Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
Galang sakit


__ADS_3

Hariku terasa mulai cerah kembali. Komunikasi ku dengan Galang kembali seperti semula.


Hari ini hari minggu, aku sedang bersiap-siap untuk pergi berjalan-jalan dengan Galang. Rencananya kami akan pergi ke Bedugul. Galang ingin mengunjungi temannya yang memiliki kebun strawberi, tentu saja aku tidak menolak rencana seru itu.


Aku melihat jam dinding yang menempel pada dinding diatas tempat tidurku. Jam menunjukkan pukul 7 lewat 30 menit.


"Kok belum ada pesan masuk dari Galang yah, biasanya kalau dia mau berangkat pasti dia berkabar terlebih dahulu" Aku bergumam sendiri


Aku mengambil ponselku dari atas meja, dan langsung menghubungi Galang.


Berkali-kali aku hanya mendengar nada dering di ujung sana. Aku menunggu sekitar 10 menit dan aku mengulangi mencoba menghubungi Galang kembali.


Setelah terdengar dua kali nada dering akhirnya telepon tersambung


"Sayang... " Kata Galang dengan suara serak dan pelan


"Loh kenapa bli? Lagi sakit yah? "


"Mmm aku demam dari tadi pagi sekitar jam 3, abis minum obat penurun panas jadi ketiduran" Suara nafas Galang terdengar berat.


"Ada orang dirumah? Bli dah sarapan? " Aku tiba-tiba teringat orang tua Galang tidak tinggal di Denpasar.


"Belum, ini baru bangun. Maaf yah sayang rencana hari ini batal" terdengar nada kekecewaan dari suara Galang.


"Ck! Iyah kan bli lagi sakit, aku pesenin sarapan yah pake ojek online? "


Galang tidak menjawab, hanya terdengar nafasnya yang berat , sepertinya dia bangun dari tempat tidur.


"Nggak usah sayang, aku bisa pesen sendiri. Nggak usah terlalu khawatir aku baik-baik aja, mungkin kecapean seminggu ini dikejar deadline"


"Atau aku kesana aja yah gimana? Aku takut kalau kesana nanti ganggu"


"Ganggu? Malah aku senang kalau kamu mau kesini. Maunya tadi minta kamu temenin tapi aku nggak enak ngerepotin"

__ADS_1


"Ya deh tunggu yah, kirim lokasinya bli. Waktu malem diajak kesana kan aku belum jelas lewat mana "


"Iyah entaran aku kirim, nanti kalau sudah sampai langsung masuk aja yah. Gerbang dan pintunya nggak aku kunci"


"Ok, Mau nitip apa? Mau yang berkuah atau yang lembut-lembut? "


"Aku mau kamu aja kan lembut-lembut hehehe" Kata Galang mencoba menggodaku


"Ck! Bli aku serius"


"Iyah aku serius, aku cuman mau kamu aja, nggak usah bawa apa-apa. Aku bentar mau pesan makan lewat ojek online sayang"


"Ya sudah aku kesana sekarang yah "


"Iyah, hati-hati dijalan yah "


"Iyah bli"


Aku menyimpan ponselku kedalam tas, dan menyambar jaket yang ada di kursi. Aku bergegas menghidupkan motor kesayanganku.


Aku juga mampir ke toko buah untuk membeli apel, semangka, jeruk dan mangga. Yang aku tahu buah bagus untuk orang yang sedang sakit. Aku juga membeli beberapa cemilan, "siapa tahu aku pengin nyemil ya kan? " Aku bergumam sendiri


Akhirnya aku sampai dirumah Galang. Seperti yang aku lihat malam itu, rumah Galang memang bagus, beberapa detik aku masih sempat bengong memperhatikan rumah besar ini.


Setelah menutup gerbang, aku mengambil barang-barangku yang tergantung dimotor . Semuanya aku beli tadi saat perjalanan kemari. Aku baru sadar belanjaanku ternyata banyak, lebih mirip mau piknik ketimbang menjenguk orang sakit. Aku terkekeh sendiri.


Sambil membawa kantong belanjaan aku bersusah payah membuka pintu utama rumah Galang.


"Ceklek!"


Pintu pun terbuka, Galang yang sedang tiduran di sofa ruang tamu otomatis menoleh dan bergegas bangun untuk menghampiri Nami.


"Astaga sayang, aku kan sudah bilang nggak usah bawa apa-apa" Ujar Galang dengan nada Khawatir

__ADS_1


"Cuman buah bli, biar cepat sembuh" Aku menjawab sambil nyengir.


Galang mengecup keningku dengan cepat dan membantu membawakan belanjaanku ke dapurnya.


Panas Bibir Galang masih membekas di keningku. Rupanya panasnya belum turun.


Aku mengekor Galang menuju dapurnya.


"Badan bli Masih panas yah? "


"Sedikit"


"Apanya sedikit, bibir bli aja masih panas banget"


Aku mengikuti gerakan Galang Meletakkan belanjaan di meja makan. Kemudian mendekat kearah Galang.


Aku memeriksa dahinya dengan punggung tanganku "tuh kan masih panas banget"


Galang terlihat sedang tersenyum menatapku.


"Sudah minum yang banyak sayang? "


Dia menggeleng.


"Kalau demam harus minum yang banyak"


"Bli ke kamar dulu, nanti aku nyusul bawain teh hangat"


Galang mengangguk senang " Nanti lewat tangga ini yah, aku di lantai tiga" Kata Galang sambil menunjukkan tangga yang dia maksud.


"Iyah" Aku mengangguk cepat.


Terus terang aku tidak terbiasa membuat teh di rumah orang lain, apalagi orang yang bersangkutan tidak ada di sana. Aku perlahan memeriksa rak dan tempat penyimpanan peralatan dapur Galang. Setelah beberapa saat akhirnya aku menemukan sendok, teko, mug, teh beserta gulanya. Dengan cepat aku membuat teh manis hangat. Aku juga memotong sedikit chiffon cake dan aku membawanya ke kamar Galang dalam satu tray.

__ADS_1


Galang terlihat sedang meringkuk dalam selimutnya.


__ADS_2