
Keesokan harinya sesuai janjiku pada Galang, aku tiba di rumahnya sekitar pukul 10 pagi.
Galang membukakan pintu rumahnya dengan mata yang masih setengah terpejam.
"Baru bangun sayang? " Aku memperhatikan garis-garis yang tercetak di pipi kanannya.
"Semalam aku lanjutin kerjaan sampai sekitar jam tigaan kalau nggak salah" Galang mengusap rambutnya yang mencuat kesana kemari. Tangannya merangkulku mengajak masuk kemudian menutup pintunya kembali.
Galang pagi ini hanya memakai celana boxer berwarna hitam dengan atasan kaos putih.
"Astaga dia pakaian begini dan baru bangun aja masih cakep" Aku bergumam dalam hati
"Pasti belum makan apa-apa yah? Aku bawain roti panggang, paket nasi ayam kremes sama es campur, oh iya ada rujak kuah pindang juga" Kataku sambil mengangkat tanganku yang sedang menenteng kresek belanjaan.
"Ck! tahu aja aku belum makan, aku mandi dulu yah" Galang mengecup kepalaku
"Mau makan dimana bli? "
"Dibawah, taruh di atas meja makan. Nanti kalau mau keatas kesini aja" Galang menaiki tangga dengan cepat
Setelah menyiapkan peralatan makan, aku menyusul Galang ke kamarnya di lantai dua.
Ketika aku masuk, aku masih bisa mendengar suara kucuran shower dari kamar mandi. Aku merebahkan diri di tempat tidur Galang sambil membaca berita dari ponselku. Sedang asyik , terlihat nama Beni sedang melakukan panggilan ke ponselku.
"Iya cyinn!? " Aku mengangkat teleponnya tanpa ragu dengan suara manja
"Hahaha jijik!!! Sibuk Nam? " Terdengar Beni tergelak diujung sana
"Nggak sibuk, kenapahh?"
"Kemarin aku kan ketemu klienku, ternyata dia kenal sama Sudira itu. Katanya dia mau nikah yah? Aku nelpon karena kepikiran takutnya yang diajak nikah itu kamu hehehehe" Beni terkekeh
"Ck! Masak aku nikah sama dia tapi nggak bilang sama kamu sih?! Hahahaha"
"Iyah sih, tapi beneran bukan yah? Duh ck! ck! ck! gak jadi nikah sama milyuner dong Nam, rugi bandar Nam, sing maan ape (nggak dapet apa-apa) hahaha"
"Cing! Hahahaha kamu nelepon aku ini cuman mau ngejek yah?"
"Yah kalau kamu nikah sama dia kan aku juga jadi kecipratan dikit-dikit lah hahahaha. Tapi ada untungnya nggak jadi sih. Kalau jadi kayak yang aku bilang dulu bakalan nggak dikasih keluar kamar kamu, abisss di bolak balik tiap hari, liat aja badannya dia yang kekar itu hahahaha" Beni terdengar puas mengejekku
"Ishhh aku jadi merinding, tapi aku dah tahu dia mau nikah. Dia ngirim surat kerumah Ben"
"Surat? Old fashioned banget yah dia. Isinya apa? "
"Entar aku fotoin suratnya, pokoknya dia minta maaf udah ganggu, trus ngaku kalau dia yang buat hubunganku sama Galang bubar. Bilang terimakasih untuk semuanya yah gitu deh"
"Oh gitu, tuh kan apa kubilang pasti ada alasan yang membuat Galang kayak gitu"
__ADS_1
"Bentar aku matiin dulu yah mau ambil suratnya" Tangan kananku mengambil surat Dira dari dalam tas ransel ku.
"Cekrek! " Aku mengambil foto surat tersebut dan langsung kukirmkan pada Beni.
Sejenak Beni menelponku kembali. "Kasihan, cintanya nggak terbalas. Aku baca suratnya jadi ikutan sedih. Kok mau sih dia ngejar cewek aneh kayak kamu Nam hahahaha"
"Hahahaha sialan!" Umpat ku
"Difasilitasi kok malah kabur, kalau cewek lain barangkali sudah jadi sugar baby, Duitnya banyak Nam, nggak berseri"
"Kamu aja deh sama Dia hahaha kan sama-sama besar hehehehe" Aku terkekeh
Galang nampaknya sudah selesai mandi. Wajahnya terlihat lebih segar "siapa sayang??" tanya Galang sambil Menepuk-nepuk rambut basahnya dengan handuk.
"Kok ada suara laki-laki sih? Eh kamu dirumah siapa? Wahhh wanita tidak benar!!! Jangan-jangan selama ini kamu menyimpan laki-laki dikamar hahaha "
Ucapan Beni membuat aku makin terbahak.
Galang mendekatiku dan mengecup keningku, matanya memperhatikan layar ponsel yang ada di telingaku "oh Beni"
Aku mengangguk sambil tertawa. Galang mendekat ke ponselku "oiii Beni!!!" Sahut Galang. Aku menekan gambar speaker dilayar ponselku.
Terdengar suara Beni yang nyaring "loh itu Galang Nam, wahh kalian balikan lagi... Selamat yah hahaha"
"Iyah Ben, baru kemarin"
"Aku dilarang sama dia Ben, jangan diapa-apain katanya hahaha" Galang menjawab sambil terkekeh
"Halah nggak usah percaya Lang, mukanya aja yang polos, lugu. Nonton b*k*p aja dia bisa lewat v*n. Aku juga diajarin dia hahahaha"
"Eh kacau, diem ah BENI!!" Aku berteriak kesal
Wajah Galang terlihat kaget bercampur geli mendengar ucapan Beni.
"Dia suka yang manly lang, nggak mesti badan besar, tapi kering gitu loh hahaha, yang berkeringat mengalir yah Nam, itu keringat apa air hujan hahaha" Beni terbahak-bahak bersama Galang.
Aku hanya bisa menggeleng dan menahan emosiku mendengar Beni yang makin menjadi - jadi membuka aibku.
"Apa Nam? Suka Di tempat terbuka yah?? Ck! Fantasinya bisa kena grebek hansip nih hahahaha"
Lagi-lagi mereka berdua tertawa tak habis-habis
"Eh BOJOG!!! siep nak e!!! (Eh monyet, diem dong!!)" Kataku kesal, aku meletakkan ponselku diatas tempat tidur dan menjauh dari sana.
Galang mengambil ponselku "Ngambek dia ben!"
"Halah pake ngambek, entaran dibeliin ice cream aja anteng lagi hahahaha"
__ADS_1
Aku menutup mulutku menahan tawa mendengar ucapan Beni.
"Ya sudah kalian sana dah mesum dulu, biar aku nggak ganggu. NAM NGGAK USAH PAKE PENGAMAN YAH, BIAR LEBIH BERASAAA!!! Hahahaha" Tuttt..
Beni menutup telepon nya tiba-tiba.
Galang meletakkan ponselku diatas nakas dan menoleh padaku yang sedang membuat wajah lugu dan tidak bersalah.
Lewat V*n??! Siapa yang ngajarin?"
"Nggak ah, Beni bohong" Aku memutar bola mataku "bli makan yuk, udah siang" Kataku mengalihkan pembicaraan
Galang tersenyum dan berdiri "ayok makan sayangku" Tangannya terulur padaku
Aku pun mendekat kearahnya. Galang tiba-tiba membelakangiku "naik sini" Katanya sambil memposisikan badannya setengah berjongkok.
"Kuat bli? Kan kita nurunin tangga" Aku khawatir, mengingat anak tangga yang lumayan banyak dirumah Galang ini.
"Ck! Aku manly loh, masak segini aja nggak mampu" Jawabnya sambil tertawa saat mengangkat badan dan memegang erat pahaku kemudian berjalan dengan santai.
Aku yang berada dalam gendongan Galang hanya bisa menahan tawa. Bisa kurasakan kerasnya punggung, pinggang dan dada Galang yang kian berotot.
Sampai dibawah aku langsung membuka makanan yang aku beli tadi.
"Nanti cerita yah sayang, aku ingin dengar langsung dari kamu tentang apa yang dikatakan Beni tadi"
"Mmm" aku menjawab sekenanya karena sedang berkonsentrasi memindahkan makanan ke piring dan mangkok.
Galang lalu duduk disebelahku.
"Kalian ngobrolnya sampai sejauh itu yah?" nada suara Galang berubah serius. Yang aku tangkap dia merasa kecewa karena dia belum tahu banyak tentang kebiasaanku yang paling rahasia.
"Kebetulan aja dia tahu, bukan sengaja ngobrol. Dia cerita susah download B*k*p semenjak internet di protek Sama pemerintah. Jadi aku saranin pakai v*n, kan bli putu yang ngajarin" aku berdalih
Dia mengangguk, tangannya sibuk mempreteli ayam geprek didepannya.
"nanti kita bahas yah bli"
Galang mengunyah tak membalas ucapanku.
"bli?! aku mendekat kearahnya dan menatap matanya "jelas saja dia tahu lebih banyak tentang aku, kita berteman sangat dekat hampir 8 tahun lamanya. Sedangkan kita belum juga kenal setahun, mana sempat pisah 7 bulanan. Kan beda jauh bli" kataku lembut agar dia tahu aku mengerti perasaannya.
Galang mengangguk, bibirnya menyunggingkan senyum.
"iyah nanti kita bahas apa saja yang aku tahu"
Senyum Galang makin lebar "iyah" jawabnya Singkat.
__ADS_1