
Aku mengangguk perlahan
"Nanti berhenti sebentar di minimarket itu didepan, mau ke ATM"
Galang mempercepat laju mobil dan melewati ATM yang aku maksud
"Loh kok lewat"
"Kamu mau beli apa sih mesti narik ATM sekarang, antriannya juga banyak disana kan kelamaan antre Nami"
"Aku kan nggak bawa cash"
"Kan ada aku"
"Berasa ngajak sugar daddy"
"Hehehehe bisa aja yah, udah deket nih" Galang mempercepat laju mobilnya dan segera masuk parkiran Mall.
Sambil berjalan menuju pintu masuk Mall dari tempat parkir, Aku memperhatikan orang yang berlalu lalang disekitar Mall tersebut.
Galang tiba- tiba menggenggam tanganku dan menariknya lembut, aku kaget sekaligus bingung dalam benakku hanya ada "lepasin apa nggak ini, lepas nggak, lepas nggak, lepas nggak tapi tapi... Tapi nyaman tapi ini aneh, pegangan tangan gini gimana yah? Lepas nggak, lepas nggak" Begitu terus sepanjang jalan menuju ke Periplus.
Galang berhenti di tengah jalan dia tersenyum memandangku dengan tanganku masih dalam genggamannya "Jadi beli sepatu? Atau yang lain mungkin? "
Tiba-tiba detak jantungku berdebar kencang, aku menarik nafas panjang "Mmm nggak usah aja, nggak papa kan?" Aku balik bertanya untuk menutupi rasa gugup aneh yang menyelinap diam-diam ini
"Aku sih nggak papa, asal kamunya nyaman aja"
Aku mengangguk lemah
Galang melanjutkan langkahnya menuju Periplus, sampai di sana aku sengaja melepaskan genggamannya karena merasa kurang leluasa melihat-lihat buku-buku yang terlihat menarik buatku. Kuambil satu persatu untuk kuteliti penulis dan ringkasan ceritanya.
Sementara Galang menuju ke bagian buku arsitektur.
Beberapa saat aku tenggelam diantara buku-buku tersebut, aku menoleh ke arah terakhir Galang berdiri dan dia tidak tampak sama sekali, mataku menyusuri setiap sudut ruangan, mencari- cari dimana Kira-kira dia berada
"Aku disini" Galang berkata pelan dibelakangku dekat dengan tengkukku membuatku terperanjat dan langsung menoleh, jarak kami begitu dekat.
Tinggi Galang sekitar 170an cm, dan tinggiku tepat didagunya, dan saat itu dia sedikit menunduk membuatku hampir saja mencium hidungnya, jantungku berdebar hebat, sekian detik kami bertatapan. Suara tertawa anak kecil di gerai lain menyadarkanku dan akupun memalingkan mukaku kearah buku yang aku pegang.
"Kamu suka bukunya?" Terdengar suara Galang sedikit tercekat
Aku menghela nafas "lumayan, mau liat reviewnya dulu kan bisa beli online juga" Sahutku pelan takut dia mengetahui debaran jantungku yang masih saja bertalu-talu.
"Sudah dapat bukunya? " Kataku lagi
"Sudah dari tadi sih langsung dapet, ini sudah bayar juga" Galang menunjukkan bungkusan buku yang sudah ditangannya.
__ADS_1
"Kalau gitu yuk ah pergi, kalau lama disini nanti aku lupa diri hehehe"
"Kemana yah?, aku haus beli minum? "
Aku mengangguk sambil berfikir "dia pegang tanganku lagi nggak yah? Sebaiknya sih nggak, tapi aku suka tapi mending nggak usah, kita apa? " Belum sempat aku berfikir lebih banyak dia memegang lembut tanganku lagi
"Nggak papa kan begini? " Galang mengangkat tangannya yang mengenggam tanganku
Aku menggeleng
"Kenapa? Kok diem"
"Nggak papa" Sahutku kalem berbanding terbalik dengan jantungku yang berdetak tidak karuan ini.
"Baper banget yah kamu Nam, dia cuma suka jalan sama kamu, nggak usah buru-buru kenapa sih, kamu nggak kenal dia, apa aku bucin banget yah?, kelihatan menyedihkan? Sendiri? Entahlah... Sudah stop aku ingin menikmati hari ini, sepertinya dia bukan orang yang mencari kesempatan seperti laki-laki lain, untuk satu hari ini saja aku akan menikmatinya belum tentu besok- besok kita ketemu lagi kan? " Aku berdebat dalam hati.
"Kamu mau pesan apa Nam? " Perkataan Galang menyadarkanku dari perdebatan dalam benakku yang tidak pernah habis ini.
"Bubble jasmine satu mba"
Aku mengambil minumanku dan mencari tempat duduk yang kiranya bisa menopang perasaanku yang sedang kacau saat ini.
Galang memandangku kembali saat kami berdua telah duduk
"Kamu lebih diem yah semenjak kita sampai disini, kenapa? "
"Nggak apa-apa Galang, coba sini liat buku yang kamu beli"
"Villa modern minimalis" Sahutku
"Iyah aku lagi mencari inspirasi untuk villa baru yang akan dibangun Dito, dia mau bangun di daerah Ubud makanya aku sering kekantornya bahas proyek dia"
"Villa pribadi apa gimana"
"Dia pengin buat Akomodasi semacam Bed and Breakfast gitu, tapi masih bingung desainnya seperti apa, kemarin beberapa desain contoh aku perlihatkan, dia masih merasa kurang cocok, dari beberapa kali pertemuan dari yang aku tangkap seharusnya yang seperti ini yang dia maksud"
"Hmm"
Aku masih melihat-lihat satu persatu desain yang menurutku sangat ringkas, dinamis dan juga fun, cocok untuk anak muda milenial sekarang.
Sementara itu Galang masih memandang Nami dengan perasaan yang sama tidak karuannya,
"hampir saja aku mengecup dagunya tadi, kalau saja aku tidak menahan diri, inginku peluk dia sambil berbisik "boleh aku kecup sedikit saja" Pipinya yang bersemu ketika tertawa, raut wajahnya yang ekspresif ketika bercerita, matanya yang selalu bergerak- gerak menyesuaikan cerita terkadang berputar, melotot, terpejam. Aku bahagia ketika dia tidak menolak tangannya kugenggam seperti tadi bahkan kugenggam sangat lama tanpa berusaha dilepaskannya sama sekali.
Saat dia tenggelam dengan buku yang ia baca tadi, dia tidak sadar aku beberapa menit memandangnya dari belakang, begitu dekat warna hitam rambutnya yang tergerai bebas, wangi tengkuknya yang manis, dan kakinya yang tidak bisa diam saat berdiri. Aku suka semua tentangmu Nami"
"Kok bengong, mikir jorok yah" Suara Nami membuyarkan lamunanku
__ADS_1
"Lagi mikirin desain" Jawab Galang santai
"Kok kamu nggak kagetan, kan lucu yah kamu tiba-tiba latah eh ayam ayam ayam gitu hehehe"
Galang tertawa "kenapa ayam, gimana kalau eh singa singa singa, lebih laki kan? "
"Mana ada yang latah keliatan maskulin hahaha" Aku terbahak
" You're so witty Nami"
" Am I? "
" Cerita dong Nam kenapa kamu sampai sekarang belum punya pacar lagi?
" Harus punya pacar? "
" Nggak juga sih maksudku kamu kayak menutup diri dari hubungan baru"
"Keliatan begitu yah" Jawabku datar
" Kamu nggak suka yah bahas ini? " Galang yang duduk disebelahku menyenggol lenganku dengan lengannya kemudian memiringkan wajahnya menatap wajahku dengan raut muka menyesal.
Aku tersenyum "entahlah, setelah putus terakhir sama orang itu, rasanya aku mulai malas dengan hubungan baru lagi. Rasa sakit yang dia toreh ke aku itu bener-bener nyesek banget. Lama-lama jadi menghindari dekat dengan laki-laki, aku merasa semua laki-laki sama, lucu yah padahal pacaran dalam periode lama itu baru sekali"
"Nggak pernah ingin mencoba lagi sama sekali?"
" Pernah, tapi keburu ilfeel dan itu berulang-ulang "
" Kamu pemilih? "
" Masak nggak milih buat dijadiin pacar?"
"Maksudku kamu carinya yang benar-benar spesifik gitu misal mesti gajinya 30 juta sebulan, mobilnya harus apa gitu, jelek nggak papa asal berduit" Tanya Galang lagi dengan nada menggoda
" Matre banget yah sayanya hahaha sekalian jadi sugar baby beneran deh kalau begitu"
"Terus yang buat ilfeel apanya"?
" Aku pernah deket sama cowok yang tiba-tiba dia chat aku bahasanya alay banget, kayak " Mu dah mem bebz? Q g mem nech" Nech nya pake en e ce ha, langsung ilfeel banget loh aku, padahal seperti yang kamu bilang tadi gajinya ok, mukanya lumayan manis, gaul beud pokoknya hahaha"
" ilfeel cuman gara-gara gitu? " Galang menggeleng.
"Ada juga yang tiba-tiba aku nggak sreg caranya jalan, pantatnya gede dan bulat. Padahal orangnya gagah gitu kan, gimana sih?mestinya kan cewek-cewek gitu suka yang pantat seksi begitu hahaha"
"Makanya aku males banget deket sama siapa aja, karena kayaknya aku lagi yang benar-benar dalam periode picky abis deh beberapa tahun ini".
"Terus sekarang masih periodenya? "
__ADS_1
"Kayaknya sudah lebih berkurang banyak"
"Contohnya hari ini, tahun sendiri kamu nami betapa nyamannya kamu sama orang didepanmu ini " Aku bergumam dalam hati