
Selembar tisu yang aku ambil dari dalam tas nampaknya telah basah, ku tarik dalam- dalam nafasku. Cara itu rupanya belum berhasil menghentikan air mataku yang mengalir deras, dadaku terasa sesak, sambil sesenggukan aku memperhatikan sekelilingku, rupanya karena tidak fokus pada saat berhenti tadi ternyata aku berhenti di depan suatu pertokoan di daerah renon yang sedang tutup. Hanya seorang satpam yang memperhatikan gerak-gerikku. Satpam yang sedari tadi nampak ragu untuk mendekat, akhirnya melangkahkan kakinya mendekatiku setelah melihat aku menoleh kearahnya.
"Selamat sore bu" Sapa satpam itu dengan hati-hati
"Sore pak" Kataku dengan suara parau dan masih sesenggukan.
"Ibu baik- baik saja kan? "
"Iyah pak, saya tidak apa- apa"
" Kalau memang masih butuh waktu, silahkan disini saja bu, maaf saya lihat sepertinya Ibu sedang sedih mungkin masalah pribadi, sebaiknya nanti kalau sudah merasa lebih baik baru lanjutkan perjalanannya"
"Iyah pak, saya mau disini sebentar lagi"
"Baik, kalau butuh apa- apa panggil saja saya dipos" Kata pak satpam tersebut dengan muka khawatir
"Terimakasih pak" Sahutku lemah sambil menekan hidungku yang berair dengan tisu.
Pak satpam yang sudah tampak berumur tersebut mengangguk dan berbalik badan menuju pos jaganya kembali.
Ku buka helmku dan kuletakkan di atas spion motor, kututup kedua mataku yang terasa panas, nafas kutarik dalam- dalam dan kali ini nampaknya berhasil, tangisanku terhenti begitu saja. Angin senja berdesir dingin disekitarku, waktu dijam tanganku menunjukkan pukul 17.45 wita.
Jalanan tampak ramai, mungkin karena akhir pekan.
Kurang lebih 20 menit aku berada disini, aku merasa lelah, tapi merasa malas untuk pulang kerumah, kemungkinan besar dia pasti kerumah malam ini. Karena merasa sudah lebih baik aku merapikan jaket dan rambutku, kukenakan kembali helmku. Sebelum pergi dari tempat itu aku menuju ke pos satpam, terlihat Pak Satpam tadi keluar dari posnya dan mendekatiku, kuperhatikan nama yang tertulis di dadanya "Wayan Artha".
" Pak Wayan suksma nggih( Pak Wayan terima kasih yah ) tiang sudah merasa lebih baik, tiang mau pamit pulang"
"Nggih sama-sama bu hati-hati di jalan, jangan ngebut, keselamatan yang utama, apapun masalah yang dihadapi, pasti ada jalan keluar"
Sahut pak Wayan dengan senyum.
Akupun ikut tersenyum serta mengangguk pelan, dan mulai mengendarai motorku dengan pelan.
Kuputuskan untuk mampir ke warung es buah langgananku untuk mengembalikan moodku dipasar ketapian yang letaknya tidak jauh dari sini.
Begitu sampai Ibu Nyoman pedagang es buah langgananku tampak tersenyum sumringah
__ADS_1
"Tumben gek kemari"
"Nggih bu kebetulan lewat, punapi gatranya b bu ( apa kabar bu) ?"
"Tetep amenikian gen gek, gek je baru tambah cantik" (Tetep sebegini saja gek, geknya tambah cantik) Kata Bu Nyoman sambil terkekeh
"Ahh Ibu bisa aja" Aku pun ikut tertawa
"Sudah berapa tahun ten mriki? Kanti engsap inget ibu ne" (Sudah berapa tahun tidak kemari? sampai lupa ibu)
"Nggih bu tiang sibuk sajan mangkin, men ten kebetulan lewat atau nyelapin mriki pastika ten ngidang"( Iyah bu, saya sibuk sekali sekarang, kalau tidak kebetulan lewat atau memang sengaja kemari pasti nggak bisa)
"Nggih mpun melenan geginane mangkin sampun mekarya telas waktu ring pekaryan manten nggih"(Iyah sudah beda kesibukan, sekarang sudah bekerja habis waktu hanya di pekerjaan yah? )
"Nika mpun bu (itu dia bu, tiang pesen es buah tanpa melon sama tomat seperti biasa nggih"
"Yee sajan nak meriki ngalih es buah bakat ajak tiang ngorta hahaha" (Oh iya orang kesini mau pesan es buah kok malah saya ajak ngobrol) Ibu Nyoman tertawa kembali
Aku pun ikut tertawa mendengar celentukan si Ibu.
Sambil menunggu Ibu Nyoman membuatkan pesananku, ku hidupkan kembali ponselku untuk mengabarkan keterlambatanku pulang kepada Bli Putu, belum sempat aku mengetik ku dengar bu Nyoman bertanya lagi.
"Sampun merabian gek? (Sudah menikah gek?) " Ibu Nyoman berkata disela ia sedang mengupas mangga harum manis
"Dereng bu (belum bu)
"Yee dados kenten? (loh kenapa begitu) Pasti sudah punya pacar, masak cantik-cantik begini jomblo" Canda Ibu Nyoman
Aku tersenyum mendengar ucapan jomblo yang keluar dari seorang Ibu-ibu berumur sekitar 60 tahunan yang ikut terseret arus bahasa kekinian.
"Sudah punya bu, tapi saru tiang ten bani nganten nden masih" ( tapi tidak jelas, saya belim berani menikah) Ujarku sambil terkekeh
Ibu Nyoman tertawa mendengar jawabanku.
"Kok saru? Metunangan ajak ape misi saru?, asal sing gelah anak, baik dan bertanggung jawab sudah cukup gek, ten dados nagih ne boye-boye nak keweh mangkin ngalih ne bertanggung jawab" ( loh kok tidak jelas, pacaran sama siapa kok pakai tidak jelas? Asal bukan milik orang, baik dan bertanggung jawab sudah cukup gek) Cerocos Ibu Nyoman masih sama seperti dulu ketika aku masih duduk dibangku SMA. Khas Ibu-ibu yang perhatian dengan anak muda.
Aku tersenyum kemudian tiba-tiba teringat kembali dengan Galang.
__ADS_1
"Gek niki esnya, ten dados bengong-bengong cotot siap Nyen hahahaha" (Gek ini esnya, tidak boleh bengong nanti di patok ayam) Gurau Ibu Nyoman lagi sambil meletakkan es buah berisi es serut yang dituangi gula cair berwarna merah dan krimer kental manis diatasnya.
Lamunanku buyar dan sedikit tersentak mendengar gurauan Ibu Nyoman.
"To kan seken bengong" (Tuh kan benar lagi bengong)
"Nggih bu" Aku melengos dan mencoba tertawa menyembunyikan perasaanku yang kembali gundah
" Ajeng dumun (minum dulu) esnya biar pikiran sedikit plong, sepertinya ada yang dipikirkan" Ibu Nyoman lalu duduk disebelahku dengan muka khawatir.
Suaraku tercekat, air mata kembali menggenangi mataku aku hanya sanggup mengangguk dan mulai mengaduk es buahku
Aku mencoba menikmati es buah yang ada didepanku, rasa manisnya sedikit tidaknya mampu menenangkan kembali perasaanku.
" Rasa esnya masih sama seperti dulu waktu tiang sering kemari" Kataku setelah merasa lebih baik.
"Cara buatnya kan sama terus gek, gimana perasaannya sudah lebih enakan rasanya? "
"Nggih bu, ibu pernah suka banget sama seseorang bu? "
"Oh masalah cinta toh, pernah, saya cintanya sama suami saja sih ten wenten ne lianan. Nak dumunan dugas jaman bu bajang ten bani metunangan care nak mangkin bebas. Sire demenin men pade-pade demen langsung dah nganten hahahaha"(saya cintanya sama suami saja, nggak ada yang lain. Jaman dulu waktu ibu masih muda tidak berani sebebas sekarang pacaran, siapa yang disukai kalau sudah sama-sama suka langsung deh nikah)
"Hahahaha simpel yah bu"
"Sangat simpel"
"Taen megerengan bu? " (Pernah bertengkar bu)
"Suami istri kalau tidak pernah bertengkar yah tidak mungkin, isinya kepala kan beda-beda , hanya kalau ada masalah harus mau dihadapi , komunikasi berdua, pasti bisa dilewati asal niatnya baik gek, punapi je (apapun) hasilnya berdoa saja yang baik-baik"
"Iyah sih bu, bener juga"
"Jantos dumun driki jebos tiang kal makta pesenan buah potong drika"(tunggu dulu sebentar disini, saya mau membawakan pesanan buah potong kesana) Ibu Nyoman berdiri dan menunjuk arah yang mau beliau tuju.
"Nggih bu tiang juga masih lama mau duduk disini dulu"
Ibu Nyoman mengambil buah potong yang telah dibungkus dari box tempat penyimpanan es dan bergegas ketempat yang memesan.
__ADS_1