Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
Ternyata dia suami orang


__ADS_3

Hari menjelang sore,  jam menunjukkan pukul 14.00. Aku bersiap-siap untuk pulang karena hari Sabtu jam kerja hanya setengah hari. 


Sudah 3  minggu ini dia tidak bertemu Galang,  hanya berkomunikasi melalui chat atau kadang-kadang telepon dan video call karena sama-sama sibuk. 


"Saya duluan yah Nami" Ibu Ida menepuk pundakku


"Oh iya bu, saya juga sebentar lagi pulang"


"Nggak malam mingguan?  Kayaknya yang sering buat kamu senyum-senyum di chat itu pacar yah? Hahaha"


"Hahahaha tahu aja bu Ida"


"Buruan cepet-cepet pulang dandan yang cantik"


"Saya nggak malam mingguan hari ini bu,  dia lagi sibuk ada urusan pekerjaan"


"Yah bagus kan Nami demi masa depan kalian juga kan" Sahut bu Ida tersenyum menggodaku


"Hehehehe Iyah bu,  kita berdua kan juga baru tenang lagi setelah beberapa hari ini sibuk bu"


"Iyah loh akhirnya lemburnya bisa dikurangi,  ya sudah saya duluan yah Nami"


"Iyah bu hati-hati dijalan"


"Sip" Ibu Ida berlalu dari hadapanku. 


Hapeku berbunyi pertanda ada pesan yang masuk sepertinya dari Galang,  nama Galang kuubah menjadi Tyson, setiap melihat nama ini membuatku geli sendiri. 


Galang: "Sayang udah mau pulang? 😘"


Aku: "Iyah baru mau  siap-siap pulang"


Galang: "Aku hari ini nggak bisa kerumah dulu yah,  ponakanku yang kecil besok malam ke Surabaya,  jadi nemenin dia dulu hari ini"


Aku : " Yha terserahlah "

__ADS_1


Galang; "Maaf yah sayang,  besok deh aku kerumah.  Ponakan mau menetap di Surabaya jadi mungkin bakalan nggak ketemu lama 😞"


Aku: " Ya"


Galang: "Tuh marah 😔"


Galang: "Sekali ini aja sayang,  besok-besok pasti sama sayang terus 😘😘"


Aku: "Katanya sibuk,  tapi sama ponakan bisa 😕"


Galang: "Hari ini sih sudah nggak sibuk lagi,  maunya main kerumah Sayang, tapi mendadak dikabarin tadi,  mereka mau menetap di Surabaya mendadak juga"


Aku tidak menjawab lagi pesannya,  karena terlanjur kesal. 


Teleponku berbunyi lagi,  sepertinya Galang menelepon. Kuabaikan teleponnya.


Aku kesal bukan karena dia menemani keponakannya,  aku kesal karena merasa dinomorduakan,  padahal dua minggu ini sama sekali kita tidak bertemu. Tapi aneh juga biasanya aku termasuk yang santai dengan hal-hal seperti ini. Kenapa sekarang berbeda yah?  Apa sebegitu rindunya aku dengan Galang atau hanya egoku yang berbicara,  aku tidak tahu yang jelas saat ini aku sedang merasa tidak ingin berbicara lagi dengan Galang. 


Ku rapikan meja kerjaku dan bersiap untuk pulang. Ponselku berbunyi lagi,  dari nadanya ada pesan yang masuk dari Galang. 


Galang: "I miss you so much Nami, aku tahu kamu juga tapi lagi ngambek yah 😔"


Galang: "😘😘😘😘"


Aku hanya membacanya dengan perasaan jengkel,  "whatever Galang" Gumamku sendiri. 


Ku kendarai motorku dengan santai,  awalnya berniat untuk langsung pulang tapi sampai perempatan sanur malah berbelok ke arah Renon untuk mampir kesalah satu mall di Denpasar. Mungkin sedikit jalan-jalan akan mengalihkan rasa kesal ini pikirku. 


Sampai diparkiran, hapeku berbunyi,  kulihat ada pesan masuk dari Bumi. 


Dia mengirimkan foto Galang memangku seorang anak laki-laki berumur kurang lebih dua atau tiga tahun,  disebelahnya seorang perempuan cantik yang kemungkinan Ibu dari anak tersebut. Mereka tampak sangat akrab seperti keluarga kecil yang bahagia,  terbersit rasa cemburu yang makin menjadi dibenakku. 


Aku: "??? "


Bojog: "Kamu tidak penasaran itu siapa?  Aku bertemu mereka tidak sengaja baru saja"

__ADS_1


Aku: "Aku sudah tahu mereka siapa,  kamu nggak usah repot-repot"


Bojog: "Dan kamu merasa biasa saja? Luar biasa Nami 😅,  bahkan malam minggu pun dia tega nggak sama kamu? "


Aku hanya membacanya dan tidak menjawab,  dia mengirimkan pesan lagi. 


Bojog : " Aku tahu kamu tidak sesabar itu,  dan Galang memang tidak yang seperti kamu bayangkan Nam, 😄 nggak usah sok sabar" 


Aku: "Puas kamu tertawa?  Tertawa aja terus sampai gigimu lepas semua😒"


Bojog: "😲😂😅"


Sepertinya memang ada yang aneh dengan kegiatan Galang yang satu ini,  dia mengantar anak beserta Ibunya itu setiap akhir pekan. Kalau memang anak itu keponakannya kenapa harus setiap minggu?  Kenapa harus menjadi tanggung jawab Galang setiap minggu?  Tidaklah wanita itu punya rasa sungkan,  atau ternyata mereka sama-sama menikmati kebersamaan itu?  Entahlah pikiranku sekarang sudah dipenuhi berbagai macam pertanyaan. 


Kuperhatikan kembali foto yang dikirimkan Bumi tadi,  aku merasa tidak asing dengan tempat mereka duduk. Benar mereka ada di mall ini juga ternyata. Awalnya aku tidak ingin peduli tapi dikalahkan oleh rasa penasaran akhirnya aku mempercepat langkahku mencari-cari Galang di mall ini.  Tentu saja tempat pertama yang kutuju adalah tempat yang tertera di foto itu. 


Sambil mencari aku berusaha menguatkan diri, kalau-kalau ternyata apa yang ada di pikiranku ini benar. Mataku mencari- cari sosok Galang di kerumunan orang-orang yang berlalu lalang. 


Sampai beberapa saat aku seperti mendengar suara yang begitu kukenal diantara kerumunan ini. 


Aku menoleh kearah salah satu gerai minuman,  tampak Galang sedang duduk memangku seorang anak kecil laki- laki dan disebelahnya duduk seorang perempuan yang aslinya ternyata lebih cantik dari foto yang dikirimkan Bumi tadi. 


Pelan- pelan kudekati dan berhenti sekitar 3 meter dibelakang mereka. 


Kuperhatikan mereka tampak seperti keluarga kecil yang sangat bahagia,  sesekali tampak Galang mengelus kepala anak tersebut dan mengajaknya bercanda. 


"Ayah,  aku mau cepat becal aja bial nanti bica cama- cama ayah teyus" Kata anak kecil yang masih cadel itu sambil mendongakkan kepalanya ke arah Galang


"Iyah sayang, maemnya harus banyak,  nanti di Surabaya harus telepon Ayah terus yah" jawab Galang


 "Dheg"! Aku terpaku di tempatku berdiri,  jantungku berdegup kencang,  aku tak sanggup untuk melangkah lagi. Aku tahu aku tidak salah mendengar, hatiku pelan tapi pasti terasa sakit,  sakit sekali. Aku berusaha melangkah menjauh tapi kedua kakiku tidak bergerak sama sekali, air mata pun mulai menggenang di kedua pelupuk mataku. Aku merasa menjadi orang yang sangat bodoh. Pikiranku berkecamuk dengan segala macam hal yang pernah aku lalui bersama Galang,  aku merasa semakin marah. 


Sekitar 5 menit kemudian dengan sisa- sisa kekuatan yang  kumiliki aku mencoba melangkahkan kakiku menjauh dari tempat ini. 


Aku membalikkan badanku dan mulai melangkah tiba- tiba ponselku berbunyi sangat nyaring,  dari nada lagunya sudah bisa kupastikan itu dari Galang. Aku meraih ponselku untuk kumatikan,  agar bunyinya tidak terdengar oleh Galang. 

__ADS_1


"Nami!!! " Suara Galang berteriak memanggilku


Entah mendapat kekuatan darimana,  aku berlari menjauh dari tempat itu. Aku berlari sekencang- kencangnya. Entah Galang mengejarku atau tidak,  yang pasti aku ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini.  Aku menyelinap diantara kerumunan orang dan menuju tempat parkir. Ku lajukan motorku secepat kilat.  Sementara itu air mataku sudah tak bisa kubendung lagi,  bak air bah membanjiri kedua pipiku yang menyebabkan aku terpaksa harus meminggirkan motorku dan menghapus air mataku yang rasanya tidak akan berhenti dalam waktu singkat.


__ADS_2