Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
mengembalikan Dompet


__ADS_3

Nami masih sibuk berkutat dengan pekerjaaannya dikantor. Terdengar deringan dari ponselnya. Aku melihat nama yang menelpon, ternyata bu Ida


"Selamat sore bu Ida"


" Sore Nami, gimana tadi meeting nya? " Tanya bu Ida dengan suara sengau


" Semuanya berjalan lancar bu, point-point penting dalam kontrak semua sudah sesuai. jadi tadi sudah Ditandatangani Pak Alan juga" Aku mengambil kontrak yang disebutkan bu Ida.


"Sip bagus Nami"


"Bu Ida masih pilek yah? Istirahat saja bu, minum air yang banyak juga"


"Iya nih saya flu berat Nami, semalam sudah ke dokter ini juga sudah lebih baik, mungkin lagi dua hari saya sudah bisa kerja lagi"


Aku berdiri sambil merapikan dokumen kontrak tadi ke dalam lemari file.


Aku langsung teringat janjiku mengembalikan dompet itu.


"Astaga bu Ida saya baru ingat masih punya janji bertemu orang lagi, aduh sudah jam 17.37" Aku berkata sambil merapikan meja kerjaku


"Ketemu siapa lagi Nami? "


Aku menceritakan kejadian tadi siang kepada bu Ida


"Hah dompetnya pak Sudira yang terkenal itu!!!? " Kata bu Ida histeris


"Kenapa bu, ibu kenal sama bapak itu? "


"Duh Nami kalau saja saya masih muda mungkin saya yang akan bawa dompetnya kesana, sudah kaya, terkenal, ganteng plus kharismanya itu loh"


"Memangnya pernah bertemu bu? "

__ADS_1


"Pernah, saya hanya bisa melongo saja, banyak wanita terpesona sama dia Nami!!!. Gagah sekali!! Duh dimana saya bisa mencari masa muda saya lagi hahahaha" Kata Bu Ida bersemangat sambil tertawa.


"Hehehehe segitunya bu Ida"


"Kalau belum pernah bertemu beliau, memang susah untuk dijelaskan. Nanti juga Nami bisa tahu sendiri"


"Tapi saya nggak sukanya, dia yang perlu eh malah nyuruh saya yang bawa dompetnya ke sana. Memangnya staffnya nggak bisa gitu yah kesini" Aku mengomel


"Hahahaha bos- bos kan memang begitu Nami, awas loh kepincut. Kalau wanita lain punya kesempatan yang sama mungkin sudah senang banget hari ini, duitnya banyak Nami. Realistislah jaman sekarang "


"Kalau dikasih duitnya aja sih saya mau bu tanpa embel-embel tanpa syarat, dikasih duit kok nggak mau hahaha " Kataku terkekeh


" Hahahaha ah kamu ini ada-ada saja mana bisa begitu" Ibu Ida ikut terkekeh


"Ya sudah bu saya mau balikin dompetnya dulu, cepat sembuh yah"


"Iyah Nami, terimakasih "


Kami memutuskan pembicaraan dan aku segera berangkat ke restauran Z seperti yang orang ini informasikan.


Seorang pramusaji mendekatiku "selamat sore mba, ada yang bisa saya bantu" Katanya ramah


"Selamat sore, saya ada janji bertemu seseorang disini, tapi sepertinya belum datang"


"Atas nama siapa yah mba?"


"Bapak Sudira" Aku menyebut namanya


"Oh beliau ada di ruang VIP kami, silahkan disebelah sana" Katanya kemudian sambil menunjukkan arah ruang VIP


"Ahh iya dia orang kaya, aku lupa seharusnya memang menanyakan langsung ke pramusaji disini" Aku membathin sendiri.

__ADS_1


Aku bergegas memasuki ruang VIP restauran tersebut. Begitu masuk pemandangan yang ku peroleh sungguh membuat takjub, ruangan VIP nya sangat elegan dan mewah. Kalau aku boleh sebutkan ini mungkin yang namanya gaya interior klasik, ada Chandelier-nya, furniture yang besar, ornamen ukiran, lukisan klasik. Aku mengedarkan pandanganku.


Tampak seorang laki-laki yang masih terlihat muda duduk di salah satu kursi disana. Rambutnya hitam disisir kebelakang. Cara duduknya santai, kakinya bertumpuk dengan tungkai kaki yang panjang. Dengan kemeja biru tua tampak sedang sibuk dengan ponselnya.


Tepat seperti yang bu Ida sampaikan tadi, aura pria laki-laki ini berbeda. Aku bisa merasakan kharismanya bahkan sebelum dia melakukan apa-apa. Luar biasa sekali orang ini. Mungkin memang selain pintar bisa jadi ia memakai jasa dukun agar auranya muncul dan semua orang tidak menganggapnya remeh.


"Hei Nami haiii... Ngomong apa sih kamu, Dukun apa sih, kamu kenapa coba mengurusi hal yang tidak penting begini, sekarang cepat kembalikan dompetnya dan pergi dari sini" Aku berdebat dengan diriku sendiri


Setelah mendekat ke arah laki-laki itu, dia menoleh kearahku dengan wajah dingin kemudian tiba-tiba tersenyum menatapku tajam. Entah kenapa senyumannya membuatku bergidik.


"Silahkan duduk, Saya Sudira panggil saja Dira" Ucapnya sambil menyalamiku


"Saya Nami, saya kemari hanya untuk.... "


Belum selesai aku bicara, dia memotongnya cepat.


"Duduk dulu Nami, silahkan" Katanya ramah


"Sebentar yah " Katanya lagi sambil menelpon seseorang


Aku akhirnya duduk dihadapannya.


"Gani, dompetnya sudah ketemu yah, jangan dicari lagi, kamu balik saja kekantor, nanti suruh pak Nyoman balik lagi kemari"


Sepanjang dia mengobrol di telepon matanya tetap menatap ku tajam.


Gani yang sedang menunggu di mobil hanya bisa melengos setelah menerima telepon dari pak Dira


"Pak Nyoman antar dulu saya balik ke kantor yah, nanti pak Nyoman balik lagi kemari"


Pak Nyoman yang sedari tadi bengong di belakang setir langsung menoleh "Baik bu" Kata pak Nyoman cepat.

__ADS_1


Gani tidak habis pikir, atasannya yang terbiasa tepat waktu untuk semua urusan, bisa santai menunggu wanita satu ini. Dia yakin atasannya sangat menyukai wanita ini. Dan wanita yang bernama Nami ini sudah termasuk spesial dimata Pak Dira, kalau tidak jangankan menunggu selama 40 menit, 3 menit lewat waktu saja sudah beliau tinggalkan. Dia hanya bisa menggeleng heran.


"Apa yah keistimewaan Nami, sampai pak Dira pun dibuat berubah? , kalau masalah cantik, yang mengejar beliau banyak yang lebih cantik, lebih elegan dan dari keluarga yang berada" Gani merenung sendiri dalam perjalanan kembali kekantor.


__ADS_2