Sudah silahkan lewat sini nanti langsung ke kiri dipertigaan diujung jalan ini yah " Tangan pak Tude mengarahkan kami untuk masuk. 


"Terimakasih pak"


"Sama-sama Bu"


Aku dan Galang berjalan memasuki kawasan ini sambil memperhatikan sekeliling,  masih sama seperti beberapa tahun lalu hanya saja staffnya mungkin sudah berganti, seingatku yang dulu berjaga didepan Pak Made,  mungkin sudah pensiun mengingat waktu itu beliau sudah tua. 


Jalanan yang kulewati lumayan luas,  dua mobil bisa berlalu lalang disana dengan santai,  kanan kiri ditumbuhi pohon bambu kuning dengan tangkai kecil-kecil,  dibawahnya terdapat tanaman perdu,  disekeliling jalan dipasang block paving yang diatur selang seling dengan rumput Jepang. Lampu penerangan dipasang cukup terang tapi masih menyisakan beberapa titik yang bercahaya redup, sehingga suasana terasa tenang, hening sekaligus romantis. Kita bisa mendengar sayup-sayup suara musik instrumen yang santai  dibarengi dengan suara jangkrik dan kodok yang bersembunyi dibalik tanaman perdu. 


"Aku selalu suka kalau melewati jalan ini"


"Rasanya hening bikin rileks yah"


"Iyah"


Seperti dugaanku,  tempat parkir yang tersedia khusus tamu terlihat penuh,  sepertinya tamu yang menginap sedang ramai ditambah tamu Undangan untuk ulang tahun ini. 


Kita berbelok ke kiri memasuki halaman depan,  sampailah kita di gerbang utama,  Galang mendorong gerbang tersebut,  tampak banyak anak-anak berlarian kesana kemari di halaman rumah,  kuperhatikan disekeliling masih sama seperti 6 tahun lalu. 


Perlahan ku langkahkan kakiku mendekat sambil menatap Biang yang sedang sibuk bersama tamunya. Masih dengan kebaya dan kain batiknya,  rambut digelung rapi,  hanya saja garis-garis halus di mukanya terlihat makin jelas pertanda usia yang semakin renta. 


Sesaat kemudian Biang melihatku,  Beliau terpaku beberapa saat melihatku berjalan kearah Beliau,  kemudian beliau berteriak senang heboh


"Ratu Betara, Gek Ayu!!!" (Ya Tuhan, Gek Ayu) 


Langkahku terhenti dan tersenyum terharu melihat Gung Biang yang tergopoh-gopoh menyambutku. 


Sementara beberapa tamu dan kerabat yang hadir disana tampak menoleh kepada kami dan berbisik-bisik


Beliau langsung memelukku, kuletakkan Kue yang aku bawa di teras Bale dan ikut memeluk Biang yang nampak menangis terharu.


Akupun ikut larut terharu dalam pertemuan ini,  setelah sekian tahun lamanya akhirnya aku bertemu wanita baik ini lagi. 


Sebuah tangan hangat menepuk-nepuk pundakku lembut,  aku menoleh,  ternyata Gung Aji sudah berdiri didekatku dengan senyuman teduh yang masih sama untukku. 


"Gung Aji" Aku tak sanggung berkata-kata

__ADS_1


"Nggih gek" Jawab Gung Aji dan berkali-kali menggangguk tanda mengerti Keadaanku. 


Rasa bersalahku dan rindu kutumpahkan dalam bentuk tangisan. 


Setelah beberapa saat, Biang kembali tenang sambil masih mengusap air matanya,  beliau memandangku lekat. 


Aku masih mencoba menenangkan diri dan mencoba menghapus air mataku yang tidak ada habisnya. 


"Masih sama ayunya, sekarang tampak lebih matang, Biang mengerti gek,  biang nggak marah" Sahut beliau dengan suara parau. 


"Nggih Gung Biang" Aku akhirnya bisa tenang setelah meneguk air putih yang diberikan oleh Galang. 


"Makasi" Aku menoleh kearah Galang


Galang menghapus sisa- sisa air mataku dengan tisu perlahan. 


"Yuk meriki masuk dumun" (Yuk ke sini masuk dulu) Gung Biang menarik tanganku mengajak ke dalam rumah. 


"Mangkin dumun Gung Biang,  Niki titiang bawa kue buat Gung Biang dan kado buat Gung Geknya" (Sebentar Gung Biang, ini saya bawa kue buat Gung Biang dan Kado untuk Gung geknya) 


"Gung Gek! Meriki jebos niki wenten tante dari Denpasar!" (Gung Gek, kesini bentar Ada tante dari Denpasar) Biang memanggil cucunya. 


Tampak seorang anak kecil cantik, lincah dan bermata besar mendekatiku 


"Gung Gek Cantik sekali Biang" Aku menoleh kearah Gung Biang yang tersenyum Bangga. 


"Selamat ulang tahun Gung Gek"


"Makasi Tante,  Makasi Om"


Dayu gek mengambil kado dari tangan Nami. Dan tersenyum senang


"Ya sudah main lagi aja sama teman-temannya nggih" Kata Biang 


"Nggih Gung nini" (Iyah nek) 


Dayu gek tampak sangat gembira kembali bermain bersama-sama temannya. 


"Yuk duduk di dalam saja" Kata Gung Aji


"Nggih Gung Aji"


Aku mengekor dibelakang Gung Aji,  dengan tangan masih dikempit oleh Gung Biang. 


Dibelakangku Galang ikut serta menuju keruang tamu. 


"Bawa kue apa gek?  Nggak usah repot-repot bawa ini itu,  gek mampir kesini aja Biang sama Gung Aji dah senang sekali"

__ADS_1


"Nggak repot Gung Biang hanya kue biasa,  tadi sepulang kerja langsung mampir ke toko kue sebelum kemari"


Biang menuntunku ke ruang keluarga dan menarikku duduk di salah satu sofa panjang berwarna krem. 


Ruang keluarga mereka masih sama,  hanya sofanya bertambah dan berubah warna.  Tembok yang masih berwarna putih,  keramik lantai yang berwarna tembaga,  aku melihat sekeliling,  kuperhatikan Galang duduk menghadap Gung Aji di sudut ruangan,  sepertinya hari ini Galang ditantang bermain catur.  Hanya orang-orang yang dianggap dekatlah yang mau beliau ajak bermain catur,  yang kutahu hanya ada tiga orang,  Gus man,  Pak Puja sopir beliau dan satu lagi adik kandung Beliau, Gung Aji Satya. 


"Galang memang sering kemari,  karena ada kerjasama proyek dengan Gung de,  dia cepat dekat dengan keluarga ini gek sama seperti gek dulu.  Setiap kemari selalu diajak bermain catur oleh Gung Aji,  sambil mengobrol banyak hal"


"Kalau hobinya sama, dia memang cepat dekatnya"


Biang tersenyum,  "saat pertama kali kemari Gungde sempat bilang ke Biang kalau Galang teman dekatmu,  apa benar?? biang kaget waktu namamu disebut Gung de setelah sekian lama tidak kemari "


"Nggih biang untuk saat ini kami memang dekat,  Gung de kemana biang kenapa saya tidak melihatnya? "


"Sebentar lagi dia pulang,  tadi dimintai tolong sepupunya mengantar pulang didaerah Payangan sana"


"Saya merasa tidak enak datang kemari lagi biang,  mungkin kesannya saya pergi begitu saja tidak pernah mengabari,  tapi titiang punya alasan sendiri yang mungkin sulit untuk titiang jelaskan secara jujur"


"Biang sudah tahu,  bahkan sebelum gek bilang apa-apa Biang juga sudah mengerti,  sempat Biang bahas sama Gung Aji setelah gek tidak pernah kemari sama sekali"


Aku memandangnya lama dengan perasaan berat. 


"Usia Biang yang sudah renta begini,  sudah banyak makan asam garam kehidupan jadi tidak sulit menebak jalan pikiranmu gek", "salah satunya tentang kasta nggih? " Lanjut Biang dengan pertanyaan yang membuatku kaget,  aku hanya sanggup menggangguk lemah. 


"Memang berat kalau kita menikah beda kasta,  semodern-modernnya lingkungan utama, tetap saja akan ada yang tidak cocok dengan kita. Biasanya ada saja gangguan dari luar.  Sebenarnya biang sama Gung Aji sama sekali tidak keberatan kalau gek ternyata berjodoh disini,  tapi rupanya takdir berkata lain.  Pasti gek berat memikirkan aturan-aturan yang harus dihadapi disini,  memang tidak mudah apalagi usia gek waktu itu masih sangat muda"


"Nggih Gung Biang titiang akui,  Gustu lelaki yang sangat baik,  bahkan kalau dibandingkan dengan laki-laki siapapun yang pernah dekat dengan titiang sebelumnya. Belum ada yang sebaik dan seperhatian dia. Tipe yang sangat mengutamakan keluarga, waktu itu titiang berfikir lama sekali untuk memutuskan apa yang harus dilakukan. Mungkin titiang agak berlebihan tapi dari apa yang titiang tangkap Gustu memang menyukai titiang waktu itu,  walaupun dia tidak pernah menyampaikan hal itu sama sekali"


"Iyah Biang juga bisa lihat hahahaha,  sehari saja gek tidak kemari,  pasti bingung dia" Biang tertawa renyah


"Duh titiang jadi merasa bersalah Gung Biang,  waktu itu titiang perlu waktu untuk berfikir akhirnya titiang memutuskan untuk sesegera mungkin menjauh dengan pelan-pelan, kalau memang waktu itu titiang merasa sanggup pasti datang kembali,  ternyata malah menjadi terlalu sibuk dengan rutinitas di Denpasar apalagi baru lulus banyak hal yang ingin titiang coba,  titiang masih ingin menikmati masa muda Gung Biang"


"Andai saja pada waktu itu Gung de sebaya atau paling tidak beda tiga sampai lima tahun mungkin ceritanya akan berbeda nggih" Gung Biang tersenyum dan menghela nafas. 


"Bisa jadi,  pasti Gung de marah sekali nggih"


"Dia lebih banyak diam dan lebih sibuk bekerja,  tapi akhirnya bertemu dengan ibunya Gung Gek disuatu acara Perhimpunan Hotel Daerah Ubud"


"Pasti cantik yah Biang,  Gung gek aja cantik sekali loh"


"Cantik, sayangnya jadi begini,  mungkin Galang sudah cerita? "


"Iyah Biang dia cerita sedikit tadi diperjalanan kemari, kasihan Gung Gek sama Gung Gusnya"


"Namanya takdir nggih gek, apapun yang kita hadapi dalam hidup memang harus dijalani dengan ikhlas,  sekarang Biang sudah sangat ikhlas. Kalaupun nanti Ibunya datang menjenguk anak-anaknya Biang persilahkan,  pertalian Ibu dan anak memang tidak boleh putus"


"Sabar sekali loh Gung Biang sama Gung Aji,  tapi tiang yakin dengan limpahan kasih sayang anak-anak itu pasti tumbuh dengan baik"

__ADS_1


Biang tersenyum senang mendengar penuturanku. 


__ADS_2