Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
Alasan Nami


__ADS_3

Hujan makin deras malam ini aku merasa hari ini benar-benar penuh dengan kejutan.


"Jalan sama kamu itu penuh kejutan yah Nam" Galang menggeleng sambil tersenyum heran. 


"Gung de terlihat sedih saat bicara tentangmu tadi.  Kalian pasti akrab sekali dulu, dari dia tahu nama lengkapmu sekaligus manggil nama depan kamu Ayu"


"Mmm gimana yah"? Aku menjawab dengan enggan.


" Pasti kamu punya alasan Nam,  kalau aku jadi cewek pasti senang dong ketemu cowok seperti Gung de, sudah mandiri,  mapan,  gagah,  termasuk ganteng loh dia,  kayaknya tipe yang setia banget "


"Memang. Tapi lebih ke posesif sih kayaknya dia"


"Mmm aku mau dengar ceritanya seperti apa ,pengin tahu versi Nami aja, boleh? " Galang menoleh 


"Ok boleh, Ya deh aku cerita aja, ini awalnya seperti yang kamu dengar dari Gung de, karena sering ketemu aku jadi akrab sama dia"


" Terus terang Aku ngerasa kok kalau dia suka sama aku, sampai orang tuanya pun kayaknya sayang banget. Dasar akunya aja yang nggak tahu diri yah" Aku menghela nafas


" Waktu itu Setelah berfikir secara matang aku punya beberapa pertimbangan Galang"


Aku menoleh kearah Galang yang tampak tenang mendengarkan ceritaku.


" Pertama Usia aku sama dia terpaut sekitar 7-8 tahun gitu menurutku perbedaannya cukup jauh, dia sudah matang siap untuk kejenjang berikutnya, sedangkan aku baru memulai karirku, baru lulus,  aku tidak mau karirku terhenti begitu saja. Sudah pasti kalau aku mulai pacaran pasti langsung diajak serius. Aku yakin dia akan buru- buru mengajak menikah"


"kedua dia dari keluarga berkasta Galang,  aku merasa kalau aku masuk kelingkungan itu paling tidak harus mengikuti peraturan tertentu yang aku  nggak sanggup menjalaninya di umur segitu"


"Ketiga dia walaupun mungkin bakalan setia dan sayang banget sama aku,  dia sepertinya posesif. Dulu setiap ada teman yang telepon atau kirim SMS dia pasti nanyanya detail banget dengan muka nggak suka. " Siapa yang telepon? kenapa temannya nelepon? kenal dimana? Padahal jadi pacar saja belum. Aku ngerasa belum siap juga dengan hubungan yang seperti itu"


Galang berpikir sejenak, kemudian berkata "kamu nggak suka cowok posesif? "


Aku mengangguk "Waktu sama Bumi dia posesif nggak? "


"ah topiknya kok jadi dia sih?"


"pengin tahu saja hubungan kalian seperti apa, yang aku liat dia belakangan kan ngejar banget"


"iyah dia posesif, kita sering bertengkar karena hal itu" aku menjawab ketus.


" ok lanjut ke Gung de"


"males ah, udah lupa" aku kehilangan mood bercerita gara-gara nama Bumi di sebut.


" Tuh jadi bad mood, maafin Bli Galang yah" dia berusaha mengembalikan mood ku.


"sini tangannya " ucapnya lembut sambil menjulurkan tangan kirinya


entah kenapa aku jadi menuruti ucapan Galang.


tanganku di taruh di atas pahanya dan di tepuk-tepuk sambil sesekali dia usap.


Rasanya memang jadi lebih nyaman .


Aku tertawa geli "aku dah kayak anak Tk lagi ngambek terus di manjain bapaknya yah"


Galang ikut tergelak. "Abisnya kamu tiba-tiba bad mood begitu"

__ADS_1


Aku menarik tanganku kembali takut muncul perasaan yang lain. "Aku lanjut lagi yah ceritanya "


"Yang terakhir itu aku nggak ngerasain jatuh cinta gitu sama dia,  rasa nyaman ada tapi apa yah nggak deg-degan kayak mau pacaran gitu loh gimana sih? Ngerti nggak maksudku?, lagian aku juga masih belum move on kan, masih takut punya hubungan baru".


Galang menggangguk dan tersenyum, "Langsung main peluk aja tadi dia yah, tapi kalau aku diposisi dia juga pasti sedih tuh kamu nggak berkabar lagi sama sekali,  sekalinya ketemu mungkin aku akan melakukan hal yang sama,  aku nggak nyalahin dia juga,  kangen mungkin lama nggak ketemu"


"Makanya aku pergi pelan-pelan,  takutnya semakin lama aku berhubungan dengan dia,  semakin sulit bagiku untuk pergi di kemudian hari, makin susah juga dia buat move on "


"Nggak nyangka loh aku kamu bisa jauh gitu pemikirannya"


"Intinya sih aku nyari aman hahahaha, yah masak nggak mikirin diri sendiri kalau urusannya masa depan" Aku bersandar dengan lemas di sandaran jok mobil


" Rasanya penat,  pengin cepet pulang,mandi terus tidur selimutan" Lanjutku


" Sabar bentar lagi sampai rumah,  kasih tahu aja nanti rumah Dewi sebelah mana,  jangan ketiduran lagi, kalau ketiduran aku ajak langsung pulang kerumahku"


"Iyah" Aku menjawab dengan malas


"Hahahaha kalau sudah kenyang anteng yah nggak rewel"


"Biarin"


Galang hanya menggeleng gemas.


Sepanjang sisa perjalanan aku merasa sangat lelah,  sehingga hanya terdiam menikmati lagu yang mengalun dari radio,  sedangkan Galang sangat fokus ke jalan yang sedang hujan lebat.


Tiba di batu bulan hujan pun reda dan udara sedikit menghangat.


Aku menguap beberapa kali,  Galang tersenyum melihatku seperti itu.


"Jam  07.30"


"Dito nggak ikut?" 


" Pak Dito ada pameran Wedding, aku besok meeting kemungkinan sama atasanku aja "


"Hmm pulang kerja kemana? "


"Langsung pulang"


"Kabarin aku besok yah? "


"Iyah Bli"


"Duh dengernya Nyessss...  Gitu loh dipanggil Bli"


"Lebay"


"Serius,  ini dah mau sampai rumahmu,  kita kemana"


"Lurus lagi, pertigaan itu belok kanan ,itu rumahnya yang ada mobil warna putih" Aku menunjuk ke arah mobil yang parkir


"Berhenti sini aja,  nggak bisa muter nanti mundur aja"


"Aku nggak ditawarin mampir? "

__ADS_1


"Nggak usah aja udah malem,  nggak enak sama Orang tuanya"


"Oh ok Nami makasih yah sudah nemenin hari ini"


"Sama-sama Galang aku juga senang kok hari ini nganterin kamu,  seru,  Dah Galang" Aku melambaikan tanganku


"Dah Nami"  Galang membalas Lambaianku dan memundurkan mobilnya perlahan.


Aku masih berdiri di sisi jalan sampai mobil Galang berbelok dan menghilang,  bergegas aku menuju rumah Dewi.


"Permisi!,  Dewi! " Panggilku


"Bentar Nam! "


Dewi yang sedang duduk didepan rumahnya bergegas menghampiriku yang berdiri di depan pagar rumahnya


"Duh kemana aja yang abis ngedate, jam segini baru pulang hahahaha"


Aku tersenyum, "Bumi tadi siang kerumah terus aku ditungguin tahu nggak sih"


"Orang gila,  trus sekarang dah pulang dia? "


"Kata Bli putu sudah Wik makanya aku baru pulang jam segini,  males ketemu dia"


"Tapi seneng kan bisa jalan seharian gini sama yang ganteng hahahaha"


"Paan sih wik hahahaha,  aku langsung pulang aja yah, nggak masuk lagi,  salam buat semua, cape banget mau mandi langsung tidur aja besok aku ada meeting pagi-pagi" Aku mengambil helmku dan memakainya


"Wah diapain ci Nam sampai kelelahan begini jadi curiga hahahaha"


"Check in... Check in hahahaha" Aku menjawab asal


"Hahahaha asikkk" Dewi tergelak.


"Udah ah pulang dulu kapan-kapan dah aku main lagi kesini"


"Ok sip".


" Makasi yah wik, kabar-kabarin aku yah kalau ada apa-apa"


"Iyah Nam" Jawab Dewi sambil memelukku


Aku membalas pelukannya, "Dah Dewi aku pulang"


"Dah Nami" Dewi melambaikan tangannya.


Begitu sampai rumah aku langsung masuk kamar,  mandi dan masuk kedalam selimut


"Tok tok tok... " Pintu kamar diketuk dari luar


"Dek be maem"?  ( Dek sudah makan?) Tanya ibuku


" Be mek,  yang kal sirep malu mek kenyel ajan, mani jak ngorta nah (sudah bu, saya mau tidur dulu bu capek banget, besok kita ngobrol yah bu) " aku menyahut dari dalam kamar, karena sudah tidak punya tenaga lagi untuk bangun.


"Nah dek" ( Yah dek) Terdengar suara langkah kaki Ibu menjauh dari pintu kamarku

__ADS_1


Sesaat kemudian aku sudah terlelap dalam tidur.


__ADS_2