
Dira meletakkan ponselnya diatas meja.
"Mau makan apa Nami? "
"Maaf Pak, sepertinya saya tidak bisa berlama-lama disini" Aku berkata sambil mengeluarkan dompet dan dokumennya
"Kok buru-buru sekali, saya mau mengucapkan terimakasih atas bantuannya hari ini. Nami sudah mau datang kemari. Wajar kan saya ingin menjamu orang yang sudah menolong saya" Katanya dengan nada bicara mengintimidasi
"Iyah pak sama-sama, tapi sebenarnya tidak perlu seperti ini"
"Perlu" Katanya tegas, lalu memanggil pramusaji
Pramusaji mendekat dan menyalakan lilin di hadapan kami.
Sepertinya hari sudah mulai gelap.
"Saya seperti biasa yah" Kata Dira kepada pramusaji sambil menyesap red winenya pelan.
"Baik Pak" Jawab mba pramusaji itu dan langsung beralih kepadaku.
Dira menatapku sambil memiringkan wajahnya, seperti ingin mengatakan "ayo pesan cepat! Aku menghela nafasku "orang ini benar-benar seorang yang suka mengintimidasi" Aku bergumam dalam hati
"Meat balls with mashed potato, sama cold mineral water mba" Aku tersenyum kepada pramusaji itu.
"Ok ditunggu sebentar yah Kak" Katanya pelan.
"Kurang suka yah makan di tempat seperti ini?" Kata Dira tiba-tiba
"Lebih tepatnya saya kurang suka sama bapak" Gumamku dalam hati
"Saya lagi capek saja pak, ingin cepat pulang dan beristirahat" Jawabku kemudian untuk menjaga kesopanan
"Panggil saya Dira, Nami "
Aku hanya mengangguk pelan.
"Nami suka bekerja di perusahaan sekarang? Boleh saya minta kartu namanya? "
"Lumayan suka pak, eh maksud saya Dira. Maaf saya tidak membawa kartu nama saya sekarang, saya hanya membawanya pada saat jam kerja dan situasi tertentu saja Dira"
Dira tampak tersenyum. Mendengar Nami mengucapkan namanya saja sudah membuat hatinya begitu senang.
"Baik kalau begitu, bawakan saya kartu namamu besok saja" Ujarnya santai
"Shittt!!! Ini nggak benar, sialan kenapa aku harus menuruti semua kemauanmu sih pak.benar- benar deh orang ini" Aku memakinya dalam hati
"Apa yang kamu pikirkan Nami"
"Sebentar pak, sepertinya kartu nama saya ada satu yang terselip di dompet saya" Kataku cepat
__ADS_1
"No, aku nggak mau bertemu denganmu lagi, cukup sampai disini" Aku kembali bergumam dalam hati.
Setelah berpura-pura mencari di dalam dompet akhirnya aku menyerahkan kartu namaku padanya. Senyumnya kali ini terlihat lebih mengembang daripada sebelumnya.
Makanan kami sudah siap, dengan santai dan elegan Dira menyantap makanannya.
Sedangkan aku merasa tidak berselera sama sekali, "aku lebih berselera dengan kamar tidurku yang wangi, teh hangat yang manis, kucuran air shower hangat... Galang!! Ah aku rindu sekali " Aku berbicara dalam hati
"Tidak enak??! " Suara berat Dira mengagetkanku
Aku menghela nafas panjang sebelum berbicara "sebenarnya enak Dira, tapi saya saat ini memang sedang tidak dalam keadaan baik. Saya lelah seperti yang saya katakan baru saja"
"Mau tidak bekerja di perusahaan saya, Nami? Saya jamin tidak akan semelelahkan ini. Dan tawaran ini saya berikan hanya untuk kamu" Kata Dira yakin.
"Jangan dijawab dulu, coba di pikirkan baik-baik tawaran saya. Gajimu saya akan naikkan berkali-kali lipat dari yang kamu terima sekarang" Lanjutnya lagi.
"Basa basi apa sih ini?, aku paling tidak suka hal-hal seperti ini. Dia pikir semua hal bisa dibeli dengan uang yah?! " Pikirku sambil menatapnya tajam
"Apa arti tatapan itu Nami, belum pernah ada yang berani menatap saya seperti itu" Dira berhenti menikmati makan malamnya, lengannya bersandar pada bahu kursi, jari tangannya saling mengait di depan dadanya.
Pandangannya juga tajam kearah Nami.
"Bukan apa- apa Dira, saya hanya berpikir kenapa tawaran itu diberikan kepada saya. Kita tidak saling mengenal. Atas dasar apa sehingga saya diberikan tawaran yang terdengar begitu luar biasa? "
Kesinisanku muncul begitu saja saat berada di situasi seperti ini.
Dia terdiam sejenak
Aku berusaha mengingat -ngingat apa pernah menolong orang di bandara atau tidak.. Hmm aaa... Aku hanya bisa ternganga ketika teringat kejadian hari itu. Iyah ada seorang laki-laki terkulai lemas, aku menangkapnya dengan refleks.
"Itu anda ? Kok saya tidak tahu yah? "
"Mungkin kartu nama yang saya berikan tidak dibaca sama sekali" Dira menjawab datar..
"Mungkin saja, kalau pikiran saya sedang sibuk terkadang saya melewatkan hal-hal yang menurut saya tidak terlalu penting"
"Ahh jadi saya tidak penting kalau begitu"
"Astaga aku salah bicara " Aku terperanjat
"Bukan begitu maksud saya, pikiran saya mungkin waktu itu dipenuhi urusan pekerjaan yang belum selesai saya kerjakan. Jadi di luar itu saya jadi kurang memperhatikan"
"Saya ingin membalas pertolonganmu waktu itu, dan hari ini juga. Dua kali kita dipertemukan oleh nasib Nami. Kali ini saya harus membalasnya"
"Dira, saya sudah merasa dibalas dengan baik hari ini. Ini saja sudah cukup"
"Hmmm tapi kenapa makanannya tidak dihabiskan?, saya merasa apa yang saya lakukan ini kurang sesuai" .
"Ok begini saja, kalau saya habiskan makanan ini, hutang budi kita impas yah Dira" Jawabku tegas.
__ADS_1
Dira mengusap tengkuknya sendiri sambil mengulum senyumnya " Nami,... Nami... belum pernah saya bertemu dengan wanita seperti kamu. Diberikan kemudahan, hadiah, malah menolak"
"Maaf Dira saya tidak bermaksud mengecilkan maksud baik anda, tapi saya juga hanya mampu menerima sedikit saja kebaikan dari seseorang. Karena saya rasa itu sudah lebih dari cukup. Anda memiliki niat baik saja saya sudah cukup senang"
"Menarik " Jawab Dira
"Sebelum terlalu malam, setelah saya menghabiskan makan malam ini sebaiknya saya pulang Dira"
"Baiklah, saya berharap setelah ini kita bisa bertemu kembali. Mungkin di tempat yang Nami sukai?! "
Aku tidak menjawab sama sekali, hanya ingin menghabiskan makanan yang ada didepanku lalu pulang. Aku melihat jam pada ponselku, ternyata sudah pukul 19.58 menit
"Mau saya antarkan pulang? "
"Tidak Dira, saya membawa kendaraan sendiri"
"Biar sopir saya saja yang membawa motormu" Dira berkata sambil menopang dagunya memperhatikan Nami
"Terima kasih Dira, tapi itu tidak perlu" Kataku dingin.
Suapan terakhir akhirnya masuk ke mulutku.
Dira masih menopang dagunya diatas meja
"Saya suka wanita yang makannya banyak seperti Nami"
Tangannya tiba-tiba terulur kearahku yang sedang mengunyah
Aku mencoba menghindar
"Shhh jangan bergerak, sebentar Nami "
Dira mengusap bibirku sebelah kanan dengan ibu jarinya.
"Ada saus yang menempel tadi disana" Ujar Dira sambil mengecup ibu jari yang tadi dia gunakan untuk mengusap bibirku.
" Cukup!!! Ngeri banget, Aku mau pulang pokoknya, orang ini aneh" Aku bergumam dalam hati.
Setelah meneguk air mineral, aku berdiri dan mengambil tasku
"Terimakasih Dira, saya pulang dulu"
"Sama- sama Nami, kita pasti akan berjumpa kembali" Suaranya terdengar bersemangat
Aku tidak menjawab lagi dan bergegas berlalu dari tempat itu.
Aku baru sadar tidak ada satupun orang di VIP room tersebut, padahal ada 5 buah meja disana. Sampai diluar pun tidak tampak orang lain selain dirinya dan Dira. Aku bergidik.
Selama perjalanan pulang aku baru menyadari juga kalau ternyata aku baru saja menikmati candle light dinner dengan pengusaha ternama.
__ADS_1
"Ya Tuhan hari macam apa ini, kenapa tadi rasanya seperti bukan candle light dinner tapi lebih ke vampire night dinner, rasanya aku kayak mau di makan hidup-hidup Iyah dimakan dalam arti sebenarnya hihhh"
"Bli Galang cintaku, aku kangen!!!" Aku bergumam sendiri.