
Galang sedang duduk termenung di kamarnya. Kemarin ayahnya meminta ia pulang sebentar ke Tabanan untuk membicarakan sesuatu.
Dari pembicaraan itu ia baru mengetahui kalau keluarganya sedang mengalami masalah keuangan yang berat. Ayahnya dulu adalah seorang kontraktor yang cukup memiliki nama di Bali. Banyak proyek penting yang pernah ditangani oleh beliau selama bertahun-tahun. Karena banyaknya pesaing, usaha ayahnya harus turun dari pamornya. Beliau lalu banting stir membuka usaha minimarket franchise di tabanan. Hasilnya bisa di bilang lumayan dari lima minimarket yang dikelola selama kurang lebih 10 tahun.
Masalah dimulai dari Ayah-nya ternyata tergiur ikut bisnis investasi dari informasi teman baiknya. Belakangan ayahnya baru menyadari ternyata bisnis investasi itu bodong.
Galang masih ingat bagaimana ayahnya terlihat sangat menyesal menceritakan semuanya kepadanya kemarin.
"Ayah punya hutang berapa di bank? Putu kok nggak tahu Ayah ikut beginian" Tanya Galang dengan wajah panik setelah mendengar cerita ayahnya tertipu investasi bodong.
"2 milyar tu, ayah pakai untuk investasi dari meminjam di bank. Itu belum termasuk hutang ayah sama supplier" Jawab ayahnya pasrah
"Ya Tuhan, kok bisa Ayah percaya sama pak Dede begitu saja?! "
"Karena Ayah tergiur dengan keuntungannya yang besar tu, sudah beberapa kali Ayah mendapatkannya. Namun setoran Ayah yang terakhir malah dibawa orang itu kabur tu" Ayah Galang terisak
Ibu Galang yang ada disebelah Ayahnya hanya menangis tanpa bisa berkata apa-apa
"Sube ke kene dadine, terus kenken Jani? (Sudah begini jadinya, terus gimana sekarang)" Kata Galang kesal
"Ayah akan jual aset tu, semua tanah, villa dan beberapa kos-kosan juga"
Galang hanya bisa memejamkan matanya, kepalanya tiba-tiba saja terasa Pening.
"Kalau putu tahu lebih awal, sudah pasti tu larang ikut permaianan uang begini!!, terus kalau semua di jual, kita punya apa yah?!!!, pikir dong lagi, mana ada uang gampang jaman sekarang!!! " Galang berteriak
Ayah dan Ibunya makin terisak
"Beberapa tanah itu warisan yah, sing bani Putu ngadep konyangan, bise kena tulah rage ajak leluhur (nggak berani Putu jual semua, bisa kena tulah kita sama leluhur)"
"Men kenken tu carane jani?(terus gimana caranya sekarang) Ayah bingung tu"
Mereka terdiam beberapa lama, termasuk Galang yang langsung memutar otaknya untuk mencari cara agar bisa menyelamatkan beberapa tanah warisan keluarganya.
"Coba sekarang kita cek satu-satu yang mana bisa dijual, berapa harga umum properti-nya. Yang tanah warisan jangan dulu diikutkan. Putu pengin lihat berapa jumlah nominalnya" Kata Galang dengan Suara yang kembali tenang.
Mereka mencoba menghitung berapa yang mereka bisa dapatkan dari penjualan aset tersebut.
"Masih kurang tu" Kata Ayahnya
__ADS_1
"Besok tu mau ke Denpasar lagi, tiang sedang mencoba ikut proyek besar Pak Sudira, yang terkenal itu. Mudah-mudahan tiang berhasil ikut serta. Nanti coba tiang sekalian tanyakan ke Pak Sudira, siapa tahu bisa membantu membeli aset kita dengan harga yang pantas" Jawab Galang.
Orang tua Galang hanya bisa mengangguk setuju.
Dan yang membuat Galang berpikir semakin berat adalah saat dia bertemu dengan Dira tadi pagi. Tiba-tiba saja ia dihubungi oleh Gani sekretaris Dira untuk janji bertemu keesokan harinya.
"Galang seperti yang saya katakan kemarin, saya cocok dengan style anda. Kemarin sore saya dapat kabar ternyata investor juga cocok. Jadi kita bisa lanjut yah Galang"Dira berkata dengan lugas.
"Wah terimakasih pak atas kepercayaannya, Saya pasti berusaha lakukan yang terbaik" Jawab Galang dengan wajah gembira
"Saya yakin anda pasti mampu tapi saya punya syarat" Kata Dira secara tiba-tiba.
"Syarat?" Galang terlihat bingung
"Iyah syarat, hmm satu lagi saya dengar Galang ingin menjual aset di tabanan?"
Galang Terperangah " Bapak tahu darimana berita itu? "
"Berita semacam ini memang cepat tersebar, apalagi Ayah anda cukup punya nama dibidangnya" Sahut Dira sambil tersenyum
Perasaan Galang menjadi tidak tenang mendengar itu semua, dia merasa pak Sudira kemungkinan telah memeriksa latar belakangnya bahkan sampai ke keadaan finansial keluarganya.
"Saya bisa membantu membeli aset keluarga Anda Galang, ada beberapa aset Ayah anda yang saya ketahui tampaknya sangat baik lokasinya. Harga yang saya tawarkan juga akan lebih tinggi dari pada harga umum yang berlaku saat ini"
Galang hanya terdiam mendengar Pak Sudira berbicara
"Syaratnya, putuskan hubungan anda dengan Nami" Katanya tanpa ragu.
Galang merasa bagai tersambar petir saat mendengar syarat yang diberikan oleh Pak Sudira itu.
"Nami??.....Pak Sudira kenal dengan Nami?" Galang berkata lemah tangannya terkepal karena menahan amarah. "Please jangan nami!! " Galang berteriak dalam hati
"Iyah saya kenal, mungkin anda saja yang tidak tahu" Kata Dira sengaja untuk membuat Galang semakin bimbang.
"Kenapa saya harus memutuskan hubungan saya dengan Nami? " Tanya Galang dingin.
"Saya menyukainya Galang, dan mungkin saja nanti Nami menyukai saya dan itu urusan saya dengan Nami" Jawab Dira lugas tanpa keraguan.
"Saya beri waktu satu minggu, silahkan hubungi saya langsung selama satu minggu ini. Kalaupun nanti Galang setuju, dan ternyata kalian bersandiwara saya pasti tahu. jadi pikirkan baik-baik tawaran saya ini" Lanjut Dira kemudian.
__ADS_1
Pertemuan pagi tadi itu benar-benar membuatnya gelisah, marah dan sedih secara bersamaan. Ia tak sanggup untuk memutuskan apapun untuk saat ini. Apalagi menyangkut Nami, orang yang ia paling cintai.
Sesuai janjinya, Dito akhirnya datang malam ini dan langsung masuk ke kamar Galang seperti yang biasa dia lakukan saat berkunjung ke rumah Galang.
"Ada apa Galang? Mukamu kusut sekali? "
"Ada masalah dit, menyangkut keluargaku, pak Sudira dan Nami"
"Hah?! Lagi-lagi pak Sudira, masalah apa Lang?" Dito tampak bingung.
Galang pun menceritakan semua yang terjadi. Dito yang mendengar cerita Galang hanya sanggup terdiam.
"Aku harus bagaimana dit? "
"Aku ingin sekali membantu masalah keuangan keluargamu Lang, tapi saat ini aku belum bisa. Aku juga mempunyai kewajiban di Bank yang nominalnya kamu tahu sendiri " Dito terdengar putus asa
"Aku tahu dit, tidak apa-apa. Aku hanya sedang bingung. Kalau aku terima tawaran ini, aku bisa menutup kira-kira 70% dari Hutang ayahku, dan aku akan memiliki portfolio yang lebih bonafid. Tapi artinya aku juga harus kehilangan Nami. Aku nggak sanggup dit, aku cinta banget sama dia" Galang menutup matanya dengan telapak tangan.
"Kurasa sebaiknya kamu ceritakan pada Nami, dia pasti mengerti"
"Kalau aku memberitahu Nami, aku yakin dia mengerti tapi dia tidak akan tinggal diam. Nami pasti akan membantuku apa pun caranya. Sekuat tenaga pasti dia kerahkan hanya untuk aku. Dia wanita yang seperti itu dit.Bisa saja dia berpura-pura menyukai Dira untuk sementara waktu. Tapi itu akan sangat berbahaya untuk kami berdua.
"Aku tidak mau memanfaatkannya dalam situasi seperti ini. Kalau kita berpisah setidaknya dia mengambil keputusan atas kemauannya sendiri bukan karena aku. Itu lebih baik Dit" Galang terlihat frustasi.
"Kamu rela lang? "
Galang menggeleng "aku tidak akan pernah rela "
"Kalau pada akhirnya mereka bersama bagaimana?" Tanya Dito lagi, dengan pandangan iba ke teman baiknya ini
"Itu artinya kita tidak berjodoh dan....aku akan ikhlas menerimanya" Galang tertunduk
Mereka berdua terdiam dengan pikiran masing-masing.
" Sepertinya aku akan melepaskan Nami Dit, Aku rasa aku masih bisa kuat bertahan tanpa dia. Aku yakin dia bisa menjaga dirinya dengan baik. Hal yang utama bagiku sekarang adalah menyelamatkan keuangan keluargaku, aku tak punya pilihan lain" Galang berkata lagi sambil mengepalkan tangannya menahan emosi.
"Aku hanya tidak mau kamu menyesal meninggalkan Nami lang. Terus terang aku jadi merasa bersalah karena saat ini aku tidak bisa membantumu sama sekali. Kita berada dalam kondisi keuangan yang sama, hanya aku sedikit beruntung usaha aku dan orang tuaku saat ini masih berjalan dengan baik". Dito berkata pelan.
"Aku hanya bisa berharap, Nami tidak menyukai pak Dira sama sekali. Dan di masa depan aku bisa mengejarnya kembali. Tapi rasanya tidak mungkin dit. Kamu tahu kan siapa pak Sudira. Dia sangat ambisius, semua hal yang dia inginkan sudah pasti dia dapatkan dengan mudah. Apalagi dia termasuk orang berada dan berpengaruh, wanita mana yang tidak tergiur Dit. pasti mudah baginya mendekati wanita mana pun yang dia inginkan. Tapi entahlah di hati kecilku masih ada harapan Nami bukan salah satu dari wanita-wanita itu". Galang menghela nafasnya
__ADS_1