Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
nyatanya Satu hari yang buruk


__ADS_3

Pemandangan yang kami peroleh hari ini sungguh luar biasa. Aku memandang hamparan padi yang masih menghijau bagai permadani dibawah sana. " lagi hijau begini memang keren banget yah bli. Pengaturan irigasi subaknya kan masuk warisan tak benda UNESCO yah" Ujarku pada Galang yang juga sedang mengagumi pemandangan ini.


"Iyah, semoga anak cucu kita nanti masih bisa melihat ini semua. Perlu peran pemerintah dan warga sekitar untuk bisa mempertahankan semua ini. Sayang sekali kalau nanti ternyata tergerus pembangunan" Kata Galang khawatir.


Kami menyusuri jalan setapak, kemudian masuk ke areal persawahan melalui tangga-tangga beton yang memang diperuntukkan untuk wisatawan. Kemudian kami melalui beberapa pematang sawah yang lebar. Untung saja lebar karena kalau terlalu sempit ku yakin kami yang tidak terbiasa akan kewalahan menjaga keseimbangan.


Kami melihat beberapa petani sedang bekerja, ada yang mencari rumput ada juga yang sedang menunggui padinya yang mulai memiliki semburat kuning. Di Denpasar kami jarang sekali melihat hal-hal seperti ini lagi. Kalaupun ada jumlahnya sudah mulai sedikit.


Aku memperhatikan aliran air yang sangat jernih disekitar kami, aku memasukkan tanganku untuk merasakan kesegarannya. Galang mendekatiku yang sedang berjongkok.


"Capek?" Kata Galang


Aku menggeleng


"Mampir ke cafe kecil itu yah" Jawabku.


Aku menunjuk satu cafe di tengah areal sawah.


Galang mengangguk lalu mengulurkan tangannya untuk menarikku lembut.


Ketika sampai di cafe itu kami memilih duduk di pinggiran cafe agar bisa melihat pemandangan terasering sawah. Seorang pramusaji menghampiri kami "selamat siang " Katanya sambil menyerah kan selembar menu.


"Aku mau strawberry pancake sama bir dingin satu mba, bli mau apa? " Aku menoleh kearah Galang


"Saya bir dingin juga mba yah, terimakasih mba"


Pramusaji itu tersenyum dan mengambil kembali menunya "ditunggu yah Kak pesanannya", kemudian berlalu.


"Aku baru tahu kamu bisa minum minuman beralcohol " Kata Galang heran


"Apa aku terlihat seperti anak rumahan yang polos?? " Aku tersenyum kalem


"Hahaha polos apa sayang?!? senangnya mancing-mancing begini, kok polos" Galang terkekeh mendengar pertanyaan ku


"Loh dulu pak Dito nggak bilang aku sempat dugem bentar sama Beni terus dia nanya-nanya file itu loh bli? "


"Iyah aku ingat tapi aku kira kamu nggak minum apa-apa"

__ADS_1


"Iya kali ke tempat begitu minumnya es cincau hahaha" Aku terkekeh


"Yah kan bisa pesan jus" Katanya lagi sambil ikut tertawa.


"Bukan berarti aku sering minum yah bli, hanya sekedar saja"


"Iyah aku ngerti, hmm abis ini mau kemana Sayang? "


"Hmm kemana yah? Gimana kalau nyari sup ikan terus ke pantai, pantai dekat rumahku aja "


"Ide yang bagus, aku pengin makanan yang berkuah" Galang terlihat bersemangat.


Setelah seharian berjalan-jalan seperti ini rasanya badanku pegal semua. Aku duduk di pasir pantai memandang deburan ombak yang


Bergemuruh.


"Sup ikannya seger yah Sayang, untung kebagian" Kata Galang yang ikut duduk dibelakangku sambil memeluk ku erat. Aku menyandarkan tubuhku padanya.


"Iyah kan ini sudah jamnya mereka tutup bli"


Kami terdiam lama sekali memandang deburan ombak, matahari pun perlahan mulai hilang, berganti dengan kesunyian malam"


"Sayang kalau seandainya kita berpisah, kamu sedih nggak?" Kata Galang tiba-tiba.


Dheg! "Kenapa nanyanya begitu? Ya sedih lah bli. Aku nggak mau pisah! Ada apa sih?? " Aku tiba-tiba berdebar mendengar pertanyaannya. Perasaanku menjadi tidak enak. Ini perasaan yang sama yang aku rasakan semenjak tadi pagi kita memulai perjalanan.


"Hmm sebelumnya aku mau bilang aku cinta banget sama kamu, perasaanku tak akan berubah sampai kapanpun. Kalaupun terjadi sesuatu dengan hubungan kita rasa cintaku tidak akan berubah Nami" Galang meraih wajahku mengecup kening, mata, hidung dagu terakhir bibirku. Galang menghela nafas panjang sebelum dia berkata " Aku harus melepaskan kamu pergi dari sisiku untuk saat ini Sayang"


Aku terperanjat mendengar apa yang dia katakan. "Sepertinya aku salah dengar, Kamu bilang apa barusan??!!" Aku beringsut bangun


Galang yang masih duduk meraih jari tanganku "aku melepaskan kamu pergi, hubungan kita selesai sampai disini saja Nami" Suara Galang bergetar pelan.


Aku yang sedang mencerna ucapannya ini hanya sanggup terdiam dan air mataku tentu saja mengalir deras tanpa bisa ditunda. "Alasannya apa bli? Kenapa kamu harus melepaskan aku pergi?!" "Kita seharian ini baik-baik saja kan?! " Aku berteriak


Galang hanya bisa tertunduk diam, tangannya masih erat memegang jari tanganku.


Aku menarik tanganku dan mengangkat wajahnya, aku bisa melihat air matanya mengalir sama sepertiku.

__ADS_1


Aku berjongkok dihadapannya "aku mohon jelaskan padaku agar aku mengerti, apa yang terjadi bli " Aku masih terisak dadaku terasa sakit.


Galang hanya sanggup menggelengkan kepalanya.


"Apa bli mencintai orang lain?! "


Galang menggeleng lagi


"Terus apa?!!? Ya Tuhan aku nggak ngerti" Aku kembali tersedu


"Jadi kamu mau kita putus begitu aja??!!


Galang mengangguk pelan, aku hanya sanggup menangis lebih kencang saat melihat dia mengangguk seperti ini. Aku tak percaya hari ini ternyata menjadi satu hari yang paling buruk untukku.


"Maafkan aku sayang, aku tidak pernah bermaksud membuat perasaanmu terluka. Tapi ini harus aku lakukan, aku memiliki alasan sendiri yang tidak sanggup aku katakan padamu " Galang mendekat dan memelukku erat


Aku melepaskan diriku dari pelukannya.


"Kalau aku tahu ternyata hari ini berakhir buruk, harusnya bli katakan dari awal. Tidak perlu mengasihaniku dengan mengajak ku pergi seharian" Aku berkata dingin sambil menghapus air mataku.


"Kamu boleh mencaci maki aku Nami, atau lakukan apa saja agar perasaan mu lebih baik, please Nami"


Aku menarik panjang nafasku.


"Berikan aku kunci mobil mu, aku mau mengambil tas ku" Aku menjulurkan tanganku


"Aku antar pulang sekarang " Katanya lirih


Aku berjalan cepat menuju parkiran mobil, Galang mengekor mengejarku.


"Aku mau pulang sendiri"


"Tapi... "


"Diam!! Cepat buka dulu kunci mobilnya" Aku berteriak. Setelah kunci mobil dia buka aku langsung membuka bagasinya dan mengambil tasku lalu pergi dari hadapannya.


Galang mengejarku "Nami, tolong jangan begini, aku antar pulang yah, aku yang menjemputmu tadi pagi. Aku merasa tidak enak pada orang tuamu Nami"

__ADS_1


"Masih sok peduli?! Nggak perlu!! Seperti katamu kita sudah putus" Aku merasa sangat marah , aku kembali melangkah untuk kembali ke rumah.


Galang yang terlihat putus asa hanya bisa berdiri mematung di tempat itu, memandangi punggung Nami yang bergerak menjauh. Hanya tersisa rasa sakit, sesal dan marah kepada dirinya sendiri. "Separuh jiwaku telah pergi, jaga dirimu baik-baik Sayang, kalau memang kita ditakdirkan bersama, dimasa depan semoga kita bisa bertemu kembali "


__ADS_2