
Aku makan dengan lahap, kuanggap saja aku sedang makan sendiri bukan bersama Dira.
Dira sambil makan pun masih menatapku dengan penuh arti. Berulang kali dia mencoba mengambil selembar tisu dan mengelap sudut bibirku, selalu dengan cepat dan lembut ku turunkan tangannya sambil menggeleng.
"Nami cara menolakmu pun halus yah, saya suka. Kalau Nami berulangkali juga memegang tangan saya seperti tadi saya jadi tidak masalah" katanya kemudian sambil terkekeh
Aku hanya bisa menggeleng kehabisan kata-kata. "Seandainya saja orang ini tidak memiliki kekuasaan dan pengaruh besar, mungkin sudah sejak tadi kutinggalkan dia di restoran ini sendiri"
Aku telah selesai dengan makan siang ku. Kulihat dia sengaja berlama-lama menikmati makan siangnya. Aku memeriksa ponselku, tak ada pesan balasan dari Galang " Apa ada sesuatu yang terjadi ya? Tidak biasanya dia begini " Pikiranku di penuhi oleh kemungkinan-kemungkinan buruk mengenai Galang.
Dira terlihat kesal dan menghentikan makannya saat melihat aku memeriksa ponsel dan warna wajahku berubah khawatir.
"Sebaiknya kita kembali, saya juga masih ada jadwal meeting lainnya Nami" Katanya lalu memanggil pramusaji dan memberikan debit cardnya.
Pramusaji telah kembali dan menyerahkan bon pembelian beserta debit card berwarna platinum itu kembali.
Dira beranjak dari tempatnya duduk , aku mengikutinya dari belakang. Dia berhenti dan menarik tanganku untuk digenggam sambil berjalan. Aku yang kaget berusaha melepaskan tanganku dengan pelan tapi genggaman tangannya sangat erat. "Dira saya mohon jangan seperti ini, ini tidak baik dilihat orang di muka umum" aku berbisik
Dia tersenyum dan ikut berbisik ditelingaku "jadi kalau bukan tempat umum artinya boleh yah? " Dia terkekeh
Aku terperanjat mendengar ucapannya.
"Saya senang kita berbisik seperti ini ditempat umum" Katanya lagi lanjut tersenyum geli.
Aku hanya bisa menghela napasku.
Sesampainya dalam mobil, dia menangkap lagi tanganku. Aku menghindarinya, dan menatapnya malas "Dira... " Aku memekik lemah . Dira tertawa tergelak.
"Ok, i'm sorry. Saya tidak bermaksud membuatmu kesal. Tapi terus terang saya merasa nyaman dengan kedekatan kita. Maaf kalau kurang berkenan" Katanya sopan. Dira tampak diam sejenak dan berujar kembali
"Tahu nggak ekspresimu lucu kalau lagi marah, kita sudahi saja formalitas ini, jangan pakai saya, anda. Aku bosan mendengarnya. Kalau di depan banyak orang aku mengerti tapi kalau hanya kita berdua please hentikan formalitas itu".
Aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. "Hah? Diganti pake aku kamu?, benar-benar orang ini seenaknya dia saja. Ok kalau itu memang maumu" Aku menggeleng
"Hayoo!! apa yang ada dalam benakmu Nami, katakan saja. Aku takkan marah. Aku tahu banyak hal ada di pikiranmu saat ini, dan aku ingin tahu. Bagiku apa yang kamu katakan itu murni bukan karena ada maksud tertentu. Aku bosan dengan orang-orang yang setiap hari bersikap ramah padaku tapi dalamnya busuk"
"Kita kembali saja ke kantor Dira, pekerjaanku banyak yang tertunda"
__ADS_1
"Nah itu, aku menunggu jawaban biasa seperti ini, kita akan kembali tapi tidak sekarang"
Aku melotot kearahnya, Dira tersenyum puas
"Pak Nyoman kita ke rumah Sunset Road yah" Katanya pada pak Nyoman yang sedari tadi tidak bergerak di belakang setir.
"Iyah pak" Jawabnya singkat seperti biasa
"Kenapa aku harus ikut Dira? Waktu makan siangku sudah habis"
Dira hanya tersenyum penuh misteri.
Sementara itu , Pak Dito tampak gelisah di dalam ruangannya, dia beranjak ke meja Bu Ida
"Bu Ida, ada kabar dari Nami? Kenapa dia belum kembali yah padahal sudah lewat waktu makan siang" Tanya pak Dito khawatir
"Belum ada pak, saya kok juga jadi khawatir yah pak. Saya pikir tadinya pak Sudira orangnya tidak senekat ini" bu Ida menjawab
Pak jiwa mendekat ke arah mereka "pak Dito harusnya tadi jangan membiarkan Nami pergi bersama orang itu, saya dengar kabar yang kurang baik pak tentang dia"
"Jadi bagaimana yah ini, saya jadi merasa bersalah tadi malah saya yang menyuruh Nami ikut pergi"
pak Dito mengirimkan pesan
Pak Dito: " Lagi dimana Nami, sudah selesai makan siangnya? "
Ponselku bergetar tanda ada pesan yang masuk. Aku memeriksa ponsel ku
"Siapa? " Tanya Dira
"Pak Dito " Sahutku cepat
Dira memiringkan badannya ikut melihat ponsel Nami
Aku merasakan Dira mendekat, kujauhkan badan dan ponselku kekanan.
Dira tampak tidak suka, tangannya yang panjang meraih ponselku dari belakang tubuhku. Aku yang tidak menyangka nya sama sekali, harus merelakan ponselku ditarik oleh Dira.
__ADS_1
Dira lalu mengetik balasan pada ponselku
Aku : " Saya Sudira, makan siang telah selesai tapi saya pinjam Nami sebentar lagi. Tenang saja pak Nami akan kembali dengan utuh kok ☺"
pak Dito: iyah pak, saya khawatir karena Nami belum kembali ke kantor.
Aku menatapnya kesal.
Dira mengembalikan ponselku dan menyandarkan tubuhnya pada jok mobil dengan mata terpejam tanpa rasa bersalah.
Aku hanya bisa memperhatikan jalanan yang tampak macet siang ini.
Kami telah sampai di sebuah rumah yang besar bergaya Mediterania. Dira keluar dari dalam mobil.
"Bu Nami, maaf saya agak lancang. Maafkan Kelakuan pak Sudira yah. Sebenarnya dia orang baik, hanya kurang perhatian saja bu. Selama saya bekerja dengan beliau banyak sekali bantuan yang saya terima, pekerja lain juga sama bu. Tuntutan pekerjaan dan lingkungan keluarganya yang ketat membuat dia jadi seperti ini bu. Dulu waktu beliau masih remaja suka sekali melukis, waktu itu saya baru saja bekerja disini, jadi saya tahu beliau seperti apa. Kasihan beliau kesepian, semua orang yang datang kepadanya termasuk teman dan wanita semuanya mempunyai kepentingan. Tidak ada yang tulus, waktu saya tahu beliau bertemu wanita seperti Bu Nami saya jadi merasa sedikit lega. Ada teman yang bisa beliau ajak bercanda dan makan bersama tanpa kepentingan apa-apa"
"oh yah pak, jadi selama ini Dira memang selalu sendiri? "
"iyah bu, tapi tolong jangan adukan omongan saya yah bu"
"iyah pak tenang saja" kataku sambil tersenyum
Dira sudah kembali ke dalam mobil dengan membawa bantal sofa kecil.
"Pak Nyoman, bapak masuk kedalam dulu yah, nanti 20 menit bangunkan saya" katanya pada pak Nyoman.
"iyah pak" pak Nyoman lalu keluar dari dalam mobil.
Aku bingung mendengar kata-kata Dira. Dira kemudian meletakkan bantal kecil itu di pangkuanku dan ia menidurkan kepalanya disana dengan cepat. Aku yang ingin bergerak menghindar hanya bisa pasrah kala kepalanya sudah berada di pangkuanku.
Dira menatapku sejenak lalu memejamkan matanya dan tertidur.
Aku kehilangan kata-kata tanpa mengerti kenapa bisa ini terjadi. "Ya Tuhan apalagi ini, kenapa aku harus memangku kepala orang ini, pengin aku jitak rasanya" aku menggerutu
"aku masih bisa mendengarnya Nami heheheh, jangan banyak bergerak, ijinkan aku sebentar saja beristirahat disini" katanya pelan.
"Aku berada diantara perasaan kasihan dan sebal.
__ADS_1
seperti kata pak Nyoman, kasihan sekali Dira. sebagai orang penting dia pasti harus menjaga image nya selalu tetap baik. kalau orang-orang tahu dia begini apa jadinya. kemungkinan besar akulah yang akan dianggap wanita tidak benar. Di gosipkan menggoda seseorang demi uang karena aku bukan siapa-siapa"
"Ok aku akan menunggu dia bangun, mengantarkan aku kembali ke kantor, dan semua hal berjalan normal kembali". aku berkata dalam hati.