
Aku masuk kedalam, ku lihat mekde sedang berbicara di telepon. Saat beliau melihatku tangannya melambai memberi isyarat menyuruhku masuk dan duduk di depannya sambil tersenyum.
Wajahnya masih sama cerahnya seperti terakhir kali aku bertemu dengannya. Diusianya kini pertengahan umur 40 , mekde masih terlihat awet muda. Badannya tidak terlalu kurus tidak juga terlalu gemuk, berkulit agak gelap tapi bersih. Masih terlihat muda dan cantik untuk wanita seusianya.
Mekde meletakkan ponselnya di atas meja, lalu mendekat dan memelukku erat. "Nyegegang gen ponakan mekde , Ayudia(makin cantik aja ponakan tante, Ayudia) " Aku hanya bisa terkekeh
"Semua sehat dirumah?" Kata mekde sambil meregangkan pelukannya.
Aku mengangguk "sehat mek"
"Kemarin sebelum kamu nelpon, mekde di telpon sama bapakmu, yah mekde senang dong kamu mau tinggal di rumah mekde. Apalagi katanya sekalian mau bantuin kerjaan disini" Ujarnya dengan wajah penuh senyum.
"Iyah, ayu resign dari perusahaan baru kemarin"
"Kenapa resign? Eh iya Ayu, udah makan? Kita sekalian makan siang aja dulu yah " Katanya sambil melihat jam dinding yang sudah menujukkan pukul 11 lebih 10 menit.
"Boleh" Kataku bersemangat
"Trisna!, saya ke luar sebentar yah. Nanti kalau ada yang penting bisa telepon saya di ponsel merah" Kata Mekde kepada staffnya.
"Ya bu" Jawab staff yang bernama Trisna itu.
Kami menuju ke salah satu warung chinesse food yang berada di sebelah kantor beliau. Setelah memesan , beliau lalu duduk di depannya dan tersenyum "kenapa resign?" Tanyanya lagi kepadaku
"Rumit mek" Jawabku ragu
"Masalah cinta-cintaan dikantor?? Hahaha. Sudah berapa hati yang sudah kamu patahkan? " Katanya sambil Tertawa
Aku mengangkat bahuku dan ikut tertawa
Aku ceritakan semua tentang pekerjaannku sampai ke cerita Galang dan pak Sudira.
Mekde terlihat bengong lalu beberapa kali ternganga kemudian terbahak mendengar ceritaku.
"Bikin saya pusing aja orang itu mek"
__ADS_1
"Pak Sudira yang punya Dharma hotel? " Tanyanya khawatir
"Iyah mekde, itu dia orangnya. Dialah alasanku akhirnya memutuskan untuk resign. Hari ini kemungkinan dia datang ke kantor pasti ngamuk -ngamuk aku udah resign dari sana" Kataku sambil tertawa geli.
Mekde hanya menggeleng sambil tertawa "duh masa muda memang menyenangkan. Tapi yang mekde dengar keluarganya memang sangat pemilih dalam pergaulan. Jadi memang sombong banget. Coba kamu kalau ketemu Ibunya, aduh ada yah orang sombongnya kayak itu"
"Sudah ketemu mek hahaha"
"Oh yah Ngapain ketemu dia? "
Kemudian aku menceritakan kejadian acara semalam. Mekde terlihat kesal mendenga ceritaku. "Nggak usah terlibat urusan begini lagi sama keluarganya yah yu. Mereka benar-benar bukan keluarga yang baik. Kalau secara bisnis sih beda cerita. Yang mengurus perawatan kolam beberapa villa mereka kan dari sini"
"Iya mekde, aku juga udah males banget sama Dira"
"Oh kamu manggilnya Dira hahahaha akrab banget kedengarannya"
"Hahaha dia nyuruh manggilnya begitu mekde"
"Ya sudah yang penting kamu sekarang aman ada disini" Katanya yakin.
Pesanan kami sudah datang. Kami menikmati makan siang kami dengan tenang.
"Kenapa nggak diangkat? Dari siapa? " Tanya mekde dengan wajah penasaran
"Dira mekde" Jawabku ragu
"Angkat aja" Katanya sambil mengaangguk.
Kutekan gambar gagang telepon berwarna hijau pada layar ponselku.
"Iyah Dira"
"Kamu kenapa resign Nami?!! " Suara Dira terdengar kesal.
"Aku pengin resign aja, emang kenapa? " Jawabku ketus.
__ADS_1
"Sekarang kamu ada dimana? "
"Bukan urusanmu aku ada dimana. Dira aku sudah cukup sabar dengan semua kelakuanmu selama ini. Jadi tolong mulai hari ini jangan ganggu aku lagi. Aku bosan dengan semua ini Dira"
"Katakan kau dimana, kita bicara baik-baik yah Nami. Please, ibuku sudah menyetujui hubungan kita. Tapi... Tapi yah memang ada syarat yang harus kamu lakukan. Demi hubungan kita" Katanya dengan suara bernada kecemasan. Aku bisa menangkap perasaan gelisah, takut dan panik dari suaranya.
"Maaf Dira, hubungan kita tidak akan berhasil. Aku tidak mau melakukan syarat apapun. Jadi aku mohon, demi hidupku yang tenang dan demi orang tuamu juga sebaiknya kita sudahi saja hubungan yang tidak jelas ini. Terima saja wanita yang di jodohkan untukmu. Kurasa itu lebih baik" Jawabku tegas
"Tapi bagaimana dengan perasaanku Nami. Aku sangat menginginkan mu!!! Demi Tuhan Nami aku tidak menginginkan wanita lain selain kamu!!! Dira berkata dengan geram.
" Maafkan aku Dira. Aku harap kau mengerti. Suatu saat nanti kalau kita bertemu kembali, aku akan mengenalmu sebagai Pak Sudira saja seperti awal aku menolongmu. Aku mematikan ponselku dengan wajah merengut.
Dira menghubungiku kembali, aku menerima kembali teleponnya.
"Apalagi Dira, sudah jelas kan? "
"Aku tidak peduli, aku akan mencari kemanapun kamu pergi Nami. Aku sudah lama mengetahui alamat rumahmu. Aku akan datang menemui orang tuamu"
"Kamu mau bilang apa pada mereka? Jangan buang waktumu Dira. Aku sudah tidak tinggal dirumahku lagi. Sekalipun kamu datang takkan ada yang berubah dari hubungan kita"
"Nami jangan begini, aku bisa gila kehilanganmu" Jawabnya pelan dengan nada sedih
"Maafkan aku sekali lagi Dira. Jaga dirimu baik-baik. Aku bukan wanita yang tepat untukmu dan keluargamu" Aku memutuskan sambungan telepon itu dan mematikan ponselku.
"Aku lupa beli kartu selular baru mekde". Kataku kesal.
" Dia benar-benar mengejarmu yah, kasihan dia. Tapi lebih baik begini" Mekde mengangguk sambil menepuk tanganku.
Setelah menghabiskan makan siang ini aku memutuskan untuk mulai bekerja. Mekde dengan sabar mengajariku beberapa hal yang belum pernah sekalipun aku kerjakan. Termasuk istilah-istilah baru dan nama-nama peralatan yang di gunakan.
Aku juga baru mengetahui selain jasa perawatan kolam renang, usaha mereka sudah merambah ke pembuatan kolam renang.
Seminggu di tempat kerja baru dengan bidang baru memang sedikit membuatku harus extra konsentrasi mempelajari semuanya lagi dari awal. Dan itu membuatku sangat sibuk dan lupa akan urusan lain diluar pekerjaan ku.
Aku memiliki hari libur 1 hari di hari minggu, kecuali ada hal yang mendesak aku harus bekerja, dan itu bisa dihitung lembur. Hari sabtu aku bekerja setengah hari, jadi bisa aku gunakan untuk bersantai.
__ADS_1
Seperti hari ini aku memutuskan untuk memulai kebiasaan baru yaitu jogging. Kebetulan rumah mekde cukup dekat dengan lapangan Niti Mandala Renon. Sekitar 7 menit berlari santai aku sudah sampai dilapangan tersebut. Aku merasa ini awal yang baik untuk hidup baruku kali ini. Tanpa gangguan Dira ,dan juga tak memikirkan Galang terlalu banyak.
Aku berlari menyusuri rute yang ada pada pinggiran lapangan , beberapa orang juga terlihat sibuk berolahraga disana sini. Sambil berlari aku jadi teringat telepon dari meme tadi pagi. Mengabarkan Dira berkunjung ke rumah, untuk mencariku. Tentu saja meme bilang aku sudah tidak tinggal lagi di rumah itu dan tidak mau memberikan informasi lain lagi setelahnya. Kata Meme lagi wajah Dira terlihat kesal dan dengan sombongnya langsung pergi tanpa berpamitan. "Begitulah Dira yang kutahu. selalu saja seenaknya sendiri"