
"Aku pulang yah Galang, sudah malam" Kataku lalu turun dari atas meja.
"Cari makan dulu yuk!" Galang ikut berdiri disebelahku
"Mmm boleh deh, makan apa yah enaknya? "
"Kamu mau makan apa? "
"Bebek goreng? Mmm iga penyet? Mm apa yah? Lawar kuir? Betutu? " Kataku dengan cepat
Galang tersenyum mencubit mesra pipinya "dasar tukang makan"
Aku hanya bisa terkekeh mendengar ucapannya. Galang mengambil helmnya dan menarik lembut tanganku untuk keluar dari rumah Putra.
"Putra aku keluar sebentar!!!" Galang memanggil Putra
"Iyah, aku nitip sebungkus yah hahaha" Katanya dari dalam sambil tertawa renyah
"Iyah!!! " Galang menyahut sambil menutup gerbang dari luar.
"Kita pakai motormu saja sayang "
Aku mengangguk setuju.
Dengan cepat kami sudah dalam perjalanan mengitari kawasan renon. Tangan kiri Galang mengusap-usap kedua tanganku yang melingkar dipinggang nya yang keras.
"Olahraga nya pasti berat banget yah sampai pinggang dan perut bli jadi keras begini" Aku mencubit dan menekan-nekan perutnya yang sudah berbentuk seperti roti sobek ini
"Hahahaha geli sayang, jangan ditekan begitu. Bolehnya di Elus-elus aja" Galang terkekeh dengan gerakan tanganku yang gemas pada perutnya.
"Kenapa? Gemas yah? Mau lihat nggak?" Ujar Galang menggodaku
"Mau banget, tapi nggak sekarang hehehe" Aku malu sendiri dengan ucapan spontan ku ini
"Ck!" Galang merasa frustasi menahan gejolak gairahnya mendengar jawaban polos dari Nami. "Kamu polos gemesin begini, cuman sama aku aja kan? Aku ngerasa kayak spesial banget kalau sama kamu"
"Bener lah. Pacaran serius begini kan cuman sama bli aja. sama siapa lagi coba?" Jawabku manyun.
"Terimakasih yah sayang untuk cinta dan kesabaranmu, juga untuk kesempatan ini pokoknya untuk semuanya. Aku benar-benar bersyukur " Galang mengelus tanganku.
Aku hanya bisa mengeratkan pelukanku pada pinggangnya.
Kami menuju ke salah satu restauran ayam betutu yang cukup terkenal di seputaran daerah Renon. Kami menikmati makan malam itu dengan tenang.
"Nanti kasih aku nomor ponselmu yang baru Sayang" Kata Galang disela-sela makan malam kami.
"Iyah, tapi yang lama nggak usah dihapus yah, yang baru ini hanya untuk sementara"
"Mmm" Kata Galang tanda mengerti. Mulutnya sedang penuh oleh makanan.
__ADS_1
Setelah kembali ke rumah Putra, aku memutuskan untuk pulang.
"Galang aku pulang sekarang yah?!" Ujarku pada Galang sambil turun dari boncengannya.
"Kalau sama kamu waktu cepat sekali berlalu, aku sebenarnya masih belum mau melepasmu pulang. Pulang ke rumah suwung aja yah? " Ujarnya dengan wajah antusias
Aku menggeleng "jangan sekarang, aku capek banget pengin cepat-cepat sampai dirumah. Besok kan kita bisa ketemu lagi"
"Mmm terus terang aku pengin main kerumahmu, tapi aku masih belum berani ketemu orang tuamu Nami" nada suara Galang terdengar sedih.
"Yah main aja, nanti cerita sama mereka. orangtua ku pasti mengerti"
"Akunya yang masih sungkan sama mereka"
"Hmm aku aja deh besok yang main kesuwung" Aku menutup mulutku karena kaget dengan ucapan spontanku sendiri.
"Bener yah, aku tungguin besok. Nggak boleh bilang salah ngomong. Kamu yang bilang harus ditepati loh" Kata Galang memelukku erat.
"Iya deh, tapi....mmm akunya jangan diapa-apain yah" Kataku ragu sambil nyengir
"Hahahaha iyah sayang, siapa suruh mancing-mancing kayak kemarin" Galang tergelak sambil membuka helmnya dan menyisir rambutnya ke belakang menggunakan jari tangannya.
"Awas aja kalau serigala nya muncul lagi" Aku manyun
"Iyah iyah, besok kita nonton film aja. Beneran aku bakalan anteng, nggak gigit kok"
Aku mengernyitkan hidungku "ya udah aku pulang" Jawabku sambil naik ke atas motor dan menghidupkannya.
Galang kemudian menutup gerbang dan berlari mencari Putra kedalam rumah.
"Nih satu paket nasi ayam betutu" Galang meletakkan bungkusan kresek berwarna putih diatas meja didepan Putra yang sedang asyik bermain game.
"Thank you, sering-sering aja lang hahaha. Dah balikan yah sama Ayu? "
"Iyah put, untungnya dia mau. Kalau nggak, bisa frustasi aku. I'm such a lucky bastard" Kata Galang yang ikut duduk disebelah Putra.
"Cepetan ikat lang, sebelum ditikung orang. Kan kita nggak tahu masa depan kayak apa" Ujar Putra seperti mengompori Galang
"Aku sudah pernah ngajak dia nikah, katanya belum siap"
"Ck! Semua orang juga kalau ditanya nggak bakalan siap lang. Udah tancap aja, kalau sudah isi kan nanti gampang nikahnya" Putra makin memanasi Galang
"Nggak usah ngomporin aku put, pikirin aja cara untuk menyudahi 5 tahun jomblo mu ini hahaha"
"Sialan, nasib-nasib. Giliran nemu yang cakep eh punyanya teman ckckckck hahaha" Putra terkekeh sendiri
Galang mulai memikirkan cara untuk mengikat Nami, agar hubungan mereka menjadi lebih serius. Galang jadi kepikiran dengan ucapan Putra tadi. "Kalau beneran ada yang berniat nikung lagi gimana yah? Apalagi yang selevel dengan Pak Sudira lagi, bisa benar-benar gawat ini. Mmm kayaknya aku tahu! Bener itu dia caranya " Pikir Galang sambil tersenyum sendiri penuh kemenangan.
"Galang, kamu lagi mikir jorok yah??, sana pulang gih aku jadi nggak nyaman berduaan sama kamu kalau begini ihhh hahahaha" Putra bergidik memperhatikan Galang yang tersenyum sendiri.
__ADS_1
Galang melemparkan bantal kecil kearah Putra "diem ah jomblo hahaha" Sahut Galang sambil beringsut bangun mengambil ranselnya.
Putra hanya bisa terbahak-bahak mendapat lemparan bantal dari Galang.
"Aku pulang yah, mau tidur nyenyak. Besok pagi ada bidadari cantik mau kerumah" Galang berlalu dari hadapan Putra yang sedang mengunyah makan malamnya.
"Sombonggg!!! Hahaha ya sana dah aku doain kamu cepat nganten (nikah) sama ayu dah"
"Thx bro!!! Hahaha" Galang berteriak dari luar sambil tertawa gembira.
Sementara Nami diperjalanan pulang hanya bisa senyum-senyum sendiri mengingat pertemuannya kembali dengan Galang.
Setibanya aku kembali kerumah, aku mendapati satu kotak kiriman dari seseorang yang diletakkan di atas meja oleh Meme.
Meme bilang ada kurir datang membawa kiriman ini tanpa identitas pengirimnya.
Setelah mandi, aku membuka kotak tersebut. Ada beberapa fotoku menggunakan gaun hitam saat acara di Uluwatu waktu itu. "sudah kuduga ini dari kamu Dira" gumamku
Ada juga foto saat aku digandeng olehnya sebelum candle light dinner. Aku juga menemukan amplop yang berisi surat bertulis tangan di bawah foto tersebut.
diatas amplop bertuliskan:
To: My dearest Nami
Aku membukanya dan membaca isi surat Dira
Nami, semoga surat ini menemuimu dalam keadaan sehat dan bahagia.
Sebelumnya aku ingin meminta maaf dari lubuk hatiku yang paling dalam atas perlakuan ku dan sikap-sikapku yang kurang ajar waktu itu. Terutama sikap Ibuku yang telah menyinggung perasaanmu Nami.
Aku sama sekali tidak pernah bermaksud mengganggu hidupmu, aku hanya tidak tahu caranya mendapatkan perhatianmu yang benar-benar aku dambakan seumur hidupku. Hidupku jadi terasa lebih berwarna kala aku bersamamu, Nami. Aku tahu perasaanmu tidak pernah ada untukku, tapi aku berterimakasih karena tidak sekalipun caramu kasar untuk menolakku. Aku sangat menghargai sifat lembut dan pengertianmu itu.
Aku tidak tahu kamu ada dimana sekarang, nomor ponselmu juga aku tidak tahu, jadi melalui surat ini sebelum terlambat, aku ingin mengatakan Aku sangat mencintaimu Nami, dan itu tidak akan berubah sampai kapanpun. Tenang saja aku sudah tahu jawabanmu. Walapun begitu aku ingin sekali mendengar jawabanmu secara langsung, bahkan kamu menolak pun aku tetap ingin mendengarnya langsung :) Kamu membuat ku menjadi segila ini Nami.
Tanpa kabar darimu beberapa bulan ini aku banyak berpikir mengenai semua hal dalam hidupku, akhirnya aku sadar kita memang tidak ditakdirkan bersama, Nami. Semakin aku mengejarmu semakin kau menjauh dan hilang sama sekali seperti sekarang.
Aku juga ingin mengabarkan kalau aku akan menikah dengan wanita pilihan orangtuaku. Aku sadar kalau aku memaksa menjadikanmu pasangan hidupku, aku dan keluargaku akan mengekang kebebasanmu. Aku akan menjalani hidupku sebaik-baiknya Nami, aku harap kamu juga melakukan hal yang sama.
Terimakasih sudah memberikan sedikit pelangi untuk hidup ku yang kelabu ini, aku bertahan karena senyum yang ada dalam foto yang kukirim ini. Akan aku jadikan kenangan yang berharga dalam hidupku.
Aku punya satu permintaan Nami, kalau nanti kita bertemu kembali sapalah aku seperti teman baik. Jangan menghindariku. Kalaupun kita tidak bersama paling tidak kita bisa menjadi teman mengobrol itu saja sudah cukup bagiku.
Mengenai Galang, aku mengakui punya andil dalam perpisahan kalian. Aku tidak akan pernah meminta maaf untuk hal itu. Karena aku tidak pernah menyesal mencoba memisahkan kalian. Tapi aku tahu cinta akan selalu menemukan jalan pulangnya sendiri. Di masa depan aku juga tidak masalah lagi kalau seandainya kalian kembali bersama.
at least I'm trying my best :)
Hubungi aku kapan saja kau mau.
Yang selalu mengagumimu,
__ADS_1
_Dira_
Aku tidak bisa berkata-kata setelah membaca surat darinya.