
Aku berniat meletakkan ponselku, tiba-tiba saja ada pesan masuk dari Bu Ida
Bu Ida: "Namiiii 🙄, tadi semuanya heboh waktu mereka tahu kamu resign 😆"
Aku: "oh yah bu, pak Dito gimana? Pasti kaget juga yah? 😜😂"
Bu Ida: " Seperti yang Nami bilang, beliau menanyakan alasan sebenarnya kenapa Nami resign. Saya bilang aja nggak tahu apa-apa😁"
Aku : "😄 kasihan Pak Dito, saya yakin beliau nanti akhirnya akan mengerti"
Bu Ida: "oh iya waktu Nami diikutin orang yang waktu pulang itu gimana? Saya sampai kepikiran loh"
Aku: "ngeri bu, untung saja saya bisa sembunyi di rumah teman 😕"
Bu Ida:"Baguslah tidak terjadi hal-hal yang lebih buruk lagi. Hati-hati yah Nami"
Bu Ida: "Hari ini jadi datang ke acara itu nggak, yang diundang pak Sudira? Pak Dito kesana loh"
Aku :" Saya datang bu, demi menghormati undangannya saja. Nanti coba saya cari Pak Dito disini"
Bu Ida: " Ya deh, take care yah Nami. Tadi Di salamin sama semua anak2 kantor"
Aku:" iyah bu Ida, terimakasih ☺"
Bu Ida : " 👍❤
Aku: "❤❤❤😄"
Aku menyimpan kembali ponselku. Sebenarnya aku sama sekali tidak menikmati acara formalitas membosankan seperti ini. Kalau saja bukan karena tujuan bertemu Ibu nya Dira aku yakin tidak akan datang kemari.
__ADS_1
Acara baru saja dimulai, MC membuka acara dengan suaranya yang renyah.
Aku melihat sekeliling ku, bermaksud mencari Pak Dito diantara orang-orang ini. Setelah pelan-pelan mencari, mataku justru bertukar pandang dengan sosok yang aku tidak menyangka akan hadir juga. Aku hanya terpana menatap matanya lekat. Hal yang sama juga dia lakukan padaku. Rasanya kami seperti berkomunikasi hanya lewat tatapan. Entahlah aku merasa pandangan matanya mengatakan "aku rindu padamu teramat sangat Namiku sayang". Dengan tatapan juga aku menjawabnya " Aku juga rindu bli, rindu setengah mati"
Dia terlihat sangat mempesona dengan kemeja putih dipadukan dengan jas casual berwarna biru navy. Rambutnya disisir kearah belakang membuat aura kejantanannya makin kuat. Sekian menit aku masih menatapnya, hingga tiba-tiba rasa sakit itu datang lagi. Dengan tatapan ini aku mengajukan pertanyaan kepadanya "kenapa semua harus terjadi bli?! Kenapa?! " Mataku mulai berkaca-kaca, Galang akhirnya mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
Aku kembali ke dunia nyata, sekuat tenaga tidak akan membiarkan air mataku jatuh malam ini. Aku mengatur nafasku. Pak Kusuma sepertinya menyadari perubahanku.
"Mba baik-baik saja kan?! " Tanyanya terlihat khawatir
Aku mengangguk dan tersenyum "saya baik-baik saja Pak, hanya sedikit lelah" Kataku pelan
Aku kembali menoleh ke arah Galang yang sedang berbicara akrab dengan Gani, sekretaris Dira.
Melihat keakraban mereka aku menjadi luar biasa cemburu, "tapi apa hakku bukannya aku sekarang hanya seorang mantan" Aku bergumam dalam hati "rasanya perih!, kamu kuat Nami, kamu bisa ayo semangat... Laki-laki nggak cuma dia, kan masih ada Dira?? Hah??!!! Sudah gila yah nyaranin jadi sama dia. Dia mengerikan Nami!! " Aku berdebat dan memarahi diri ku sendiri dalam hati
"Hmm aku tidak menduga sama sekali kalau dia akan datang, iya aku tahu dia sudah jadi bagian dari Dharma Hotel untuk saat ini. Atau Jangan-jangan memang tujuannya Dira agar Galang melihatku datang dengan gaun luar biasa pilihannya dan aku duduk diantara orang penting ini, begitu yah?? Pasti begitu. Ah aku berpikir terlalu jauh" Aku mengusap lenganku sendiri
Sudut pandang (POV) Galang
Ketika tadi ia baru saja sampai di lobby bersama Dito, dia melihat seorang wanita dari kejauhan sedang diantar oleh Buggy Car. Perasaannya mengatakan cara wanita ini duduk mirip sekali dengan Nami. Tapi kemudian setelah buggy makin mendekat ia terperanjat, ternyata wanita tersebut memang benar-benar Nami.
Dia sungguh cantik dengan balutan gaun hitamnya yang seksi. Kulitnya yang putih bersih membuat keseluruhan penampilannya begitu memukau. "Ya Tuhan aku benar-benar merindukannya" Gumam Galang dengan wajah sedih.
Dito yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya jadi ikut terpana melihat Nami dengan elegannya turun dari Buggy car.
Mereka berdua memutuskan bergegas untuk masuk ke function room, karena sadar kalau mereka berinteraksi akan terjadi hal diluar dari rencana mereka ini.
"Gila lang, Nami loh" Kata Dito heran
__ADS_1
"Dia dapat undangan juga Yah Dit?"
"Dapat sepertinya, kemarin aku lihat dia menerima beberapa box dari orang itu. Kemungkinan gaun yang dia pakai juga dari dia"
"Mungkin nggak yah dia resign atas keinginan dari orang itu dit? " Wajah Galang terlihat makin murung.
Mereka menggunakan kata "Orang itu" secara sengaja untuk menyamarkan orang yang mereka bicarakan di muka umum.
"Bisa jadi. Dia tiba-tiba resign itu jadi tanda tanya besar buat aku. Apa dia benar-benar jadian dengan orang ini atau dia akan menghindarinya sama sekali. Tapi nampaknya dia kemungkinan besar jadi lang. Dia aja datang ke acara ini" Sahut Dito masih dengan nada ragu.
"Cantik yah dit, aku merasa bodoh ninggalin dia" Galang menundukkan kepalanya sambil menggigit bibirnya kesal.
Dito menepuk-nepuk bahu kawan baiknya pelan dengan maksud mengatakan "sabar, semua akan baik-baik saja"
Satu persatu tamu Undangan memasuki tempat acara. Mata Galang fokus pada pintu utama function room. Beberapa menit kemudian Nami pun masuk. Galang memandangnya tak berkedip. Rambutnya yang tergerai terlihat berkilau tertimpa cahaya lampu, senyumnya merekah dengan langkah anggun mengikuti seorang staff. Dia melewati banyak sekali meja, semua orang yang dia lewati memandangnya juga tak berkedip. Ku lihat di tengah perjalanan dia berhenti dan berbicara dengan staff itu, nampak wajahnya terlihat khawatir. Kemudian dia melangkah lagi akhirnya sampai di meja VIP dan duduk dengan tenang. "Dia memang cantik, secantik hatinya dan aku sangat mencintainya" Galang bergumam dalam hati.
Tak sekali pun mataku lepas darinya. Hingga aku mendengar orang-orang disekitarku bergunjing " Siapa sih wanita itu? Kamu kenal?", "cewek bergaun hitam tadi, pengusaha baru yah? ", "dia duduk di meja VIP kemungkinan orang penting, kenapa duduknya disebelah pak Kusuma, mencurigakan! " "Jangan-jangan dia wanita simpanannya pak Sudira, aku dengar beliau sudah dijodohkan" "Pengin uangnya aja kali! ", " Wanita nggak bener kayaknya", "Beraninya muncul diacara penting seperti ini"
Masih banyak lagi gunjingan yang ia dengar dari belakang, Galang hanya bisa mengepalkan tangannya "kalian salah besar, dia tidak serendah itu" Ia bergumam lagi.
Saat keluarga besar pak Sudira memasuki tempat acara, pandangan Nami terlihat kearah Pak Sudira. Aku melihat pak Sudira tersenyum bahagia melihat Nami disana. Nami pun membalas senyumannya. Hatiku terasa remuk melihat mereka berdua. Setelahnya nampak Nami mengeluarkan ponselnya dan beberapa kali tertawa seperti sedang membaca sesuatu. Kulihat juga pak Sudira melakukan hal yang sama. "Mungkin mereka sekarang memang sedang berhubungan" Gumamku lagi
Gani sekretaris pak Dira menuju ke meja Galang , dan duduk disana. Mereka bertukar senyum dan Galang kembali memperhatikan Nami.
Sejenak Nami terlihat mengedarkan pandangannya seperti mencari-cari seseorang, dan akhirnya mata kami bertemu. "Sedang mencariku sayang? " Kami masih saling menatap "aku rindu sekali padamu Nami ku Sayang, bisakah kau lihat dari mataku? Aku tahu dari sinar matamu, kau juga merasakan hal yang sama" Aku bergumam untuknya
Mata kami masih beradu pandang. "Maafkan aku sayang untuk kali ini saja, semoga masih ada kesempatan untuk kita berdua bersama lagi di masa depan" Kemudian aku seperti melihat matamu berkaca-kaca. Aku memalingkan wajahku agar kau tidak menangis.
"Pak Galang, nanti saya perkenalkan dengan beberapa orang penting disini yah" Kata Gani sambil mendekat dan berbisik lalu tersenyum
__ADS_1
"Iyah terimakasih Gani" Kata Galang singkat.
Dan kembali memperhatikan Nami.