Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
Candle Light Dinner


__ADS_3

Setelah serangkaian acara formalitas yang membosankan, akhirnya acara tersebut masuk ke sesi hiburan. Tamu undangan mulai dipersilahkan untuk menikmati hidangan makan malam. Nampaknya Dira telah bangun dari duduknya dan menyalami satu persatu tamu undangan VIP yang ada disana. Sesekali dia mengobrol dan tertawa bersama tamu-tamunya tersebut. Aku sebenarnya sedang menunggu kesempatanku untuk mendekat pada Ibunya. Aku melihat Ibunya sedang berbincang serius dengan seseorang, nampaknya aku belum bisa mengganggunya sekarang.


Aku berdiri bermaksud sekedar mendekat ke arah Ibunya. Baru empat langkah aku berjalan seseorang menarik tanganku dengan kuat dan menggenggamnya. Aku menoleh, ternyata Dira sudah berdiri disampingku dengan senyum lebar.


"Aku senang kau datang Nami" Dengan cepat Dira mendekat dan mengecup kedua pipiku.


Aku yang tak menyangka dia akan melakukan ini di depan umum hanya bisa tertegun "s*alan" Umpat ku dalam hati.


" Yuk kita makannya didalam saja" Katanya kemudian menarik tangan kiriku yang masih dalam genggamannya ke dadanya.


"Tttapi Dira, tunggu sebentar" Aku diam di tempatku, dan Dira menghentikan langkahnya


"Aku mau makan disini saja" Kataku pelan


Dira melayangkan pandangan nya ke arah enam spot buffet Dinner yang disediakan malam itu. Dia bisa melihat tamu undangan mengular mengantri untuk mengambil makanan. Dira menggeleng lalu menundukkan wajahnya ke telingaku dan berbisik " Terlalu ramai, aku hanya mau kita makan malam berdua, tempatnya sudah aku siapkan khusus" Katanya sambil tersenyum lagi.


"Oh ****, ini bukan bagian dari rencanaku hari ini" Pikirku


"Tapi aku lebih nyaman disini, Dira. Aku sudah mau datang, jadi tolong jangan mengaturku begini" Aku berkata pelan.


Wajah Dira berubah kesal "jangan membantahku Nami, aku tidak suka. Semakin lama kita disini semakin banyak yang akan memperhatikan kita" Katanya lagi berbisik.


Memang, adegan Dira tadi menarik tanganku ke dadanya dan segala bisik-bisik ini membuat semua mata orang-orang yang ada di sekitar kami memandang dengan wajah penuh pertanyaan.


Dira tanpa persetujuan dari ku mulai melangkah kembali. Aku terpaksa harus mengikuti nya karena tanganku masih ada dalam genggamannya. Kalau aku menarik tanganku dengan paksa, akan menjadi adegan yang memalukan untuk ku apalagi untuk Dira. Aku hanya bisa mendengus kesal


Saat kami harus melewati segerombolan wanita-wanita cantik luar biasa yang sepertinya sedang bergosip, aku bisa melihat wajah mereka di penuhi rasa iri, semua mata memandang kesal kearahku. Dan wajah mereka berubah ramah dan sok cantik ketika membalas senyuman dari Dira. Ingin sekali aku berteriak "ambil aja deh mba, silahkan!! "

__ADS_1


Kami juga melewati beberapa gerombolan laki-laki yang juga sedang asyik mengobrol. Dira juga nampak tersenyum kearah mereka. Kali ini gerombolan itu tentu saja tersenyum lebih manis kearahku. Dira mendengus kesal saat aku tersenyum ke arah mereka. "Jangan ikut tersenyum kearah laki-laki lain Nami" Bisiknya lagi


"Hah? Balas senyum aja nggak boleh?! Lama-lama semua hal yang aku suka pasti dibatasi olehnya! Ck! Kehidupan macam apa itu?!" Aku bergumam sendiri dalam hati


Kali ini kami melewati Ibu dan Ayahnya yang sedang mengobrol dengan tamunya. mereka tersenyum, Dira juga tersenyum tak kalah lebarnya. Satu ide tiba-tiba menyelinap di kepalaku "Sepertinya ini kesempatanku untuk menyemarakkan suasana hati orang tuanya"


"Ibu ,Ayah ini Nami teman spesial saya" Kata Dira memperkenalkan aku kepada orang tuanya.


"Astaga special katanya?!" Aku bergumam lagi


"Selamat malam Ibu dan bapak Dharmawan saya Nami " Ucapku sambil mengulurkan tanganku bermaksud menyalami mereka berdua. Raut wajah Ibu Dira terlihat berang tapi dia sembunyikan dengan sunggingan senyum. Ibu Dira menyentuh tanganku sekedarnya, begitu juga ayahnya.


"Saya senang malam ini akhirnya saya bisa bertemu langsung dengan Ibu dan Ayah dari Dira" Kataku sambil tersenyum.


"Dira laki-laki yang luar biasa, saya yakin beliau pasti mendapat dukungan yang juga luar biasa dari keluarganya" Ujarku lagi sambil mengelus-elus lengan Dira yang kekar.


"Yuk Dira, katanya mau ngajak aku ke dalam" Kataku pelan sambil memandang Dira lekat


Dira tentu saja tersenyum bahagia luar biasa mendengar suara Nami yang manja seperti ini padanya.


"Saya ke dalam dulu yah " Katanya pada orangtuanya lalu melangkah pergi


Aku hanya bisa tersenyum sumringah pada mereka berdua. Ketika kami berlalu aku masih bisa mendengar obrolan dari tamu undangan yang sedari tadi berada di sekitar orang tua Dira. "Wah calon mantu yah jeng? ", " Teman dekatnya Sudira??! Gimana sih jeng katanya mau jodohin anak kita?!! " , "Orang tuanya usaha apa?", " Cantik yah jeng" ...


Aku menghela nafasku setelah kami keluar dari tempat acara. Aku mencoba menarik tanganku, tapi Dira semakin mempererat genggamannya.


"Dira tanganku berkeringat"

__ADS_1


"Masak?! Kok rasanya tidak" Jawab Dira mempercepat langkahnya, aku terpaksa mengikuti langkahnya.


Kami telah sampai di salah satu villa yang ada disana. Dira mengajakku masuk kedalam, dan mengarahkanku menuju ke private poolnya. Aku hanya bisa tercengang melihat private pool yang telah di hias romantis untuk candle light dinner kami. Kolamnya dihias dengan 4 buah lilin terapung dan banyak bunga kamboja serta kelopak bunga mawar. Bagian kanan dan kiri tangga menuju private pool sampai ke meja kami dihiasi temaramnya cahaya lilin yang di rekatkan pada terakota. Ditengah Meja kami terdapat rangkaian bunga mawar merah dan tentu saja cahaya lilin. Jujur ini sangat indah, aku tidak bisa berkata-kata melihat ini semua.


"Kenapa diam? , terharu yah? " Ucapan Dira mengagetkanku


"Ini luar biasa Dira" Jawabku jujur


"Silahkan " Kata Dira sambil menarik satu punggung kursi untukku.


Aku pun mengikuti ucapannya.


"Aku suka kalau kamu mau menurut seperti ini, aku tidak akan memaksa lagi kalau kamu bisa terus begini" Katanya sambil ikut duduk di kursi yang lain didepanku.


Seorang pramusaji datang membawa makanan pembuka berupa salad dan sup krim ke hadapan kami dan langsung berlalu.


"Aku belum tahu semua makanan yang kamu suka. Tapi aku yakin pilihanku tepat untuk menu malam ini. Jadi, Silahkan"


Aku hanya mengangguk mendengar apa yang Dira katakan.


Setelah beberapa saat, pramusaji mengangkat piring saladnya dan menggantinya dengan menu makanan utama.


Aku bisa menghirup wangi dari steak sapi dihadapanku. Dihidangkan dengan kentang tumbuk dan tumis sayuran. "Ah sial aku memang sedang lapar, udahlah yah pokoknya makan saja dulu " Aku membathin sambil memandangi steak yang berwarna coklat dengan bercak kehitaman ini.


Aku menolak wine yang dibawakan oleh pramusaji, karena aku khawatir minuman beralkohol hanya akan menjadi pemicu masalah baru malam ini.


Kami berdua makan tanpa suara, Dira terlihat sangat senang dan puas. Tentu saja karena bisa melihatku makan dengan lahap seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2