Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
Terlanjur cinta


__ADS_3

Akhirnya kami sampai juga di depan Taman Werdhi Budaya Art Center, terlihat antrian mobil dan motor di pintu masuk utama.  Mobil Beni mengikuti antrian yang mengular. 


"Asik rame banget" Seruku setelah memperhatikan sekeliling


"Tiketnya aja laris banget Nam"


"Wajar sih band keren yang tampil ya kan? "


Setelah berhasil menemukan tempat untuk parkir akhirnya kami menuju Panggung terbuka Ardha Candra, salah satu panggung yang ada di areal Art Center tempat konser ini berlangsung. Panggung terbuka ini memang kerap dipakai untuk pentas kesenian kolosal, pertunjukan musik dan banyak pentas seni lainnya.


"Nam aku mau nyapa klien ku sebentar yah, kalau mau masuk duluan masuk aja, entar aku hubungin kamu lagi"


"Ok sip Ben" Aku mengacungkan ibu jariku


Beni menuju ruang panitia yang berada tepat dibawah kanan pintu masuk Ardha Candra.


Aku melihat sekeliling dan memutuskan untuk masuk terlebih dahulu. Setelah tiket ku serahkan kepada petugas, petugas lalu memberikan  gelang yang cukup tebal. Gelangnya dari kertas yang berisi tulisan nama gelaran konser beserta sponsor-nya. Itu juga sebagai penanda aku penonton resmi dari konser, sehingga bisa bebas keluar masuk area. Kukenakan gelang yang diberikan tadi dan segera mencari tempat yang menurutku  nyaman. 


Konsernya sendiri baru mulai sekitar 30 menit lagi, aku melihat jam yang tertera di ponselku.


Sambil menunggu aku membaca beberapa artikel dari sosial media.


 "Eh band pembukanya juga seru loh" terdengar jelas olehku pembicaraan seorang gadis manis yang duduk didepanku dengan teman-temannya. 


Terdengar mereka mulai membicarakan lagu-lagu kesukaan mereka dari Shepia 7 dan berharap lagu tersebut dibawakan malam ini. 


Ponselku bergetar tanda ada Pesan yang masuk. 


Beni: "Nam aku mau beli minum, ikut yuk aku tungguin didepan pintu masuk Gedung Ksirarnawa sebelah timur. Banyak stand makanan sama minuman di sini"


Aku: "Beliin aja apa kek mager Ben 😁"


Beni: "Males banget sih, Shepia sejam lagi baru mulai loh kan band pembukanya juga belum main. Ayolah ngobrol dulu yuk ☺"


Aku: "Ya deh aku kesitu"


Setelah keluar dari panggung terbuka Arda Chandra aku langsung menuju ke arah Gedung Ksirarnawa yang tidak jauh dari sana. Dari kejauhan aku melihat banyak stand makanan dan minuman seperti kata Beni tadi. 


Sesampainya di depan pintu masuk Gedung tidak tampak Beni disana. 


"Ben kamu dimana katanya nunggu disini? "


Aku menghubungi ponsel Beni 


"Bentar yah Nam, tiba-tiba ada urusan mendadak, tungguin bentarrr aja" Suara Beni terdengar memelas


"Ya udah deh" Aku memutus pembicaraanku dengan Beni. Sambil menunggu aku memperhatikan stand makanan dan minuman yang tampak ramai diseberang sana. 


5 menit berlalu, aku mulai tidak sabar. 


Sejenak sepertinya ada seseorang yang berjalan mendekat dari kejauhan, dan itu bukan Beni. Aku tidak bisa melihat mukanya dengan jelas. Tapi aku bisa merasakan orang yang mendekat kali ini memiliki cara jalan yang tidak asing bagiku. 


Beberapa langkah dari tempatku berdiri orang tersebut berhenti. Jantungku berdebar hebat kala melihat raut wajah Galang yang sedang tersenyum menatapku. 


Beberapa detik berlalu dan aku masih mematung tidak percaya melihat dia berada tepat didepanku...dia mulai mendekat perlahan. 


"Kok kamu ada disini" kataku ketus


"Iyah kebetulan"


"Aku lagi nggak kepingin ketemu kamu" ujarku ketus


"Aku yang kepingin ketemu kamu" jawab Galang dengan tenang


Aku menatapnya bingung karena terus terang aku tidak tahu harus bagaimana. Air mataku mulai menggenang lagi, aku mundur untuk menjaga jarak. Tapi tangan Galang dengan cepat menarik ku ke pelukannya.


Tanpa aku sadari air mata yang berusaha aku tahan semenjak awal melihat dia mendekat, perlahan menetes di pipiku dan aku mulai tersedu.


Galang memelukku dengan hangat tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku terisak didalam pelukannya. 


Ya Tuhan, ternyata memang lelaki ini yang aku rindukan, rasa nyaman pelukan ini yang sangat kunantikan. Tangannya yang lembut mengusap-usap punggungku


Sejenak tanganku tanpa sadar ikut memeluknya dengan erat dan membenamkan wajahku yang penuh air mata semakin dalam, dalam pelukannya. 


"Nggak kangen sama bli Galang? " Galang berbisik di telingaku


aku menggeleng pelan


"Iya sayang I miss you so much too, aku minta maaf" Bisiknya lagi perlahan dan tersenyum lega.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, karena tangisanku telah berhenti Galang mengendurkan  pelukannya dan memandang wajahku yang aku yakin amburadul karena tangisan tadi. 


"Kok bisa yah abis nangis masih cantik, mana muka tuyulnya coba liat ? " Goda Galang dengan muka jenaka


Aku hanya bisa mengusap air mataku dengan tisu yang aku ambil dari dalam tas dan mencubit pinggangnya gemas.


"Ishh sakit sayang, kalau ngambek ganti pakai cium aja gimana? "


Aku menggeleng pelan belum mampu mengeluarkan sepatah katapun.


"Ya sudah aku aja yang cium, kan kamunya nggak mau "


Galang tiba-tiba mengecup pipiku cepat


Aku kaget sekaligus geli dengan apa yang dikatakan Galang, aku hanya bisa mengigit bibir bawahku sambil menahan malu. Muka merahku pasti terlihat jelas sore ini


Galang hanya bisa tersenyum lebar melihatku seperti ini.


"Aku pasti jelek yah abis nangis? " Kataku dengan suara sengau


"Nggak masih ok, tapi entar aku aja yang beli minum yah takut yang jual kaget " 


Aku tertawa kecil, karena tiba- tiba teringat awal pertemuan kami dulu. 


"Tadi belum dijawab kok bisa ada disini? "


"Iyah nyariin kamu lah, aku kan kangen" Muka Galang memelas dan menarik tanganku pelan menuju pinggiran taman untuk duduk disebelahnya. 


"Maksudku tahu darimana aku disini?, hmm eh sebentar Lubak (luwak) itu yah yang info kekamu? "


"Hahahahaha duh kasihan Beni dipanggil Lubak" Beni tertawa 


"Nyebelin banget sih, kalian bersekongkol untuk hari ini yah?"


" Bukan sekongkol sayang kami hanya bekerja. sama. Jangan marah ke Beni, aku yang minta tolong ke dia"


Ponselku berbunyi


Sengaja ku tekan mode speaker agar Galang bisa mendengarnya juga.


"Eh Lubak!!!" Aku berteriak pada Beni


"Oh gitu yah Beni, awas kamu yah"


" Hahahahaha entar kalau jadi diantar pulang sama Galang kalau mampir-mampir pulangnya jangan bertiga yah dahhh"


"Ben!!!.. "


"Tutt" Sambungan telepon diputus oleh Beni


"Nyebelin....! " Ku masukkan kembali ponselku kedalam tas dengan kesal.


Galang terlihat tergelak mendengar pembicaraan mereka.


"Puas ketawanya!! " kataku ketus


"Ampun bu, saya hanya tidak kuat menahan rindu " Jawab Galang gemas.


Aku hanya bisa menghela nafas kemudian tersenyum geli.


"Terus hubungan kita gimana Sayang? " Galang memutar badannya menghadap kearahku.


"Hubungan gimana apa??" jawabku asal, padahal sudah mengerti maksud pertanyaan Galang


"yah kita masih pacaran kan? "


aku mengangguk cepat "udah terlanjur "


"terlanjur apa? ? terlanjur cinta yah?? "


aku menunduk malu


"Duh sayang aku lega banget hari ini " Galang mencubit pipiku gemas


"Ya masih bli, kan aku nggak minta putus"


"kirain, didiemin lama itu bikin sedih tahu nggak? "


"Tahu, sekarang coba cerita ke aku apa yang terjadi bli? "

__ADS_1


Galang bercerita detail tentang masa lalunya.


"Maaf yah sayang, aku nggak bermaksud bohong sama kamu, hanya belum siap sama reaksimu saja"


"Jadi sekarang mereka sudah menikah? "


"Sudah, tadi siang aku dikabari mereka sudah sah "


"by the way Aku iri sama Beni"


"Kenapa?"


Tangan Galang menepuk-nepuk tanganku pelan.


"Kamu terlihat bebas bercerita apa saja sama dia. kalau kamu marah pasti langsung marah dan nggak pakai diemin dia lama kan?? Kenapa nggak bisa kalau sama aku, aku juga pengin melihat kamu marah, pengin lihat kamu ngomel kayak barusan secara langsung"


"Beneran mau lihat aku yang seperti itu, awas loh nyesel hehehe" Aku terkekeh mendengar pernyataan Galang


"Iyah maksudku nggak dipanggil lubak juga hahahaha, maksudku komunikasinya sayang,  aku maunya kamu bilang apa yang memang pengin kamu bilang dan nggak memendamnya sendiri, aku merasa aku bukan pacar yang baik" Galang menghela nafasnya. Kakinya yang panjang dia selonjorkan ke depan.


Badannya bertumpu pada tangannya disamping kanan dan kiri tubuhnya. 


"Banyak hal yang masih canggung aku bicarakan, bli aja nggak bilang kalau ternyata duda" Aku memandang dia dengan senyum geli


"Yah itu kan karena aku takut kamu jadi ilfil, mulai hari ini aku nggak akan menyembunyikan apapun kekamu, apapun. Aku nggak mau kehilangan rasa percaya kamu, senyum kamu semua tentang kamu. Aku benar-benar merasa kehilangan Nami" Dia balik memandangku dengan ekspresi sedih


Aku tersenyum


"Kamu nggak kangen waktu kita break dua minggu kemarin? " Tanya Galang lagi


"kangen sih, tapi aku ragu aja "


"Kalau ternyata aku suami orang pasti kamu benar-benar menjauh yah? "


"Iyahlah sebesar apapun rasa cintaku, aku pasti akan pergi bli"


"Aku tentu saja kangen berat sama kamu" Galang merangkul pundakku, mengelus rambutku dan mencium rambutku. Aku membalas memeluknya erat dan menyandarkan kepalaku di bahunya. 


"I love you Bli Galang" Aku mengecup lehernya cepat, wangi parfumnya membuatku nyaman. 


"I love you so much Nami" Galang balas memelukku erat 


Dari kejauhan terdengar suara pembawa acara yang renyah membuka acara konser malam ini.


"Kalau aku nggak ke sini, mungkin kamu masih bersikap diam seperti Kemarin-kemarin kan? 


"Mungkin"


"Tuh kan, kamu rela kalau akhirnya aku menyerah dan pergi begitu saja? "


"Gak sih hahahaha " Aku tergelak


"Gemes banget sih" Galang mencubit kecil pipiku 


"Hmm ini pasti gara-gara aku sempat cerita tentang kenapa aku nggak mungkin pacaran sama Gungde itu yah?" Aku mengendurkan pelukanku dan memandangnya lagi


"Iyah, kamu bilang karena dia duda kan? Makanya..."


"Itu kan satu dari sekian alasan, lagian kalau aku memang suka kan suka aja"


"Maksudnya? " Galang terlihat bingung


"Gini, sebesar apapun halangan kalau akunya suka pasti gak ada artinya bli"


"Bener? " Tanya Galang serius


"Bener lah, eh itu konser pembukanya dah mulai mau nonton nggak? "


"Boleh yuk" Galang berdiri dan mengulurkan tangannya 


Aku menyambut tangannya serta beranjak dari dudukku.


"Bentar sayang, aku keliatan sembab atau cemong gak? Aku nggak bisa lihat dari ponsel, lampu tamannya terlalu redup" 


Galang mendekatkan wajahnya dan  memperhatikan wajahku dengan seksama


"Masih cantik... " Galang mengecup hidungku cepat lalu merangkulku berjalan kearah Tempat konser berlangsung. 


Aku yang masih kaget hanya mampu mengikuti Galang sambil tersenyum bahagia.

__ADS_1


__ADS_2