
OB baru bernama Oming yang sedang berdiri dibelakang Nami tampak bingung melihatnya sedang memukul dan menendang angin.
"Mba kenapa? " Katanya kemudian
Aku terperanjat ternyata ada seseorang dibelakang ku "duh kamu bikin saya kaget aja, yang baru saja saya lakukan nggak usah diingat yah ming" Lalu aku berlalu dari hadapan Oming yang nampak masih bingung.
"Mba dicari pak Jiwa, katanya disuruh pak Dito ke ruangan meeting"
"Iyah saya tahu, makasi yah " Aku tersenyum padanya
Setelah aku keluar dari pantri, pak Jiwa langsung mendekatiku dan berbisik " Nami, disuruh ikut meeting sama pak Dito, pak Sudira sudah di dalam "
"Iyah pak, saya memang mau kesana sekarang"
"Hati-hati yah Nami, saya kenal karakter yang mirip orang seperti pak Sudira, hindari bila perlu. Nanti kita mengobrol lagi" Kata pak Jiwa cepat
"Baik pak, terimakasih pak Jiwa" Aku bergegas pergi ke ruang meeting.
Begitu sampai aku mengetuk pintu ruang meeting , lalu membukanya pelan.
"Selamat pagi , maaf saya terlambat" Kataku cepat
Senyum Dira mengembang
Aku sengaja duduk di sebelah pak Dito, agak jauh dari Dira.
Selama meeting aku hanya diam mendengarkan, seperti saat ini aku bisa mendengar jelas bagaimana suksesnya hotel yang di didirikan oleh Dira dan sebagainya- dan sebagainya- dan sebagainya, dan aku mulai bosan.
"Apa coba fungsi ku disini, sudah seperti seminar em el em hanya mendengarkan kisah-kisah sukses semata"
"Kenapa juga setiap Dira bercerita harus menatapku begitu"
Setelah beberapa lama akhirnya meeting ini selesai. Kami berhasil mendapatkan kontrak kerjasama yang saling menguntungkan.
"Terimakasih pak atas waktunya sudah berkenan mampir ke kantor kami" Pak Dito berbasa-basi
"Sama-sama Pak, saya memang sengaja kemari selain untuk kerjasama ini juga untuk bertemu dengan Nami" Katanya tanpa sungkan.
"Maaf Pak kalau boleh saya tahu , bapak kenal Nami sudah lama? "
"Belum lama, tapi saya merasa sudah mengenal dia cukup lama" Jawabnya tenang.
Aku yang mendengar percakapan ini hanya bisa menghela napas dan diam.
"Nami setelah ini temani saya makan siang yah, Pak Dito saya mau mengajak Nami sebentar saja untuk makan siang" Katanya langsung dengan muka tersenyum.
"Ah sialan! Kenapa ini terjadi lagi" Aku menggerutu dalam hati.
"Maaf pak, saya sebenarnya masih ada pekerjaan la.... " Aku bermaksud menolak permintaannya, tapi pak Dito mencubit kecil tanganku dibawah meja dan mengerjapkan matanya ke arahku. "Astaga pak Dito juga memintaku menemani dia?? !!
" Mmm tapi demi pak Dira saya akan luangkan waktu sebentar untuk makan siang" Lanjut ku lagi
"Kenapa memanggil saya Pak lagi?! " Katanya gusar. "
"Baik Dira saya akan menemani Anda makan siang" Aku mengulangi ucapanku
Dira terlihat senang
__ADS_1
"Baik pak, nanti kalau ada perihal yang akan dibahas lagi silakan menghubungi Gani" Kata Dira lagi sambil beranjak dari duduknya dan diikuti oleh yang lain.
"Saya tunggu di mobil yah Nami. Kamu ikut saya"
"Ta.... " Belum sempat aku menjawab Dira sudah bergegas menuju kembali ke mobil nya diikuti oleh Gani, pak Dito dan Bu Ida.
Setelah mengantarkan sampai di kantor depan, Pak Dito bergegas mencariku yang sedang mengambil tas serta ponselku diatas meja.
"Nami kita harus bicara setelah makan siang ini"
"Iyah pak, Saya tahu. Doakan saya selamat yah pak" Aku melangkah dengan pasrah
Bu Ida hanya menepuk lenganku pelan sambil tersenyum geli.
Pak Dito hanya menggeleng pelan.
Dira duduk dengan nyaman didalam mobilnya.
" Gani, undur waktu meeting makan siang saya yah"
Gani yang duduk di depan, sebelah pak Nyoman menjawab "Baik pak" Jawab Gani tenang karena ia tahu atasannya punya tabiat yang sangat buruk jika ditentang.
Dulu saja ada pegawai yang tidak menuruti perintahnya, langsung dia pecat tanpa pertimbangan apa-apa. Atasannya ini sebenarnya sangat baik, hanya saja tidak suka orang lain menentang apa yang dia anggap benar dan harus dilakukan. Sebelum memberi perintah ia sebenarnya sudah memperhitungkan masak-masak mengenai resikonya. Kemampuan manajemen dan intuisi bisnisnya memanglah tajam. Itu kenapa dia tidak suka dibantah sama sekali. Ditambah ia orang yang lugas dan jelas dalam memberi perintah, dan tidak suka basa-basi. Apa yang dia inginkan dia akan katakan dengan jelas. Seperti ajakan makan siang kepada Nami ini.
Aku baru saja akan membuka pintu Mobil Dira, tapi Dira sudah membukakannya dari dalam. Aku masuk ke dalam mobil Dira dan mencoba tenang.
"Nami mau makan apa? "
Aku menoleh kearahnya sambil berpikir "ya sudah kalau aku harus makan bersamanya aku akan memilih makanan yang aku inginkan. Aku akan makan sesukaku. Aku tidak mau rugi, Iyah aku kan rugi waktu karena mau bersamanya"
"Japanese food "
"Baik pak" Kata pak Nyoman.
Dira mengerjap pelan sambil tersenyum kearahku
" saya senang kalau Nami bisa terus seperti ini"
"Terus seperti ini yang bagaimana Dira?
Aku bertanya pura-pura tidak mengerti maksudnya
"Saya suka kalau Nami memberitahu saya apa yang Nami inginkan, saya akan penuhi dengan senang hati"
"Kenapa? " Aku memandangnya tajam
Dira tersenyum geli mendengar pertanyaanku
Tangannya meraih beberapa helaian rambutku yang tergerai "Karena saya mampu " Katanya sambil menghirup wangi helaian rambutku ditangannya.
Aku menarik helaian rambutku dengan cepat "maaf Pak saya merasa tidak nyaman" Aku berkata terus terang.
Dira tidak menjawab hanya tersenyum dan terus menatapku. Sekian menit berlalu, saat aku menoleh kearahnya ternyata dia masih menatapku, kali ini dengan warna wajah yang lebih teduh.
Kamipun sampai di salah satu restauran sushi yang cukup terkenal di daerah Kuta.
Tampaknya Gani tidak ikut turun.
__ADS_1
"Kenapa Gani tidak ikut? "
"Karena saya mau makan siang sama Nami" Ujarnya santai
Kami berjalan beriringan, tangan Dira menyentuh punggungku. Aku merasa sangat tidak nyaman.
Setelah menemukan tempat duduk, kami duduk berhadapan.
Pramusaji datang membawa menu
Aku tanpa sungkan langsung memesan apa yang aku suka dan tentunya paling mahal.
Dira tampaknya senang dengan tindakanku.
"Yah karena kamu mampu, aku akan memanfaatkannya kali ini" Aku bergumam dalam hati.
Aku baru teringat akan Galang, ku keluarkan ponselku untuk membalas pesannya.
"Damn i miss him so much"
Aku: i miss you ❤😢
--sent--
"Chat sama siapa? " Kata Dira dingin
"Pacar " Aku menjawab singkat
Dira terdiam dan teringat kembali saat Nami merapikan rambut Galang di kedai kopi tempo hari. Pandangan Nami yang penuh cinta kepada Galang tiba-tiba saja membuat darahnya mendidih. Dira dengan segera menarik napasnya panjang "hubungan mereka akan segera berakhir, lihat saja nanti" Gumamnya sendiri
Sementara itu Dito sedang gelisah. Berkali-kali dia mencoba menghubungi Galang, tapi tidak sekalipun teleponnya dia angkat.
"kemana sih Galang?!! "
sejenak ponsel Dito berbunyi, begitu tahu Galang yang menelpon segera saja ia angkat.
"Galang kamu baik-baik saja? "
"nggak Dit aku lagi pusing, ada masalah dit"
"tahu nggak Nami diajak makan siang sama Pak Sudira, tahu kan siapa dia?
" oh rupanya dia sudah mulai bergerak" terdengar nada sedih dari suara Galang.
"ada apa Galang?"
"Nami mau menerima ajakan makan siang dia Dit? "
"tadinya dia nggak mau, tapi aku ikut memaksa dia lang. Kamu tahu kan pak Sudira orangnya seperti apa? apalagi dia ada kerjasama baru dengan kantorku lang"
"shittt!!! " kata Galang kesal
"Ada apa sih Galang? ntr malam aku ke rumah yah"
"Iyah dit, aku mau cerita banyak sama kamu"
"Iyah entar malam yah"
__ADS_1
hubungan telepon terputus.
Dito merasa ada masalah besar yang sedang di hadapi sahabat baiknya ini.