
"Kemarin aku dapat kiriman surat sama foto dari Dira bli" Kataku sembari menyendokkan es campur ke mulutku.
"Dikirim kerumah?? Apa isinya?" mata Galang tajam menatapku
"Iyah, kata meme diantar kurir. Bentar yah, aku ambil dulu ke atas " Aku berlari menaiki anak tangga menuju kamar Galang.
Kuletakkan satu kotak kiriman Dira didepan Galang. Galang membukanya dan membaca surat dari Dira. Dia juga melihat foto-foto yang ada dalam kotak itu. Galang tersenyum "sepertinya dia beneran cinta banget sama kamu" Ada kecemburuan di nada suara Galang.
"Entahlah" Aku menaikkan bahuku
"Udah kamu telepon"
"Nelepon Dira? menurutmu aku nelepon dia atau nggak?"
"Hmm nelepon"
Aku menggeleng "ngapain nelepon dia lagi? Anggap aja aku belum menerima kirimannya" Aku melengos
"Siapa tahu kan, kamu merasa tidak enak"
"Kalau aku meneleponnya, sama saja dengan bilang aku simpati dan rindu padanya. Padahal nggak begitu, aku mau hidupku tenang seperti ini bli"
"Aku semalam sempat kepikiran, terus terang aku heran sama kamu. Kok nggak mau sama laki-laki yang sukses, ganteng, gagah, kaya luar biasa macam Sudira. Malah milih balikan sama laki-laki biasa kayak aku" Kata Galang sambil mengorek-ngorek es campur didepannya.
"Laki-laki biasa?" Aku memeluknya erat "you are special bli, just the way you are. Kamu itu paket komplit buat aku. Aku maunya kamu bukan Dira"
Galang membalas pelukan ku "terimakasih yah sayang" Katanya sambil tersenyum.
"Sayangnya untuk sementara waktu kita belum bisa ke tempat umum bareng-bareng, aku takut Sudira dan anak buahnya memergoki kita dan mempersulit hidupmu lagi" Lanjut Galang, tangannya mengusap-usap lenganku.
"Iyah, kayak gini aja aku sudah senang kok"
"Besok kerja, sayang?"
"Kerja, kenapa? "
"Kita makan siang bareng yah, tapi di kantormu aja. Nanti aku yang beliin makan siangnya"
__ADS_1
"Boleh, mekde pasti kaget kalau tahu kita pacaran hehehe" Aku tertawa geli
"Pastinya, kalau dipikir-pikir lagi walaupun kita nggak ketemu di rumah Putra, bisa jadi kita ketemu lagi karena campur tangan bu Made. Tahu nggak sayang, yang bantuin kita bisa balikan lagi itu si Goldie"
"Kok bisa?!, aku pikir karena nggak sengaja. Aku lagi pamit sama Goldie terus bli iseng berdiri diluar"
"Kan aku beli parfum yang sama, yang sering kamu pakai itu. Ada cewek lagi nyemprotin tester parfum di mall. Wanginya mirip banget sama yang sering kamu pakai. Ya udah aku beli, abisnya aku kangen banget sama kamu"
"Pantesan kok wangi bli mirip sama aku, aku pikir perasaan aku aja. Siapa tahu karena abis meluk aku jadi wangi parfum ku nempel di bajunya bli"
"Nah si Goldie mau dekat sama siapa itu pemilih banget, makanya Putra heran kok Goldie bisa dekat sama kamu. Lama-lama dia nyadar kalau wangi parfum kita sama. Itu kenapa Goldie jadi dekat juga sama kamu. Waktu dia bilang gitu aku jadi penasaran sama cewek yang namanya Ayu hahaha"
"Hahaha kan namaku memang ada ayunya"
"Oh iyah bener hahaha kok aku bisa lupa yah?? Belum lagi waktu aku lagi didalam dengar kamu lagi ketawa, itu kamu banget"
"Ck! Susah payah menghilang eh ketemunya kamu lagi hahaha"
"Kalau sampai setahun kamu menghilang, Aku ada niat mau kerumahmu tahu nggak"
"Ngapain kerumah? Mo nyulik?"
"Capek dong, kawin kok lari-lari hehehehe" Aku terkekeh
"Bisa aja" Galang ikut terkekeh mendengar jawabanku
"Abis ini nonton yuk" Kata Galang sambil berdiri dan mulai membereskan peralatan makan kami.
Aku mengambil piring yang ada diatas meja makan berniat untuk ikut membantunya mencuci piring. "Kamu naik aja duluan, cucian piring biar bli bagus yang beresin" Katanya lalu mengecup pipiku cepat.
"Ya udah aku naik duluan yah" Aku berlari menaiki anak tangga menuju kekamar Galang dengan hati yang berbunga-bunga.
"Iyah" Sahut Galang masih sibuk dengan cucian piringnya.
Aku menghidupkan televisi yang ada dalam kamar Galang. Sambil menunggu aku membaca berita dari ponselku.
Tak lama Galang masuk dan mengambil remote televisi. Tangannya memencet-mencet remote untuk masuk ke salah satu aplikasi tayangan film "mau nonton apa?" Mata Galang fokus pada layar televisi.
__ADS_1
"Apa aja deh" Kataku masih sibuk dengan ponselku.
Galang menarik ponsel dari tanganku "ck! katanya mau nonton kok main ponsel"
"Iyah sayang" Kataku sambil nyengir
Galang akhirnya memilih satu film horor lokal "kita coba yang ini yah, kalau jelek nanti di skip aja" Katanya lalu ikut duduk disebelahku.
Sepanjang film aku yang dasarnya memang penakut tentu saja sibuk menutup mata dengan selimut, bantal atau baju Galang sewaktu adegan horornya muncul. Sampai Galang geleng-geleng melihat kelakuanku.
"Hahahaha Duh kamu loh, ini cuman film. Lucu banget segitunya nutupin mata. Masak cewek pemberani bisa manjat tembok tinggi takut sama hantu film horor hahaha" Galang meledekku
"Diem ah" kataku yang masih menutupi wajah dengan bantal
Galang masih terkekeh sambil mengelus kepalaku "mau ganti film?" tanyanya lagi
"Nggak usah ini bagus kok, tapi serem"
"Ya sudah aku ganti aja ketimbang kamunya nutup mata melulu"
"Tapi aku penasaran endingnya. Gini deh, bli yang nonton akunya merem aja. Nanti kasih tahu endingnya kayak gimana hehehe" Aku terkekeh
" Satu hal yang aku baru tahu ternyata kamu nggak bisa nonton film horor" Galang mengambil remote televisi dan menghentikan film horor yang sedang tayang itu.
Aku memutar bola mataku
"Apalagi hal baru yang aku belum tahu, selain kamu bisa nonton b*k*p lewat v*n, suka cowok yang jantan dan berkeringat, tempat terbuka, tidak suka film horor, apalagi sayang?"
"Yah segitu aja sih, itu nonton b*k*p juga iseng nggak sering kok. Namanya pengin tahu kan. Yang ngajarin juga bli Putu. Terus masalah cowok jantan berkeringat itu suka-sukanya Beni aja tuh. Becandanya kadang memang kelewatan sih dia" Aku tersenyum meringis
"Masa.... " Galang menggodaku
"Beneran, ih udah nonton lagi aja, kasian filmnya"
Galang menggeleng sambil tersenyum geli dan mulai lanjut menonton film horor tadi.
Aku yang sudah lebih siap dengan selimut disekujur tubuhku mulai menutupi wajahku saat adegan horor terjadi. Saking nyamannya kamar Galang dengan AC, lampu temaram dan berada dalam selimut lembut tiba-tiba saja tanpa aku sadari aku sudah masuk ke alam mimpi.
__ADS_1
"Ahh ketebak nih endingnya, padahal awalnya serem banget yah sayang" Galang menoleh kearah Nami dengan wajah bingung "sayang, tidur yah, ya ampun beneran tidur hahaha ck! Cewek manis pemberani begini takutnya film horor sampai ketiduran" Galang terkekeh melihat Nami yang sedang tertidur lelap.
Galang merapikan selimut Nami dan mengecup keningnya, dia senang Nami bisa tertidur lelap di kamarnya seperti ini. Itu artinya Nami memberikan kepercayaan penuh pada dirinya. Galang beringsut bangun dari tempat tidur dan mengambil ponselnya, kemudian keluar dari kamar. Ia ingin menghubungi orang tuanya untuk mengabarkan sesuatu yang penting menyangkut hubungannya dengan Nami.