
Ponsel ku berbunyi, aku bisa melihat nama Dira melakukan panggilan.
"Ck! Orang ini lagi"
"Dira? Angkat coba aku pengin tahu dia mau bilang apa" Kata Beni dengan wajah kesal
Dengan ragu aku menekan gambar speaker dilayar ponsel ku.
"Halo Dira, ada apa? "
"Nami kamu dimana? "
"Udah pulang, kenapa? "
"Aku yakin kamu belum sampai dirumah. Kenapa kamu tidak menungguku? Kamu diantar siapa? "
"Kalau aku nunggu, jam segini aku yakin kita masih ada di taman tadi Dira. Kamu tidak akan mengantarkan aku pulang secepatnya"
Aku mendengar suara dua orang di belakang Dira, "sebentar Nami" Kata Dira
"Ya Tuhanku, kamu pulangnya memanjat tembok di depan yah? " Kata Dira dengan suara panik "aku bisa melihat aksimu lewat CCTV Nami" Ku dengar ia menghela napasnya
"Kalau aku tidak begitu security didepan pasti tidak akan mengijinkan aku pergi"
"Kamu tidak apa-apa kan? Ada yang terluka?" Katanya dengan nada khawatir
"Aku baik-baik saja, tidak usah memikirkan aku Dira. Aku rasa sebaiknya kau tidak usah menghubungiku lagi"
"Apa karena apa yang dikatakan Ibuku? Aku akan bicara dengannya Nami. Semua akan baik-baik saja. Hati-hati dijalan, Besok kita harus bertemu, titik" Dira memutuskan teleponnya.
Aku memandang ponselku dengan wajah bingung "tuh kan kamu denger sendiri, suka-suka dia lah"
"Hahahaha kalau dia tau kamu resign pasti ngamuk tuh, Bisa-bisa ada adegan Bumi kedua. Nongkrongin rumah orang semalam suntuk berhari-hari hahahahaha"
"Bodo amat hahahaha, dia juga nggak tahu rumahku Ben. Lagian aku mau tinggal di Renon sementara waktu"
"Rumahnya mekde` yah?"
"Iyah, tadi pagi aku dah bilang sama meme, bapa juga mekde` tentang rencanaku. Besok pagi aku sudah ke Renon. Aku bakalan sibuk bantuin ngurus bisnis perawatan kolam renangnya"
"Hmm baguslah langsung sibuk lagi"
__ADS_1
"Aku mau beli nomor seluler baru, yang lama nggak usah dihapus yah Ben. Aku mau simpan dulu. Nanti aku hubungin kamu lagi pake nomorku yang baru"
"Ok, aku mengerti"
"Besok palingan dia dateng ke kantor, ngamuknya sama pak Dito hahaha" Aku terkekeh
Beni hanya bisa menggeleng sambil tersenyum.
"Sekarang kita pulang yah, kamu istirahat. Atau mau jalan kemana lagi? "
Aku menggeleng. "Aku mau packing Ben, pulang ajalah. Terimakasih yah Beni hari ini. Aku nyusahin kamu lagi "
"Nyusahin apa sih, kayak sama orang lain aja. Kalau nggak sama aku siapa lagi yang bisa kamu aja begini. Makanya cepetan move on terus jatuh cinta lagi biar ada yang diajak begini sering-sering. Biar bisa ngambek sama dia, bisa manja sama dia. Pasti ada laki-laki yang baik diluar sana untuk kamu" Ujar Beni sambil menepuk tanganku pelan.
"Aku mau minta dikasih Galang aja boleh nggak Ben?! " Tanyaku sambil manyun
"Boleh aja, minta kan gratis. Tapi dikasih atau nggak yah nggak tahu. Berharap boleh tapi harus tetap realistis yah"
"Iyah aku tahu" Aku menjawab dengan malas
"Kapan kamu siap aja deh kalau gitu" Beni tersenyum kearahku
Aku mengangguk membalas senyumnya.
"Mek yang mejalan nah (bu aku berangkat yah)" Aku memeluk ibuku
"Nah, tiap minggu nak e mulih dek( Iyah, setiap minggu pulang yah) "
"Nah mek, men sing sibuk dek pasti mulih. Nyanan yen ade nak ngalih yang, care orang yange dibi. Orahang gen mek sing nawang nah. (Iyah bu, kalau nggak sibuk pasti saya pulang. Nanti kalau ada yang mencari saya, seperti yang saya bilang kemarin bilang saja ibu nggak tahu) "
"Nah, gampang itu" Kata meme tersenyum
"Sepi be umahe, kalin ajak panak meme jegeg. Hehehe luung-luung ditu nah. De ngae ne Boya-boya dek ( sepi rumahnya ditinggal anak ibu yang cantik hehehe, baik-baik disana jangan berbuat yang aneh-aneh dek) "
"Nah meme jegeg ( Iyah ibu cantik )"
"Ne Abe biu gadang jak gedang baang mekde` (ini bawa pisang ambon sama pepaya untuk mekde`) "
Aku mengambilnya dari tangan ibu dan kugantung pada sepeda motornya bli Putu
"Mek yang nukar motor nah, be ngorang jak bli Putu. Pang sing ade nak nguber bin dijalan (bu saya nukar motor yah , dah bilang sama bli Putu. Biar nggak dikejar orang lagi di jalan"
__ADS_1
Meme hanya mengangguk "hati-hati dijalan dek"
"Nah me" Aku mengeluarkan sepeda motor bli Putu dan segera berlalu.
Dari rumahku ke rumah mekde hanya 15 menit perjalanan.. Memang jaraknya sedekat itu. Rumah yang dimiliki oleh mekde ini tergolong rumah besar dengan desain bergaya Mediterania. Keluarga mekde termasuk keluarga yang sangat berkecukupan. Usaha mereka sedang berkembang pesat. Jadi kemarin waktu aku bilang mau tinggal disana untuk sementara waktu mekde sangat senang mendengarnya. Aku sudah dianggap seperti anak sendiri oleh mekde dan suaminya yang aku panggil Pak yan (Pak Wayan).
Anak-anak mereka saat ini sedang berada diluar Bali. Mbok Ratih sedang bekerja di satu perusahaan multinasional di Jakarta. Sedangkan adiknya Danan sedang melanjutkan kuliahnya di Surabaya.
Aku membunyikan bel rumah yang besar ini, aku bisa mendengar suara langkah kaki terburu-buru membuka pintu gerbang. Satu kepala seorang wanita menyembul dari dalam " Mau cari siapa mba? " Tanyanya kepadaku
"Saya Kadek keponakannya bu Made" Jawabku
"Oh Iyah Ibu Made sudah bilang ponakannya mau datang hari ini, silahkan masuk mba" Ujar wanita ini ramah
Aku memasukkan motorku kedalam rumah menuju garase.
"Saya Sutini mba, bisa panggil saya tini. Saya asisten rumah tangga disini , sudah 5 tahun sama bu Made" Katanya sambil menutup gerbang kembali.
"Saya kadek Tini, tapi biasanya mekde manggil saya Ayudia. Terserah tini mau manggil saya siapa" Saya tersenyum
"Saya panggil mba Ayu saja" Katanya sambil tertawa malu
"Iyah boleh. Bu made lagi di kantor yah tin? "
"Iyah mba, saya bantu bawa kedalam yah" Kata Tini sambil membantu mengangkat tas dan oleh-oleh yang aku bawa.
"Tasnya saya bawa sendiri aja" Kataku
"Nggak apa-apa kok mba, nggak berat. Kamar mba di lantai dua yah sebelahan sama kamarnya dik Danan"
"Iyah tin terimakasih yah sudah dibantu" Aku mengekor pada Tini.
"Sama-sama mba" Kata Tini terlihat senang
Setelah sampai dikamar aku langsung saja merapikan bajuku dan semua perlengkapanku ke tempatnya masing-masing.
Aku berniat langsung ke kantor mereka juga hari ini. "Tin saya ke kantor dulu yah"
"Loh nggak istirahat dulu mba? "
"Nggak tin, mau langsung aja daripada aku bengong dirumah kan" Sahutku tersenyum sambil mengambil tas ransel kecil dari atas meja. Kemudian aku bergegas melangkah kekantor milik pak tu dan mekde yang letaknya tidak jauh dari sana.
__ADS_1
Dari luar kantor aku bisa melihat tulisan papan nama perusahaan "JayaPool" Dengan warna merah yang mencolok. Di luar kantor para pegawai sibuk mempersiapkan peralatan yang mereka letakkan pada bak mobil pick up.