Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
Kabur


__ADS_3

"Dira lepaskan aku, aku tidak mau ada lebih banyak lagi masalah dihidupku. Kalau begini terus hidupku akan terancam" Suaraku terdengar parau.


"Tidak Nami, aku takkan membiarkannya terjadi"


"Sudah terjadi Dira, aku sudah mendapatkan ancaman dari Ibumu"


"Apa yang ibuku katakan"? Tanyanya sambil meregangkan pelukannya


"Aku rasa kau yang lebih tahu Dira, menurutmu dia sudah mengatakan apa padaku?? "


Dira hanya terdiam mendengar ucapanku.


Aku mengeluarkan selembar cek dari dalam tasku dan melemparkannya ke wajah Dira


"Dimata ibumu aku hanya seharga ini" Airmataku kembali mengalir "dia bilang aku kampungan dan hanya menginginkan hartamu" Aku tertawa sinis "tadinya aku memang mau membawa pulang cek itu. Lumayan , setelah hatiku sakit karena di hina setidaknya aku bisa gunakan uangnya untuk kehidupanku, jadi aku tidak terlalu rugi kan?! "


Dira nampak tertegun dengan apa yang baru saja aku katakan.


"Kamu pergilah ke dalam, jangan hiraukan aku. Aku juga masih ingin hidupku baik-baik saja Dira. Hidup kita berdua memang berbeda, seperti kata ibumu kita tidak selevel. Haruskah aku mengatakan semua hinaan ibumu agar kamu sadar dunia kita memang berbeda? " Ucapku pelan.


Dira menggeleng "aku tidak mau meninggalkanmu seperti ini Nami. Aku minta maaf dengan semua hal yang diucapkan Ibuku, karena aku tahu kamu bukan wanita yang seperti itu" Katanya sambil menatapku lekat. "Aku antar kamu pulang yah? "


Aku menggeleng "tidak usah Dira"


Sementara itu Galang sedang mencari angin segar ditaman. Pikirannya melayang mengingat kejadian di function room. Nami dengan tersenyum ramah diperkenalkan kepada orang tua Pak Sudira dan kemudian dibawa kedalam villa oleh Pak Sudira. Perasaan tidak rela dan marah membuat dia keluar dari tempat acara dan berada disini. Sekitar 2 jam lamanya ia duduk diantara rerumputan dan tanaman perdu. Dito yang sudah sejak tadi ingin pulang hanya bisa menunggu pasrah di lobby, dia tahu Galang sedang ingin sendiri untuk sementara waktu.


Kemudian dia mendengar suara Nami berteriak pada Dira. Galang dengan cepat berlari mencari sumber suara itu, Dari kejauhan Gani yang sedang memperhatikan Galang dibelakangnya merasa iba. Padahal di awal ia sangat ingin sekali menggantikan posisi Nami, tapi setelah melihat bagaimana Galang masih sangat mencintai Nami ia jadi kasihan. Apalagi setelah tahu Nami ternyata juga tidak membuka hatinya sama sekali untuk Pak Dira.


Ia melihat Galang berlari ke arah Nami, dengan segera ia hadang. "Jangan Pak Galang!!!, kalau sampai Pak Dira tahu ini akan menjadi masalah yang sangat besar untuk pak Galang. Sudah setengah jalan pak, sayang sekali kalau semuanya hancur karena bapak tidak bisa menahan diri" Gani berkata dengan nada khawatir.

__ADS_1


Galang terpaksa harus mengurungkan niatnya untuk mendekati Nami dan kembali duduk si posisinya semula. Gani yang merasa situasi sudah terkontrol lalu melangkah pergi kembali ke function room.


Pak maaf saya mengganggu, anda sebaiknya kembali ke dalam, Nyonya sepertinya sedang mencari Anda" Kata seorang laki-laki yang tiba-tiba saja muncul.


"Ok sebentar lagi saya kesana" Laki-laki itu berbalik pergi meninggalkan mereka.


"Tunggu sebentar" Staff tersebut berhenti, Dira mendekatinya dan berbisik.


"Nami tunggu aku disini yah, aku akan mengantarkanmu pulang. Please tunggu sebentar saja" Kata Dira memohon.


Aku tidak menjawab ucapannya.


Dira kemudian bergegas pergi meninggalkan aku dan staff laki-laki nya ini." Wajah orang ini terlihat serius tanpa senyum sama sekali. Badannya besar dan kekar, kenapa aku merasa orang ini bodyguardnya Dira yah?" Aku berkata dalam benakku.


Setelah aku yakin dia telah masuk ke dalam,dengan cepat aku beranjak dari bangku itu.


"Maaf Bu kata pak Sudira, ibu tidak diperkenankan untuk meninggalkan tempat ini"


"Ahh benar kan dugaanku, orang ini tukang pukulnya Dira. Nami, Jadi sekarang kamu ini semacam tawanan Dira. Sebaiknya kamu pikirkan bagaimana caranya kabur dari tempat ini ASAP!!"


"Pak saya mau ke toilet sebentar boleh?!!"


"Tapi Bu saya diperintahkan untuk melarang ibu ke mana-mana" Katanya Dingin


"Hah?? Jadi kalau saya mau ber*k, itu harus disini juga!!!?" Kataku kesal dengan suara meninggi.


"Maaf bukan begitu maksud saya Bu, hmm silahkan ke sebelah sini " Akhirnya orang itu mengarahkan aku menuju ke toilet


Galang yang masih memperhatikan dari kejauhan bisa mendengar percakapan antara Nami dan staff laki-laki itu. Dia tahu Nami dilarang untuk pergi dari sana sebelum Dira datang. Segera saja ia mengekor kepada mereka berdua.

__ADS_1


Nami telah masuk ke dalam toilet, tapi dia masih bisa melihat Nami mengintip dari pinggiran tembok.


"Pak permisi" Kata Galang mendekati staff tadi yang sedang berjaga di depan pintu toilet. Laki-laki itu menoleh ke arah Galang


"Ya pak, ada yang bisa saya bantu" Katanya Sopan


"Pak bisa minta tolong bantu saya mencari cincin di sekitar sini pak, saya kehilangan cincin. Kalau ketemu nanti saya beri imbalan" Kata Galang berbisik


Aku mengintip dari balik tembok, aku bisa melihat Galang mendekati orang itu dan mereka berbicara dengan bisik-bisik. Saat mereka berbisik itulah Nami memutuskan bergegas kabur dari toilet itu dengan berjingkat cepat, tanpa menoleh kembali. Untung saja Nami sudah cukup terbiasa memakai sepatu berhak tinggi. Jadi cukup mudah baginya untuk lari terbirit-birit melewati taman.


"Apa tadi Galang sengaja mengalihkan perhatian orang itu demi aku yah? , atau jangan-jangan memang dia tidak tahu aku sedang diawasi oleh orang itu. Tapi aku untung saja dia berbicara dengan orang itu, jadi aku bisa kabur" Aku berpikir sendiri masih sambil bergerak cepat.


Setelah menyelinap kesana kemari, diantara pepohonan dan patung-patung, akhirnya aku sampai di gerbang pintu masuk kawasan Villa ini. Aku bersembunyi bersandar di belakang patung pertama di gerbang pintu masuk villa. Napasku memburu, untung saja patung-patung yang berjejer ini cukup besar, memudahkan aku untuk sampai disini. Ponselku bergetar tampak nama Dira disana. Berkali-kali ia menghubungi ku, sengaja tidak ku angkat. Kemudian ada pesan masuk dari Dira


Dira: "kamu dimana? Jam segini tidak akan ada taksi yang lewat"


Dira: "Jangan seperti ini Nami, kalau terjadi apa-apa denganmu aku akan menyesal seumur hidupku. Tolong beritahu aku posisimu"


Aku pun akhirnya menjawab


Aku: aku baik-baik saja, kamu jangan khawatir. Aku bisa menjaga diriku dengan baik.


Dira: aku yakin kamu masih berada di sekitar sini


Aku: aku sudah dalam perjalanan pulang Dira.


Setelah pesanku terkirim ku masukkan ponsel ku kembali. Aku mengintip situasi di pintu gerbang itu. Bapak penjaga rupanya sedang sibuk menjawab HT-nya. 5 menit Kemudian Aku mendengar ribut-ribut beberapa staff keamanan yang ternyata sedang mencariku sampai ke depan kawasan villa.


Terdengar suara dari salah satu orang itu " Pak, ada melihat gadis bergaun hitam berjalan keluar dari sini pak?!"

__ADS_1


Rupanya ia ingin memastikan lagi kepada satpam yang berjaga didepan. Padahal tadi satpam itu sempat bicara melalui HT bahwa ia tidak melihat seorang gadis keluar dari sini.


Staff keamanan Dira akhirnya berbalik kembali ke Villa. Aku memutar otak ku bagaimana caranya agar aku bisa keluar dengan selamat dari penjagaan satpam ini. Ku lihat tembok di belakang patung ini sepertinya bisa ku panjat dengan mudah, belum lagi ada banyak pohon besar yang siap menyembunyikan aku didepan tembok tersebut.


__ADS_2