
Kukenakan cardigan hitam favoritku sebagai sentuhan terakhir outfit casualku untuk malam ini. Kuperhatikan kembali dalaman camisole putih dan celana jeans model boyfriend serta sepatu keds putih yang telah melekat sejak sepuluh menit lalu di badanku, "sepertinya sudah pas" Aku bergumam sendiri
Entah kenapa aku hari ini merasa perlu memperhatikan penampilanku. Padahal biasanya aku lebih menyukai memakai kaos dan celana panjang jeans saja untuk hal santai begini.
Kusemprotkan parfum dengan wangi buah peach dan jasmine tepat di tengkuk dan pergelangan tanganku, kuperhatikan sekali lagi make-up tipis yang kukenakan, kurasa cukup.
Waktu sudah menunjukkan pukul 17:00, segera kuambil tas kecil yang sudah siap sedari tadi di atas tempat tidur dan keluar kamar menuju teras depan.
Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan rumah.
"Mek yang mejalan" (Bu saya berangkat) sahutku sambil berjalan melewati dapur
"Nah hati-hati dijalan, Beni be teka? " (Iyah hati-hati dijalan, Beni sudah datang? " Ibu muncul dari dapur mengikutiku ke pintu depan.
"To ye be teka didepan" (Itu dia sudah didepan) aku menunjuk kearah mobil Beni yang baru saja berhenti didepan rumah.
Kubuka pintu gerbang "yuk ah langsung aja"
Beni yang sudah keluar dari mobil berniat untuk pamitan kepada Ibu Nami jadi berhenti dan menoleh kearah Nami dan Ibunya yang ikut menyusul dari belakang.
"Bu, tiang langsung aja nggih, ten singgah malih"(Bu saya langsung saja yah, nggak mampir dulu ) Kata Beni sambil tersenyum
"Iyah, hati-hati di jalan yah, eh iya Shinta nggak diajak Beni? "
"Kari di kampung bu, wenten acara keluarga dadine ajak Nami gen niki"(Lagi dikampung bu ada acara keluarga, jadi sama Nami saja ini) "
" Oh keto, Titip Nami yah men nakal ye pilur gen" (Oh gitu, titip Nami kalau nakal jewer aja) Kata Ibu sambil tertawa
"Hahahaha Iyah bu siap" Sahut Beni sembari masuk ke mobil kembali kebelakang setir.
Nami menjulurkan lidahnya ke arah Beni dengan muka merengut sambil membuka pintu mobil Beni dan langsung duduk disebelahnya.
__ADS_1
"Dah emek" (Dah Ibu) aku melambaikan tanganku kearah Ibu
Ibuku tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Jalanan Denpasar menjelang malam minggu cukup ramai, tapi belum terlihat kemacetan yang biasanya terjadi pada saat malam minggu. Kemungkinan karena jam pulang kerja, orang-orang masih dalam perjalanan pulang atau bisa jadi masih bersiap-siap dirumah masing-masing. Seperti biasa aku duduk dengan nyaman di mobil Beni dan mulai menghidupkan radio mencari-cari siaran yang memutar lagu yang enak didengar.
"Ceritanya lagi marahan yah sama Galang? Sering banget berantemnya, biasanya jodoh loh yang begini" Beni nyengir membuka obrolan sambil serius menyetir mobil.
"Ya gitu deh"
"Ya gitu deh apa? Jodohnya apa berantemnya?"
"Jadi gini Ben... " Akupun mulai bercerita awal mula permasalahan aku dan Galang.
Begitu selesai bercerita Beni dengan suara menggelegar "Eh kurang ajar banget yah Bumi, ikut campur urusan orang, lagian kamu ngapain sih masih komunikasi sama dia? "
"Marah juga dong sama Galang kenapa dia nggak cerita apa-apa ke aku. Aku kan pacarnya, siapa yang nggak salah paham, terus merasa kayak ditipu, kalau Bumi nggak info ke aku kan aku juga jadi nggak tahu"
"Sama aja sebenarnya, hanya saja mungkin kamu akan lebih bisa menerima kalau Galang yang bercerita langsung bukan seperti kemarin itu kan? " Tanya Beni dengan nada yakin
"Iyah sih Ben"
"Artinya kan yang salah sebenarnya Bumi, ikut campur urusan kalian, sengaja itu sih namanya. Kamu juga kenapa masih baik sama si Brengsek itu, masih suka yah? "
"Nggak lah enak aja..." Sahutku sewot
"Terus sampai kapan kamu bakal diemin Galang kayak gini, kasihan dia. Dewasa sedikit Nam, coba kamu ada di posisi dia. Lagi sayang-sayangnya sama seseorang terus karena salah paham, hubungan kalian jadi gantung gak jelas. Kamu jadi nggak ngerti mesti ngapain dan menunggu sampai waktu yang kamu juga nggak tahu, nggak jelas banget" Suara Beni terdengar kesal.
"Aku nggak dewasa Ben? Kamu rasanya lebih membela dia ketimbang mencoba mengerti perasaanku. Kamu tahu hari itu, setelah melihat mereka duduk bersama, mereka mengobrol, tertawa lepas aku melihat mereka seperti keluarga yang sangat bahagia dan aku seketika merasakan sakit yang luar biasa. Perasaan malu, perasaan tidak pantas dan banyak hal tiba-tiba penuh mengisi pikiranku. Dadaku rasanya sesak, sakit banget Ben. Duniaku rasanya seketika runtuh. Aku nggak siap Ben sama perasaan sakit ini lagi setelah beberapa tahun itu. it's so fuckin hurtss.... aku... aku... merasa rasa sakit dulu itu datang lagi bahkan lebih sakitttt" Aku menghela nafas dan memalingkan wajahku kearah jalan, air mataku tiba-tiba saja menggenang dan menyeruak keluar dari mataku tanpa bisa dicegah. Aku mengambil tisu dari dasbor mobil Beni dan menghapus air mataku.
"Damn! aku sebaiknya pulang yah Ben. Aku tiba-tiba nggak mood kemana-mana" Aku berkata sambil menekan kedua cuping hidungku dengan tisu.
__ADS_1
Beni tiba-tiba berbelok dan menghentikan laju kendaraannya tepat didepan sebuah ruko yang telah tutup.
"Maafin aku Nam" Beni berkata lirih sambil menyentuh tanganku.
"Sekian tahun kita berteman ternyata aku juga tidak cukup mengenalmu dengan baik. Aku tadinya pikir ini hanya keisengan dan keegoisan mu yang kumat, aku nggak menyangka perasaannmu sama Galang sedalam itu. Aku baru mengerti ternyata bukan hanya salah pahamnya yang membuat kamu menjauh yah Nam, tapi lebih ke nyesek yang kamu rasain itu yang membuat kamu ragu untuk menjalani lagi hubungan ini. Dan kamu butuh waktu"
Aku mengangguk pelan
"Apa aku bisa kembali dengan perasaanku yang sebelumnya yah Ben? Apa dia mengerti rasa sakit yang aku rasakan waktu itu? , kalau dia mengerti harusnya dia cukup sabar untuk menunggu"
"Kalau kamu pengin tahu kenapa kamu tidak membahas hal ini dengan Galang secepatnya? "
"Aku perlu mengurangi sedikit perasaan sakit menyebalkan itu sebelum bertemu dia kembali Ben, aku takut kalau terburu-buru bertemu keputusan yang aku ambil salah dan aku menyesal. Aku ingin tahu setelah lama tidak bertemu apa aku masih cinta? "
"Menurut kamu kapan waktu yang tepat kalian bertemu kembali? Maksudku membicarakan semua ini? " Beni terdengar berhati-hati memilih kata-kata
"Hmm kapan yah"? Aku menghela nafas kembali
" Nam kalau aku boleh saran sih yah, kalau terlalu lama berpisah bisa saja perasaan salah satu atau kalian berdua berubah, semakin lama semakin tidak baik. Sepertinya juga kamu sudah mendapatkan banyak waktu memikirkan masalah ini sebaiknya sih secepatnya bertemu, daripada berlarut-larut. Kamu rela dia akhirnya menyerah dan memutuskan untuk pergi dari kehidupanmu selamanya? Yakin kamu kuat? "
"Entahlah Ben, Anggap aja nggak jodoh yah" Jawabku enteng agar tidak terlalu memikirkan hal tersebut.
"Beneran nih bisa segampang itu? Semua perlu usaha Nam, kalau kamu diam aja kayak gini kamu nggak dapat apa-apa. Dan kita berdua tahu itu. Ayolah Nam kamu bukan wanita yang menerima begitu saja takdir tanpa usaha sama sekali kan?"
"Iyah aku tahu, nggak usah dipanjangin lagi ah..
Aku tahu apa yang aku lakukan Ben, resiko aku tanggung sendiri jadi kamu nggak usah terlalu khawatir. Bukannya kita mau nonton konser yah? Kok jadi serius begini? " Aku memandang Beni dengan senyum manis
"Satu pertanyaan cepat sebelum kita jalan lagi, setelah semua yang kamu rasakan, apa cintamu sekarang masih sebesar itu buat Galang Nam?"
"Masih" Aku menjawab dengan cepat
__ADS_1
"Ok kalau begitu yuk jalan lagi" Beni terlihat puas dengan jawabanku dia tampak tersenyum lebar ketika membelokkan mobilnya kembali ke jalan raya.