
Beberapa hari ini aku bekerja seperti biasa, mungkin karena sangat sibuk aku tidak sempat berfikir banyak tentang hubunganku dengan Galang. Aku hanya rindu padanya saat-saat jeda aktivitasku seperti waktu makan siang ini. Tiba-tiba saja aku rindu teramat sangat pada Galang. Sesaat telepon internal di mejaku berbunyi.
"Selamat siang, Sales dan marketing dengan Nami, ada yang bisa saya bantu?"
"Siang Nami, masih sibuk atau sudah selesai? bisa ke ruangan saya sebentar? " Terdengar suara pak Dito dari ruangan sebelah.
"Ok Pak saya ke ruangan bapak sekarang"
Setelah menutup telepon aku bergegas ke ruangan pak Dito
"Tok tok tok" Aku mengetuk pintu ruangan pak Dito
"Masuk Nami"
"Iyah pak" Aku memasuki ruangan pak Dito dan langsung duduk di kursi depan mejanya.
Pak Dito memandangiku dan tersenyum
" Bagaimana pak? " Aku berkata dengan wajah bingung.
"Kayaknya aneh kalau saya membicarakan hal personal dikantor, tapi kalau saya mengajak kamu makan siang kayaknya lebih aneh lagi rasanya"
" Hmm masalah saya sama Galang?
"Iyah, sepertinya saya harus menjelaskan beberapa hal sama Nami"
"Baik, gimana kalau sekalian makan siang saja pak sudah waktunya" Aku melihat jam pada ponselku.
"Ok kita makan siang didekat kantor saja yah, di food court sebelah mungkin? "
"Boleh pak"
"Nami saya sebagai teman Galang merasa perlu membantu, sebagai atasan saya merasa sepertinya saya mencampuri urusan pribadi staff rasanya seperti tidak profesional, jadi yah kamu mengerti kan maksud saya"
Aku tersenyum dan hanya mengangguk kecil.
Pak Dito beranjak dari duduknya, menutup laptopnya dan meraih ponselnya di meja.
"Bapak duluan saja, saya merapikan meja kerja sebentar dan nanti langsung menyusul"
"Ok" Sahut pak Dito cepat
Setelah memesan makan siang masing-masing aku mengikuti pak Dito duduk di meja yang telah kita sepakati bersama saat memesan makanan tadi.
"Maaf yah Nami saya sepertinya harus mencampuri urusan pribadimu dengan Galang. Saya sudah mendengar semua ceritanya dari Galang" Pak Dito memandangku dengan muka serius
" Ya pak"
"Jadi hubungan kalian sekarang gantung? "
"Bisa dibilang begitu, lebih tepatnya saya tiba- tiba merasa belum siap pak"
" Saya kenal Galang cukup lama, dia orangnya apa-apa pasti inginnya cepat tidak suka menunda-nunda, tapi baru kali ini saya lihat dia sabar menunggu. Bukan hanya menunggu saat hubungan kalian menggantung seperti ini, tapi dimulai saat dia tertarik sama kamu Nami" Suara pak Dito terdengar hati- hati
__ADS_1
" Sebelumnya dia pernah suka sama seorang wanita tapi tidak seperti saat dia bertemu kamu, beda sekali lebih berhati-hati dan penuh perhitungan. Setiap dia ke kantor yang dicari sebenarnya yah siapa lagi, padahal kenal aja belum kan yah hahahaha" Pak Dito tertawa geli
Akupun tersenyum geli mendengar kalimatnya yang terakhir itu.
"Yang saya lihat dia mau serius sama kamu, jadi dia takuuut sekali gagal. Belum pernah saya melihat dia menginginkan sesuatu itu seperti saat dia ingin mengenal kamu lebih jauh. Dia lelaki yang baik Nami, bahkan sangat bertanggung jawab. Bukan karena kami berteman yah saya bilang baik-baik tentang dia tapi karena kami bertemanlah saya jadi tahu kualitas dia".
" Dia yang minta bapak bicara sama saya? "
" Ohh nggak kok, beneran! dia bahkan awalnya nggak mau cerita tentang permasalahan kalian tapi setelah saya paksa baru akhirnya dia bercerita. Saya pengin ngobrol sama kamu yah karena saya peduli dengan kalian berdua. Saya nilai beberapa bulan kamu bekerja di kantor, kamu termasuk wanita yang baik dan saya suka kalau orang baik jadi dengan yang baik juga, itupun kalau berjodoh yah"
"Berat banget bahasannya pak hehehe " Aku terkekeh
"Kamu nggak kangen sama dia?! " Selidik Dito
Aku diam sejenak dan berkata "Gimana yah pak, kalau ditanya kangen, yah jelas, tapi boleh kan saya mundur beberapa langkah sebentar saja. Saya bisa suka terus pacaran lagi setelah sekian tahun itu rasanya keajaiban buat Saya pak. Setelah kebahagiaan datang lagi tiba-tiba ada kejadian seperti ini rasanya saya masih kaget. Perasaan kehilangan Galang itu nyata banget pak dan masih membekas disaya. Perasaan sedih, takut, tak berdaya rasanya sesak banget"
"Maaf yah Nami kalau saya boleh simpulkan, Nami sepertinya sempat trauma yah dengan hubungan sebelumnya " Dito terlihat hati-hati mengatur kata-katanya
Aku mengigit bibirku karena merasa ucapan Dito benar "Entahlah pak"
"Saya tahu Nami merasa kurang nyaman membahas ini, tapi rasanya setelah kita bicara ini saya jadi mengerti kenapa sementara tidak mau bertemu dengan Galang"
Aku hanya bisa mengangguk pelan
Kita berdua tidak melanjutkan obrolan ini, yang terdengar hanya suara sendok dan piring yang beradu diatas meja.
"Pak nanti bapak akan bilang ke Galang apa yang saya sampaikan tadi ke bapak? " Aku berkata memecah kesunyian
"Sepertinya nggak, saya merasa kalian masih sama- sama saling cinta, itu saja sudah membuat saya lega, justru kalianlah yang harusnya bertemu dan berbicara banyak tentang ini" Pak Dito tersenyum sedikit
"Hi" Aku mengangkat teleponnya
"Dimana? makan siang yah?"
"Iyah di food court sebelah kantor sama pak bos"
"Aku baru nyampe kantormu, aku kesitu yah mau kasih tiket konser Band Sephia 7"
"Eh serius buat kapan? " Tanyaku semangat
"Bentar, aku kesitu "
Sejenak setelah menutup telepon dari Beni Aku menoleh kearah pintu masuk food court.
"Siapa? " Tanya Dito
"Teman saya pak ngajakin nonton konser"
"Oh itu dia!" aku langsung berdiri saat Beni memasuki food court, badannya yang tinggi besar terlihat tegap mendekat ke arah Nami.
Nami tersenyum lebar melihat Beni yang juga tersenyum kearah Nami.
"Ganteng amat, kerja apa kondangan" Goda Nami
__ADS_1
"Hahahaha bisa aja kamuhhhh, ini aku kasih dua, Beni menyerahkan dua lembar tiket.
" Eh sebentar" Aku menarik lengan Beni menjauh dari mejaku sementara Dito hanya melihatku dari kejauhan.
"Kenapa Nam? Jangan- jangan kamu selingkuh ma bosmu yah?! " Bisik Beni dengan air muka yang menegang
" Hah?! Bukan , enak aja, kan dia teman dekatnya Galang Ben dan aku lagi diajakin ngobrol soalnya aku lagi ada masalah sama Galang"
"Duh drama rumah tangga apa lagi kali ini?! pacaran baru sebentar sudah cekcok aja kamuh hahahaha"
" Ck... Nanti deh aku ceritain, konsernya Sabtu besok yah? Eh ini konsernya disponsorin sama kantor kamu yah? " Aku membaca tiket yang diberikan Beni
"Iyah, yang punya event itu Klien, jadi kantorku ikutan jadi sponsor juga. Sabtu besok , dateng yah kamu bawa aja kedua tiketnya siapa tahu sama Dewi apa kakakmu gitu"
"Bli putu lagi sibuk banget dia nggak enak ganggu, Dewi tiap sabtu shift malam"
"Ya sudah aku jemput, Shinta juga kebetulan pulang kampung, malah dia yang nyuruh ngajak kamu"
"Tumben nyuruh ngajak aku hahahaha"
"Karena aku cerita kamu sudah punya calon suami hehehehehe " Beni terkekeh
"Oh pantes"
"Ya deh aku mau ke kantor lagi, baru saja selesai meeting deket sini makanya sekalian"
" Ya kabarin kalau kamu mau jemput jam berapa"
"Sip Nami aku pergi dulu" Beni memelukku dengan cepat dan berjalan cepat keluar dari food court tersebut.
Aku memandang punggungnya sambil tersenyum.
"Temen apa temen "?! Kata pak Dito tiba-tiba saat aku telah duduk kembali.
" Temen kok pak " Jawabku santai
"Kelihatannya dekat banget sama kamu, ganteng juga, kalau Galang tahu pasti kalang kabut dia hahahaha"
Aku hanya tertawa geli.
"Konsernya dimana? Dan kapan? "
"Di art Center pak hari Sabtu ini "
"Kamu nontonnya sama teman kamu"
"Iyalah pak masak sama pak Dito hahahaha " Aku sengaja mengarahkan pembicaraan ini
agar pak Dito menceritakannya pada Galang, entahlah tiba-tiba aku merasa ingin sekali mengerjainya.
Setelah menyelesaikan makan siang, pak Dito segera beranjak dari tempat duduknya
"Saya duluan yah Nami, apapun yang terjadi nanti sama kalian saya akan tetap seperti biasanya" Pak Dito tersenyum dan bersiap pergi
__ADS_1
" Iyah pak saya mengerti" Aku memandang punggung pak Dito yang menjauh, dan kemudian pandanganku beralih ke tiket konser yang diberikan oleh Beni tadi. Pasti menyenangkan sekali konser ini gumamku dalam hati.