
Aku telah sampai di rumah Galang. Setelah menutup pintu pagar, aku bergegas naik ke dek paling atas lewat tangga samping sesuai yang Galang katakan tadi lewat telepon. Aku awalnya berniat membeli makan malam sebelum kemari, tapi dicegah olehnya. Katanya makan malam untuk kami sudah siap.
Sesampainya diatas aku dibuat terpana dengan keindahan dari atap dak ini. Terakhir aku kemari dak ini baru saja selesai. Hanya terisi meja besar panjang dan kursinya. Sekarang Galang telah menambahkan lampu berwarna kuning redup melintang diatasnya. Banyak tanaman pot yang ditata sangat rapi disisi-sisi dak. Beberapa tanaman juga ditempel pada dinding kayu. Ada dua buah Bean bag dibagian kanan dekat satu-satunya ruangan disana. Belakangan dari penuturan Galang aku baru tahu itu adalah ruangan kerja Galang dengan akses langsung ke dalam rumah. Aku sendiri belum berniat untuk melihat ruangan itu.
Aku meletakkan tas dan jaketku diatas meja dan menghubungi Galang. Ia mengangkat teleponku dengan cepat
"Udah nyampe sayang?"
"Udah, aku lagi diatas" Jawabku. Jari-jariku menyisir rambutku yang baru saja tergerai. Sebenarnya hari ini aku merasa penat dan gerah. Selain karena kesibukanku di kantor, juga karena panasnya siang hari yang membuat tubuhku lengket, lemas seperti merasa dehidrasi. Aku butuh mandi sesegera mungkin juga butuh baju yang bersih untuk membuatku nyaman. Tapi disinilah aku sekarang, demi Galang yang aku sayangi, rasa penat dan gerahku tidak menjadi alasanku untuk tidak datang.
"Aku naik deh sekarang" Galang mematikan sambungan telepon kami.
Aku mendengar suara pintu terbuka dibelakangku, aku menoleh kearah suara tersebut. Galang datang membawa baki berisi piring, makanan, minuman, lilin dan korek.
"Tadi aku sudah mau nunggu diatas sini, tapi ada telepon dari Pak Sudira, jadi aku urung naik. Keburu kamu datang duluan" Kata Galang bergegas mendekatiku dan meletakkan baki yang ia bawa diatas meja. Galang duduk disebelahku. Dia menoleh padaku yang sedang menopang dagu sambil tersenyum.
"Bli, badanku rasanya gerah, lengket. Boleh numpang mandi disini nggak?"
"Kenapa nggak boleh, mandi dikamarku yah kamu lewat ruang kerjaku ini terus turun ketemu deh kamar ku. Handuknya ambil dalam lemari, pilih aja yang kamu mau." Galang menaikkan satu alisnya menggodaku.
Aku tersenyum geli "Iyah aku mandi dulu yah" Aku beranjak dari tempat duduk ku. Tiba-tiba saja tangan Galang meremas lembut bokongku dan menarikku ke pelukannya "belum mandi aja masih wangi menggemaskan begini hmm" Galang menghirup aroma tengkuk ku yang tentu saja membuatku merinding dan menahan napas.
"give me a kiss" Galang ******* bibirku yang terbuka tanpa menunggu reaksi dariku. Aku yang sedang mendongak hanya bisa pasrah membalas ciumannya. Kemudian dia melepaskan ciumannya. Aku yang masih terpejam terlihat sibuk mengatur napasku.
"Aku mandiin yah biar bersih hehehe?" Galang berbisik ditelingaku sambil terkekeh, napasnya yang hangat menyapu telingaku.
__ADS_1
Aku menggeleng "nggak mau" Aku mengernyitkan hidungku, mencoba mengalihkan perhatianku dari godaan Galang.
Aku beringsut dari pelukannya "kapan mandinya kalau begini?" Kataku manyun
"Iyah sayang, mandi dah sana" Ujarnya mengucek ujung kepalaku gemas. Aku lari secepat kilat, takut Galang kembali mengerjai ku seperti yang baru saja ia lakukan. Galang makin terkekeh melihatku seperti ini.
Aku masuk ke ruang kerja Galang yang rapi seperti perkiraan ku. Ada satu meja gambar, lemari buku, dan satu unit komputer dengan lambang apel disana. Aku mengganti sepatuku dengan sliper yang ada disana, Kemudian menuruni anak tangga dan masuk ke kamar Galang.
Setelah mandi aku mengenakan salah satu baju Galang yang ada dalam lemari, karena baju yang aku kenakan tadi terasa lembab. Celana panjang jeans biruku tadi tetap aku kenakan, aku tidak mau repot menggantinya kembali saat pulang nanti.
Ketika aku kembali ke dak, Galang sedang membaca buku. Dia sudah menyalakan lilin diatas meja, karena hari sudah mulai gelap suasana jadi terasa romantis. Aku masih bisa mendengar suara jangkrik dan burung yang terbang diatas kami. Langit disebelah barat berwarna gelap kemerahan, bintang-bintang mulai muncul satu persatu begitu juga dengan bulan yang malu-malu muncul dari balik awan.
"Pemandangan yang luar biasa untuk sore menjelang malamku yang penat" Aku bergumam sendiri masih memperhatikan sekelilingku.
Galang menoleh padaku yang sedang berbicara sendiri. Setelah cukup dekat dengannya, tangan Galang meraih pinggangku dan mendudukkan aku diatas pangkuannya. Kepalanya menelusup di tengkukku. "Dak ini jadi bagus banget bli" Kataku sambil terkekeh karena merasa geli "hahaha geli bli, aku lapar, makan dulu yuk" Aku berusaha menjauhkan kepalaku.
"Ih pelit banget hahahah" Sahutku masih merasa geli dengan kelakuan Galang yang menciumi leherku.
"Biarin, kan aku nggak mau rugi" Bisiknya ditelingaku. Ciumannya kali ini mendarat di semua permukaan wajahku . Di perutku muncul nyeri-nyeri aneh yang berputar-putar akibat serangan ciuman Galang disana sini.
"Bli...., aku lapar" Kataku lirih tak bertenaga menghadapi serangan dari Galang.
"Hahahaha maaf, kamu sih gemesin banget" Ujarnya sembari mengelus kepalaku dan menurunkan aku dari pangkuannya.
Galang kemudian membuka tutup dari dua piring yang ada di atas meja. Wangi dari beef steak dengan saus black pepper menyapu hidungku. Disebelahnya ada kentang goreng dengan potongan-potongan yang besar ditambah dengan tumis wortel dan baby buncis. Aku sampai menelan ludah melihat makanan ini. Galang mengeluarkan red wine dari wine bucketnya, membuka label dan membuka tutup winenya dengan hati-hati dengan corkscrew. Aku hanya bisa takjub dengan cara dia membuka cork wine seperti seorang profesional.
__ADS_1
"Plup!!" Cork winenya pun lepas, wangi wine yang kuat tercium olehku. Galang menuangkannya sedikit ke dalam gelas tinggi lalu menyodorkan nya padaku. Aku mengambilnya dan menyesap sedikit wine tersebut "hmm" Aku menyukai sensasi wangi dan aftertaste dari red wine ini.
Dia menuangkan lebih banyak kedalam gelas ku dan juga kedalam gelas yang akan dipakainya.
"Silahkan dinikmati" Kata Galang sambil tersenyum bangga.
"Kamu yang masak? Bli Galang hebat sekali. Kayak profesional sommelier" Aku mengacungkan jempolku ke hadapannya.
"Iyah dong, siapa lagi. masa pak Sudira mau masak kayak begini hehehe" Jawabnya lagi dengan nada bangga sambil terkekeh.
Aku ikut terkekeh mendengar jawaban Galang.
"Sommelier apaan?" Tanya Galang disela-sela kesibukannya memotong daging dipiringnya.
"Itu wine expert, orang yang benar-benar tahu wine. Dari sejarahnya, cara bukanya, penyajiannya bahkan bisa merekomendasikan wine yang sesuai. Itu yang aku tahu" Aku menjawab dengan cepat pertanyaannya. Galang mengangguk mendengar penjelasannku.
Tanpa banyak kata lagi langsung saja aku mencoba sepotong daging yang sedari tadi sudah melambai-lambai padaku dari atas piring minta segera disantap. Begitu potongan kecil daging steak masuk ke mulutku, bisa kurasakan lembut dagingnya lumer memenuhi semua indra perasa dalam mulutku ini. Rasa gurih, sedikit pedas dengan aroma kuat dari blackpepper menambah nikmat steak ini. Lengkap sudah rasa nikmat ini ketika aku menyantap kentang goreng beserta sayuran yang masih crunchy secara bersamaan. Tanpa sadar aku memejamkan mata menikmati semua rasa yang timbul dari makanan ini. Galang memperhatikanku dari dekat.
"Enak yah sayang? Sampai merem begitu"
Suara Galang mengejutkan ku "hehehehe enak banget. Kok bisa bli masak seenak ini?"
"Bisa dong, kan Bli Galang memang hebat. Nanti kalau mau lagi udah nggak gratis loh" Galang tersenyum geli
Aku menjulurkan lidahku padanya sambil memasukkan lagi sepotong kecil steak ke mulutku.
__ADS_1
Menikmati makanan enak bersama orang tersayang dengan suasana romantis seperti ini membuat hatiku sangat bahagia. "Sejujurnya kalau dibandingkan dengan candle light dinner dengan Pak Sudira dulu, ini jauhhhhh lebih menyenangkan" Aku bergumam dalam hati.