
Nami sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kantor pagi ini. Ponselnya yang tiba-tiba saja berbunyi mengagetkan dirinya yang sedang menyisir rambut. "Siapa yang menelepon pagi-pagi begini? Kok perasaan ku jadi khawatir yah? Biasanya kalau ada telepon di pagi hari sudah pasti ada hal yang penting" Aku membathin sambil bergegas mengambil ponsel yang berada dalam tasku.
Aku melihat nama Bapa yang melakukan panggilan "Dheg!" perasaanku menjadi semakin khawatir. "Om Swastiastu, engken pe? adi tumben semengan nelepon (Om Swastiastu , gimana pak? kok tumben nelepon pagi-pagi?) " Aku bertanya dengan perasaan tak menentu
"Om Swastiastu dek, meme masuk rumah sakit. Ye tabrak uli duri ken anak di jalan tuni lakar ke peken dek ( Om Swastiastu dek, meme masuk rumah sakit. Dia ditabrak orang dari belakang waktu mau ke pasar dek)"
Aku terperanjat mendengar apa yang dikatakan bapa, suara bapa terdengar bergetar.
"Hah?? Dirumah sakit dije pe? yang kemu jani (rumah sakit dimana pak? Saya kesana sekarang) " Kataku panik.
Bapa menyebutkan nama rumah sakit tempat ibuku dibawa. "Adeng-adeng dijalan dek (pelan-pelan/Hati-hati dijalan dek) " Kata bapa kemudian.
"Nah pe" Aku menjawab singkat dan memutuskan sambungan teleponnya.
Dengan bergegas aku mengambil ransel ku dan mencari Mekde dibawah yang sudah lebih dulu siap.
"Mekde , Bapa nelpon. Meme kone masuk rumah sakit, ditabrak orang dari belakang tadi pagi waktu mau ke pasar" Kataku dengan cepat
"Ratu betare, nah men keto kemu nak malu dek. Bensep tengai mekde nyusul, adeng-adeng nyen de megrudugan (Ya Tuhan, kalau begitu kesana dulu aja. Nanti siang mekde nyusul. Pelan-pelan yah jangan panik)" Katanya dengan wajah khawatir.
"Nah mekde, yang mejalan malu (yah mekde, saya jalan dulu)" Jawabku sambil bergegas keluar dan mengambil motorku.
Sesampainya aku dirumah sakit, bapa mengabariku kalau meme sudah masuk kamar inap. Setelah menyebutkan nomor kamar aku langsung saja menuju kamar yang dimaksud.
Aku melihat bapa duduk di sofa depan ranjang dengan wajah lelah. Kulihat meme terbaring dengan mata yang masih terpejam dengan banyak perban pada kaki dan tangannya. Bapa menoleh padaku dan menepuk sofa disebelah nya menyuruhku duduk disana.
"Engken meme, pe? (Gimana ibu, pak? ) "
"Meme lagi istirahat tadi sudah minum obat. Kata dokter gegar otak ringan. Kaki sama tangannya lecet dan luka-luka . Untungnya organ dalam dan bagian tubuh yang lain nggak apa-apa"
__ADS_1
Aku menghela napasku lega mendengar penjelasan bapa.
"Masih observasi juga dek, mudah-mudahan tidak ada yang gawat" Kata bapa lagi.
Aku mengangguk pelan. Seharian aku menunggui Meme dirumah sakit bergantian dengan Bapa.
Mekde memberikan aku cuti beberapa hari sampai meme lebih sehat. Seminggu berlalu pusing yang dirasakan meme sudah tidak ia rasakan lagi. Bengkak dan luka pada kaki dan tangannya sudah mulai membaik. Meme masih menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan. Karena luka pada kakinya lumayan lebar. Aku berpikir untuk kembali lagi tinggal dirumah. Selain untuk membantu meme dalam masa pemulihan juga karena merasa kondisi sudah lebih aman untuk kembali.
"Mek yang mulih gen be nah, masih be aman. Pang maan mantuin meme jumah (Buk saya pulang aja yah, kan sudah aman. Biar bisa bantuin ibu dirumah) " Kataku pada Ibu yang sedang duduk beristirahat.
"Nah dadi dek, meme konden ngidang mebanten setiap hari masih (iyah boleh dek, Ibu juga belum bisa menghaturkan sesaji setiap hari)" Jawab ibuku sambil menghela napas.
Aku tersenyum "benjep yang ngorang jak mekde (nanti saya yang bilang sama mekde) "
Meme mengangguk pelan.
Hari-hari ku kini makin sibuk. Setiap pagi aku bangun sekitar pukul 5, kemudian memasak dan menghaturkan sesaji di pura keluarga. Lalu berangkat ke kantor seperti biasa. Sepulang kerja langsung ke pasar membeli bahan makanan untuk besok pagi. Aku melakukan hal itu setiap hari berulang-ulang, tentu saja di hari minggu aku bisa lebih santai mengerjakannya.
Dua bulan berlalu keadaan meme semakin membaik. Luka-luka nya mulai sembuh, dan meme sudah bisa melakukan aktivitasnya seperti biasa. Tugasku dirumah menjadi lebih ringan. Kini setiap sore setelah pulang dari kantor aku akan mengantar meme kepasar untuk membeli bahan makanan untuk esok pagi. Meme sebenarnya sudah bisa mengendarai sepeda motor sendiri seperti biasa hanya saja aku masih merasa was-was.
Sementara itu Galang masih penasaran dengan wanita berambut pendek warna ash blue bernama Ayu itu. Setiap hari Sabtu dan minggu dia menunggu wanita itu lewat, tapi sudah dua bulan ini tak sekalipun dia datang mencari Goldie. Goldie yang terbiasa dengan jadwal Ayu masih setia menunggunya di depan Gerbang seperti hari ini.
"Kenapa kamu yang jadi penasaran sih sama Ayu, kan yang mau pedekate itu aku" Kata Putra pada Galang yang terlihat fokus memandang ke arah pintu Gerbang.
"Aku kepikiran sama suaranya kok mirip sekali dengan Nami yah?, ketawanya juga sama" Jawab Galang
"Suara kan biasanya memang bisa mirip lang"
"Entahlah, tapi Nami rambutnya panjang, hitam bagus banget berkilau. Badannya juga tidak sekurus Ayu" Kata Galang bimbang.
__ADS_1
"Kenapa kalian bisa putus sih?, padahal kan kamu kayaknya masih sayang sama dia"
"Aku nggak bisa cerita tentang itu Put" Galang menengadahkan kepalanya kemudian bersandar pada kursi teras rumah Putra.
Putra nampak mendekati Galang dan mengendusnya "Lang, aku baru sadar sekarang. Wangi kalian berdua mirip. Apa karena itu Goldie tiba-tiba akrab sama Ayu yah? "
"Wangi yang mirip? " Galang jadi teringat beberapa bulan yang lalu dia memang sengaja membeli parfum sama dengan yang dipakai Nami. Dia tahu merk parfum Nami karena tidak sengaja menghirup wangi yang sama di satu counter di mall. Saat itu ada seorang perempuan yang mencoba wewangian di counter itu. Dia menyemprotkan parfum itu pada pergelangan tangannya. Kebetulan ia sedang berada di dekat counter tersebut. Wangi parfum itu masuk ke indra penciumannya dan seketika membawa kembali semua kenangannya bersama Nami. Beruntung perempuan itu mau memberi tahu parfum mana yang dia semprot kan tadi. Awalnya ia ingin membeli hanya untuk ia simpan, tapi ketika tahu parfum itu ternyata unisex ia jadi memakainya kemana pun ia pergi. Karena Galang masih ingin merasakan keberadaan Nami disisinya setiap waktu.
"Iya lang, wanginya manis ada kayak aroma lembut apa gitu. Bedanya kalau kamu wanginya jadi sedikit lebih kuat" Ujar Putra sambil Mengingat-ingat.
Galang terkejut mendengar penuturan Putra. Ia nampak menyunggingkan senyum sambil mengucek rambutnya sendiri.
"Wangi musk Ck! Aku yakin itu Nami" Galang menghela napasnya "Aku membeli parfum yang sama dengannya. Wanginya membuat aku merasa dia selalu ada di sisiku, Put" Ujar Galang lagi terlihat kecewa
Putra hanya memandang Galang, tidak tahu harus berkata apa mendengar pengakuannya ini. Temannya ini ternyata memang masih sangat mencintai mantannya yang bernama Nami.
"Sudah dua bulan yah dia tidak kemari? Apa pak Tomo pernah melihat dia lewat di hari biasa yah Put?"
"Pak Tomo bilang dia biasanya lewat hari selasa, sama kamis atau jumat. Tapi pak Tomo juga bilang belakangan di hari biasa juga nggak kemari"
"Ya sudahlah Put, mungkin saja dia memang sedang sibuk"
"Kenapa tidak cari kerumahnya saja lang? "
Galang menggeleng "aku merasa bersalah pada orang tuanya sampai aku merasa sungkan bertemu mereka lagi. Mereka sangat baik padaku put. Kalau masalah ini selesai, baru kemudian aku bisa berkunjung menemui orang tuanya lagi"
"Coba deh tunggu lagi dia disini selama sebulan, siapa tahu kan dia kemari lagi. Atau kalau nggak, minta tolong pak Tomo aja. Kalau kebetulan nanti kamu nggak ada disini biar pak Tomo yang menemuinya. Minta pak Tomo menanyakan, dimana dia bekerja siapa tahu dia lebih terbuka sama pak Tomo " Kata Putra mencoba memberi saran.
Galang mengangguk, karena merasa ide dari Putra bisa dilakukannya.
__ADS_1