
Aku telah kembali kekantor.
"Cieee mba Nami yang abis makan siang sama yang ganteng" Kata Ratna menyambutku di kantor depan.
"Sttth" Aku menaikkan telunjuk ke depan bibirku sambil tersenyum seadanya. Ratna terlihat menutupi mulutnya dengan kedua tangan dan tertawa geli
Aku menuju mejaku dengan mood yang berantakan. Didalam ruangan semua mata memandang kearahku, termasuk pak Jiwa yang langsung mendekat kearahku "baik-baik aja kan Nami? " Tanyanya berbisik penuh rasa khawatir
"Saya baik-baik saja pak, terimakasih " Aku ikut berbisik
"Itu yang paling penting yah, besok-besok kalau memang bisa, hindari saja dia"
"Tentu saja pak" Aku menaikkan jempol ku.
Aku sampai di mejaku, Bu Ida langsung mendekat "aduh Nami saya sampai kepikiran loh tadi, dia nggak macam-macam kan? "
"Nanti saya cerita bu, saya mau ke ruangan pak Dito dulu" Sahutku pelan
Aku mengetuk pintu ruangan pak Dito "tok tok tok"
"Iyah masuk" Katanya dari dalam
Pak Dito memandangku dan terlihat kelegaan di wajahnya. Aku berjalan mendekat dan duduk di depannya.
Warna wajah Pak Dito berubah menjadi penasaran "Gimana tadi? " Tanyanya
"Saya menyerah menghadapi orang seperti dia pak, beneran deh"
"Tapi dia nggak yang macam-macam kan Nami? "
"Belum yang separah itu pak, tapi sepertinya lama-lama akan mengarah kesana kalau saya boleh simpulkan"
"Hah?! Aduh maaf yah Nami saya jadi merasa bersalah, padahal tadi kan Nami sudah menolak. Saya pikir orangnya tidak senekat ini"
"Saya mengerti pak maksud pak Dito apalagi tadi habis teken kontrak kerjasama dengan hotelnya"
"Ck! Saya jadi ingin tahu kalian kenal dimana sebelumnya? "
"Saya dulu pernah tidak sengaja menolongnya waktu dia pingsan di bandara. Kebetulan waktu dia roboh saya tepat dibelakangnya terus refleks saya menangkapnya. Saya sampai ikut ke rumah sakit mengantarnya. "
"Terus hubungan kalian lanjut setelah itu? "
" Tidak berlanjut bahkan saya sebenarnya tidak ingat sama sekali siapa yang saya tolong waktu itu. Kemarin saat saya ke Travel XOB, Gani sekretarisnya tidak sengaja menabrak saya terus dompet si bapak masuk ke tas. Nah sore hari ketemu Pak Dira lagi untuk mengembalikan dompetnya. Begitu ceritanya."
"Pak Sudira sepertinya suka sama kamu Nami"
"Saya tahu pak, dan sikapnya sebenarnya sih fine-fine saja pak. Asal yang dia ajak itu tertarik sama dia juga. Sedangkan saya kan tidak"
"Yang penting kamu sudah pulang dengan selamat" Kata Pak Dito tersenyum.
"Jangan bilang Galang yah pak, nanti kalau dia mau tahu biar saya yang cerita. Takut dia salah paham"
"Iyah Nami saya mengerti"
"Saya kembali ke meja saya ya pak"
"Iyah Silahkan " Kata Pak Dito sambil mengangguk.
Sekembalinya aku ke meja, Bu Ida menempel padaku "cerita dong gimana tadi? "
__ADS_1
"Ck! Kalau saya cerita, ibu jangan sebar ke yang lain yah. Saya kasihan sama pak Sudira, sekaligus sebal juga bu"
Aku menceritakan detail saat makan siang tadi. Bu Ida yang awalnya bengong kemudian mengernyit sampai terkekeh mendengar ceritaku.
"Jadi pas bangun di pangkuanmu itu dia langsung senyum gitu? "
Aku mengangguk, "bahkan tangan saya tiba-tiba dikecup bu, mau copot rasanya jantung karena kaget. Saya mau marah tapi saya takut" Aku bingung mengungkapkan perasaanku mengingat kejadian tadi.
"Ya ampun Nami kok ada yah orang seperti itu, memangnya dia nggak mikir gimana perasaanmu. Bahaya kalau dia sampai nyulik kamu terus diajak kawin lari " Bu Ida tergelak dengan ucapannya sendiri
"Bu Ida ih nakutin saya saja, ngeri bu " Aku bergidik.
Bu Ida makin terpingkal melihat wajahku yang meringis. "Sama yang ganteng dan sukses begitu kok nggak mau? ,pasti banyak wanita yang mengantri diluar sana Nami"
"Sayangnya bukan tipe saya bu, lagipula keluarganya Dira pasti sudah punya pilihan. Kalau dibandingkan dengan saya jelas beda level bu" Aku cemberut
"Yang penting kan Dira sukanya sama kamu, ck! Udah manggil nama aja loh dia nggak pake pak lagi hahahaha" Bu Ida menggodaku lagi
Aku hanya bisa ikut tertawa geli, "Bu Ida nggak Inget tadi waktu meeting dia ngomong apa? "Kenapa memanggil saya pak lagi? " Aku meniru cara Dira berbicara " Bu Ida lagi- lagi terbahak.
"Memangnya dia pikir hubungan saya sama dia itu sedekat apa sih? Ketemu juga baru kemarin" Lanjut ku bersungut-sungut.
"Duh Namiiii ceritamu bikin saya gemas" Kata Bu Ida sambil memegang perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa. Bu Ida kemudian kembali ke mejanya.
Aku melengos ketika melihat jam di ponsel yang baru saja aku keluarkan "hah?! sudah jam 15.35? Kemudian aku membuka kotak masuk pada e-mail di komputerku, terlihat banyak email yang perlu aku balas hari ini "lembur deh ini, duh nyebelin banget" Aku menggerutu sambil memegang kepalaku karena kesal.
Waktu pun beranjak sore, kulihat jam menunjukkan pukul 18 lewat 45 menit. Badanku terasa pegal semua. Akhirnya pekerjaanku selesai sudah hari ini. Hanya tersisa aku, Bu Teni dan pak Yanto bagian akunting yang masih ada di kantor.
Aku baru sadar ternyata Galang belum membalas pesan ku lagi. Aku mencoba menghubunginya kembali, terdengar empat kali nada dering dan akhirnya diangkat oleh Galang.
"Sayang maafin aku yah, nggak sempat ngabarin apa-apa hari ini. Udah dirumah? "
"Sibuk banget yah bli, aku kangennn " Sahutku manja
" Sama aku juga kangen banget sama kamu sayang, eh Kok ada suara printer, jam segini masih dikantor? "
"Iyah nih kerjaanku baru aja selesai"
Galang terdiam hanya terdengar helaan nafasnya saja
"Are you okay bli?, kok rasanya kita jauh banget yah?"
"Mmm bukan begitu, banyak hal yang membuat aku kepikiran Nami" Suaranya terdengar lemah
"Mau.....aku temenin? " Aku bertanya dengan ragu
"Jangan hari ini yah beb, Hari ini aku mau ketemu Dito, ada hal yang aku ingin bahas sama dia"
Aku tiba-tiba merasa akan terjadi sesuatu yang besar dengan hubungan kami.
"Bli, apapun yang terjadi aku berhak untuk tahu"
"Iyah sayang, aku tahu itu"
"Ya udah deh, terserah bli aja. Aku mau pulang" Aku tiba-tiba merasa di nomorduakan dan itu membuatku sedih.
"Hati -hati yah Sayang, besok deh kita bahas yah "
"Mmm " Jawabku malas dan langsung memutuskan teleponku.
__ADS_1
Aku membereskan meja kerjaku dan bersiap untuk pulang.
Ponselku berbunyi singkat, penanda ada pesan yang masuk. Aku melihat ponselku ternyata dari Dira. Ku lihat notifikasi ponselku memunculkan pesan darinya, tanpa perlu aku membuka ponselku.
Dira: "Masih dikantor Nami? " Saya lihat motornya masih ada di depan ☺"
Dira: "aku tahu kamu sudah membaca pesanku dari notifikasi"
Beberapa detik kemudian muncul lagi notifikasi pesan berikutnya.
Dira : "kenapa tidak dibalas? Apa perlu aku masuk lagi kekantormu? "
Aku memejamkan mataku sambil mengambil nafas panjang. Aku membalas pesannya cepat
Aku: "tidak usah masuk, aku yang akan keluar "
Ok, kalau ini maumu artinya aku tidak perlu bermanis-manis lagi" Aku bergumam
Aku mengambil jaket dan tasku dan bergegas keluar. "Bu Teni, Pak Yanto saya duluan yah".
" Iyah Nami, hati-hati dijalan" Mereka menjawab serempak.
"Iyah, terimakasih " Jawabku sambil berlalu.
Aku bertemu pak Suta, sekuriti kantor kami di depan "malam pak"
"Malam mba, kok baru pulang jam segini? "
"Iyah pak banyak pekerjaan" Aku menjawab ramah
"Iyah hati-hati di jalan, loh kok kesana, motor mba kan disini" Kata Pak Suta yang kebingungan melihatku menuju arah yang tidak semestinya.
Aku menoleh "ada urusan sebentar pak" Jawabku cepat
"Oh Iyah mba" Katanya masih memandangiku yang bergerak menjauh.
Saat keluar kantor tadi aku segera saja tahu Dira dimana, aku bisa melihat jelas mobil hitam yang sering dia gunakan sedang parkir dibawah pohon agak jauh dadi kantorku.
Dira tampak keluar dari mobilnya dan menyender pada pintu mobil yang telah ia tutup kembali. Tangannya terlipat di depan dada dengan tatapan tajam kearahku. Aku menjaga jarak ku cukup jauh.
"Kenapa kemari lagi? " Tanyaku ketus
"Kebetulan lewat saja Nami. Aku lihat motor merah dengan stiker anak ayam itu masih parkir disana. kenapa masih di kantor?" Tanyanya lembut
"anak ayam apa?!!!Itu TWEETY!!!! " Kataku kesal "aku pulang jam segini gara-gara ada orang yang mengajak aku makan siang sampai sore. Padahal aku sudah bilang kerjaanku banyak, heran deh!! masih nanya kenapa aku pulang jam segini" Aku mengomel padanya
Dira tampak tidak bisa menahan tawanya dan mulai tergelak.
"Apa yang lucu?!" Kataku lagi
Sambil menenangkan dirinya yang masih geli, Dira menjawab "Iyah Iyah itu Tweety bukan anak ayam, aku lupa namanya" Dira menarik nafasnya sebelum kembali menjawab "siapa sih itu yang kamu ajak makan siang?? Kok menyusahkan sekali hahaha" Dira kembali terkekeh.
"Nggak lucu Dira, aku mau pulang. Sudah malam, tidak usah mengikutiku lagi " Aku berbalik berniat kembali untuk mengambil motorku.
"Rumahmu dimana? " Tanya Dira setengah berteriak
Aku tidak menjawab pertanyaannya.
"Nanti juga aku tahu Nami!!! " Teriaknya lagi
__ADS_1
"Terserahlah" Aku menggerutu sendiri