
"Bu Ida saya mau resign " Kataku terus terang di food court sebelah kantor saat jam pulang kerja.
Bu Ida nampak terkejut dan menggenggam tanganku erat "Aduh Nami saya sudah menduga akan begini jadinya. Gara-gara pak Sudira yah? "
Aku mengangguk "saya sudah tidak tahan dengan kelakuannya, sudah keterlaluan. Semalam saja dia memeluk dan mengecup bibir saya sembarangan bu"
Bu Ida makin terperangah "Ya Tuhannn Nami, orang itu kenapa yah? . Kaya sih kaya tapi nggak gini juga mestinya"
Sejenak aku terdiam, aku seperti melihat sesuatu. Aku berpura-pura mengambil kerupuk dari meja sebelah. Ketika kembali ke meja ku aku memperhatikan orang itu dengan ujung mataku, jantungku berdegup kencang, nampak olehku seorang laki-laki duduk di atas motornya sedang memandangku dari kejauhan. Iya itu laki-laki yang semalam memepetku. Orang itu menggunakan motor, jaket dan helm dengan warna yang sama.
" Sebentar bu, Ibu pura-pura saja tidak tahu yah, coba lihat orang yang diujung sana, dibawah pohon besar arah jam 3"
"Yang naik motor laki? Motornya warna orange? Kenapa Nami?" Bisik bu Ida setelah berpura-pura mengambil tisu dari meja sebelah.
"Iyah semalam saya dipepet orang itu bu,hampir saja saya celaka. Benar dugaan saya , dia bukan jambret tapi suruhan seseorang" Kataku khawatir
"Hah?? Yang benar Nami!! Terus kamu nanti gimana caranya pulang? " "Saya jadi takut dia punya niat tidak baik lagi" Suara bu Ida bergetar.
"Saya kayaknya masih bisa menghindar seperti semalam. Kalau hanya mengebut saya masih bisa bu. Mudah-mudahan nanti saya bisa menghindar lagi seperti kemarin"
"Kalau begini ceritanya saya setuju kalau Nami mau resign, masalah ini sudah tidak bisa dianggap enteng"
Aku mengeluarkan surat resign yang aku buat tadi siang dari dalam tas dan menyerahkannya pada Bu Ida.
"Saya titip ini untuk pak Dito besok pagi yah bu, kalau beliau bertanya, ibu Ida bilang saja tidak tahu apa-apa" Aku menatap bu Ida sedih
__ADS_1
Bu Ida mengambil surat itu dari tanganku dan hanya mengangguk kemudian memelukku erat, aku membalas pelukannya.
"Saya bakalan kangen sama kamu, siapa dong nanti yang saya ajak berkeluh kesah lagi disini" Kata Bu Ida sambil melepas pelukannya dan menatapku sedih.
"Sebenarnya saya senang bekerja disini bu. Selama saya bekerja disini, semuanya baik sama saya, terutama bu Ida. Terimakasih yah bu untuk bantuannya saya merasa beruntung memiliki atasan seperti bu Ida" Suara ku bergetar, air mataku menetes begitu saja.
Bu Ida juga tampak sibuk menghapus air matanya. " Saya juga beruntung memiliki Nami sebagai partner saya. Nanti kabari saya kalau keadaan sudah lebih baik yah. Rencananya nanti Nami melamar pekerjaan dimana? "
"Bu Ida tidak usah khawatir saya sudah mempersiapkan semuanya. Kemungkinan saya tidak akan bisa dihubungi lagi setelah ini. Saya janji akan menghubungi Ibu Ida kalau keadaan sudah lebih baik" Jawabku sambil tersenyum.
"Jaga dirimu yah, semoga semuanya berakhir dengan baik" Bu Ida juga tersenyum.
"Sebaiknya sebelum terlalu malam, kita pulang saja sekarang" Bu Ida beringsut berdiri
"Iyah nanti saya sampaikan"
Kami berdua berjalan beriringan ke tempat parkir. Sejenak Ibu Ida sudah mendahuluiku menyusuri jalan.
Tiga box pemberian Dari Dira ku masukkan kedalam tas plastik yang besar dan ku gantung pada motorku. Beberapa barang pribadi yang ada diatas meja aku masukkan dalam tas kerjaku. Dengan perasaan was-was aku mengendarai sepeda motor ku, aku bisa melihat dari spion orang tersebut juga beranjak dari sana. Begitu sampai di jalan raya segera saja ku pacu sepeda motorku. Aku mengebut tanpa melihat lagi kebelakang. Beberapa menit kemudian aku yang masih mengebut melihat sebentar ke spion, rupanya orang tersebut masih membuntutinya dengan laju motor yang kencang. "Aku harus mencari jalan keluar" Aku bergumam sendiri. Orang tersebut berhasil menyusulku dan memepet motorku dari kanan seperti Semalam. Kulihat kali ini kaki kirinya seperti bersiap untuk menendang. Di saat yang sama begitu ada kesempatan, tanpa menghidupkan lampu sein aku berbelok ke kiri masuk ke jalan kecil. Tendangan dari orang itu berhasil mengenai knalpot motorku. Aku terkejut, motorku sedikit oleng. "Andai saja tadi aku tidak berbelok dan tanganku tidak kuat menahan stang motor kemungkinan besar aku sudah jatuh mengenaskan". Kuputar gas kembali dengan kencang sambil berpikir cepat kemana selanjutnya. Aku menyadari saat ini sedang berada di kawasan yang sangat aku kenal. Dari spion motor aku bisa melihat sorot terang lampu dari motor yang mengejarku "sial dia datang lagi" Aku bergumam sendiri
Kemudian sesuai rencana ku tadi aku berbelok lagi kekiri masuk perumahan yang sepi kemudian belok kanan ke gang sempit dan langsung masuk kedalam satu rumah yang tidak asing bagiku, kebetulan gerbangnya sedang terbuka. Aku segera mematikan motorku di tempat yang gelap, lalu menutup gerbang tadi dari dalam sambil berjongkok di sudut yang gelap.
Aku bisa mendengarkan suara debaran jantungku sendiri, tangan dan dahiku berkeringat. Ketika orang itu lewat dengan motornya aku menahan nafasku. Kemudian dia berbalik lagi kearah berlawanan dan aku bisa mendengar dia berhenti di tengah jalan. Beberapa detik dalam diam ini begitu mencekam untukku. Kudengar lagi deru motornya akhirnya menjauh dari sana. Aku nampaknya bisa bernafas lega, kuputuskan untuk menunggu beberapa menit, karena khawatir orang itu datang lagi.
Setelah 15 menit, aku merasa keadaan telah aman. Saat aku berdiri aku tidak sengaja menyenggol tumpukan seng yang bersandar pada pohon besar yang ada disana. Suara seng bergemuruh jatuh ke tanah, aku terkejut setengah mati. Terdengar suara langkah kaki berlari dari rumah yang terpisah jauh di belakang.
__ADS_1
"Pasti kucing s*alan itu lagi" Suara laki-laki itu terdengar kesal
Saat laki-laki itu sampai dia tampak terkejut melihat ku. "Siapa ya? Kenapa ada di pekarangan rumah saya? " Katanya kemudian.
Walaupun lampu di gerbang rumah ini temaram, aku masih bisa melihatnya dengan jelas. Laki-laki di hadapanku ini memakai kaos oblong dan sarung dengan tubuh tinggi kurus. Rambutnya dicukur rapi berkacamata. Dari raut wajahnya aku bisa pastikan usianya kemungkinan masih muda.
Demi kesopanan aku membuka helm yang ku kenakan. "Maaf Pak saya tidak sengaja menjatuhkan sengnya, tadi saya sedang mencari alamat teman. Saya kira ini masih rumahnya ternyata saya salah" Kataku beralasan.
"Siapa nama teman Ibu?" Katanya lagi
"Saya lupa nama aslinya, tapi saya dulu sering memanggilnya boy" Jawabku pelan.
"boy???" katanya dengan nada heran "Ibu siapanya boy" lanjutnya lagi
"saya temannya Pak, terakhir saya kemari sudah beberapa tahun yang lalu. Mungkin saya salah rumah atau orangnya mungkin juga sudah pindah" ujarku lagi merasa ragu.
Laki-laki tersebut mendekatiku, dan berteriak kencang "Kadekkkkk Ayu!!!" katanya girang.
Aku melongo mendengar nama panggilan yang dia teriakkan padaku. Sudah lama sekali aku tidak mendengar nama panggilan itu. Seingat ku hanya teman masa remajaku saja yang memanggilku begitu.
"Astaga boy! , ini beneran kamu boy?! aku sungguh tak mengira kamu masih tinggal disini" kataku bersemangat.
"hahahaha iya, apa kabarmu? yuk masuk dulu kerumah. Ada anak dan istriku didalam" kata Boy lagi sambil meninju kecil lenganku.
aku mengekor padanya.
__ADS_1